Kamis, 31 Mei 2012

Rasa Itu Elegi


dikutip dari novel Jingga Dalam Elegi karya Esti Kinarsih

"Setiap detail adalah nyanyian. Namun setiap detailnya juga tangisan. Setiap detailnya juga seribu tanya dalam kepanikan dan keputusasaan."

"Setiap detail adalah tawa, canda, tangis dan pertengkaran. Setiap detail adalah peluk dan rangkulan. Setiap detail adalah bahagia & cinta."

"Setiap detail adalah usaha pencarian yang tak kenal lelah. Setiap detail sebenarnya adalah harapan yang tak kenal habis."

"Namun setiap detail adalah pertahanan yang jatuh bangun dan makin menipis."

"Sesak cekikan masa lalu yang tadi ditahannya mati-matian kini tumpah. Mewujud dalam bening air mata yang tak lagi sanggup ditahan."

"Bahasa bukanlah talentanya dan ia tidak pernah merasa harus memaksakan diri untuk bisa."

"Sesuatu yang telah terjadi dan mungkin itu memang tidak bisa dibagi. Hanya milik cowok itu sendiri."

"Padahal yg bikin keluarga jadi deket itu kan justru hal-hal yang kecil, yg sepele, yg nggak penting banget, yg nggak keliatan dari luar."

"Ada torehan yg tercipta saat itu juga. Terlalu tiba-tiba, hingga dirinya sendiri tak langsung menyadari."

"Tidak ada yang bisa dilakukannya dengan hatinya yg tengah berjalan ke kematian."

"Hanya yg tengah berjalan ke kehidupan, akan ia perjuangkan dengan segala cara. "

"Jikalau pada akhirnya nanti bagian hatinya ini juga akan berjalan ke arah kematian, dia sudah tidak bisa apa-apa lagi."

"Dia tahu, dengan menunduk dia telah menghilangkan visual dan itu justru akan semakin memerangkapnya dalam rasa sakit."

"Tapi dia kangen suara-suara ini, suara-suara yg telah lama hilang."

"Sesaat kedua matanya sempat terpejam. Jika saja bisa, jika saja memungkinkan, dia tidak ingin pergi."

"Dan seperti ada keinginan untuk memeluk sekaligus tidak ingin pelukan itu nantinya akan mendekatkan."

"Butir-butir kata yg masih tak kasatmata itu mengembara di udara. Entah kapan sampai di tujuan dan terbaca."

"Pada seribu perncarian yg dilakukannya dengan melibatkan seluruh emosi, yg sedikit dari begitu banyak barisan tanda tanya."

"Pada akhirnya gugur dan tumbang, dirinya mendapati justru sakitlah yg ada di baris terdepan. Darinya... dan untuk seseorang."

"Keduanya seperti menyatu. Timbul-tenggelam. Datang dan hilang."

"Kesadaran itu menampar. Kembali dirinya terguncang. Kali ini lebih hebat, karena setengah dari kesadarannya menghilang."

"Permohonan sungguh-sungguh dan harus, namun sayangnya tak ingin dia jelaskan."

"Karena realisasi dari permohonan itu nantinya akan teramat sarat dengan luka. Menjalaninya tanpa didahului kata mungkin jauh lebih baik."

"Lupain dia! Darinya dan hanya untuk seseorang yang saat ini dipeluknya.."

"Kalau mau jujur, meskipun dia selalu memperlakukannya dengan manis, selalu perhatian dan selalu ada di ujung telepon.."

"Meski selalu bisa hadir setiap kali dibutuhkan, ia merasa orang itu membentangkan pembatas. Tipis, tapi bisa dirasakan dengan jelas.."

"Gue akuin gue emang nggak siap, tapi gue nggak mau mundur lagi.."

"Karena dia bicara dengan seluruh sesal. Seluruh luka. Seluruh sakit. Namun juga dengan seluruh kesabaran dan harapan."

"Namun juga dengan seluruh kesabaran dan harapan. Pada akhirnya, dia melakukan semua itu juga dengan seluruh cinta."

"Untuk kedua orang yang hilang pada masa lalu dan untuk seseorang yang saat ini hadir dalam hidupnya."

"Keterdiaman dia itu--cara kedua matanya memandang--adalah teriak keberanian yg paling lantang dan tak lagi bisa disangkal."

"Kini dia meringkuk diam. Dalam pelukan seseorang yg telah memberinya sayatan dalam. Coba meredam tangisnya dengan satu tangan."

"Ini adalah senyap paling pekat yg pernah dirasakan keduanya. Berdua yg seperti sendirian."

"Tapi saat hadir bersamaan, keduanya adalah gelap yg meluluhlantakkan."

"Namun dalam ketiadaan jarak, ternyata justru terdapat ketidakterbatasan jarak."

"Salah satu memeluk kuat-kuat, namun seperti tidak ada siapa pun di dalam pelukannya."

"Dia adalah keduanya, tapi juga bukan salah satunya."

"Mati-matian ditahannya hati dan kedua lengannya untuk tidak meraih lalu menahannya dalam pelukan."

"Tempat kehilangan terbesar kedua dalam hidupnya telah terjadi."

"Jadi dua orang dengan pribadi yang benar-benar berbeda itu berat..."

"Keduanya saling tatap. Dua pasang mata itu bertemu. Yang melukai dan yang dilukai."

"Namun masih dikenalinya rasa sakit ini. Karena rasa inilah yg telah memicunya untuk "mematikan" dirinya sendiri."

"Hidup sebagai dua orang yang berbeda demi satu harapan, entah bagaimana caranya, akan membawa 2 orang yg mendadak hilang dari hidupnya."

"Seketika ia menyulut lagi harapan itu. Membangkitkan kenangan. Menyalakan kerinduan. Sekaligus mematikan logika dari akal sehatnya."

"Tidak ada yg salah dengan harapan yang terus digenggamnya kuat-kuat itu."

"Yang salah adalah dirinya yang terlalu fokus dengan hatinya sendiri."

"Dia akui keegoisannya. Melukai dengan seluruh kesadarannya, lalu mengejar dengan seluruh cara agar bisa dimaafkan."

"Namun kini tidak lagi. Akan diterimanya seluruh caci maki dan semua hal yang memang pantas diterimanya."

"Dia biarkan seseorang melihat seluruh luka dan kesakitannya, seluruh kerapuhannya, juga setiap usaha yg kerap tertatih untuk bertahan."

"Telanjang. Transparan. Apa adanya. Tanpa topeng dan tanpa keinginan untuk menjelaskan lagi."

"Seringkali hening memang lebih mampu mengungkapkan banyak hal daripada ribuan kata."

"Dan sering kali pula mata lebih mampu menyampaikan apa yg hati ingin bicara, lebih dari bibir sanggup mengatakannya."

"Namun, maaf juga bukanlah satu tindakan yg bisa dilakukan tiba-tiba. Ada pengertian panjang sebelumnya. Ada pemahaman. Ada keikhlasan."

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar