Selasa, 26 Juni 2012

Living On My Own Way 3


Hari-hari berjalan seperti biasanya, belajar seperti biasa dan tidak pernah ada yang istimewa. Menjalani aktifitas masing-masing. Omong-omong sampai detik ini aku belum kenal dengan pacar barunya, katanya pacarnya yang kali ini berbeda. Entahlah aku tidak tahu.

Kemudian kebiasaan kelas studi kami adalah main kartu, kalau tidak ada guru. Berjam-jam di kelas tidak ada guru, cukup membuat kami mati kebosanan, akhirnya main kartu seharian. Lagi-lagi sore, yang lain ke kantin, sisa aku dan teman sebangku ku tengah duel main kartu, kemudian dia masuk. Berteriak seperti biasa dan menghampiriku, “darimana?” tanyaku ketika melihat dia membawa botol aqua.

“Dari kantin, dong…” Tubuhnya condong ke arahku, dan terjadi lagi. Bibirnya menyentuh bibirku dengan cepat dalam hitungan detik tanpa aku bisa menghindar. Damn it! Kali ini aku tidak bisa mencegah teman sebangku ku melihat. Itu terjadi persis di depannya, dan aku jadi gugup sendiri. Kubiarkan kedua mataku membelalak menatapnya dan buru-buru meminta tissue pada sahabatku, alih-alih upaya membersihkan bibir. Melakukan kesalahan, sahabatku itu kenal baik dengan pacarku, tadinya aku sempat berpikir bahwa dia akan mengadukan hal ini pada pacarku, tapi aku tahu dia bukan orang yang pengadu, mulutnya bisa menjaga rahasia. Reaksinya tidak bisa digambarkan, sahabatku marah, dan mengatakan pada dia.

“Sumpah ya kalian… Elo lagi udah punya cewek masih aja… Ampun deh gue! Dia tuh refleknya lama! Aduh lu sih bener-bener deh!” Sahabatku itu segera memaki dia, laki-laki yang sudah membobol pertahananku dua kali. Sedangkan dia hanya tertawa, tersenyum seakan menang. Saat sahabatku duduk, barulah rasa bersalah itu menyerangku, “Jangan bilang-bilang ya sama pacar gue…” Sahabatku mengangguk, syukurlah dia mengerti. Tidak bisa aku pungkiri rasanya seperti dunia jungkir balik. Walau aku bingung harus menyesal atau senang, di satu sisi aku senang, bahagia. Siapa yang tidak bahagia ketika dicium dengan orang yang disuka? Siapapun akan merasa bahagia kan meski dengan cara yang salah? Karena setiap orang punya cara bahagia masing-masing, tidak selalu berada di dalam jalur yang benar. Justru terkadang mendapatkan bahagia itu harus melalui jalan yang salah sebelum akhirnya kebahagiaan sejati bisa kita dapatkan diakhir jalan yang benar.

Aku tahu ini salah, bodohnya aku melanjutkannya. Meski dengan sampul kebahagiaan semu dan dalam jangka waktu sementara, aku menyukainya. Menyukai anomali yang membawaku terbang tinggi. Meski aku mengabaikan perasaan seseorang yang saat ini bersamaku, meski seringkali aku mangkir dari betapa kesetiaannya benar-benar teruji. Walau saat ini aku tahu akan ada hukuman untuk ke depannya. Aku terima. Anggaplah ini bonus dari Tuhan. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar