Selasa, 26 Juni 2012

Living On My Own Way 4


Sesi foto satu angkatan, pertemuan kesekian…

Pacarku janji akan menjemputku hari ini. Jadi atau tidaknya memang masih 50:50. Tidak berharap banyak, kenyataannya sore itu sekitar pukul 5 dia datang. Aku melihatnya di sudut sekolah, mengenakan jaket hitam dan celana jeans hitam favoritnya, surainya sudah memanjang, poninya hampir menyentuh mata. Berdiri kasual mengawasiku dari kejauhan, acara sesi foto ini memakan waktu banyak. Pacarku itu tidak suka menunggu, wajahnya masam. Apalagi berada di lingkungan seperti ini. Menghela nafas begitu selesai acaranya, hari ini banyak yang akan kami lakukan.

Serangkai aktifitas dan tujuan kami adalah ke atap sekolah, aku hanya menemani sahabatku saja. Nampaknya dia ada urusan dengan seseorang, aku hanya duduk bersama pacarku membelakangi sahabatku bersama seorang adam lainnya.

Pembicaraan yang melelahkan, dan kami mengakhirinya.

Pacarku bilang dia lapar, maka sebelum pulang aku memutuskan untuk makan di depan sekolahan, bersama sahabatku juga. Memilih duduk agak ke sudut, dan kami mulai bicara satu sama lain. Baik aku atau sahabatku, kami sama-sama nyambung kalau sudah bertiga, sambil menunggu pesanan datang terjadi hal yang diluar dugaan.

Dia datang—laki-laki yang aku suka datang.

Menghampiri kami dengan cengiran khasnya, meminta izin untuk bergabung bersama kami. Aku terhenyak sempat kaget tapi kututupi. Kupikir pacarku melihat reaksiku barusan, maka aku buru-buru mengubahnya. Aku tidak ingin mengundang curiga, nanti semua bisa berantakan. Memfokuskan diri di hadapan kekasihku sementara di lain sisi seseorang yang aku suka tengah bersamaku, sesekali dia meledek aku dengan pacarku, aku memang tipikal orang yang tidak gampang panas, namun gelagat pacarku yang sepertinya mengetahui sesuatu yang tidak beres menatapku curiga, sekuat mungkin aku berusaha untuk bersikap biasa saja. Menunjukkan bahwa aku dan dia memang tidak ada apa-apa, hanya teman biasa. Sementara, pada pertengahan obrolan kami, dia memanggilku dan menutup wajahnya dengan sebelah tangan, memajukan bibirnya seperti orang yang meminta dicium, raut wajahku seketika berubah dan aku memalingkan wajah. Apa-apaan dia ini? Aku kan lagi bersama pacarku, nanti kalau dia tahu sesuatu hal yang janggal, aku tidak bisa melihat hatinya sakit.

Kuputuskan untuk mengabaikannya sementara.

Dan ternyata berbagi peran itu tidaklah mudah, pada saat bersamaan terlalu sulit untuk dilakukan. Memainkan dua peran sekaligus dengan lawan main yang berbeda cukup menguras tenaga. Pada saat perjalanan pulang, dan kami berada di atas motor, pacarku melontarkan pertanyaan yang sudah kuduga pasti dia akan menanyakannya.

“Dia satu kelas sama kamu, yang?”

“Iya, kenapa?”

“Aku nggak suka aja sama dia, sok akrab.” Aku berusaha tenang mendengar ocehan pacarku. Memang tabiatnya orang itu suka sok asyik tapi memang dia asyik.

“Iya emang begitu orangnya…”

“Kamu… Nggak ada apa-apa kan sama dia?”

Hening sejenak, sedetik kemudian aku menjawabnya dengan lugas, “nggak kok. Kita cuma temen aja nggak lebih.”

Setidaknya menjaga perasaan seseorang itu wajib. Lagipula aku tidak ingin melihat pacarku tersakiti, pengkhianatan di belakangnya mungkin lebih pedih. Katakanlah aku manusia paling berdosa, berkali-kali mengkhianati dia yang menyayangiku dan mengorbankan waktu serta tenaganya untukku. Sepatutnya aku meminta maaf padanya, tetapi lidah kelu dan hati tak kunjung mampu. Terlanjur menikmati, sebut saja seperti itu. Padahal aku tahu, aku berjalan pada jalur yang salah. Bagaimanapun aku memutar kesadaran, tetap saja semuanya salah. Meski seharusnya aku bisa menghindar dan aku bisa menutupi perasaan suka ku pada dia, demi pacarku yang saat ini bersamaku. Aku tidak keberatan meski harus mengubur dalam-dalam perasaan itu demi membuatnya bahagia.

Tapi apakah dia yang saat ini bersamaku menjadi kekasihku akan bersamaku untuk hari esok dan seterusnya?

Seolah aku mengingkari hati sendiri. Menguatkan diri, bertahan untuk bimbang yang menelusup seiring berjalannya waktu. Aku sadar, gelagatku terbaca olehnya. Lagipula pacarku tidak buta, setahun menjalani hubungan bersamaku mana mungkin dia tidak ingat kebiasaanku, raut wajahku akan hal-hal tertentu. Hanya saja dia tidak mengatakannya, mungkin takut mendengar kenyataannya. Biarlah semua berjalan bagaimana semestinya. Terkadang aku berpikir bahwa apa yang aku jalankan saat ini, sandiwara yang aku mainkan hanyalah semu yang sia-sia, tidak ada gunanya. Toh pada saatnya nanti, kisah cinta ini akan berakhir. Tidak pernah ada janji yang mengatakannya bahwa kami akan bersama untuk seterusnya, karena aku seorang pengkhianat.

Senyum kecut terpampang di wajahku—kalaupun aku akan menerima hukuman dari Tuhan, aku akan terima sebagaimana mestinya.

Aku tahu dia akan sakit kalau menerima kenyataan bahwa selama ini hatiku mendua, tanpa pernah ia sadari itu. Predikatku memang setia, tetapi dimensi lain menarikku pada perselingkuhan dalam diam. Sebagai pemain drama, aku cukup handal memainkan peran ini. Memposisikan diri di dua latar yang berbeda untuk dua orang yang memiliki status yang juga berbeda. Meski aku menyukai dia yang 3 tahun bersamaku, tapi aku juga menyayangi orang yang selama 1 tahun bersamaku. Hati yang terbagi dua itu selalu menuntut, dan ada saatnya dimana aku yang harus menyerah atau salah satunya dipaksa menyerah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar