Kamis, 09 Agustus 2012

All These Years, All These Memories, There Was You


Takdir kita sudah jelas. Kau dan aku tahu itu—

Bukan pada manik hijau di depannya ia menatap, bukan pada kulit yang bersentuhan dengannya ia bercengkrama. Mungkin satu sama lain di hadapan pada bagian yang tidak diinginkan sekali pun, tetapi Molenvliet belia ini tidak punya pilihan lain selain menikmatinya—menikmati semua kehancurannya. Kehilangan seseorang itu bukan hal yang mudah untuk diterima. 

Ada aksi ada reaksi, tidak ada gerakan yang dilakukan Xylia selain mengikuti ritme gerakan pemudanya. Ia hanya mengikuti—apa maunya si pemuda. Mungkin pemudanya lebih sakit dari bayangannya, sedangkan dirinya hanya bisa menyediakan kebutuhannya saja. Lebih memeduli setani rasa sakitnya, lebih ingin menikmati kesakitannya saat ini. Tidak ada yang perlu disesali sesudahnya, tidak perlu ada yang dipermasalahkan sesudahnya. Toh, mereka tengah berada dalam dunianya sendiri. Ada sarat tekanan dalam helaan nafas setiap Jonah Julius, namun Xylia sadar. Sesadar-sadarnya dia Cuma jadi baku pelampiasan saja, maka ia biarkan pemuda ini berlaku sesukanya. Erangan, atau apa pun yang terucap dari bibir sang pemuda hanya diresponnya dengan senyum lirih dan seringkali gadis ini menggigit bibirnya kuat-kuat. Ia bisa merasakan sentuhan demi sentuhan itu menggerayangi bagian-bagian tubuhnya.

Hatinya mungkin memekik, bukan bersama pemuda inilah kegiatan seperti ini ingin dia lakukan, tetapi toh sudah tidak ada gunanya berharap banyak. Tidak perlu menghancurkan diri pelan-pelan kan? Atau setidaknya selama sarana pelampiasan sudah tersedia dengan sukarela kenapa tidak dimanfaatkan dengan baik? 

Xylia menunggu sampai pemuda ini kelelahan, ia sendiri sudah mencapai puncaknya entah sejak kapan. Perlu waktu yang cukup lama agar pemudanya tumbang, merebahkan dirinya sendiri di atas dadanya. Xylia mengulurkan tangannya, menyibakkan beberapa helai rambut pemudanya yang terjatuh di sekitar keningnya. Dengan gerakan perlahan, ia bergerak mencoba mencari celana pemudanya yang entah berceceran dimana—pemudanya butuh obat dan Xylia tahu dimana pemuda itu biasa menyimpan obatnya—dia kekasih yang baik bukan? 

Gadis yang tengah bersimbah keringat itu susah payah menggapai sebotol obat dan membuka tutupnya, mengambil satu tablet kemudian memasukkannya pada mulut sang pemuda. Tangannya kemudian terulur kembali pada puncak kepala sang pemuda. “Sakit banget ya? Duduk dulu yuk…” Ada saat-saat tertentu gadis ini bisa menjadi sangat baik dan ada pula saat-saa tertentu saat gadis ini bisa menjadi sangat jahat, tetapi kali ini pada pemuda di hadapannya ia tidak bisa. 

Setengah harapannya berteriak—kalaupun ada pemuda yang dia inginkan untuk menyandarkan diri tak sekedar kepala, maka hanya orang itulah yang ia harapkan. Bukan dia—bukan Jonah Julius.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar