Selasa, 26 Juni 2012

Living On My Own 2


Hari-hari terasa janggal, ketika besoknya di sela-sela istirahat ia duduk di sebelahku, ruangan kosong dan tutur katanya mulai mengalir. Ada nada kecewa di setiap kata yang ia ucapkan, ada luka yang tersirat ketika aku melihat matanya. Ketika aku bimbang, antara harus sedih atau kecewa, aku menikmatinya. Aku menikmati saat-saat bisa bersamanya meski hanya sebatas penghibur laranya, apa aku egois untuk bahagia di atas penderitaan dia? Tapi bukankah itu memang keinginanku? Lagipula bukankah egois itu harga mutlak seorang manusia? Tanpa ego kau tidak akan punya pendirian, bukan?

“Kenapa dia harus terima kemaren? Katanya dia bilang dia suka sama gue juga? Gimana sih?”

Aku hanya diam sambil menyuapi mulutku dengan bekal yang aku bawa dari rumah, aku membiarkan dia bercerita sesuka hatinya tanpa mesti mengusik dengan cara apapun. Toh saat ini yang dibutuhkannya bukanlah saran, dan dia tidak memintanya, dia hanya butuh pendengar yang baik.

“Sakit lho, padahal kan harusnya gue yang nembak dia. Ya kan?” Aku mengangguk. Kemudian dia tertunduk lesu. Aku tidak tega, aku menutup bekalku dan berbalik menatapnya.

“Masih banyak cewek kok yang pantes buat lo, ya mungkin dia emang bukan jodoh lo…” Aku menepuk punggungnya. Dia tersenyum, tidak tahu apa yang membuatnya senang, yang jelas apapun yang menjadi sebab dia tersenyum, aku bersyukur. Dan tak lama ia meminta izin untuk membeli makanan ke kantin.

Dari balik punggungnya, aku mendesah.

Karena kebiasaan aku selalu menyimpannya sendirian, tanpa perlu ada yang tahu bahwa sejatinya aku menyukai orang yang selama ini tidak terlalu diperhatikan. Lagipula pergaulan kami berbeda, dia jauh beberapa tingkat di atasku, tapi respect akan orang sekitar membuatnya mudah diterima di kalangan mana saja. Gayanya yang selalu asyik ketimbang anak lain, membuatnya selalu dikenal. Dia tidak pernah memilih dalam berteman, selama 3 tahun aku bersamanya pun dia tidak pernah banyak menuntut sebagai seorang teman. Ketika ia asyik dengan lingkungannya aku juga berbaur dengan lingkunganku. Entahlah, aku tidak pernah punya niat untuk mengatakan kalau aku menyukainya lalu aku mau jadi pacarnya. Kalau soal itu ada banyak pertimbangan, selama ini aku selalu menunjukkan bahwa kami suka satu sama lain sebagai teman tidak lebih, dan tidak kurang. Yeah, terkadang hati memang suka memberontak kan? Aku lebih suka membiarkan keadaannya seperti ini, tanpa mengatakan apapun dan akhirnya mengubah jarak.

Satu tahun lewat dan kami masih sama saja, tidak ada perkembangan signifikan. Dia tetaplah dia dan aku tetaplah aku, tidak ada yang istimewa. Jarak selalu menjadi jeda utama di antara kami, aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama dua temanku, sedangkan dia dengan teman yang lain. Seperti rasis, bidang studiku bermain berkubu, mereka memiliki kubu masing-masing tapi tetap solid. Pandangan itulah yang membuatku merasa betah menjadi bagian dari mereka.

Aku baru ingat, setahun kemarin, belum lama ia melupakan anak perempuan itu, akhirnya dia mendapatkan kekasih. Aku mengenalnya, dalam acara study tour yang diadakan sekolahku bergabung dengan sekolah cabang di daerah lain. Mereka bertemu dan akhirnya pacaran. Aku sempat kaget, tapi pada kenyataan saat itu aku juga memiliki kekasih. Jadi posisi kami adalah sama-sama punya pendamping, aku pun masih mengesampingkan perasaan itu. Sementara aku berikan pada kekasihku dulu, nanti kalau sudah kosong akan kutuai lagi untuknya. Hubungannya memang tidak lama, tanpa aku sadari ia sudah lebih dulu kandas di tengah jalan, tapi dia menyukai orang lain dan aku tahu yang kali ini adalah sejati tipikalnya. Seorang anak perempuan yang cantik, pintar dan memiliki segalanya, berasal dari sekolah cabang, aku tahu itu karena pernah mendengar ceritanya beberapa kali. Sebagai seseorang yang masih menjaga pertemanan dengan baik, aku hanya mendengarkan tanpa perlu memberikan komentar yang aneh-aneh. Tapi nyatanya, itu tidak bertahan lama, sempat dekat tapi tak kunjung meraih status pengikat, akhirnya mungkin keduanya menyerah.

Aku tidak terlalu memikirkan hal itu, sampai kemudian dia mulai mencari cinta baru dengan adik kelas kami. Saat itu aku juga sudah punya pendamping baru.

Sama-sama konsentrasi dengan kekasih kami, aku sering mendengar ceritanya. Apa yang dia lakukan dengan kekasihnya dan yeah terkadang kami sharing bersama. Aku tidak merasa risih atau terganggu saat aku menceritakan apa yang aku alami dengan pacarku, semuanya mengalir begitu saja baik aku ataupun dia. Menyenangkan…

Sampai dia kandas lebih dulu, sedangkan aku masih tetap bertahan…

Ada banyak hal yang aku lewatkan, aku terlalu sibuk memikirkan diri sendiri. Padahal kalau bisa dibilang ada banyak kesempatan yang bisa aku lakukan untuk dekat, tapi nyatanya tidak lama setelah putus dia sudah memiliki tambatan hati lain. Siapa lagi kalau bukan adik kelas kami di tahun ajaran baru, awalnya aku sama sekali tidak mengenalnya meski beberapa temanku sangat mengenal anak itu. Aku terlalu cuek, aku mendapati bahwa rasa itu lama-lama memudar, entah darimana asalnya. Aku tidak pernah lagi berpikir untuk merapatkan diri di dekatnya, aku hanya bersikap biasa saja, sebagai teman. Tidak lagi menujukkan gerak gerik aneh meski terkadang ia bersikap manja dan memintaku untuk mendengarkan ceritanya.

Sampai pada saat hubunganku berjalan setahun lebih, ketika sedang belajar kewarganegaraan dan dia duduk di belakangku. Dia memang terkenal iseng dengan anak perempuan, gaya bicara suka ceplas ceplos tanpa dipikir, sikapnya cuek, tapi ya dia bersikap apa adanya. Dia memainkan suraiku dengan tangan, “rambut lo panjang ya…” Aku menoleh ke belakang, mengangkat alis dan membalikkan badan kembali. Aku masih bisa merasakan jari-jari itu memintal surai pekatku, “Coba lo nggak punya pacar, vi… Udah gue pacarin kali ya, gue kan suka sama lo.” Aku membelalak, tidak percaya dengan apa yang barusan dia bicarakan.

“Apaan sih nggak lucu banget…” Aku terkekeh, “beneran… tipe gue kan yang kayak lo gini.” Selentingan kalimat itu menjadi pendorong untuk rasa yang pernah mati, yang pernah aku biarkan begitu saja. Aku tidak pernah berpikir kalau ia akan mengatakannya. Memang saat ini akulah yang memiliki penghalang, aku memiliki kekasih yang sulit aku jelaskan bagaimana dia. Bagaimana aku menghabiskan apapun yang aku miliki untuknya, seolah kiblatku ada padanya. Dalam beberapa kali kesempatan, karena kami terbiasa dekat, dia sering tanpa sengaja memelukku dari belakang, sekedar memegang pinggangku, atau memelukku, membiarkanku mengaitkan lenganku pada lengannya. Tanpa pernah menimbulkan detak berlebihan di dalam dadaku. Aku merasa fine saja, toh hubungan kami hanya di sekolahan, begitu kembali ke rumah, aku hanya ada untuk kekasihku. Itu saja, aku pandai menutupinya, yeah aku memang pandai bersandiwara, kan?

“Tidak ada satu orang pun yang menjadi pintar ketika mereka jatuh cinta.”

Gagasan itulah yang aku dapati, tidak pernah ada perasaan yang menyelinap secara diam-diam. Rasa yang membuatku tenang tanpa ada gejolak apapun. Tidak pernah menemukan detak abadi seperti yang lainnya. Kala itu istirahat dan aku sedang makan bekal di dalam kelas, aku beranjak untuk membuang plastik bekas tempat lauk yang ingin kumakan, dari pintu keluar ada suara dia. Tadinya mau berjalan ke bangku tempatku duduk, tapi urung aku menoleh ke belakang, tanpa tedeng aling-aling sesuatu menyambar begitu cepat. Halus dan lembut, cepat dan kilat. Tanpa sempat aku memejamkan mata, dan mengelak, bibir kami bersentuhan dalam waktu yang relatif singkat. Ketika dia berjalan menjauh, dan aku menoleh ke belakang, dia hanya memasang wajah tanpa dosa. Oh god….

Aku buru-buru kembali ke bangku dan mengelap bibir.

Kali ini rasanya seperti diestrum. Sial, aku kecolongan. Cepat sekali gerakannya. Aku tidak percaya dia sangat cepat, beberapa kali aku menoleh padanya, seakan memberi kode. “Hei, kau membuatku kecolongan!” Anehnya, aku tidak merasa bersalah ketika kejadian itu terjadi, harusnya aku merasa bersalah bukan saat dicium oleh orang lain selain pacar? Tapi aku hanya bungkam, kupikir tidak ada yang melihat adegan barusan.

Meski nyatanya aku salah besar…

Satu diantara teman studiku melihatnya, dan dia sempat meledek. Pipiku merah, meski aku berusaha menyembunyikannya mati-matian, dari sahabat sebangku ku dan kekasihku tentunya. Aku tidak tega untuk menyakitinya, karena menurutku kekasihku terlalu baik. Aku menghela nafas, reflek yang telat. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar