Senin, 17 September 2012

Have you take a sit at school, girl?

Posted Image



“Tidak boleh begitu, dia kan ayahmu.”


“Ayah? Mana ada ayah yang mengasingkan putrinya sendiri ke negeri antah berantah begini, Louis.”

Tatap matanya nyalang, seolah tengah dikerubuti emosi membara. Ingin sekali menyumpah serapahi Napoleon senior di depan muka. My, my haruskah ia mengingatkan siapa jati dirinya sekali lagi? Louis mungkin tidak akan melupakan tata krama keluarga mereka, Louis mungkin menikmati ajaran kesopanan yang ditanamkan pada mereka sejak dalam kandungan, namun Odessa? Sama sekali tidak menikmati omong kosong atas sopan yang diajarkan. Ilmu macam apa yang melahirkan sikap otoriter berkepanjangan? Sinting! Mereka itu, orang-orang tua jaman dulu punya otak atau tidak? Otak mereka digunakan untuk apa? Kalau saja ia tidak ingat Louis adalah sepupu terbaiknya dibanding kedua sepupunya yang lain, maka sudah pasti Nyx melarikan diri ke kutub utara. Biar saja, biar dia mati kedinginan dan tidak perlu lagi menuruti hawa nafsu kedua orangtuanya.

Keturunan melahirkan bibit tak jauh berbeda—

Untung saja Louis bersamanya, pemuda asal Australia itu mengcover semua kebutuhan Nyx selama ia bersekolah di Salem. Nyx tidak peduli kalau ayahnya tahu dengan siapa ia meminta tolong, selama Nyx tidak menjual dirinya pada kalangan musuh Napoleon ia rasa ayahnya masih mengijinkan dengan siapa ia meminta ditemani hidup. Ya, ya dia cinta kebebasan. Ada untungnya juga jauh dari orangtua. Sekilas kecut tersimpan dalam senyum manis bibirnya, tak menyangka saja bisa tiba di gerbang sihir. Louis menyuruhnya untuk mencari tempat duduk dimanapun asalkan Odessa kecil bisa merasa nyaman. Sekalipun duduk dipangkuan pemilik bar saja, ia tidak akan marah. Mayday, mikir apa sih dia ini? Usianya masih belia, tapi otaknya sudah nyalang.

Selaras dengan gaunnya merah menyala, surai terang miliknya dibiarkan tergelung anggun. Cuaca panas, no? Matahari sedang giat menunjukkan wajahnya. Odessa berjalan melewati lengan beberapa orang. Sial, baunya kecut! Makan apa mereka? Apa mereka tidak memakai parfum eh?

“Aw!” Sedikit memekik, kelereng kembarnya menajam, “tidak sopan!” Ketusnya.

Membawa jemari lentiknya melakukan gerakan pengusiran debu secara halus. Cih, bocah kampung! Main tabrak saja, punya mata tapi tidak dipakai! Bukannya minta maaf malah lari begitu saja. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar