Senin, 02 Juli 2012

Living On My Own Way 6


Just smile, turn around and walk away. Don’t look back, you’re not missing anything.

Apa yang aku takutkan dari sebuah perpisahan? Kehilangan? Apa yang aku khawatirkan dari sebuah keputusan? Pilihan yang salah? Apa yang membuatku kecewa hingga sekarang? Pengorbanan yang disia-siakan. Seikhlas apapun aku menerima sebuah perpisahan tetap saja aku merasa kecewa sudah hadir di antara dua celah. Memangnya kau pikir melepas kepergian seseorang yang telah begitu banyak memberimu kenangan dan membuat dirimu berkorban segalanya adalah hal yang mudah? Walaupun aku harus mengakui, aku memang berbuat kesalahan. Bukankah setiap sepasang kekasih seharusnya berjanji untuk tetap bertahan walau saling dikecewakan? Janji… yang hanya bisa diucapkan namun tak kunjung diwujudkan. Tertawalah, katakanlah aku kekanakan. Hei, pada dasarnya ia hanya berkaca pada realita, masa lalunya terulang kembali bahkan lebih pahit dari yang ia duga. Seseorang yang sudah mengambil sebagian hartanya kini pergi begitu saja dengan atau tanpa permintaan maaf sekalipun.

Sama sekali aku tidak pernah berpikir hal ini akan terjadi—atau memang aku saja yang munafik?

Seharusnya aku tahu kalau suatu saat kebersamaan ini akan berakhir dengan atau tanpa pernyataan sekalipun. Bodoh, kenapa aku baru sadar?

Mencoba menghadapi hari-hari yang kosong dan berbeda seratus delapan puluh derajat, sejatinya hampa di dalam hari-hariku nyaris menyerang secara membabi buta membuat kedua mataku sulit terpejam tengah malam, tetapi mudah terbuka sebelum mega. Yeah, masa lalu begitu serakah memakan kenangan. Aku lelah dengan semua tuntutan yang mengharuskan aku melestarikan kenangan. Kenangan itu jahat, peran antagonis dalam setiap kehidupan, dia yang selalu berdiri menantang melawan ingatan, hati dan logika. Jalang, aku membenci setiap kenangan bersamanya, torehannya selalu menyakitkan, apa yang telah direnggut dariku. Puas? Membuatku jauh lebih kotor ketimbang 3 tahun yang lalu, huh? Oh damn! Bisakah kau katakana padaku betapa brengseknya dia yang dulu selalu kupuji setengah mati?

Aku menghela nafas, sebaiknya kulupakan. Kuisi hari-hariku dengan banyak kesibukan, meski setiap jeda masih membawaku untuk mengingat setiap kenangan bersamanya. Terkadang aku lebih memilih pulang malam dari sekolah setelah selesai latihan wisuda, karena sebentar lagi kami akan mengadakan acara lepas alih. Menghabiskan banyak waktu di sekolah dengan teman-teman, membuatku melupakan semua tentang mantan pacarku. Apalagi aku dihibur mereka, terutama dia. Walaupun kedua mataku seringkali menangkap dia sedang mesra dengan pacarnya, tapi aku tidak peduli. Tidak pernah aku rasakan sakit sebagaimana aku merasakan sakit saat diputusin mantan pacar. Aku terkekeh, dunia sudah gila.

Sore itu, seminggu sebelum hari H, aku berpapasan dengannya di gerbang sekolah. Dia bersama sahabat baiknya, dan aku bersama sahabat baikku. Kami sempat bercakap-cakap sebentar, setelah itu aku dan sahabatku pamit masuk ke dalam lingkungan sekolah. Tidak sampai satu detik, ketika aku membalikkan badan, dia menarikku dan langsung menyentuh bibirku dengan bibirnya—lembut.

Terjadi lagi….

Bisa kalian bayangkan situasinya seperti apa?

Yeah, kedua sahabat kami shock setengah mati. Sahabatku yang perempuan tanpa babibu segera memaki dia, mengatakan kalau tindakan tadi benar-benar gila, sebab dia sudah memiliki pacar. Terhitung reflekku memang lama akan hal-hal seperti itu, seperti biasa, dugaanku adalah reaksinya yang hanya sebatas cengiran usil kemudian melambai pamit.

Yang entah sejak kapan aku merasa degup jantung ini tidak lagi normal kalau melihat dia, sialan. Aku tidak pernah bisa benar-benar mengontrol permaina pacu jantung. Selalu saja membuatku kelimpungan. Hanya saja, bukankah aku adalah pemain drama yang handal? Tentu penonton tidak akan pernah lupa pada permainan yang aku ciptakan, skenario yang aku siapkan untuk menutupi segalanya. Aku tetap terlihat seperti teman-teman lainnya yang tidak terlalu menonjolkan perasaan apapun padanya, atau memang aku tidak berusaha untuk menunjukkan. Tahulah batas norma, sesama wanita tidak boleh menyalip sang pria, ya ya aku tahu janur kuning belum menjadi tonggak, kan? Apa salahnya menghormati milik orang lain. Hei, Karma tidak melepas begitu saja orang-orang yang mengkhianati listnya. Percayalah, dia akan datang kapanpun tanpa melihat keadaan. Rasanya licik kalau aku bermain di belakang, padahal Karma sudah mengintip. Yah, mau bagaimana lagi perasaan memang susah untuk dikendalikan, no?

Substansi manapun enggan mengusik rasa, apalagi kalau sudah menyeruak layaknya pesta pora. Ia tidak akan membiarkanmu hengkang, malah akan dibuat tunduk semena-mena.

Kali ini keadaan berbalik dengan mudah—

Aku selalu melihat dia dan pacarnya makan bersama, dan tentu saja aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri bagaimana mereka mengumbarnya. Yeah, untunglah aku seorang aktris yang sangat handal. Biar bagaimanapun aku tetap bisa mengontrol emosi, atau setidaknya aku tidak membiarkan pisau manapun menyentuh selaput hati yang sudah terkoyak. Baik aku ataupun dia, kami sama-sama memainkan drama dengan sangat baik. Di satu sisi, ia bertindak sebagai kekasih yang baik untuk pacar resminya, namun di satu sisi ia bisa menyentuhku dengan lembut. Aku akui permainannya sangat hebat. Dan kalau kau bertanya, apa aku merasa sakit setiap melihat mereka bersama?

Jawabannya adalah tidak.

Bagaimana bisa?

Karena aku menikmatinya, sepenuhnya menikmati sajian yang diberikan. Toh aku sadar, aku hanya bayang-bayangnya, aku hanya kabut yang berada di belakangnya, ketika badai datang, atau langit sepi, aku akan datang padanya, atau dia yang akan datang padaku? Pilihan yang manapun aku tidak keberatan, selama masih bisa bersamanya, selama aku masih bisa merasakan dia, aku tidak keberatan. Sekalipun pada akhirnya ini hanya kisah sementara. Hanya sisipan sebuah quote pun tak mengapa. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar