Rabu, 08 Agustus 2012

Everything happened for a reason


Everything happened for a reason—

Segala yang mengalir pasti punya alasan tertentu, baik yang menjalankan mau pun yang dijalankan. Pemuda bungsu ini berdiri tegap, ia mengerti. Sangat mengerti arti kehilangan seseorang, membuatnya lebih mudah mencerna betapa berartinya seseorang untuk dilepaskan. Mengerti bahwa melepaskan seseorang berarti siap melepaskan semua pertahanan diri, mengukuhkan apa yang selama ini bersikeras ia jaga. Kedua lengannya sudah tidak mampu untuk melingkari batas yang ia ciptakan dengan sendirinya. Liang yang nyaman untuk dirinya sendiri, hempas sudah oleh setitik rasa yang membuatnya miris. Keterdiaman seseorang terkadang adalah sebuah jawaban, namun diam itu ambigu. Atau memang dirinya saja yang menganggap semua itu saru? Kalimat menggantung seseorang masih teringat dengan jelas, setiap garis kontur wajahnya menyayat setiap memori yang berputar di kepalanya. Tuhan, tidak untuk sekarang ini ia benar-benar menghabiskan pertahanan dirinya. Setidaknya berikan pemuda ini jeda waktu untuk bisa mengisi sepetak keputusasaannya. Sedikit ruang untuk sebuah ketenangan yang selalu berkecamuk di dalam dadanya. 

Bahwa permintaan maaf dari seorang Rainyvow mampu membuatnya tidak tidur semalaman, semenjak pertemuannya di menara, mampu menembus rasa bersalahnya yang paling dalam—rasa bersalah karena terlalu banyak berharap pada gadisnya. Rasa bersalah yang kian hari kian menusuknya, Ian tidak suka. Tidak pernah suka dengan rasa yang baru ini timbul—lebih sakit dari yang sebelumnya. 

Ia mengerti bahwa suatu saat cinta itu akan pergi, menyisakan satu penyesalan karena ia tidak cukup sigap untuk menahannya untuk tetap di sini, bersamanya. Mungkin, dirinya adalah orang yang tepat—bukan tetapi Rainyvow lah orang yang tepat namun datang di waktu yang salah, atau kedua memang kesalahan Tuhan yang didatangkan pada waktu yang kurang tepat? Tidak ada garis yang mengatakan bahwa apa yang terjadi pada dirinya kini adalah salah, tetapi satu yang pasti Tuhan seperti memberinya isyarat bahwa ia belajar, belajar memahami betapa berartinya seseorang, belajar bagaimana ia menyayangi seseorang tulus tanpa meminta timbal baliknya. Pertemuannya di musim dingin, di menara, dengan gadis yang menjadi satu-satunya harapan, namun sekaligus yang menghancurkannya ternyata mampu membuat pemuda kurus ini mengerti untuk satu hal yang ia tahu adalah semua orang pernah merasakan kehilangan dari yang tidak berarti sampai yang berarti sekali pun. 

Bahkan saat ia masih kecil untuk mengerti sebuah arti kehilangan, yang ia tahu, ia hanya ingin merasa lega. 

Favian, seorang pemuda tanggung berusia lima belas tahun menarik sudut bibirnya, ketika sebuah jari menempel pada lapis bibirnya. Ia tahu gadis di depannya bukan hanya sekedar seorang gadis yang sudah memberinya tumpangan berupa ketenangan pada bahunya, tetapi gadis ini bisa menenangkannya tanpa syarat. Ada sarat yang seharusnya tak bisa ia jelaskan ketika dua mata mereka bertemu, kedua bening cokelat yang sama-sama tahu artinya kesepian—tidak, bahkan lebih dari itu. Sesuatu tak mengalihkannya ketika sebuah kecupan manis mendarat pada pipinya. 

Meninggalkan seberkas noda merah muda pada kedua pipinya, “Terima kasih untuk menenangkan ku, Lysa…” 

Tangannya kembali terulur, menggapai puncak kepala gadisnya dengan satu tarikan yang kemudian merapatkan sebuah ruang kosong menjadi berisi. “Omong-omong, tadi kau menciumku, apa tidak ada yang marah? Oh baiklah, wajahmu merah sekali.” 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar