Rabu, 06 Juni 2012

He Is My First (part 4)


Seolah tak pernah aku temukan, untuk satu jawaban yang menggema, meneriakkan beberapa patah kata dalam lengkung abadi senja. Tak pernah aku menaruh harapan besar di atas langit mega, aku hanya butuh seteguk surya untuk menguatkan. Mengalihkan diriku dari badai, pasir dan Hera akan bertanya pada Zeus, bagaimana memikat dewa dengan kecantikan Aphrodite sebagai tahtanya. Kemudian bumi akan tertawa, mengguncang Yunani hanya dalam sekejap.  Isak tangis malaikat yang membuatnya terheran, ada apa dengan langit kelam? Mampukah awan menunjukkan singgasananya? Di balik kelabu malam, dan gagak yang menghindar? Apa aku harus mencari celah dimana kedatangan ajudan Tuhan? Oh sebaiknya kotak Pandora tidak perlu dibuka, bukankah sebuah rahasia akan tetap menjadi rahasia? Seperti takdir yang tidak perlu dibuka isinya. Tidak seru, seperti puzzle yang kehilangan potongannya atau malah sudah lengkap sebelum kita bisa menyusunnya. Seperti permainan yang sudah usai kemudian dimainkan kembali, tidak seru. Tidak ada tantangan yang membuat keadaan menjadi terhakimi.

Rutinitas yang membosankan, setiap hari hanya ada pelajaran di dalam kepalaku. Pun tugas hanya itu-itu saja yang aku kerjakan, bayangkan bagaimana ada di posisiku?

Dituntut menguasai keseluruhan pelajaran dan setiap harinya harus menelan beberapa kalimat di dalam buku pelajaran. Yeah, aku tersiksa sejujurnya. Namun tak bisa kubayangkan bagaimana raut wajah kedua orangtuaku kalau mereka melihat nilaiku tidak sepadan dengan apa yang ada dipikiran mereka. Pasti aka nada raut kecewa di sana, dan aku tidak bisa membayangkannya. Sama sekali tidak bisa kulihat wajah kelelahan itu kecewa. Mau jadi anak apa aku ini?

Aku menghela nafas, untuk beberapa minggu melelahkan di sekolah.

Dengan kegiatan yang itu-itu saja, sebagai pelajar tentu kejenuhan menjadi yang paling utama. Peluang hari libur walau Cuma satu hari benar-benar dimanfaatkan olehnya sebagai penambah stamina. Belum lagi beberapa tuntutan di sekolah, sementara kedua orangtuanya berjuang demi pendidikannya, gadis berusia Sembilan tahun ini berjuang untuk melihat senyum kedua orangtuanya.

***
“Yah, hujan….” Keluhnya saat melihat awan meneteskan airnya. Jutaan titik air menjatuhkan diri mereka ke dataran aspal. Keras, tapi tidak sakit. Berkali-kali terbentur dan tak bergeming, “ini gimana pulangnya ya?”

Viervhy Juliana melirik arloji biru di tangannya, saat ini berdiri di lorong Ruang Tata Usaha sebelum mencapai gerbang, menikmati sajian langit dengan air tawarnya. Menghanyutkan, pemandangan serupa yang dinikmati oleh anak-anak lainnya. Bening hitam memantulkan perangkap halusinasi yang terekam, sejenak mencium aroma seseorang. Terlalu dikenalnya, ia menoleh. Sesosok tinggi jangkung sudah berada di sampingnya, berdiri tegak dan menatap ke arah yang sama tanpa jeda, tanpa lirikan syang pasti, tanpa gerakan interupsi lainnya. Ivy, biasa dipanggil namanya hanya bisa menatap diam pemuda di sampingnya. Bibirnya mengatup namun detak jantung seolah bicara padanya. Pemuda pemilik surai kecokelatan ini mampu membiusnya dalam sekejap, membuat Ivy serasa sesak nafas di tengah guyuran hujan. Ia tetap mengawasi Favi dalam jarak dekat, diam-diam menyelipkan kecewa sebab dalam jarak sedekat ini saja komunikasi sebatas kalimat sapa tidak terucap sama sekali.

Inginnya mengatakan hal yang wajar, sama seperti anak laki-laki lain yang dekat dengan Favi, menanyakan segala hal tentang kehidupan Favi, semuanya. Ivy seolah haus dengan laki-laki di sebelahnya. Daya tariknya seperti magnet segitiga Bermuda, memantau seluruh nadinya agar terus menelusup di dalam dekap kagum seorang adam.

“Pulang?” Fauzi kulihat sudah berdiri di sebelah Favi, menepuk pundak pemuda itu dengan santai. Favi menunjuk langit dan menggeleng. Bahasa isyarat, kenapa dia tidak bicara saja?

“Tunggu aja dulu sampe reda, lagian bakalan lama deh. Eh, Ivy…” Tolehan Fauzi membuatku mengukir senyum, dan mengangguk, “mau pulang juga?”

“Iya, cuma hujan. Nggak tau nih mau pulang gimana.” Aku mengedikkan bahu.

“Perpus aja yuk sama gue, Fav, Vy… Yuk, si Ito juga masih di perpustakaan tuh.” Ia menoleh ke lantai 2 tempat dimana perpustakaan berada.

Seketika mata kami beradu tatap, sama-sama mengalihkan pandangan ke arah perpustakaan. Sebuah kebetulan atau memang jalan pikiran kami sama? Bahkan dalam sepersekian detik kami berdua sama-sama melangkah untuk satu tempat tujuan—perpustakaan. Kami ingin ke sana, di lantai 2. Setidaknya membaca beberapa buku bisa membunuh waktu, walau langit belum sembuh kesedihannya setidaknya tangisannya tidak menjerit akibat batin yang tersiksa. Menaiki satu per satu anak tangga menuju lantai 2, aku di depan dan Favi di belakang kami. Rasanya seperti mengumpat dalam sunyi, hanya degup jantung sendiri yang terdengar. Hanya bisikan dinding yang kau raba, semuanya hanya kau sendiri yang merasakan. Herannya aku tidak berani menoleh ke belakang, terlalu takut untuk mengetahui ia hanya berjarak beberapa centi dari tubuhku, dan posisi kami sangat dekat.

Aku menghela nafas begitu berbelok ke arah perpustakaan dan Favi mengikuti tepat di belakangku. Bukankah seharusnya ia berjalan saja di sebelahku? Atau di depanku? Kenapa harus di belakangku? Seperti ekor yang setia menemani, aku tetap menatap lurus ke depan sampai menemukan palang perpustakaan. Lorong lantai 2 menjadi begitu sunyi setelah pulang sekolah, aku tidak yakin banyak anak yang menghabiskan waktu di perpus. Kau tahu sendiri anak sekolah dasar tidak akan betah berdiam diri di perpustakaan, kecuali kalau di dalam perpustakaan itu ada arena bermain seperti yang ada di taman kanak-kanak.  Sama sekali kami tidak saling bicara, menutup mulut dengan sejuta kata. Aku tidak tahu apakah Favi ingin bicara padaku atau tidak, aku tidak tahu apa yang Favi pikirkan selama beberapa menit yang lalu.

“Ah!”

Aku menarik tanganku, menyadari kalau sedaritadi aku mematung di depan pintu perpustakaan dan tadi tangan kami hampir saja bersentuhan di gagang pintu. Awkward moment, no?

Sekali lagi, kedua mata pekatku menatap kelereng cokelat milknya. Bola mata indah yang selalu menghiasi wajah manisnya. Hidung mancung, dengan kulit putih yang kontras, matanya belo, bibirnya tipis, pipinya tembam, dahinya tertutup poni yang menyamping ke arah kanan. Bulu matanya lentik, alisnya tidak terlalu tebal, surainya cokelat, proporsi tubuhnya agak bungkuk, aku menyukai semua yang tergambar jelas di wajahnya. Asal tahu saja, baru detik ini aku bisa sedekat ini dengannya.

“Jangan bengong…”

Kalimat pertama yang diucapkannya padaku.

Bukannya menjawab aku malah diam menatap Favi. Suara singkat itu begitu menggema di dalam kepalaku. Aku mengikutinya masuk ke dalam perpustakaan. Bilik yang dominan selalu sepi, jarang murid berkunjung ke sini kalau bukan pada saat jam tidur siang. Iya, kebanyakan dari mereka biasanya ke sini saat waktu istirahat siang, memilih tidur di kursi-kursi milik perpustakaan. Jelas saja mereka akan terlelap, Air Conditioner di sini sangat dingin berbeda dengan yang ada di kelas-kelas. Tumpukan buku dan jajaran lemari yang tinggi membuat beberapa murid berlangganan menjadikan perpustakaan sebagai kamar tidur mereka yang kedua—nyaman. Suasana yang tenang dan hening, siapa yang tidak betah.

“Ito dimana? Katanya di sini…” Favi balik badan, ia menatapku dengan wajah tanda tanya.

Sepertinya dia bertanya pada orang yang salah, atau malah bukan sepertinya? Sudah pasti salah, karena aku sendiri tidak tahu Ito ada dimana. Seketika dadaku bergemuruh tak tentu arah, mulai berdegup kencang menyadari situasi yang ada di luar perkiraan. Aku mengitari sekeliling perpustakaan, tak satupun aku temuka makhluk bernafas kecuali udara. Wajahku bersemu merah, menatap Favi sedekat ini. Ah jantungku jadi tidak karuan, bagaimana ini?

“Nggak tau, di sini bahkan nggak ada satu murid pun yang duduk.” Memalingkan wajah, memperlihatkan fakta dan realitanya. Favi menaikkan sebelah alisnya, ia berusaha mengecek ke seluruh ruangan, berharap menemukan satu orang saja di dalam. Langkahnya tenang, matanya mengawasi. Sampai ia kembali di hadapanku dan mengehela nafas, namun kulihat tangannya terisi sesuatu. Buku? Sempat-sempatnya di dalam keadaan yang seperti ini dia berniat meminjam buku perpustakaan? Aku menunjuk buku di tangannya.

“Itu Ito? Kok dia jadi kecil?”

Ini bukan joke murahan, tapi memang aku merasa aneh dan perlu terbiasa dengan suasana yang terlalu kaku seperti sekarang. Favi mengangkat buku itu ke depan wajahnya dan memperlihatkan judulnya di depan wajahku, “7 Keajaiban Dunia.” Dongeng macam apa? Oh ralat, itu bukan dongeng, tapi sejenis buku pengetahuan yang aku tahu dia menguasainya. Aku mengedikkan bahu, dan demi Tuhan untuk pertama kalinya aku lihat dia tersenyum. Senyum tulus dan wajahnya berseri penuh arti. Selasar menghangat di sekujur tubuhku, menimbulkan satu-satunya kesadaran diriku kalau saat ini yang terjadi di depanku adalah nyata. Favi tersenyum jenaka ke arahku. Sungguh ini kejadian langka.

“Bukan, ini buku yang mau gue baca.” Ia menatapku dengan jenaka, setiap centi gerakannya akan terekam begitu kuat di dalam ingatanku, “mau tetep disini atau keluar? Hujannya udah reda belum ya?”

Di luar dugaan dia banyak bicara. Aku baru menyadari kalau ucapan Ito ada benarnya. Kalau hanya sepintas mengenalnya, Favi akan seperti balok es yang mematung di tengah jalan. Dingin, tak satupun senyum yang terukir pada raut mukanya, tidak satupun kata berarti yang keluar dari bibirnya kecuali pada saat moment tertentu. Ah kenapa aku baru menyadarinya? Menyadari laki-laki ternyata lebih dari yang aku duga, nyaris seperti kotak Pandora yang di letakkan secara sembarangan. Tidak, Favi diletakkan di tempat khusus yang bahkan tidak pernah tersentuh oleh apapun. Hanya ada beberapa tangan yang menyentuhnya dengan hati-hati. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar