Rabu, 08 Agustus 2012

I've feeling us two even separated


Harus kamu tahu bahwa suatu saat kebersamaan itu akan berakhir, dengan atau tanpa penyataan sekali pun—

Benih-benih rasa yang sama sekali tidak bisa ia toleransi, bersamaan dengan segala keputusasaan yang setiap detiknya menerjang tubuhnya, menjadikan lelaki tanggung berusia lima belas tahun ini berdiri telanjang. Transparan dan apa adanya. Ia biarkan seseorang melihat lukanya, ia biarkan seseorang mengamati dengan jelas bagaimana sayatan itu terdapat di tubuhnya—hatinya mendingin. Ada banyak hal yang ingin ia ingkari, ada banyak hal yang menyuruhnya untuk berlari—pada sebuah lorong kecil yang disangga dengan lukisan abu-abu pualam yang sunyi. Baginya kesunyian yang lama menyiksanya, berusaha ia enyahkan walau harus dengan sisa-sisa kekuatannya sendiri. Tergantung dengan segala harapan yang membawanya naik pada nirwana tertinggi, dengan episode paling akhir adalah bunyi berdebam tanda bunuh diri. Ian ingin marah, ingin menangis. Tetapi sebuah bisikan membuatnya menutup sang kelopak, di lain sisi suara imajiner menyuruhnya untuk menangis. 

Sekali lagi menatap gadis di depannya—

Meski dengan seribu maaf Ian ingin katakan kalau ia sangat berdosa telah menyamakan gadis ini dengan seseorang yang ia sayang sekaligus seseorang yang mematikan dirinya sendiri. Dengan ekor matanya, dengan sisa-sisa pendengarannya, Ian menyajikan selengkung senyuman samar. Kedua matanya menutup, bukankah ini yang memang seharusnya ia lakukan? Bukankah ini memang sudah waktunya untuk melepaskan? Mengikhlaskan bukanlah sesuatu yang buruk untuk apa yang ingin kita gapai dan miliki. Meski sulit—sangat sulit melakukan satu hal yang terdengar sepele. Dalam imajinya, menyeret pada sang waktu yang kian mengingatkannya pada sesosok gadis waktu lalu. 

Jembatan dengan segala tawa, kegugupan, senyuman, perlakuan—

Ruang Rekreasi dengan segala kesal, sedih, marah, amukan, pusara putus asa—

Menara dengan segala kehancuran, kepastian yang membuatnya benar-benar harus merelakan—

Darimana pun datangnya cinta, torehan pertamanya memang selalu menyakitkan. Tidak peduli pada siapa, dan status apa yang disandang oleh orang itu. Gerak bibir gadis di sebelahnya hanya terlihat samar, tidak terdengar satu kata pun karena Ian membekukan telinganya. Kewarasannya sudah mencapai ambang batas. Tanpa bisa dicegah, kedua lengannya terulur, menghabiskan jarak yang ada dalam satu kali dekapan. Ia berusaha mengenyahkan, menghilangkan atau bahkan menghancurkan kenangan yang ada. Di setiap detail yang penuh tawa, tangisan, bahkan nyanyian. Di setiap detail yang penuh dengan goresan, sakit dan teriakan putus asa. Kini hanya pada gadis dalam pelukannya, ia memohon untuk bisa melenyapkan barang sedikit saja sakit yang ditorehkan. Hanya pada hati yang menginginkan kehidupan ia perjuangkan. 

Dalam satu pelukan, tubuh pemuda ini meluruh, melemah. Ia merasa kekuatannya untuk sekedar bertumpu pada kedua tungkainya sudah habis. 

Seluruh anatominya berteriak—teriakan yang ia redam karena justru teriakan itulah yang paling menyakitkan. Kemarahan, putus asa, mewujud dalam bening air mata yang mengalir pada kedua pipinya—Ian menangis. Sudah sejak lama ia ingin menangis, tapi ia harus mati-matian menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu yang dilakukan oleh seorang perempuan. Dadanya sesak, gemuruh yang kali ini benar-benar membuatnya terguncang tanpa suara isakan. Pada sebuah kepala mungil dalam dekapannya, Ian menjatuhkan tetes demi tetes air matanya. Lelaki menangis bukan karena dia seorang wanita, karena dia sudah terlalu lelah menghadapi permasalahan ini dengan sikap tegarnya, sikap tegar yang seolah-olah kuat. Ia biarkan pertahanan dirinya hancur berkeping-keping, Ia biarkan gadis dalam dekapannya melihat kerapuhannya, merasakan apa yang sebenarnya pemuda ini rasakan. Hanya dengan begini, hanya dengan cara seperti ini Ian tenang, hanya dengan cara ini ia bisa melenyapkan—kenangan serta perasaan yang pernah menyakitinya. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar