Jumat, 01 Juni 2012

He Is My First ( part 2 )


Sarapan pagi buatan ibu memang selalu enak, dibuat dengan penuh cinta.

Oh aku lupa memperkenalkan diriku pada kalian. Namaku Viervhy Juliana, teman-teman biasa memanggilku dengan sebutan Ivy, tapi kalau dirumah mama selalu memanggilku dengan nama Juli. Aku menyukai nama kecilku, selain sebagai nama kesayangan itu juga digunakan sebagai identitas diriku. Sekali lagi, karena aku lahir bulan Juli.

Sebuah senyum mereka di wajahku, hari pertama di sekolah—kelas 4. Tahun ini aku naik ke kelas 4 SD, kau tahu apa rasanya? Senang! Rutinitas yang aku jalani dengan beasiswa sebagai temannya. Ya, aku kembali mendapat beasiswa dari sekolah. Mengukir sebuah senyum kepuasan di bibir kedua orangtua, sorot tatap bangga bukankah ini hal yang luar biasa? Hitung-hitung aku membalas jasa mereka selama ini karena mereka mengajarkanku di sela-sela kesibukan kerja mereka.

“Pagi, Vy…” sapa Mahessa di parkiran sekolah. Jangan bayangkan parkiran motor atau mobil. Aku sekarang berada di parkiran sepeda sekolahku, letaknya di belakang kantin sekolah, tak jauh dari gerbang sekolah. Kalau ke sekolah aku biasa memakai sepeda, karena selain lebih cepat, memakai sepeda juga sehat.

“Yo, pagi. Kita sekelas lagi nggak?” Mahessa membenarkan letak tas selempangnya dan dia mengedikkan bahu.

“Nggak tau, coba aja kita liat di papan pengumuman.”

Mahessa dan aku cukup akrab. Selama bersekolah di sekolas dasar ini aku tidak terlalu akrab dengan teman-teman lainnya, kalaupun ada karena dia tetangga. Aku terlalu acuh kalau di sekolah. Melangkahkan kaki menuju papan pengumuman di depan ruang tata usaha, biasanya di sana akan tertulis daftar murid pada tiap-tiap kelas. Maka tidak perlu diragukan, aku sudah pasti berada di kelas A, karena selain aku menyabet peringkat 1 lagi kemarin, kelas A adalah kumpulan anak-anak cerdas. Sudah bisa ditebak kan? Kini tinggal mencari posisi ruang kelas ada dimana, apakah ada di atas atau di bawah. Oh ya, by the way bentuk sekolahku itu later U.

Sekolahku menghadap sisi Utara. Di sisi Timur adalah bangunan 3 tingkat, di dalamnya terdapat ruang kelas 1, 2, 3, 4, dan 5. Lantai 1 adalah keseluruhan kelas 1 dan 2 termasuk toilet di ujung lorongnya. Di lantai 2 gedung ini terdapat perpustakaan, serta kelas 3 dan kelas 5. Di lantai 3, tikungan tangga pertama adalah lab computer, sisanya kelas 4 dan kamar penjaga sekolah, Pak Yono. Sedangkan di sisi Barat ada bangunan yang terdiri dari 2 tingkat. Lantai 1 dari bangunan di Barat adalah ruang Kepala Sekolah, ruang Tata Usaha, dan ruang Guru. Sedangkan di lantai 2 adalah kelas 6 serta ruang ujian intensif untuk persiapan ujian akhir. Di sebelah selatan, terdapat kantin. Kantin di sekolahku cukup luas, bisa muat keseluruhan siswa dan siswi di sekolahku, di sebelah Tenggara ada panggung yang biasa digunakan untuk acara sekolah. Nah di sebelah panggung itulah terdapat gerbang sekolahku. Gerbang kecil yang biasa digunakan oleh anak-anak sekolah pada saat datang dan pergi.

Di tengah-tengahnya terdapat lapangan yang besar, digunakan sebagai lapangan upacara atau olahraga. Di setiap bangunan ada toiletnya kok, biasanya sih di ujung lorong. Hmm, pada sisi Barat Laut ada kolam renang kecil, semacam fasilitas tambahan yang disediakan sekolahku. Oh ketinggalan, di sebelah Barat Daya terdapat taman kecil yang biasa digunakan untuk duduk-duduk pada waktu senggang. Timur Lautnya, ada musholla. Khusus yang beragama muslim harus ke sana setiap menjelang dzuhur dan ashar. Pusat pembelajaran agama muslim di sana.

Nah bagaimana?

Sudah cukup kan penggambaran sekolahku?

Memang cukup luas sih, di utaranya itu gerbang besar dan parkiran motor atau mobil khusus tamu. Tapi bentuknya yang later U tidak akan membuatmu tersesat kok. Ah karena aku kelas 4 jadinya aku harus ke gedung Timur, tingkat 3. Disanalah ruang kelasku dan untuk satu tahun ke depan.

Ternyata naik tangga sampai tingkat 3 itu melelahkan ya?

Aku lari-lari kecil menuju ruang kelasku. Kali ini 4A, oh well aku tidak pernah heran kalau aku selalu ditempatkan di kelas A. Bukan maksud untuk menyombongkan diri, tapi memang benar adanya, kan?

Begitu masuk kelas aku segera mencari tempat duduk, kuputuskan saja untuk duduk di barisan depan dan itu di tengah-tengah. Jadi aku bisa leluasa mendengar guru menjelaskan dan membaca setiap penjelasan yang guruku tulis di papan tulis.

“Ciee, yang dapat beasiswa, lagi…” Aku memutar mata, aku sudah tahu siapa yang lagi meledek. Yeah, Ito. Siapa lagi kalau bukan tuan Matematika, hmm?

“Apa sih, To? Biasa aja, bisa kan?” Ya iya, bukankah hal biasa kalau namaku selalu ada di kertas beasiswa? Sudah bukan hal yang aneh kan?

Ito hanya senyum-senyum sendiri, dan kubiarkan dia sambil bertopang dagu. Sementara kedua mataku mengamati kelas, seperti ada yang aku cari. Ya aku tahu apa yang aku cari, “Favi belum datang?” tanyaku melayangkan pandangan ke seisi kelas. Belum kulihat tanda-tanda Favi di sana. Ito menggeleng, aku melirik jam dinding. Sudah jam setengah 7 dan dia belum datang? Biasanya Favi on time kalau mengenai kedatangannya ke sekolah, aku jarang melihatnya telat kecuali kalau dia yang melihatku telat. Haa, memalukan.

5 menit kemudian, Ito dan aku terlibat pembicaraan yang seru. Tentang liburan kami, dan apa saja yang kami lakukan selama liburan. Kalau liburan ini aku hanya pergi sesekali saja, entah ke Seaworld atau ke Ancol. Yang jelas terakhir aku pergi adalah tanggal 11, tepat pada hari ulang tahunku. Sedangkan Ito hanya menghabiskan waktunya di rumah dengan bermain game dan sesekali main futsal dengan teman-teman dirumahnya. Walaupun tidak banyak kegiatan yang kami lakukan, tetap saja aku selalu menemukan pembicaraan yang seru dengan Ito.

Ito ya…

Dia itu sahabatku dari kelas 1. Rumah kami berdekatan sebenarnya, hanya beda gang saja. Omong-omong, di angkatan kami ada beberapa anak yang menguasai masing-masing bidang. Aku dalam bidang bahasa Indonesia, Ito dalam bidang Matematika, Favi dalam bidang Agama dan IPS, Fauzi dalam bidang IPA, Rizal dalam bidang PKN. Mereka itu orang-orang hebat, yang harus aku akui kemampuannya. Mereka semua berada di kelas A, dengan kemampuan yang sangat baik dan pantas diacungi jempol. Tidak sengaja kedua mataku bertumpu pada pintu masuk, aku tidak tahu apa yang menarik mataku untuk sampai disana, di ambang pintu yang kulihat—sesosok anak lelaki berkulit putih dengan surai cokelat gelap, tengah berdiri mengenakan tas ranselnya, dan tengah menatap ke arahku. Tidak pernah ada senyum yang tertera disana, yang ada hanya tatapan dingin yang seolah merendahkan, tenang tapi menghanyutkan. Kepercayaan diri yang tinggi, diam yang menguasai, seolah ia hidup untuk diam. Tungkainya melangkah mantap, tertuju pada satu kursi di baris ketiga paling pojok ruangan. Aku tahu kebiasaan, duduk di tempat yang tidak mencolok. Selalu, aku mengamatinya setiap pagi. Kulit putihnya, aroma tubuhnya, sarat tatap percaya dirinya yang seolah membius dalam hitungan detik dengan sangat cepat. Aku tidak pernah tahan dengan godaan untuk tidak menatap dan mendekatinya.

Konyol ya? Padahal aku masih anak sekolah dasar—

“Wets, tumben siang Vi!”

Ajaib kan nama belakang kami sama-sama Vi. Ito menjabat tangan Favi dan memeluk pemuda itu dengan gentle. Sementara ia menatapku tanpa berkata apapun, lantas aku terdiam. Menikmati pesona kejut dingin matanya yang seolah merajuk pada diriku pagi ini.

“Duduk dimana? Samping gue aja kayak biasa…” Ito mulai meracau sementara aku hanya diam menatap sosok pemuda sebayaku itu. Aku melihatnya berjalan, menyusuri per baris di dalam kelas dan duduk tepat di samping Ito. Tanpa sadar tubuhku berbalik ke arahnya dan kudapati ia menatapku kembali. Aku tidak berusaha untuk menghindar dari setiap tatap matanya, tidak akan pernah bisa. Sensasi datar dan dingin itu selalu memelukku dengan kuat seberapa kuat aku ingin melepas tidak akan bisa. Kemampuannya seolah menghipnotisku sejak lama.

“Lo berdua tuh nggak berubah ya, sama-sama nggak mau ngomong duluan kecuali kalo lagi belajar.” Ito menggeleng, dan aku meninju pelan lengannya sambil tertawa.

“Nggak enaklah kalo nyapa dia diluar pelajaran, dingin gitu kayak es.”

Ito tertawa, suara tawanya seperti meminta untuk aku lempar pakai kursi kelas, “Dingin? Dia tuh Cuma sok cool doang, Vy… Aslinya mah cerewet!” Ito melirik lewat ekor matanya sementara Favi tengah berjalan ke arah mereka, “liat aja nih, bentar lagi juga dia bakalan cerewet.”
Faktanya Favi malah berjalan ke arah kami, aku tahu siapa yang dia tuju. Sudah jelas Ito dan tidak mungkin aku. Aku ini hanya teman sekelasnya saja, namun sepertinya Ito lebih dekat dengan kami berdua, aku dan Favi. Seringkali kami terlihat bersama, meski aku dan Favi termasuk pasif dan lebih banyak Ito yang bicara. Aku selalu canggung apabila Favi berada di dekatku, aku tidak tahu kenapa. Kilah alasan absurd yang sering menentangku belakangan, klise namun sanggup menguatkan segalanya. Favi sudah duduk di sebelah Ito, dengan gaya cool-nya. Setiap detail tubuhnya selalu kurekam dalam memori tanpa batas. Setiap ukiran di tubuhnya selalu aku tanamkan di dalam otak. Seolah hanya Favi yang memenuhi memoriku dalam berbagai bentuk, animasi yang tidak pernah goyah. Aku menyukainya, menyukai setiap saat ia berada di dalam pikiranku dalam hitungan detik dan menit.

“Gimana kemarin liburan kamu, Vi?”

“Gitu-gitu aja… Cuma satu yang spesial.”

“Apa? Jangan bilang miniatur mobilmu bertambah…”

“Nah itu! Akhirnya aku dapat miniatur mobil kesukaanku, coba tebak!”

“Jangan bilang tipe 2 tahun ke depan? Yang sering kau bicarakan padaku, Fav…”

Cengiran halus di wajahnya, binar matanya mengajakku untuk bahagia bersamanya. Terlelap dalam dimensi diam gemuruh senyumnya, satu lengkung sabit yang menggambarkan kesenangannya. Perlahan, aku mendengarkan percakapan dengan khidmat. Agar aku tahu apa saja yang ia suka, kebiasaannya. Dia menyukai miniatur mobil, kesukaan. Dan aku tahu dia hobi otomotif, hampir semua tipe mobil ia miliki miniaturnya. Aku pernah dengar itu dari Ito, kalau mereka kedapatan bersama di kantin, selalu obrolan otomotif yang menyambar telingaku. Pesona cara bicaranya seolah menguasai alam bawah sadarku untuk terus memujinya dengan diam-diam. Seperti maling yang ingin mencuri di saat siang, mengendap-endap tanpa ingin ketahuan orang-orang

Lima belas menit percakapan itu berlalu dan sudah ada bel sekolah. Saatnya upacara, di lapangan.

Penyambutan tahun ajaran baru ditutup berbagai wejangan dari Kepala Sekolah. Sudah biasa, kan? 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar