Jumat, 01 Juni 2012

He Is My First


Sejauh apapun kamu pergi, hatimu akan selalu kembali padanya—

Kalimat itulah yang terngiang-ngiang di telingaku. Ada kalanya seseorang yang pergi tidak sepenuhnya pergi dari dalam hatimu, dia tetap tinggal disana bersama jiwamu, hanya saja raganya tak pernah menyambangimu di sana. Pedih? Tidak juga, aku tidak pernah merasa pedih ketika kuingat sosok itu tak pernah kutemui sejak 8 tahun silam. Lalu rasa apa lagi yang akan kau perkirakan? Sakit? Menangis? Entah, aku tidak pernah merasakan kesakitan sebagaimana lelaki yang selama ini lalu lalang di dalam kehidupanku. Aku menikmatinya, menikmati satu-satunya jiwa yang hidup di dalam hatiku. Satu-satunya jiwa yang bernafas di dalam satu raga bersamaku selama 8 tahun ini, selama aku menunggunya kembali.

Sebut saja aku bodoh, sikapku yang selalu menunggu seseorang yang aku tahu sama sekali tidak akan menoleh kembali padaku. Laki-laki yang sudah satu windu hidup dalam tenang di hatiku. Berbeda dengan gemuruh kasar yang ditimbulkan kaum adam lainnya. Ia begitu tenang, sarat akan ketidakpastian alur kehidupan, bahkan aku tidak tahu kapan ia akan datang di depan ku. Aku bahkan tidak tahu rupanya seperti apa, bagaimana keadaannya, seperti apa kehidupannya sekarang. Terlalu naïf untuk mengetahui kehidupan seseorang yang bahkan tidak kau tahu sama sekali seluk beluknya, tapi anehnya kau mencintainya—sangat. Seperti candu yang memabukkan, seperti angin yang membawamu terbang ke singgasana teratas.

Bukankah cinta itu memang selalu absurd?

Tidak terlihat tapi bisa kau rasakan, mengerikan. Jauh lebih mengerikan kalau kau tidak tahu apa yang kau cintai. Aku seperti mencintai roh Tuhan, dan malaikat selalu mendekatkanku dengannya. Aku tidak pernah tahu bagaimana caranya, tapi aku merasakannya. Aku selalu merasakan denyut nadiku bersamanya, bersama seseorang yang aku tidak tahu dia masih hidup atau tidak. Ah tolong, jangan biarkan aku berpikir secara negatif. Aku yakin dia masih hidup, masih memiliki nafas. Jangan tanya aku tahu darimana, aku mengetahuinya karena dia hidup di dalam sini—hatiku.

***
8 tahun yang lalu—

Juli, 2004.

Bangunkan aku kalau surya telah mencapai ufuk timur, karena aku tahu ini sudah bulan Juli dan aku selalu menyukainya. Sama seperti namaku, Viervhy Juliana. Kenapa aku suka bulan Juli? Pertama, karena aku lahir bulan Juli, kedua karena bulan Juli itu libur sekolah dan aku sangat senang kalau liburan tiba. Kenapa? Karena aku akan terbebas dari ancaman tugas dan berbagai buku pelajaran yang menunggu untuk dibaca. Jujur saja, aku tidak suka belajar tapi karena status yang kusandang adalah pelajar maka aku harus melakukannya. Aku mencoba untuk tidak menjadikan belajar adalah beban, tapi sebuah hobi yang selalu aku lakukan demi mengisi waktu luang. Aku juga mengisi hari-hariku dengan banyak kegiatan, seperti les mata pelajaran, mengikuti ekskul di sekolah. Aku tergolong anak yang sangat aktif dan berprestasi, jangan lupakan itu. Setiap tahunnya aku selalu menyabet beasiswa di sekolah dan aku selalu mendengar ada banyak orang mengalami pergunjingan tentang diriku. Ah peduli apa? Aku hanya mengapresiasikan diriku bagi mereka yang memberikan dukungan positif sementara komentar negative hanya akan aku saring sekedarnya saja. Bagiku, mereka yang bermulut usil dan menggunjing di belakangku hanya orang-orang yang iri dengan kemampuanku. Mereka menganggap aku lebih baik dari mereka, mereka tidak suka, dan mereka mencari tahu kenapa aku bisa lebih baik dari mereka dengan mengambil celah membicarakan hal yang buruk mengenai diriku. Simple kan? Begitulah kesimpulan bagi mereka yang suka berkomentar jelek tentang dirimu.

Tidak perlu aku ambil pusing, sungguh.

Hidup itu terlalu sempit hanya untuk menanggapi orang-orang seperti mereka. Dunia terlalu munafik kalau hanya mengurusi komentar miring tentang diri sendiri. Maka dari itu, aku tidak pernah menggubris apapun.

“Kak, sarapan dulu…”

Vokal untuk pagi ini adalah suara ibuku. Yeah, beliau selalu membangunkanku jam 6 pagi, tepat saat beliau akan berangkat kerja. Aku segera beranjak dari kasur tempatku tidur, oh baiklah bukan kasurku tapi kasur kami bersama. Ya aku sekamar dengan kakak perempuanku, April. Aprilia Renata. Kakak perempuanku berusia 4 tahun lebih tua dari aku. Kami bersekolah di sekolah yang sama—yayasan yang sama. Aku mengguncang tubuh Kak April, dia masih pulas tergolek di pembaringan. Sedangkan aku sudah menyingkap selimut tebal yang memeluk kami semalaman.

“Kak, bangun udah jam 6 nanti kita telat.”

Kak April masih menggumam di kasurnya sedangkan aku sudah bersiap mandi. Tidak ingin terlambat bertemu hari pertama di sekolah kan?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar