Minggu, 27 Mei 2012

Like We Use To Be (part 4)


Hari-hari yang aku lalui tidak ada yang istimewa tapi satu yang pasti, dari sekian hari itu aku belajar untuk tetap berjalan tanpa Udin di sisiku, tanpa pria yang selama 7 bulan menemaniku setiap hari. Aku tidak pernah berpikir bahwa jarak yang dekat sekalipun tidak bisa menyatukan dua hati untuk bertahan lebih lama. Pada dasarnya jarak yang dekat bukanlah jaminan untuk sepasang kekasih bertahan lebih lama dari hubungan mereka, kenyataannya sudah aku buktikan. Baik aku dan Udin akhirnya menyerah atas hubungan yang susah payah kami bangun. Untuk semua hal yang sudah aku lewati bersama perlahan luntur seiring berjalannya waktu. Aku belajar memahami kesendirian bahwa tanpa kekasih pun aku bisa menata kembali kehidupanku, meski harus terjatuh berkali-kali meski mengbati luka hati dengan cara menyakiti diri sendiri.

Diam-diam bercumbu dengan sebatang rokok tanpa diketahui pihak manapun, hanya untuk menguatkan hati yang selalu berdenyut nyeri setiap mengingat kenangan. Jauh sebenarnya aku tidak peduli Udin ada atau tidak disampingku, tapi kenangan itulah yang membuatku peduli pada jalinan cinta yang telah berakhir. Benar kata orang, orangnya tidak menyakitkan tapi kenangan itulah yang menyakitkan. Kenangan seperti peran antagonis yang siap menindasmu kapan saja. Dia jahat, dia melukai hatiku setiap saat di setiap sunyi yang menerjang sampai aku lelah mengeluarkan airmata.  Payah, sebelumnya aku tidak pernah seperti ini. Aku terkekeh, mematikan sebatang rokok lagi. Kali ini tempatku menghabiskan sendiri di belakang universitas dekat rumahku.

Berdiri, menyalakan mesin motor, dan kembali ke rumah.

***

Sampai di rumah, baru selesai menggosok gigi dan ingin masuk ke kamar, handphoneku bordering, ada panggilan dari Tama. Aku tersenyum, memetakan sebuah lengkungan sabit di wajahku. Aku mengangkatnya segera, terdengar sapaan riang di sana.

“Hai, baru sampe rumah nih. Lo dimana?”

Tama baru pulang kerja, dia bekerja sebagai sales di sebuah perusahaan toko music terkenal di Jakarta. Penghasilannya memang tidak seberapa, tapi Tama sangat giat bekerja, kata Tama kalau mau sukses kita harus kerja keras dulu. Seperti biasa Tama menanyakan kabarku, apakah aku sudah makan dan bagaimana hari-hariku. Dia rutin menanyakannya, aku bersyukur masih ada yang peduli padaku, setidaknya satu atau dua orang yang bisa mengobati kekecewaanku. Tama dan aku memang akrab akhir-akhir ini, dengan status “mantan” yang melekat tidak menjadikan kami saling berselisih malah saling menguatkan. Tama baik, dia perhatian padaku. Dia selalu mengajakku jalan kemana pun.

“Besok kita jalan, yuk.”

“Kemana, Tam?”

“Kita makan aja, gimana? Kebetulan besok gue off kerja.”

“Oke deh, jam berapa?”

“Siang aja gimana? Sekalian makan siang…”

Aku memutuskan panggilan, membaringkan tubuh di kasur. Memikirkan Tama, betapa baiknya pemuda tanggung itu. Tama memang selalu mengajakku jalan bila dia sedang dapat jadwal off dari pekerjaannya, entah nontn atau makan, pokoknya kami menghabiskan waktu bersama. Aku sudah menganggap Tama sebagai kakakku sendiri, menggantikan almarhum kakakku. Aku menghela nafas, seandainya kakak ku tidak meninggal, mungkin dia lah yang akan menggantikan posisi Tama untuk menghiburku.

Sudahlah, tidak ada gunanya memikirkan sesuatu yang telah tiada. Cukup jalani hari-harimu. Aku menarik selimut dan segera pergi ke pulau kapuk.

***

Jam 2 siang di pusat perbelanjaan.

Dengan tubuh dibalut sweater biru dan sura tergerai, aku berdiri di tempat biasa kami janjian—aku dan Tama. Di depan sebuah toko makanan cepat saji, aku menunggunya. Seharusnya dia sudah datang, dan benar saja. Dari kejauhan, aku sudah melihat laki-laki dengan tinggi 180 cm sedang berjalan ke arahku memakai setelan jaket hitam. Kulitnya yang cokelat terlihat lebih bersih, dan wajahnya sama sekali tidak berubah masih tetap mirip dengan penyanyi solo, Sammy Simorangkir. Ia melambaikan tangannya padaku, aku tersenyum dan mengangguk.

“Lama banget, Tam?”

“Iya maaf tadi macet. Udah laper ya?” Ia mengacak-acak surai pekatku, aku bersungut-sungut dengan kebiasaannya itu.

“Lapernya banget lho, Tam…”

Beberapa detik kemudian, ia merangkulku dan mengajakku ke sebuah restoran paling enak di pusat perbelanjaan  ini. Aku dan Tama memang sering makan di sini, makanannya enak dan pelayanannya bagus. Mereka semua ramah pada pelanggan, dan menu mereka sangat lezat, restorannya pun higienis. Kami duduk di pojok ruangan, restoran ini menyediakan menu Asia. Aku menyukainya begitu juga Tama, dengan dekorasi Negara Jepang semakin mempercantik restoran ini. Menu yang disajikan lebih kepada masakan China, menu Jepangnya sendiri bisa dihitung jari. Pelayan itu memberikan kami uku menu dan aku melihat isinya, memesan menu andalanku dan menunggu pesanan siap sambil bicara.

“Kabarmu baik, Vie?”

“Baik, jauh lebih baik dari yang kemarin.” Aku mengangguk semangat.

“Baguslah, belum merokok kan?”

“Belum, aku belum ada niat sama sekali menjamah sebatang pun, kenapa?”

Aku menatap Tama dengan tatapan menghangat, suasananya seketika hening. Aku menyadari ada aura yang tidak beres. Kemudian pelayan itu memecah hening dengan membawa minuman yang kami pesan, keduanya mengangguk, ia mengatakan sesuatu dan kami hanya iya-iya saja sampai ia pergi. Kami melanjutkan obrolan yang tertunda, “Jadi bagaimana hubunganmu dengan Udin?”

“Lost contact, fix!”

“Sudah mulai melepaskan dan membiarkan dia pergi?” Tama menaikkan alisnya. Kurang yakin dengan ucapan aku barusan.

“Sudah, mungkin hanya tinggal pemulihannya saja.” Ada senyum timpang di wajah Tama. Aku tidak mengerti arti senyuman itu, yang aku tahu Tama senang kalau aku sudah bisa pulih. Setidaknya aku tidak perlu menjamah lintingan racun itu kan? Itu akan membuatku lebih baik. Setelah itu pesanan kami datang, baik aku dan Tama segera menyantapnya.

Seharian bersama Tama seolah menjadi agenda rutinku setiap minggu. Paling tidak 2 kali dalam seminggu kami menghabiskan waktu bersama. Seperti hari ini, rasa lelahku tergantikan dengan tawa satu hari bersama Tama, “Sebentar ya Vie…” Ia menatap layar handphonenya cemas. Dari gelagatnya aku tahu ada yang tidak beres dari Tama. Tama menjauh dan aku memilih mencari tempat duduk sementara di kejauhan sana wajah Tama menahan emosi. Aku hanya menghela nafas, mungkin itu Ria, pacarnya Tama. Beginilah resikonya jalan diam-diam. Maksudnya adalah jalan sama mantan tanpa bilang sama pacarnya si mantan itu. Lagipula yang aku dengar Ria adalah tipe pecemburu yang mudah gusar. Oh itu Tama, dia kembali dengan wajar menahan emosi. Tama duduk di sampingku, dan menghela nafas panjang. Aku menatapnya ingin tahu, kayaknya masalah kali ini lebih besar dari yang aku kira. Hanya saja bukannya memang sering seperti ini? Seringkali kedekatan kami menjadi pemicu di hubungan Tama dengan Ria?

“Why?”

“Ria…”

Benar kan dugaanku yang barusan telfon itu sudah pasti Ria, “Kenapa lagi? Dia tau kita jalan bareng?”

“Kayaknya sih iya, dia marah banget sama gue…”

Mau bagaimana lagi, siapa sih yang tidak marah kalau pacar jalan sama mantannya? Apalagi sampai mau ngeluangin waktu dengan Cuma-Cuma. Ada secuil rasa menyesal dalam hatiku, aku mengerti perasaan Ria saat ini, dia pasti kesal sekali kalau tahu Tama jalan denganku. Bagaimanapun Tama pernah mengatakan pada beberapa mantannya bahwa aku adalah mantan yang paling dia sayang. Aku mengangguk mengerti, kalau aku ada di posisi Ria juga pasti aku akan marah pada Tama, malah lebih parahnya aku akan menemui pacarku dan mantannya itu kemudian aku akan memaki Tama dan memutuskannya di depan umum, “Maklum sih Tam, kalo Ria malah sama lo…” Aku menepuk bahunya, berusaha menguatkan Tama yang terlihat pundung, “yaudah daripada lo sedih gitu mendingan kita jalan lagi sebentar, abis itu baru pulang. Gimana?”

Tama mengangguk dan kami melanjutkan acara kami sampai jam menunjukkan pukul 5 sore. Kami duduk di arena permainan Timezone, lelah juga main di sana lama-lama, melihat arloji biruku yang jarum panjangnya sudah menunjukkan pukul 5 sore, “Sip! Udah sore, gue harus balik.” Aku mengambil tas selempang dan berniat berdiri, tapi Tama menahan tanganku. Aku menoleh dan menatapnya tidak mengerti.

“Makasih Vie, udah mau ngehibur gue…” Aku menoleh menatap Tama ganjil. Harusnya aku yang berterima kasih padanya karena Tama sudah mengorbankan apa saja hanya untuk membuatku bisa move on. Terukir senyum di wajahku, membawa tanganku lagi-lagi menepuk pundaknya.

“Harusnya gue yang bilang terima kasih. Makasih banget lo mau ngeluangin waktu buat gue, nemenin gue sampe bisa move on.”

Selalu saja terjepit dalam situasi yang tidak menguntungkan, ketika keduanya sepakat untuk diam dan melewati detik dengan bibir membungkam. Seolah tidak perlu ada yang dikatakan atau sebaiknya disimpan sendiri saja. Baik aku ataupun Tama sibuk dengan pikiran masing-masing. Tama seperti orang yang ingin mengatakan sesuatu tapi tertahan, sedangkan aku malah menunggu Tama mengatakan apa yang ingin dia katakan. Aku tahu masih banyak yang ingin dia ceritakan padaku. Tentang Ria dan pekerjaannya, apalagi selain dua hal itu? Di luar dugaan, Tama memegang tanganku dan menatap hampa orang-orang di dekatnya. Mencoba untuk berpikir positif, dengan tidak menebak-nebak apa yang ingin dilanjutkan Tama. Semoga saja Tama tidak salah mengartikan kebersamaan kami selama ini.

“Seandainya dulu gue nggak nembak Ria, kalo tau bakalan balik kayak gini sama lo…”

Jantungku mulai berdetak lebih cepat, “Maksudnya apa Tam?” Oh memang kejadian tolol ini sering kali terjadi, apabila pemain utama langsung ditembak pada pokok permasalahan yang sebenarnya tidak ingin dia jawab atau tidak ingin dia hadapi. Sendiri, menunggu jawaban dari Tama.

“Gue udah nggak betah sama Ria, gue capek sama dia. Emosinya suka meledak-ledak, dia beda sama lo, Vie…” Tama memasang wajah pilu, aku semakin tidak mengerti kenapa laki-laki selalu berkeluh kesah tentang perempuan yang menyayanginya walau dengan cara yang salah, “Lo baik, jarang marah sama gue, jarang maki-maki gue.” Tama menunduk, raut wajahnya mendadak kusut. Sepersekian detik, dia mendongakkan wajahnya, “Kalo gue putus sama Ria, lo mau balikan sama gue?”

NAH KAN!

Yang begini ini yang nggak Avie suka. Ujung-ujungnya memori terdahulu menguasai alam sadar dan pada akhirnya akan membuat si pemilik memori terperangkap. Aku hanya bisa mengulum senyum, kaget jelas. Tidak sangka kalau kebersamaan kami pada akhirnya akan berujung seperti ini. Aku mulai berpikir tentang tawaran Tama barusan, apa aku kembali saja bersama Tama? Toh Tama menyediakan segalanya untukku, menyediakan apapun yang aku butuhkan, kebahagiaan, tawa, canda, sampai urusan materi pun dia punya. Apapun yang aku inginkan, hanya tinggal tunjuk dan voila semua terpenuhi dengan sendirinya. Apalagi yang kurang? Fisik? Wajahnya yang tidak mapan? Kulitnya yang cokelat serta wajah yang mirip dengan Sammy bisa direnovasi kalau nanti dia punya banyak uang. Apalagi?

Lalu bagaimana Ria?

Perempuan yang sudah 2 tahun lebih menghabiskan waktunya bersama Tama. Pasti perasaannya akan lebih sakit ketimbang saat aku diputuskan Udin. Kenyataan kalau ia tidak sebaik diriku dan Tama meninggalkannya begitu saja hanya karena Ria tidak bisa menjaga emosinya. Ini konyol! Setidaknya hubungan mereka bisa diselamatkan, aku tahu akulah pihak ketiga yang menghancurkan hubungan mereka. Aku yang membuat hubungan mereka diwarnai pertengkaran setiap harinya. Asal tahu saja, Tama sering berbohong pada Ria ketika dia sedang jalan denganku. Seringkali Tama mengatakan bahwa ia sedang berada di tempat temannya, padahal jelas-jelas dia sedang berada bersamaku. Bersamaan dengan itu aku mulai membandingkan seandainya aku menjadi Ria. Au mulai menyusupi seolah aku adalah Ria, pasti akan sangat menyakitkan. Aku menggeleng.

“Gue nggak mau jadi orang jahat, Tam…” Sorot mataku penuh arti, berharap Tama bisa menyadari sinyal yang aku berikan, bahwa aku hanya menganggapnya sebagai kakak dan tidak lebih dari itu semua, “kalo gue yang ada di posisi Ria, gue pasti bakalan sakit banget. Lebih baik lo omongin baik-baik sama dia, perbaiki hubungan kalian selama masih ada kesempatan, jangan sampe berakhir kayak gue.” Menarik sudut bibirku hingga bisa meyakinkan Tama, kalau semua keadaan bisa dijalani dengan baik dan bijaksana. Tama sudah dewasa, dia bisa menyelesaikan permasalahan dengan kepala dingin. Pelarian kepadaku, kembalinya dirinya pada pelukanku belum tentu menjadikan keadaan akan baik-baik saja, justru akan melukai banyak pihak. Aku sendiri belum siap untuk memulai hubungan yang baru. What? Aku trauma dengan hubunganku yang sebelumnya. Aku pamit pulang, meninggalkan Tama duduk sendirian di depan arena Timezone. Sebagai wanita aku hanya tidak ingin menyakiti perasaan wanita lainnya, biar bagaimanapun rasanya tidak adil bagi Ria yang harus ditinggalkan Tama. Menjalani 2 tahun hubungan itu bukan semata-mata seperti main air di kolam berenang, butuh proses yang sangat panjang hingga bisa menyatukan dua hati yang berbeda. Memang Tama adalah tipikal pengalah, dia lebih suka mengalah kalau dengan kekasih, tak jarang dia terlalu nurut dengan pacarnya.

Aku sebenarnya tidak keberatan kalau Tama ingin kembali padaku, tapi keadaan menyadarkanku untuk lebih bisa berdiri secara bijaksana, memikirkan beberapa factor yang memungkinkan semua ini tidak berjalan semudah yang aku bayangkan. Karena sebuah perkara tidak sama dengan menyelesaikan setiap level dalam video game, butuh usaha keras dan benar-benar harus dipikir matang. Ada dua pertimbangan apabila Tama kembali padaku, pertama adalah perasaan Ria. Dia pasti akan sangat membenciku dan juga Tama, dia akan merasa kalau selama ini pengorbanannya selama 2 tahun akan sia-sia. Kemudian Tama, ya lagi-lagi Tama, aku tidak bisa menyakiti hatinya. Di satu sisi aku masih takut menjalin hubungan kembali dengan pemuda manapun, masih ada bekas luka yang ingin aku sembuhkan dan butuh waktu. Bagiku menerima pemuda dalam waktu dekat ini sama saja memberi sayatan di atas luka yang berusaha aku sembuhkan. Seperti meneteskan alkohol di atas luka, alih-alih menyembuhkan malah terasa perih di permukaan.

Lagipula aku tidak bisa jamin kalau nanti aku kembali pada Tama, hidupku akan baik-baik saja. Tidak bisa memberikan garansi apapun untuk hati Tama, lebih baik begini saja cukup menjadi kakak dan adik. Terkadang sebuah kebersamaan tidak berarti untuk dikategorikan sebagai hubungan khusus, sebabnya kalau memang hubungan seperti ini lebih menguntungkan, lebih membebaskan perasaanmu ketimbang memiliki ikatan kemudian putus di tengah jalan, kenapa harus memilih terikat?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar