Senin, 25 Juni 2012

Living On My Own Way 1


“Love don’t cost a thing” except a lot of tears,  a broken heart, and wasted years.

Aku tidak ingat kapan tepatnya rasa ini mulai ada, aku tidak ingat kapan aku menyisipkan cerita cinta tak layak dalam buku kehidupan, aku tidak ingat bagaimana aku bisa menyukainya secara sepihak, aku tidak ingat apa yang membuatku memujanya. Yang aku tahu, aku selalu memujanya, selalu senang berada di dekatnya, meski pada saat-saat tertentu aku tidak bisa menembus kisahnya. Aku hanya mengingat, banyak wanita yang menginginkannya, aku hanya mengingat pada bagian yang aku tahu itu luka tapi aku tidak pernah merasa terluka sedikitpun. Aku bahkan tidak mengenal dirinya secara utuh, aku tidak paham bagaimana sifat aslinya, walau 3 tahun bersama.

3 tahun bersama, dalam jenjang yang sama, dalam tempat yang sama, tetap saja akan memberikan efek yang berbeda—berbeda.

Garis bawai kata berbeda maka kita akan memulai cerita ini seutuhnya…

Pertama kali aku mengenalnya pada saat pintu gerbang terbuka, dia berandal, tidak pernah fokus akan satu hal, selalu membuat kesalahan, tapi dia tetap kalem dan selalu mempetakan senyum di wajahnya. Aku tidak pernah bosan melihat senyumnya, sama sekali tidak pernah terpikir muak dengan segala tingkah lakunya. Pada awalnya dia memang bersamaku, melakukan hal-hal gila yang dititahkan dengan semena-mena, menurutku pada awalnya dia tidak satu jenjang denganku, tapi ternyata setelah aku tahu, oh well dia satu bidang studi, dan itu artinya kami akan bersama selama 3 tahun berturut-turut kan?

Bahagia itu sederhana, benar?

Hanya karena seseorang yang kita sukai, segala kesederhanaan kita sebut bahagia yang luar biasa, pertemuan demi pertemuan, mengenal secara singkat saja sudah membuat hati nggak karuan. Pada masa yang sesungguhnya, kami belajar bersama, aku tahu dia anak yang cukup cerdas, terutama dalam studi berhitung, logikanya terhitung cepat. Dan bukankah adam memang diciptakan memimpin dengan logika? Hingga akhirnya ia bisa menguasai wanita yang dipimpin dengan hatinya? Karena jarak tempat duduk kami berjauhan, aku hanya sesekali memerhatikannya. Pasca hal-hal konyol yang kami lakukan setelah masa orientasi, aku tidak lagi dekat dengannya. Kami lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman masing-masing, meski jika tiba saatnya studi bersama sudah pasti kami akan berdekatan. Entahlah, aku menganggapnya hanya formalitas dan ya aku menyukai saat-saat itu.

Sepenuhnya aku belum paham, pada saat itu aku tidak peka dengan hati—

Aku tahu dia menyukai orang lain….

Kau akan merasa lumrah, ketika kau menyukai seseorang dan kau membaca gerakan orang yang kau suka itu sebaik mungkin, kemudian tanpa pernah aku memintanya untuk bercerita, akhirnya ia bercerita, dia memang suka dengan temanku, satu studi dengan kami. Yeah, aku sudah menebaknya. Pada saat mendengar ceritanya, terselip rasa kecewa, seperti bisikan yang mengatakan, “kenapa sukanya sama dia, bukan sama gue?” but the fact, he likes other girl and I just accept the reality. Cukup menyedihkan, tapi kukatakan sekali lagi, aku tidak merasa terluka, meski kecewa begitu menggores telinga. Anehnya aku malah mencoba membantunya untuk dekat dengan perempuan yang menyukainya, setelah beberapa lama aku mencoba mengorek informasi keduanya, ternyata mereka memang saling suka. Aku menelan kekecewaan lagi, tapi kulupakan. Bagiku kecewa itu hanyalah pahit sementara, tidak akan terasa efeknya.

Ada jerit saat mengatakan, “Dia juga suka sama lo, kemaren gue udah ngomong.”

Jelas ada pancaran bahagia di matanya, seraya mengucapkan terima kasih dengan nada bahagia.

Tapi tahukah kau?

Bahwa Tuhan selalu membawa hadiah yang menarik, selalu menulis kisah yang paling ingin dibaca khalayak. Yeah, dalam hitungan menit semuanya berubah.

Pada hari dimana, dia akan menyatakan pada temanku bahwa dia menyukainya, satu jam sebelum pulang sekolah dan hari itu juga, Tuhan menunjukkan padaku parade leluconnya. Membuatku tidak mengerti kenapa waktu bisa mengubah segalanya lebih cepat. Sore itu, anak laki-laki lain, yang sama berandalnya dengan dia, penggila music, dan over act, menggandeng tangan perempuan yang dia suka. Aku melihatnya jelas, laki-laki itu membawa hawa ke tengah ruangan, aku yakin dia juga melihatnya dengan jelas. Namun takjub senyum masih mengembang di wajahnya, aku sendiri sudah berharap-harap cemas. Aku tahu saat itu juga hatinya menjerit kesakitan, dia pasti tidak akan menduga hal ini akan terjadi.

“Teman-teman, ada yang mau gue omongin nih…”

Semuanya menyimak, sepasang anak adam dan hawa yang tengah berdiri bergandengan di depan ruangan.

“Hari ini gue mau nyatain perasaan gue sama dia. Teman-teman tolong ya jadi saksi buat gue sama dia.”

Oh well, seperangkat kalimat barusan seperti pisau yang menghujam tepat sasaran. Diam-diam ekor mataku mengarah padanya. Aku merasa heran, sama sekali tidak ada gurat kecewa atau marah, ia hanya tersenyum memandang ke depan, meski aku tidak bisa melihat hatinya yang paling dalam.

“Mmm, gue suka sama lo, Ra… Mau nggak jadi pacar gue?”

Seketika keadaan hening, menunggu detik-detik perempuan itu menjawab. Aku bahkan bisa merasakan detak jantungku sendiri. Aku terus mengawasinya dari kejauhan, aku memerhatikan bagaimana mimic wajah itu terlalu datar dan tidak ada perubahan dari sejak aku melihatnya tadi. Mungkin dari sekian banyak yang tahu kisah mereka, akulah yang paling khawatir tentang dirinya, aku tidak bisa memikirkan bagaimana reaksiny nanti. Setengahnya aku berharap bahwa perempuan itu menerima saja permintaan dari laki-laki yang menyatakan barusan, jadi aku tidak punya saingan kan untuk mendekatinya? Tapi di satu sisi, aku menjerit, tidak boleh egois. Ini menyangkut hati orang, no? Oh well, selalu apapun mengalahkan batin yang ingin menang.

“Iya, gue mau…”

Dunia….

Runtuh…

Dunianya—bukan duniaku. Duniaku bahkan baik-baik saja, tidak ada yang bergetar, atau mau hancur. Semuanya masih seperti awal, masih sama. Malah seharusnya aku bahagia kan? Mengetahui bahwa anak perempuan itu menerima perasaan laki-laki yang menembaknya meski dia tahu ada yang menyukainya. Seisi ruangan bertepuk tangan, riuh seperti pesta pora. Yang tidak pernah kusangka adalah dia juga bertepuk tangan, seakan ikut bahagia di atas tangis dirinya sendiri. Takjub—saat hati terluka, ia masih bisa terlihat bahagia bahkan pada saat orang yang dia sukai menjadi milik orang lain. Oh god, dunia mulai sinting. Dan tak lama bel bunyi semua berhamburan, begitu aku ingin keluar kelas ia menahanku, “besok gue mau cerita.” Aku menatapnya janggal, tentu saja aku mengerti bagaimana ketika dekat jurang luka itu semakin terlihat dan dalam. Aku mengangguk, mengiyakan permintaannya. Dia butuh hiburan untuk hatinya yang terlewat lapang. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar