Jumat, 08 Juni 2012

Rembulan Gading


“Bahwa sepi ini mercusuarku menuju pagi. Bahwa hatiku tak akan lupa, berubah patah, dan mati.” -Rembulan Gading
“Tinggallah kini aku dalam yakinku saja. Bahwa langkah ini berkah.” -Rembulan Gading
“Karena aku tahu, setelahnya akan purnama. Utuh, penuh, dan sempurna.” -Rembulan Gading
“Seperti bulan yang ramping, pucat dan gading, jika ini sepi, parasmu yg setengah pergi tak pernah membuatku lari.” -Rembulan Gading
“Namun di sisi lain, ia tak bisa menenangkan amarah yang entah dari mana muncul di benaknya dan mulai merajalela.” -Rembulan Gading
“ia mengerti bahwa dia pun dipenuhi keinginan yang kuat untuk segera melegakaan perasaannya.” -Rembulan Gading
“Tak ada yang istimewa. Tak ada yang perlu disesali. Tak da yang perlu dipikirkan lagi. But, really?” -Rembulan Gading
“Kita harus tumbuh menjadi manusia baru, yang tidak takut meninggalkan masa lalu, dan berani memutuskan sesuatu.” -Rembulan Gading
“Ia ingin bisa menanggung apa yang ia rasakan tanpa mengeluarkan setitik pun airmata kesedihan.” -Rembulan Gading
“Ini benar-benar tak lucu, Tuhan. Atau seharusnyakah ini lucu?” -Rembulan Gading
“Setelah sekian lama dihadang kenangan tentang dia, pada saat yang sama pula ia kembali dihadapkan pada kenangan yang kini hadir 3 dimensi.”
“Beginikah sense of humor Tuhan bekerja?” -Rembulan Gading
“Sementara aku ingin berteriak dan berkata bahwa aku tak ingin dia pergi.” -Rembulan Gading
“Ada yang tak terkatakan dalam pertemuan itu. Pertemuan yang berujung pada perpisahan.” -Rembulan Gading
“Sesaat setelah menyuruh dirinya untuk tidak memperlihatkan apa yang terjadi dalam hatinya, ia meledak dalam tangis.” -RG
“Semua orang di dunia ini pernah mengalami kehilangan. Dari yang paling tak berarti, sampai yang tak bisa dilupakan dari hati.”-RG
“Bahkan saat ia masih begitu kecil untuk mengerti sebuah arti kehilangan. Ia ingin perasaan yang lega. Ia hanya ingin merasa lega.”-RG
“Wajah yang membuatnya tak berkompromi pada jarak. Ia ingin mengeluarkan berjuta kalimat yang selama ini ia simpan di kepala.” -RG
“Bagaimana menjelaskan cinta dengan beribu pukulan?” -Rembulan Gading
“Bagaimana mau mengatasnamakan cinta jika yang terjadi adalah luka-luka secara nyata?” -Rembulan Gading
“Cinta kadang memang konyol dan susah dimengerti.” -Rembulan Gading
“Bisa nggak elo denger betapa absurdnya kata-kata elo itu betapa berlawanannya dengan kenyataan yang terjadi selama ini?” -Rembulan Gading
“Gue yang tahu gimana dia! Dia mencintai gue dengan caranya sendiri yang nggak bisa dimengerti orang lain.”-Rembulan Gading
“Celah sekecil apa pun, meskipun nggak ada kesepakatan, pasti akan dipakai sebagai modal untuk berharap.”-Rembulan Gading
“Emang aneh yang namanya perasaan itu. Mau dikendaliin kayak gimana juga masih suka bandel.” -Rembulan Gading
“Kamu masih sangat mencintainya. Akuilah, maka kamu akan hidup tenang. Mengenyahkaan hanya akan membuatmu tersiksa lebih lama.” -RG
“Belum lagi celah untuk prasangka yang bisa menjerat jika kewarasan tak sedang jadi kiblat.” -Rembulan Gading
“Seperti sosok yang tak jelas yang sedang membuang kata-kata pada sosok lainnya. Tak memerlukan tanggapan balik, namun ditunggu-tunggu.” -RG
“Jika kaurasakan baik-baik, semuanya menunjukkan padamu tentang tumbuh, tentang berkembang. Dan untuk kesana, kautemui gugur, dan mati.” -RG
“Tidakkah kau lihat musim berganti setiap kali? Dan semuanya membawa warna sendiri-sendiri.” -Rembulan Gading
“Men can plan something seriously. Just don’t forget God’s sense of humor.”-Rembulan Gading

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar