Kamis, 28 Juni 2012

Living On My Own Way 5


Kisahku tidak sesempurna film fiksi atau tayangan drama lainnya—berbuah manis di akhir cerita. Ketahuilah tidak ada yang sempurna di dunia ini, yang ada hanyalah orang-orang yang mencoba untuk menjadikan segala sesuatunya sempurna; termasuk aku. Sekuat apapun, sekeras apapun usahaku untuk menulis cerita yang sempurna, pada akhirnya cacat akan tetap ada. Kesedihan mampu membuka celah meski sempit kesempatan, bahkan luka semakin memperlebar jarak. Pedih, aku harus kehilangan orang yang aku sayang. Dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami dengan alasan fokus pada masa depan. Aku masih tidak mengerti kenapa semua terasa begitu cepat, untuk satu hal yang aku lewatkan, untuk hal-hal yang sudah aku korbankan, sekarang semua terasa tidak ternilai. Dunia begitu cepat mempermainkan nasib cucu adam, rasanya bahagia hanya sementara sedangkan kepedihan akan berjalan begitu lama. Hingga aku mengerti pelangi akan ada setelah badai hujan.

Seperti diremukkan, hatiku kering—penuh luka dan bercak.

Sesak sepertinya dicekik, kepalaku terasa kosong. Berjam-jam bergulat dengan tangis, amarah, dan kecewa, akhirnya aku memberanikan diri ke sekolah untuk bertemu mereka. Setelah usahaku menemui pacar yang sudah berganti label menjadi mantan gagal, aku segera ke sekolah. Kupikir bertemu mereka lebih baik. Begitu sampai ke kelas, aku melihat dia duduk di meja guru. Dengan gaya yang khas, aku segera memanggilnya.

“Sini deh… temenin gue…”

Isyarat meminta untuk ditenangkan, kemudian dia menghampiriku dan duduk di sebelahku. Kemudian aku berbisik padanya dengan suara bergetar menahan isak yang mulai mendesak, “gue putus… diputusin tadi pagi… sakit…”

Tanpa aba-aba, aku segera memeluknya, menangis di pundaknya. Herannya ia membiarkanku untuk meluapkan semuanya. Tangis, amarah, kesal menjadi satu, seolah mengiba, sayangnya aku tidak peduli dengan rasa kasihan, yang ada hanya sakit yang merajam. Kehilangan seseorang yang telah kau beri begitu banyak perngorbanan adalah hal yang paling sulit untuk dilakukan.  Aku merasakan ada tangan yang mengusap punggungku dengan penuh perhatian, dan ketika semua menghampiri aku tidak berani memalingkan wajah dari pundaknya, atau memang aku sudah merasa nyaman dengan posisi demikian? Bersandar di pundaknya, tanpa malu-malu mengeluarkan airmata? Dia tidak memberi sinyal untuk melepaskanku begitu saja, membiarkan pundaknya menjadi tumpuan tumpahnya emosiku yang meluap. Segalanya menjadi satu ketika teman-temanku datang mengerubungiku dengan rasa khawatir mereka menanyakan keadaanku dan dia menceritakannya dengan penuh pengertian tanpa aku harus menjawab langsung.

Sampai isak reda, kubiarkan kepalaku masih bersandar di pundaknya. Berkali-kali aku merintih sakit, tidak ada luka di tubuhku kecuali goresan nadi yang kubuat beberapa menit sebelum berangkat ke sekolah. Berulang kali aku meringis di telinganya, mengatakan bahwa ini pedih. Aku tidak bisa menerima keputusan sepihak seperti ini. Ia memaklumi dan terus menepuk pundakku.

“Sakit… Perih banget, nyesek…” aku terus menerus meraung.

Sekitar 30 menit aku terus-terusan menangis, tanpa berniat lepas dari pundaknya.

Bagaimana bisa pundak itu menjadi tempat paling nyaman yang pernah aku temukan?

Setelah dipastikan aku sudah bisa menceritakan kronologis kandasnya kisah cintaku, aku mulai menggeser kepala dan bercerita pada teman-temanku. Tidak pernah ada kesan canggung diantara kami semua, bagaimanapun 3 tahun bersama membuat kami dekat seperti keluarga. Keluh kesah, kebiasaan, dan banyak cerita termasuk aib masing-masing sudah diketahui satu kelas. Tetap saja kami akan selalu menjaga rahasia, tidak ada yang pernah membocorkan aib masing-masing, semuanya menjaga komitmen yang dibuat. Akhirnya aku mulai bercerita, bagaimana bisa aku diputuskan. Sesekali aku masih menangis menahan sesak yang menghujam, demikian teman-temanku sesekali memelukku erat, mereka menghiburku agar aku tidak menangis lagi.

Mereka meyakinkan aku bahwa ini mungkin jalan terbaik untuk diriku dan mantan pacarku, jadi aku tidak boleh bersedih sebab masih ada mereka yang menemani.

Beberapa membantuku menghapus airmata, beberapa menghujat mantan pacarku, dan sisanya menatap prihatin, tapi dia? Dia hanya memasang wajah yang biasa saja, cengiran khasnya selalu terpampang. Wajahnya tidak seperti yang lainnya, “Masih banyak Vi cowok di luar sana…” aku tertegun—bukan karena omonganya karena melihat ekspresinya yang begitu santai berbeda dengan yang lainnya. Dalam kurun waktu 15 menit aku sudah kembali ceria seperti semula, aku menikmati saat-saat kebersamaan bersama mereka. Tidak lagi memikirkan kandasnya hubunganku. Setidaknya selama aku di sekolah dan berada di sisi mereka. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar