Jumat, 01 Juni 2012

He Is My First ( part 3 )


Seperti biasa setiap hari pertama sekolah di tahun ajaran baru, sudah pasti aka nada kegiatan interaktif antara guru dan murid. Seperti pemilihan ketua kelas, pemilihan wakil, dan seluruh perangkat sekolah. Kemudian penyusunan jadwal mata pelajaran, ditutup dengan pengumuman kalau besok kegiatan belajar mengajar sudah dimulai.

Itu artinya aku akan bergulat lagi dengan pelajaran, berkutat dengan tugas dan berpacaran dengan buku pelajaran. Oh bosan, berusaha menikmatinya adalah jalan yang bagus sekalipun tidak terlalu efektif. Yeah, ini resiko yang harus aku ambil untuk membuat keluargaku bangga. Aku tidak ingin melihat mereka kecewa dengan hasil yang pas-pasan. Kedua orangtuaku itu kan sudah bekerja keras untuk membiayai sekolah, mereka bekerja siang dan malam demi aku untuk mendapat pendidikan yang layak dan ilmu yang bermanfaat. Aku tahu mereka menyimpan banyak harapan padaku, mereka ingin melihat aku sukses melebihi mereka. Maka untuk setiap usaha yang mereka lakukan aku tidak ingin semuanya jatuh sia-sia. Karena masih muda aku yakin peluang untuk sukses banyak, hanya saja jangan sampai aku menyerah dengan mudah.

Bagaimana bisa aku menyerah dengan mudah atas pendidikan dan kesuksesan sedangkan kedua orangtuaku saja tidak menyerah begitu saja demi membuatku sukses di masa depan? Konyol, huh?

Aku membereskan buku-buku yang masih kosong, dan berniat untuk langsung pulang ke rumah. Karena harus istirahat, sementara sore nanti aku ada les tambahan. Jadi sebaiknya daripada keadaanku memburuk dan jatuh sakit, harus sedia payung sebelum hujan dari sekarang.

“Bareng Vy?” Aku menoleh, mendapati Ito sudah berada di belakangku dan sudah memanggul tas ranselnya.

“Tumben…”

“Tumben apanya?”

“Biasanya bareng Favi, kok tumben mau bareng gue?” Aku berniat memakai tas ransel dan baru saja bicara tentang Favi orangnya malah sudah muncul tepat di belakang Ito.

“Favi mau main ke rumah gue, nah lo kan searah sama gue jadi sekalian aja…”

Aku bukannya mengangguk malah mengalihkan pandangan pada Favi yang sama-sama menatap ke arahku. Kenapa aku malah membenci saat-saat seperti ini? Saat-saat ketika ia menatap mataku dan aku hanya bisa berdiri diam mematung. Apa yang salah dengan tatap matanya? Apa yang salah dengan bius yang mengarungi alam bawah sadarnya?

“Hei, Vy! Jadi nggak pulang bareng?” Ito mengagetkan lamunanku.

Sialan, desisku. Mengganggu saja, menganggu pikiranku tentang Favi. Imajinerku tengah merasakan kedamaian tadi.

“Hng… yaudah, oke.”

***
Aku melihatnya, dia begitu tenang. Seperti air yang mengalir mengarah pada samudera. Hampir tidak pernah kutemui ia bergejolak seperti api yang siap dipanaskan. Tidak pernah kulihat amarah menguasainya, selalu ketenangan yang mendominasi wajahnya. Di saat seperti apapun yang kulihat hanya angin mendayu. Siapa yang tidak terpikat pesonanya?

Aku tahu, aku hanya anak kecil berusia 9 tahun yang terlalu berpikir secara dewasa, namun itu semua tidak ada artinya. Meski aku terus mencari jawaban apa yang aku rasakan setiap kali melihat dia? Apa yang aku rasakan ini wajar? Terlalu terpikirkan, aku tidak bisa mengelak dari badai yang datang, yang membuatku menelan bulat-bulat pikat tubuhnya.  

“Itu rumahnya Ivy!” tunjuk Ito saat aku berhenti di depan rumah.

No response, tidak ada respon berarti yang Favi katakan. Ia menatap datar bangunan 2 tingkat di sebelah kiri kami. Sementara aku sudah membuka gerbang dan aku masih tidak bisa memalingkan tatapanku dari kedua mata cokelatnya.

“Makasih ya udah nganterin…” Ito melambaikan tangannya sementara aku bergegas masuk ke dalam rumah, menaruh sepedaku dan pergi ke kamar.

Sengaja aku melewati dapur dan pirantinya. Aku sedang tidak ingin menyentuh apapun di meja makan, aku hanya ingin segera tidur dan berangan-angan dengan pikiran imajinerku. Terutama tentang pemuda bernama Favian. Nama kecil yang selalu membuatku tersipu setiap kali mata kami bertemu tatap, nama yang selalu ada di dalam kepalaku, nama yang selalu aku hembuskan setiap kali merasa kesepian, nama yang sudah aku ukir baik-baik di suatu tempat tak bertuan. Menaruh lenganku di atas kepala, sebaiknya aku beristirahat saja.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar