Minggu, 08 Juli 2012

I'm Sorry, I Love Him..


Detik-detik menjelang wisuda sudah semakin dekat…

Selama ini kami masih tenang-tenang saja, tidak intens pada beberapa pertemuan. Aku lebih banyak berkutat dengan persiapan menjelang wisuda. Selama sesuatu mengganggu dan mengganjal aku tidak akan merasa tenang.

Lagipula hari ini sepertinya dewi fortuna enggan menyapaku…

Dia tidak melambaikan tangannya, malah berpaling dariku. Aku melihatnya pergi tanpa sempat kucegah untuk tetap berada di sampingku. Haa, dunia ini memang tidak pernah bisa ditebak. Baru kemarin ada berita baik sekarang sudah menjadi duka. Waktu tidak pernah benar-benar membuang kesempatannya untuk menekan seseorang sampai ketitik terbawah, sial. Garis-garis kontur itu menekuk seolah menyulam wajahku menjadi garis tak beraturan, aku bagai hasil penjahit tak berornamen. Mengetuk, dan berjalan lesu. Bumi tidak pernah membiarkan siapapun untuk bersenang-senang, setidaknya hari ini. Ada saja masalahnya, benturan yang tidak dapat aku elakkan.

“Masih sama keputusannya?” Mr. Arnold menepuk pundakku.

Aku mengangguk lesu, disertai helaan nafas panjang. Spasi keheningan tanda aku tidak suka dengan keadaan. Mr. Arnold berdiri menghadap diriku. Ia mengamati hati-hati raut wajahku, kemudian membetulkan letak kacamatanya. Surainya yang berpotongan cepak dan berwarna tinta berayun ketika angina senja menerpa.

“Mereka nggak mau datang… Bagaimana ini? Masa aku wisuda sendirian?” Baru saja aku mengeluh. Mr. Arnold menepuk pundakku, dia mengajakku ke ruang guru. Tempat dimana para guru biasa berkumpul, namun sore itu kebanyakan guru sudah pulang, yang tersisa hanya Mr. Arnold saja. Aku menurut, kuminta sahabat baikku untuk ikut bersamaku, setidaknya aku tidak ingin segalanya menjadi sangat amat kacau. Sahabatku itu tidak berhenti untuk menghiburku, ia menepuk pundakku dan sudah ratusan kali mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Telingaku bukannya tidak ingin merespon, terlalu banyak harapan dan satu-satunya sekarang adalah rasa putus asa yang aku miliki, menyadari kalau pada hari wisuda, aku akan berada sendirian tanpa orangtuaku, tentunya.

Tiba-tiba pintu terbuka, kulihat Mr. Arnold kembali dengan senyuman, ia menyuruh sahabat baikku untuk keluar sebentar. Aku masih bingung, aku memikirkan keputusan kedua orangtuaku yang bertengkar semalam.

“Ini…” Mr. Arnold memberiku selembar kartu undangan, aku mengamatinya baik-baik. Berganti pandang antara kartu itu dengan wajah Mr. Arnold.

“Ini apa, Mr?” tanyaku ragu-ragu, suara yang keluar jelas lemah.

“Take it. Orangtuamu membutuhkannya.” Wajahnya meyakinkanku untuk menerima undangan itu. Mau tidak mau aku mengambilnya, terselip sebuah rasa bersyukur dan perlahan rasa bimbang itu menghilang. Aku membolak-balik kartu undangan itu tapi Mr. Arnold menyuruhku untuk menyimpannya di dalam tas dengan segera. Yeah, aku masih tidak mengerti dengan kondisi, sampai ia mengatakan padaku untuk tidak mengatakan kepada siapa-siapa kalau ia memberikanku kartu undangan. Aku mengangguk, sebagai imbalan karena dia telah membantuku. Sahabat baikku masuk ke dalam, aku sangat ingin menceritakan padanya, betapa aku bahagia Tuhan memberiku malaikat yang sangat baik seperti Mr. Arnold. Aku ingin memeluk sahabatku dan mengatakan padanya kalau orangtuaku akan datang dan aku percaya supportnya akan menjadi kenyataan. Sayangnya, aku dilarang mengatakan apapun yang berhubungan dengan undangan. Maka aku hanya berusaha tersenyum mendapati sahabatku duduk di bangku yang tepat berada di hadapanku. Ia masih memandangku prihatin, bahkan aku terlihat lesu saat Mr. Arnold memutuskan untuk pulang karena ia sudah janji dengan istrinya untuk tidak pulang malam.

Sampai pukul 7 kami masih ngobrol santai di bilik guru…

Ada banyak hal yang aku bicarakan dengan sahabatku dan itu membuat keadaanku menjadi sangat baik. Tuhan, aku tidak tahu bagaimana caramu memberikan aku begitu banyak orang yang bisa membuatku menjadi lebih baik. Yang jelas, sahabatku ini kado yang paling indah, yang tidak semua orang punya, dan mungkin akulah satu-satunya yang punya dia. Dari A sampai Z, apa saja menjadi bahan obrolan kami, waktu memang selalu menjadi pemisah, tanda kalau kami harus kembali ke rumah masing-masing, tiba-tiba dari luar jendela Putra mengetuk kaca. Aku mengernyitkan kening, menunjuk kaca jendela dan sahabat baikku itu langsung meraih kenop pintu. Aku melihat sekilas tubuh Putra yang tinggi besar sudah berada di depan pintu, bersama Ndah pacarnya. Oh mereka akrab sekali, dan sahabat baikku itu segera bicara dengan Putra. Dia senang sekali menggoda Putra dan pacarnya, kemudian aku menunduk. Kutaruh kepalaku di sisi meja, dan mulai menghela nafas lagi dan lagi.

“Kenapa?”

Aku mendongak, satu kalimat tanya berasal dari suara yang sangat aku kenal. Suara yang begitu kurindukan untuk menyapa telinga. Suara yang selalu membuatku ingin melihat matanya dan memeluknya; sayang tidak mungkin. Responku hanya senyum datar, itu sudah cukup sebagai perwakilan yang mengatakan aku baik-baik saja. Menakjuban, bukannya meninggalkanku dia malah menaruh tangannya di atas kepalaku dan membelainya. Gerakan yang paling aku suka; aku menyukai sikap lelaki yang seperti ini, memberi belaian di puncak kepala tanda kasih sayang. Tenang, seperti ada dorongan haus, kalau saja ia belum dimiliki sudah kepeluk daritadi orang ini. Aku melirik, kudapati senyum sendu itu terpeta disana.

Seperti marsmallow; basah, seperti buah yang jatuh; cepat, tanpa ada yang bisa menghentikan. Diciptakan keadaan terhenti saat ia melakukan hal kesukaanku. Memberikanku air ketenangan, berasal dari kecupannya, tanpa sempat aku hentikan, tanpa ada yang melihat, tanpa perlu ada jerit makian dari kedua sahabat kami. Sekali lagi ia mengelus kepalaku dan berkata, “Jangan sedih gitu… Aku pulang ya…” suara itu melembut, belum pernah aku dengar dia mengatakannya dalam nada rendah, “tenang aja, nggak ada yang liat kok tadi…” mengedipkan matanya, dan ia memberanikan diri untuk mengecup keningku. Tuhan, bagaimana bisa aku menolak orang ini meski kami beda dan ia sudah ada yang memiliki?

Akhirnya, gerimis itu berhenti. Awan hitam mulai menepi, pelangi muncul sebagai pengganti. Beberapa detik kemudian, Putra dan sahabat baikku memanggil dia, mengajaknya untuk pulang. Ada kelakar hangat menjamah, membuat kedua pipiku merona hebat, kututupi seolah semua baik-baik saja; alih-alih tidak membuat sahabatku curiga. Aku tidak ingin ada yang tahu kejadian barusan, bahagia itu milikku sendiri. Meski selama ini hal sekecil apapun selalu aku ceritakan pada sahabat baikku, tapi untuk kali ini rasanya hal kecil tadi hanya milikku, potongan puzzle kebahagiaan itu hanya punyaku dan aku tidak ingin memperlihatkannya pada orang lain. Senyum merekah saat ia melambaikan tangannya padaku, aku menghangat seolah melebur dengan pasir. Ia selalu bisa membuatku kembali tersenyum, bagaimanapun caranya—ya aku selalu suka caranya membuatku tidak berdaya, beberapa menit yang lalu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar