Rabu, 08 Agustus 2012

These Feelings Will Reach You


Baginya dua orang lebih baik dari satu; sama dengan satu dialog lebih baik daripada dua monolog, kan? 

Pemuda kurus jangkung itu menegapkan tubuhnya, kini tak lagi bersandar pada bahu pualam yang menyangganya beberapa moment yang lalu. Yang terputar pada imaji nyatanya adalah saat ini ia sedang berdialog dengan seorang gadis kecil. Ian melepas tawa, melupakan sebagian apa yang tidak ingin dia ingat. Dia tahu kalau dia hanya berlari. Salah siapa kalau dia tidak kuat menanggung masalahnya? Toh kalau ia mengingat itu, denyut nyeri di dalam nadinya sepertinya mulai menguat. Sayangnya Ian masih cukup sadar bahwa kesakitannya tak akan ditengok barang satu tolehan pun ia meminta. Bahkan ketika mungkin pemuda ini mengiba pada gadis yang menorehkannya—berat. 

Kalau saja ia boleh meminta untuk sesuatu yang tak bisa diubah—ia akan meminta bahwa lebih baik tidak perlu melihat gadis itu atau setidaknya jangan bertemu dengannya bahkan untuk lebih dari sekedar kenal. Karena ia tahu, seperti apa pun ia berusaha untuk bisa lebih dari yang dikatakan sebagai teman—tidak akan bisa. Tidak ada benih yang menyatakan status seperti itu di antara mereka. Mungkin ini sudah saatnya Ian berhenti—berhenti memikirkan seseorang yang tidak memikirkannya, tidak menoleh padanya. Ia tidak tahu apakah ada cara lain selain melupakan dan melepaskan. Kalaupun ada seperti apa? Ia sudah mencari hingga kepalanya nyeri sendiri. Berputar-putar memikirkan cara yang pantas untuk mengenyahkan apa yang selama ini ia rasakan pada seorang gadis yang ternyata hanya berupa fatamorgana. Namun tak ditemukan cara lain selain melepaskan—mengikhlaskan. Hanya ini cara satu-satunya agar keduanya tetap tenang dan tetap menjalin hubungan baik sebagai teman—tidak lebih

Ian menoleh pada gadis kecil bernama Hanks yang mengubah tema obrolan mereka menjadi kekanakan, sifat ambegan yang ia tunjukkan dengan caranya yang ketus seperti mengingatkan—seharusnya sudah dilupakan. Sulit untuk melupakan kenangan yang tersimpan rapi di dalam benak apalagi kenangan itu bersemayam layaknya mayat yang diawetkan—ironi.


Pemuda dengan bening cokelat itu memerhatikan setiap gesture gadis yang memiliki iris sama dengannya. Bagaimana gadis itu bicara, baik dengan nada manja, ketus atau sadis sekalipun. Mengeluarkan tawa besar tanpa ada suara hingga bahunya berguncang adalah hal yang mudah—untuk merasa nyaman pada setiap aura yang diberikan Hanks muda. Tatapnya melembut ketika tingkah Hanks berubah menjadi pelawak tingkat atas. Tak sangka gadis ini bisa sebegitu lucunya, membagi lelucon meski untuk menghiburnya sedikit dan tidak menyeluruh. Ukuran tubuhnya yang menyusut mungkin terlihat mencolok. Ian hanya membentuk sabit di bibirnya. “Badanku kurus banget memangnya? Padahal makanku banyak, sekarang.” Iya sekarang, setelah didera patah hati yang luar binasa. Ian mengelus-elus perutnya yang rata, di beberapa bagian bisa ia rasakan tulang rusuknya sedikit menonjol. Mungkin benar tubuhnya sudah kurus kering. 

“Kismisnya buatku saja, sini.” Ian menengadahkan tangannya. 

Tak lama tertawa oleh guyonan yang dilemparkan Hanks, kedua irisnya menangkap setiap detail penampilan Hanks. Meski sepintas mirip, hanya di bagian cokelatnya saja selebihnya berbeda, Ian ingin sekali menggapai gadis di depannya, tetapi mengingat ia sudah dicap embel-embel sebuah nama—urung. Pemuda itu menghela nafasnya berat, ada sakit yang tak terucap di sana. 

“Aku… seleraku?” Ian menyatukan kedua alisnya, menggeleng lemah seraya tersenyum tipis, “aku tidak pernah mematok selera khusus untuk seorang gadis, Lysa. Harus kautahu itu…” lagi-lagi ia membelai surai cokelat milik gadis di depannya. 

Hening—satu ketenangan yang menohoknya. Dia pernah berada dalam ketenangan yang sama, kesunyian yang sama, kesenyapan yang nyaris membuatnya memutar ulang memori yang kini seolah menjadi rentetan sebuah kilas balik. Jantungnya bergemuruh, semua rasa yang ia biarkan tidur beberapa waktu yang lalu, terpaksa bangkit kembali. Ian menemukan pada pantulan bola cokelat itu ada sesuatu yang menyedihkan—wajahnya. Sebuah wajah yang mengiba, meminta bahagia pada Tuhan. Apa pun bahagia yang diberikan oleh Tuhan, walau tanpa alasan. Ian bersikeras untuk tetap menemukan wajah yang membuatnya tak berkompromi dengan jarak, waktu bahkan hati dan pikiran. Tidak ada satu pun yang bisa menjelaskan dimana wajah itu berada, hanya hening yang menguasai keadaan. 

Maniknya mengerjap begitu gadis di depannya menolehkan kepala, sedang Ian membuka celah pada kedua bibirnya. 

“Boleh Ian peluk Lysa?” suaranya seperti memantul dan seperti ia bicara sendiri dengan tembok pualam, “sebentar saja…” pintanya lirih. Sebentar saja, hanya untuk menghilangkan nyeri di dadanya. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar