Selasa, 31 Juli 2012

[ fanfiction ] You'll be my heart


Sapporo, 21 Juni

Seperti gugur, berjatuhan, tertiup angina pada pinggiran hutan. Iris bulatnya selalu menatap lembut tak berdaya. Rekah senyumnya selalu warnai jejak langit di waktu senja. Kilau rambutnya seakan mengajak untuk dibelai. Setipe dengannya, adalah gadis pemalu saat usia mereka satu jenjang. Lantunan melodi seiring dengan deru angina mengumamkan mega; ia merasa nyaman dengan keadaan. Tempat ia bersandar ketika lelah, tempat ia membuang amarah lalu tertahan. Gadis bersurai pekat, mirip Cleopatra sekilas, Narumi Takahiro tidak pernah melepaskan pandangan matanya pada gadis ini. Seorang anak perempuan yang selalu menaungi hari-harinya, mnemaninya di saat semua orang menjauhinya. Ia ingat bagaimana teman-teman sejawat mengatakan padanya kalau ia bocah aneh. Naru bukan tipikal pemuda barbar, pada usia kecilnya ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan buku dan dunia imaji miliknya. Tidak ada satupun yang berani menyentuh dunianya; kecuali seorang anak hawa di depannya. Pertama kali ia membuka pintu dunianya pada anak perempuan—Usami.

“Taka…” Panggilnya manja.

Tidak heran bila melihat Usami begitu manja di dekatnya, sedangkan ia hanya cuek saja, mengabaikan Usami yang masih berusaha bersikap manis padanya.

“Nanti sore main di bukit belakang lagi ya.. Aku mau petik edelweis!” Taka membuka loker sepatu miliknya, ini sudah jam pulang sekolah. Taka memang tidak bersekolah di sekolah ini. Ia berada di sekolah Usami karena ibunya yang meminta bantuan untuk mengawasi anak-anak pada saat mereka ujian atau sekedar menunggu mereka mengerjakan tugas sementara Minase Ai mengajar di kelas lainnya. Kapasitas otak Naru memang berbeda di antara anak-anak lainnya, meski tida mengenyam sekolah formal, ia tetap belajar. Membaca buku-buku yang ada di rak rumah, milik ibu atau ayahnya. Tidak heran bila pengetahuan Narumi lebih banyak ketimbang anak-anak seusianya, namun ia tidak pernah memilih untuk sekolah formal. Meski berkeinginan, tetapi ia tidak mau. Mungkin penilaian orang mempengaruhi Takahiro hingga detik ini.

Taka menggeser sedikit wajahnya dan mengernyit. Bunga edelweiss katanya? Apakah sudah musim semi? Kedua alisnya bertaut, anak perempuan ini aneh—pikirnya. Ia masih menatap bingung Usami, sosok cerewet di sebelahnya. Merajuk, sorot mata mengiba. Takahiro hanya bisa menghela nafas dan akhirnya mengangguk. Sembari menutup loker  dan bersisian dengan Usami keluar gedung sekolah. Biasanya ia selalu bisa menolak permintaan seseorang, tetapi entah kalau dengan Usami semua menjadi beda. Sekon berikutnya Usami melompat persis anak kecil yang habis diberikan permen oleh orangtuanya. Naru menggeleng, mengeratkan pegangan tangannya pada tas yang ia kenakan. Dasar anak perempuan, gumamnya.

Langit mendominasi kemerahan, nyaris terlihat bak lautan darah. Gradasi orange dan maru lantas mewarnai langit kali ini. Semburat mega di ujung Barat terlihat pada pantulan iris hitamnya; bersama Usami mereka terbaring di bukit belakang rumah. Benar firasatnya, edelweiss hanyalah akal-akalan  Usami semata. Takahiro tidak tahu ada motif apa dibalik Usami mengajaknya memetik edelweiss, padahal jelas-jelas ini bukan musim semi. Gadis itu tidak berniat mengambil edelweiss di bukit belakang, bodohnya dia percaya, wait—katakanlah ia ingin mempercayainya tanpa alasan yang jelas.

“Langitnya bagus ya Taka…”

Tidak ada respon berarti dari Naru, pemuda dengan iris hitam ini hanyut dalam melodi senja. Iris pekatnya menatap kosong bentangan karpet merah di udara. Sedangkan Usami sibuk memuji bagaimana indahnya langit sore ini. Narumi diam, dalam hati ia ingin menjadi langit saja yang selalu dipandang indah oleh semua orang, dikagumi dari berbagai belahan dunia. Tidak ada yang benci langit, semua orang suka langit. Kebalikannya, semua orang tidak menyukai Naru karena dia aneh untuk anak seusianya, kalaupun ada yang menyukainya; Usami lah satu-satunya anak perempuan yang mengatakan bahwa ia tidak aneh, tapi Naru istimewa. Mereka menilai Naru dan menjauhi pemuda itu lantas mereka iri dengan kepintaran Narumi. Benar atau tidaknya, ia mencoba melihat dari sisi positif saja. Meski di sela-sela keyakinan selalu ada keraguan mengumpat, mencari jalan agar dia lah pemenangnya. Tertawalah, kecil saja sudah pandai merayu, mau jadi apa kalau sudah besar?

“Taka, kenapa daritadi diam saja? Taka nggak suka ya main sama Usami?”

Pertanyaan Usami menggaung dengan cepat, tanpa diduga Naru segera menegapkan tubuhnya kali ini tidak lagi rebah pada karpet hijau. Memposisikan diri menatap Usami kecil yang cemberut dan masih menaruh tubuh pada pelukan bumi.

“Aku suka bermain denganmu…” Sangat suka sampai aku tidak bisa bicara banyak, suka sampai aku tidak tahu harus berkomentar apa. Sepertinya Usami tidak puas dengan jawaban Naru barusan. Kini mereka berhadapan, saling diam dan menunggu siapa yang bicara lebih dulu. Atap bumi telah mengubah warnanya memberikan pertahanan baru berupa sabit pada bentang alam. Mereka sadar seharusnya mereka sudah pulang ke rumah, duduk di meja makan dengan ayah dan ibu. Namun tidak ada yang bisa menyudahi keheningan, masing-masing berkutat pada keadaan yang sama. Saling mempertanyakan apa yang ada di dalam benak lawan bicara keduanya.

“Ah rupanya disitu kalian! Ibu cari kemana-mana.”

Dia harus berterima kasih atau memaki Tuhan?

“Taka, ayo pulang! Sudah malam, mainnya besok lagi. Ah Usami, tadi ibumu kerumahku…” Ibu menoleh dan melempar senyum pada Usami, sementara Naru hanya diam memandangi ibunya, “ayah sudah pulang. Ayo cepat, kita akan makan malam.”

Ibu mengulurkan tangannya pada Naru, keduanya bertemu pandang dengan Usami. Ia tersenyum, memperlihatkan kedua lesung di pipi, menambah manis rupa wajahnya. Seketika pipi Naru dipenuhi warna merah muda. Cepat-cepat ia memalingkan wajah dan mengikuti ibunya. Ibu sudah berjalan lebih dulu, Taka menyusulnya dengan pelan. Ia ingin menoleh apakah Usami masih berada di tempatnya, duduk dan diam menatap kepergiannya ataukah sudah menghilang di telan bayangan malam? Opsi keduanya tidak ada yang menarik, selain tiba-tiba satu tangan meraih pinggangnya. Naru bisa merasakan tangan kecil itu melingkari pinggang dan menarik ujung bajunya. Menahan laju langkah Naru dalam sekejap, hingga pemuda Takahiro ini membalikkan tubuhnya.

“Berjanji padaku Taka, kita akan selalu sama-sama…”

Usami merajuk, pendar kelereng hitam yang sama dengannya berkaca-kaca. Naru tidak mengerti, bukankah mereka hanya berpisah sementara. Pagi akan mempertemukan mereka kembali, kan? Tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Kenapa Usami mengatakan hal seperti itu padanya, seolah salah satunya akan pergi jauh dan tidak akan kembali lagi. Naru masih enggan merespon, kebiasaannya sampai ia mengerti maksud Usami.

“Kamu ini kenapa? Kita kan hanya akan masuk ke rumah,” Jawabnya santai.

Usami merenggut, khas anak kecil ketika permintaan mereka tidak dituruti, “Usami takut Taka nggak mau main lagi sama Usami. Maaf ya kalau Usami menyebalkan. Ta-tapi Usami sungguh-sungguh mau jadi teman Takahiro…” Satu tangan Usami berada di bajunya (pada bagian perut, sedikit menarik kaus yang ia kenakan) kepalanya tertunduk, gaya seseorang bila merasa bersalah. Sementara Takahiro tidak merasa ada yang salah. Sejujurnya ia menyukai Usami, ia menyukai setiap saat bersama Usami, setiap kali melihat gadis ini bicara, tersenyum bahkan merenggut seperti anak kecil. Naru sukaUsami apa adanya, semua yang ada pada Usami ia menyukainya. Sebentuk garis tipis menghiasi wajahnya, membawa tangannya ke atas puncak kepala Usami dan satu tangan lagi merapatkan jarak keduanya dalam sekali dekapan. Setidaknya rengkuhan ini bisa memberikan jawaban pada Usami, kalau Taka senang bermain bersama gadis kelincinya dan tidak ada lagi yang harus dipertanyakan.

§§§

“Aku sudah bilang jangan bahas masalah itu!”

“Memangnya kenapa?! Ada yang salah?! Kamu hanya tinggal menjawabnya dan selesai!”

“Kapan kamu bisa mengerti keadaan, Minase?!” urat-urat tegang mulai merambat di wajah seorang lelaki yang menikahi ibunya beberapa waktu silam.

“Kamu yang tidak mengerti! Siapa anak itu?! Siapa perempuan itu?! Anakmu? Istrimu yang lain, iya?!”

Telinganya belum tuli, omong-omong. Nada tinggi penuh urat itu menghiasi rumah kecil bernuansa cokelat, terletak di Sapooro arah pedalaman. Ini malam, namun suasana sepanas siang. Naru turun dari tempat tidurnya, membuka pintu hingga tercipta celah. Leluasa bagi kedua iris hitam megamati keadaan. Ia tidak mengerti dengan orang dewasa. Baru beberapa jam yang lalu mereka terlihat manis berangkulan, namun menit berikutnya sudah adu mulu layaknya domba kehilangan arah.

“Katakan padaku, mereka bukan siapa-siapamu…” Itu suara ibunya, terdengar gemetar. Kemudian sepi, tidak ada tanda-tanda ayah akan menjawab. Memang beberapa sekon lalu ayah membuka mulutnya tetapi tidak ada suara apapun.

Naru menunggu…

Satu menit…

Dua menit…

Sepuluh menit…

Hingga ia tertindur di balik pintu—

§§§

Silau…

Apa sudah pagi?

Hei, jangan nyalakan lampunya!

Eh tidak, ini sudah pagi…

Naru menyipitkan matanya, mendapati semalaman dirinya tertidur di lantai dan bukan di kasur. Bangkit, membuka pintu. Suasana rumah hening, nyaris seperti tak berpenghuni. Takahiro kecil melirik jam dinding, masih pukul 7. Biasanya ibu sudah sibuk di dapur atau di meja makan, dan ayah biasanya sudah mondar-mandir di ruang keluarga atau ke dapur dan sarapan. Naru melongok, ibunya memang berada di dapur tengah mengolesi roti tawar dengan selai kacang. Gerakannya memang seperti biasa, namun ada yang berbeda. Ada yang tidak terlihat, ada yang kosong di dalam matanya, seolah di dalam jiwanya tidak ada penghuni satu nyawa pun. Naru bergidik, ada apa dengan ibunya?

“Ohayou, okasan—“ Naru menarik baju Minase Ai, sang ibunda. Ia bersyukur, wanita setengah tua itu masih menoleh dan tersenyum padanya. Senyum kosong tepatnya.

“Lapar ya? Sebentar ya, sarapannya lagi dibuat.”

Naru mengangguk, ia berjalan ke arah meja makan dan menyeruput segelas susu yang sudah ibunya siapkan. Mengambil gelas bening di atas meja, sekilas ia melihat ada yang jatuh.

Apa itu?

Naru menaruh kembali gelasnya cepat-cepat, membungkuk dan mengambil kertas dengan tulisan yang sangat rapi baginya. Tertulis dalam huruf hiragana, sehingga Naru bisa membacanya dengan jelas.

Teruntuk Minase Ai,

Sebelumnya izinkan aku meminta maaf padamu; tentang semalamdan tentang semua hal yang terpaksa aku sembunyikan. Aku tahu, cepat atau lambat kamu akan mengetahuinya. Mengetahui semua ceritaku di masa lampau. Kamu benar, terkadang saat kita berharap segala sesuatunya tersimpan rapi, dunia menginginkan hal ian. Pada akhirnya dunia menunjukkan padamu kebenarannya—bahwa aku adalah seorang ayah yang pengecut. Kau pasti melihatnya disana, di salah satu buku yang aku tulis dan terselip disana, foto Athena dan seorang anak kecil, benar?

Aku ingin mengaku padamu, meski sudah terlambat. Wanita dalam foto itu, ya dia istri pertamaku. Anak yang ada di dalam foto itu adalah anakku, Minase. Aku minta maaf padamu, dan keluarga besarmu terutama pada si kecil Narumi. Maaf memang tidak bisa mengembalikan masa laluki dan maaf tidak bisa membalut lukamu, Minase. Ketahuilah, aku menyayangimu dan tentu anak kita, Narumi. Aku tidak bisa menjelaskan banyak tentang masa laluku, tentang rahasia yang selama ini aku pendam untuk diriku sendiri. Tapi kalau kau mau tahu (karena kau wanita yang keras kepala, maka aku tahu aku tidak bisa mencegah keinginanmu) kau bisa membacanya sendiri di buku harianku atau mungkin kau sudah membacanya lebih dulu?

Ketika kau membaca surat ini, maaf aku harus pergi. Meski pahit dan menyakitkan aku memilih untuk pergi karena ini kesalahanku. Aku tidak seharusnya melakukan ini padamu, kamu wanita yang sangat baik Minase. Narumi beruntung memiliki ibu sepertimu, tapi sayangnya ia tidak seharusnya memiliki ayah pengecut sepertiku. Ah sudah waktunya, aku harus pergi. Ada urusan yang harus aku kerjakan, tadinya aku berniat mengajak kau dan Narumi bersamaku, namun karena situasi dan kejadian semalam ini tidak mengizinkan aku untuk melakukannya, maka aku urungkan niat. Biar aku saja yang pergi. Kau jaga Narumi baik-baik. Bila ada hal-hal yang ingin kau ketahui tentang aku, aku meninggalkan banyak buku di ruang baca. Aku tidak membawa banyak barang.

Titip Narumi, sampaikan padanya kalau dia adalah anak yang cerdas. Dia anak yang istimewa, tidak ada yang perlu dicemaskan olehnya. Aku yakin dia akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan lebih baik tanpa aku, Minase. Kau berhak mendidiknya, dan merawatnya karena Narumi milikmu seutuhnya. Maaf sekali lagi, aku benar-benar harus pergi. Aku yakin Tuhan memiliki takdir untuk kita, kau, aku dan Narumi. Tapi Tuhan juga punya takdir untukku, Clementine dan anak kami; Viervhy. Begitu juga dengan diriku sendiri. Kalau takdir sudah mengatakan, kita pasti akan bertemu di lain waktu.

Love,
Tyrone Athena.

Kelereng senada tinta menatap nanar. Apa yang barusan dibaca olehnya benarkah kenyataan? Ayah pergi dari rumah? Pemuda keturunan Jepang; Takahiro tergugu. Diam di tempat. Dia memang masih kecil, usianya baru 8 tahun, secepat inikah ia harus merasakan kehilangan? Meski pada usia yang belum mengerti makna kehilangan? Tapi kenapa? Kenapa sekarang? Kenapa Tuhan tidak memberikan waktu yang lebih lama padanya untuk keluarga yang sempurna? Detik berikutnya ia mendengar langkah kaki, itu pasti ibunya yang membawa sarapan. Naru cepat-cepat menaruh surat itu di tempatny semula, duduk tenang di meja makan. Menikmati sarapan dalam keadaan seperti ini adalah kali pertama di dalam hidupnya. Biasanya ada ayah, dan ibu akan dengan semangat menceritakan anak-anak di tempatnya bekerja. Terkadang ibu sering meledekku dan menyelipkan nama Usami di sela-sela ledekannya. Lalu kami bertiga akan tertawa bersama. Sekarang, suasana hening. Tidak ada yang mampu mengisi kekosongan pagi ini, baik itu Naru ataupun Minase. Dua-duanya berkutat dengan pikiran masing-masing.

“Bu, aku sudah selesai makan. Nanti aku nyusul saja ke sekolah, ibu duluan saja.”

Tidak ada respon dari Minase. Narumi beranjak dari meja makan dan pergi ke kamarnya, ia menunggu sampai jam menunjukkan pukul 8. Ketika jarum panjang tepat di angka 8, ibunya sudah berangkat kerja, dan dia akan masuk ke dalam ruang baca.  Begitu mendengar pintu terbuka dan tertutup, Naru mngintip dari jendela kamarnya, memastikan kalau Minase telah berangkat menuju sekolah tempatnya mengajar. Naru penasaran, buru-buru dia membuka pintu kamar dan berlar ke ruang baca. Jaraknya hanya berbeda dua kamar dari kamar tidurnya. Biasanya ayah memakai ruangan ini saat malam, setiap beliau pulang tengah malam, maka ia akan berada di kamar ini sampai besok pagi. Kalau ia pergi, ruangan ini pastilah dikunci. Seperti maling, Naru pelan-pelan membuka pintu ruang baca, menoleh ke belakang, takut-takut kalau ada yang memergokinya.

Meraih gagang kenop pintu sembari menahan nafas. Berharap kalau ruangan ini tidak terkunci, dan….

Memang tidak terkunci…

Tanpa menunggu komando apapun, Naru segera masuk ke dalamnya dan berlari kecil menuju sebuah rak besar. Ruang baca ayah besar, bisa dikatakan dua kali lipat lebih besar dari kamarnya. Di cat dengan warna cokelat, atapnya terkesan tinggi sekali, setiap jengkal ruangan ini adalah rak buku, penuh dan padat. Anehnya tidak ada debu disini, aroma lavender menyeruak, menyambangi indera penciuman Narumi saat itu juga, khas ayahnya. Di sudut kanan ruangan ada meja besar, tempat ayahnya menghabiskan waktu berpikir pada saat beliau bergelut dengan pekerjaannya. Di dekat pintu tak jauh dari sebelah kanan pintu, ada sofa panjang berwarna hitam, di bawahnya ada karpet. Meja kerja ayahnya sangat rapi untuk seorang laki-laki. Narumi masih berkutat dengan rak buku ayahnya. Dimana kira-kira lelaki tua itu menyimpan buku hariannya? Dari satu rak ke rak lainnya, selama ia mencari hanya sekumpulan buku-buku rumit. Bocah lelaki kelahiran 23 Oktober ini bergidik ngeri. Meninggalkan jajaran rak, ia mulai berjalan menuju meja ayahnya. Duduk diam di kursi hitam besar.

Biasanya ia akan menemukan ayahnya disini pada jam-jam malam. Dari kejauhan, kedua iris hitamnya akan memandangi sang ayah terpekur, menautkan kesepuluh jari di bawah dagu, kepala tertunduk,  kerutan di dahinya akan muncul lima menit kemudian. Naru selalu suka pose ayahnya yang demikian, sayangnya itu tidak akan terlihat lagi. Ayahnya sudah pergi.

Bolehkah ia menyalahkan takdir sebentar saja? Memakinya beberapa menit saja? Hanya untuk membebaskan rasa terkutuk di dalam hatinya. Rasa yang menyayat nafasnya setiap kali memikirkan sang ayah. Menit berikutnya, kelereng hitam miliknya melihat sebuah foto di atas meja. Ada denyut nyeri sepersekian detik, melihat bingkai-bingkai senada dengan irisnya berjajar rapi di atas meja. Foto itu seolah meledeknya! Foto seorang ayah, bersama istri dan anak laki-laki. Mereka tersenyum bahagia, sang ayah nampak merangkul wanita di sisinya. Naru meraih foto itu, berusaha menampik apa yang dilihatnya.

“Kami bahagia kok.” Gumamnya tanpa melepas tatapan mata dari foto yang kini dipegangnya, “kami bisa seperti dulu lagi, ayah pasti akan kembali ya kan?” Kepalanya bergerak, menangguhkan dagu seolah melempar pertanyaan  pada sosok yang tidak akan pernah menjawabnya.

“Kami… Bahagia…”

Tangannya mengerat, kegetiran semakin merayap. Tiba-tiba kedua matanya buram, ia merasa seperti dipukul pada bagian dada, sesak. Narumi tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Rasa yang menyiksanya, membuatnya ingin menangis, tangis yang ia tahan untuk dirinya sendiri.

Takahiro bangkit dari duduknya, urat-urat kemerahan menghiasi kulit pucat wajahnya. Ia membiarkan kedua tangannya bergerak, membanting apa saja yang ada, membuang apa saja yang ada di sekitarnya, diiringi dengan teriakan membabi buta, jerit kesakitan, kebencian, kemarahannya pada yang sudah terjadi. Ia kesal, sampai tidak bisa bicara dan pada akhirnya hanya bisa teriak, hanya bisa menerima saat ayahnya memutuskan untuk pergi. Waktu menyuruhnya berhenti, Naru terengah-engah mengatur nafasnya. Tubuhnya terhuyung dan akhirnya jatuh terduduk di kursi hitam. Kedua matanya basah, tertumbuk pada satu buku hitam besar. Tanpa ragu, ia mengambil buku hitam itu, bertanya-tanya apa yang ada di dalamnya, dan kenapa bisa ada disana?

Lembar demi lembar dibaliknya, Takahiro terhenyak.

Bukanlah huruf ketik yang biasa ia temukan di dalam buku-buku ayahnya, tapi ini ditulis dengan tulisan tangan, sangat rapi dalam bahasa inggris. Meski belum fasih tapi Naru bisa membacanya, sedikit tahu artinya. Barulah ia sadar, kalau ini adalah buku harian ayah yang dicarinya sejak tadi.

—to be continue—

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar