Kamis, 09 Agustus 2012

I Was Different Person Then


Itu karena pertemuan di danau—

Salahkan gurita yang membuatnya jadi seperti ini. Kenapa gurita? Karena gara-gara dia jalan-jalan di danau dan ikut-ikutan bicara gurita jadi terjerat sama gurita itu sendiri. Guritanya ya dia ini, lelaki asal asrama Gryffindor dengan surai pirang kecokelatan (dan lagi-lagi pirang dan kenapa harus pirang?) yang sedang menggandeng tangannya. Molenvliet tunggal ini hanya bisa menatap datar pemuda di sampingnya. Pemuda yang tempo hari sempat bercakap-cakap dengannya. Xylia mengakui kalau untuk ukuran lelaki—dia—lelaki dengan surai pirang kecokelatan itu termasuk lelaki yang terbuka, walau tidak sepenuhnya terbuka. 

Dari hanya sekedar pembicaraan ringan sampai yang berat sampai pada masalah yang mereka sendiri—kesepian—masih tidak tahu jalan keluar yang terbaiknya apa. Salahkan persamaan nasib yang membuat mereka menjadi dekat dengan menautkan jemari satu sama lain dan berada di depan sebuah pintu. Pintu yang ada dengan sendirinya. Koridor yang nampak lengang membuat gadis ini mengerti tujuan sang lelaki. Xylia Lotus tidak sebodoh yang dikira untuk urusan yang seperti ini dan tidak perlu disembunyikan. Trayek favoritnya memang. 

Dia tahu lelaki yang kesepian pasti seperti ini. Dia sendiri cukup paham, “Mungkin ini ruang kebutuhan. Pernah dengar? Pintu ini muncul saat kita butuhkan.” Mungkin salah satu dari mereka memang membutuhkan sebuah ruangan. Akhir-akhir ini Xylia dengan pemuda yang ia ketahui bernama Jonah memang terlihat akrab. Tidak ada rasa canggung saat Jonah menggandeng tangannya, membawanya masuk ke dalam sebuah ruangan. Xylia lebih terlihat tenang, pikirnya sudah biasa menghadapi situasi seperti ini. Duduk di sebuah sofa. Kedua manik cokelatnya membalas tatapan pemuda Julius itu, tersenyum kecut tanpa memalingkan wajah. 

“Kau merayuku, huh?” gadis bertitel Molenvliet itu mencolek hidung sang pemuda dan tertawa kecil.

Ia membiarkan pemuda ini berlaku sesukanya, menatapnya, menciumnya atau apa pun sesuka hatinya. Ia membiarkan dirinya untuk saat ini saja hanya untuk pemuda di sampingnya. Untuk hari ini saja, ia ingin lupa diri sejenak. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar