Kamis, 31 Mei 2012

Remember When


"Kenangan yang akhirnya tersimpan rapi dalam kotak memori, saat-saat bermakna yang sesekali akan kita putar kembali untuk dikenang."

"Saat-saat seragam putih abu-abu mendominasi, hari-hari yang dimulai dengan kejamnya orientasi, lalu perkenalan, lalu persahabatan, lalu kenangan. Pikiranku kembali pada hari-hari pahit manis itu, beberapa tahun silam." 

"Itulah tidak enaknya bertemang dengan seseorang sejak kecil. Dia sudah hafal tingkah-lakumu luar dalam."

"Terus terang, tidak banyak murid yang sungguh-sungguh suka belajar. Kebanyakan dari mereka hanya belajar karena terpaksa, untuk mendapat nilai bagus, untuk lulus dan modal masa depan nanti."

"Bicara tentang kisah cintaku yang non-eksisten membuatku tak nyaman. Cara terbaik adalah mengalihkan pembicaraan."

"Senang melihat senyum dan tawanya, senang mendapat kesempatan untuk saling meledek walau hanya sebentar. Walau kami bisa dibilang cukup dekat, selama ini sepertinya dia hanya menganggapku teman, nggak lebih."

"Namun entah kenapa terkadang aku justru menangkap momen-momen saat dia tampak hangat. Momen ini adalah salah-satunya."

"Aku tidak suka segala sesuatu yang tidak pasti."

"Aku akui, aku tidak pandai merangkai pernyataan cinta. Mengungkapkan satu kalimat aku suka kamu saja terasa begitu sulit."

"Sejak hari itu, aku merasa itu adalah sebuah rahasia kecil di antara kami berdua."

"Kombinasi yang ironis, aneh sekaligus menyedihkan."

"Lo tuh butuh seseorang yang bikin lo ketawa, seseorang yang melengkapi lo."

"Biasanya, aku selalu menjawab, dia orang yang baik; sebagai satu-satunya pertahanan."

"Yang namanya kosakata gombal tidak pernah eksis dalam kamusnya, tapi bersamanya membuatku merasa aman. Dan rasa aman itu adalah segalanya bagiku."

"Dimana sisi tulusnya ketika yang gue lihat cuma mata keranjangnya?"

"Sementara dia selalu menganggap cinta yang sesungguhnya adalah cinta seperti permainan roller coaster, tetapi kenapa harus dikategorikan seperti itu? Bukankah cinta, apa pun jenisnya, memiliki berbagai bentuk?"

"Hanya ada satu syarat agar kau bisa populer di sekolah, dan syarat itu adalah : EKSIS"

"Tapi, setiap kali bertengkar, aku selalu kangen, dan kamu selalu kembali ke satu sama lain. Itu yang penting, bukan?"

"Dia diam. Gue bingung gimana caranya mengisi kekosongan itu."

"Menunggu nggak jauh lebih baik daripada bengong sendirian."

"Kadang orang sering mengaku menyukai sesuatu, tetapi nggak benar-benar menyukainya."

"Semua orang punya apresiasi musik yang berbeda. Bukan berarti genre itu jelek, atau sebaliknya. Namanya juga selera."

"Menurut gue, rokok adalah salah satu bentuk terapi untuk menghilangkan stres."

"Kata orang, hidup itu seperti roda. Kadang kita di atas, kadang kita di bawah."

"Kata Forrest Gump, hidup bagai kotak cokelat, entah rasa apa yang bakal kita dapetin."

"Menurut gue hidup itu kayak bola. Karena lo nggak akan tahu akan menang atau kalah. Waktu sebuah permainan sedang berjalan sangat baik, di detik terakhir bisa aja pihak lawan yang nyetak gol, dan kita kalah. Padahal udah yakin bakal menang."

"Hidup juga kaya cuaca. Hari ini bisa hujan, besok bisa cerah. Tapi, lo nggak akan punya hujan selamanya, atau kemarau selamanya. Kita butuh pahit dan manis secara bersamaan, sebuah bentuk keseimbangan."

"Menurut gue, nggak ada orang yang bisa seratus persen bahagia, nggak ada juga orang yang seratus persen sedih. Hidup itu kan penuh emosi, makanya dalam satu periode waktu kita bisa ngerasain berbagai emosi berbaur jadi satu. Karena itu, kita jadi seimbang."

"Dia terlalu sibuk dalam urusannya sendiri, sehingga kadang merasa tidak diacuhkan. Kasat mata. Tidak terlihat."

"Satu tahun lalu, hal-hal tersebut memang cukup manis. Sekarang hatiku rasanya menawar. Pengakuan : Aku bosan, aku jenuh. Karena baik suka mau pun tidak, harus kuakui, aku bosan hanya membaca cerita cinta di majalah dan novel."

"Tidak ada gunanya berharap terlalu banyak."

"Dan yang gue tau, dia sama sekali nggak freak kayak yang orang-orang bilang."

"Banyak orang yang menganggap aku aneh hanya karena aku sulit diajak bicara."

"Jangan merendahkan diri sendiri. Kamu bukan seperti apa yang orang lain bilang. Kamu adalah kamu."

"Justru bohong-bohong kecil yang muncul, dan ironisnya, bohong itu jadi seperti gulali yang menghilang di ujung lidah begitu diisap. Sekali sebut, lalu dilupakan. Dan bohong kecil lainnya mengikuti."

"Buat cowok, rokok adalah semacam doping yang bersatu dengan kopi panas, menguapkan setiap beban pikiran gue. Instan."

"Masalahnya, gue tahu kalau gue minta timeout itu, dia akan salah paham dan menganggap gue ninggalin dia. Dan sejujurnya, nggak ada yang salah sama sekali. Gue hanya ingin sendirian saat ini, itu saja."

"Kenapa sih harus bohong?"

"Gue sayang dia--sayang, sampai nggak mau melihat dia sedih.Sayang, sampai merasa harus berbohong, supaya nggak ada pihak yang terluka."

"Aku hanya seseorang biasa-biasa saja yang canggung dengan penampilannya sendiri."

"Kadang lo harus coba sesuatu yang baru. Apa lo nggak bosen dengan segala sesuatu yang begitu-begitu saja?"

"Apalah arti sedikit perubahan? Bukankah aku selalu mengeluh jenuh dengan segala hal yang berjalan konstan dan pasti?" 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar