Minggu, 27 Mei 2012

Like We Use To Be (part 6)


Kau sebut itu jiwa yang hidup? Bagaimana bisa kau merasakannya sedangkan selama ini kau mati rasa? Aku memang hidup dan bernafas, tapi apa aku bisa merasakan dunia? Tawa semu, senyum palsu, seharusnya aku menyadarinya sejak awal, kalau aku tidak pernah hidup dalam dunia nyata. Kau tahu apa maksudku. Terdengar berlebihan, tapi itulah yang aku rasakan. Seringkali aku merasa hening lebih menghimpit nyeri di dalam hati ketimbang ramai dan diam-diam terisak jauh di dasar jurang keterpurukan. Rasanya perih, seperti luka yang dibalut dengan garam, kemudian kau akan menjerit tapi tak seorang pun mendengar jeritanmu, atau mereka sudah terlalu tuli untuk peduli pada jerit kepayahan?

Melirik meja makan malam, didampingi kedua orangtuaku akhirnya kami makan malam—

Lauk pauk dan nasi sudah tersedia lengkap di atas meja makan, satu per atu kawanan Erlan mengambil makanan. Mataku hanya tertuju pada satu orang, siapa lagi kalau bukan dia. Selalu saja dia. Aneh aku tak bosan melihatnya meski sakit selalu menarikku semakin dalam. Mengatupkan bibirku rapat-rapat, aneh aku tidak menghindar bila mata kami saling tatap. Di saat bersamaan sedikit pilu menyerang dan aku memilih melawan, sebisa mungkin. Meski airmata selalu menggantung di pelupuknya. Yang lain makan dan aku malah diam, aku sama sekali tidak punya selera untuk menyantap makan malam. Lenyap, dan hambar. Aku merasa kerongkongan sedikit pahit dan tersedak. Lebih baik menunggu mereka selesai makan. Mama memang bertanya padaku kenapa aku belum makan juga, tapi aku menjawabnya. Aku katakan pada beliau, kalau aku masih kenyang. Aku tahu beliau mengetahui anak putrinya sedang berbohong, hanya saja ia tidak perlu mengatakannya.

“Nggak makan, Vie?” Tanya Hardi sambil menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya. Aku menggeleng dan tersenyum, “lo diet?”

Lagi-lagi aku menggeleng, “Nggak, gue nggak laper Di…”

Saat itu aku merasa Udin memerhatikanku, dia tahu pasti ada yang tidak beres denganku. Tidak, dia tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja hanya tidak mala mini. Mungkin setelah ini aku akan baik-baik saja, aku akan bisa melupakan semua kenangan aku bersamanya, semua cerita kami dan segala hal yang sudah aku lewati bersama Udin. Hanya butuh waktu, hanya butuh kekuatan agar ketakutan ini lenyap. Diam-diam Erlan mengamatiku, sudut mataku menangkap gerak-geriknya, ya aku tahu mereka semua masih dalam suasana kaku. Pasca aku putus dengan Udin. Keadaan jadi bertambah garing, aku sendiri meminta maaf kepada mereka, ini murni salahku. Aku yang sudah membuat keadaan menjadi sangat absurd, menjadi sangat tidak terkendali. Inginnya memaki diri sendiri, tapi entah bagaimana rasanya aku sudah muak memaki diri ini.

Dalam kurun waktu 10 menit acara makan-makan sudah selesai, mama menyerahkan semua padaku. Bagiku seperti acara biasa, sesudah makan paling mereka dan aku ngobrol bersama, di teras rumah.

Aku mengajak mereka ke depan rumah, Erlan, Hardi dan semuanya. Mereka aku biarkan duduk-duduk sambil minum kopi di depan teras. Aku sendiri hanya diam di sudut teras dengan kondisi memeluk lutut. Malam jadi semaking sengit, atau memang sakit ini yang membuatku sengit. Sesak, aku tidak bisa seperti ini. Aku ingin mereka pulang, aku ingin menangis sepuasnya, aku tidak bisa lagi menahan bebas di dadaku yang sudah menghimpit sejak aku melihat matanya.

“Jangan nangis…”

Kaku—tubuhku seketika diam di tempat. Mendengar suara yang aku yakin, sangat tidak asing di dalam telingaku. Aku belum tuli, aku juga masih mengenali jenisnya. Menoleh, dan gerakanku terlalu lama. Udin sudah duduk di sampingku dengan gaya khasnya. Ia menyilangkan kaki dan menghisap rokok kesukaannya. Sial, wangi tubuhnya membelitku saat itu juga!

“Mau?” Ia menyodorkan satu batang padaku. Aku melotot, menatapnya seolah mengatakan, ‘kau ini apa-apaan?’ Tapi dia malah menatap keluar rumah dengan wajah tidak bersalah, “nih kalo mau, nggak usah pura-pura di depan gue…”

Suasana hening, lintingan racun itu mengeluarkan asap dan terus berada di tangannya. Aku mengingatnya, kami pernah ada dalam posisi demikian, dalam satu rentang tempat duduk. Hanya bedanya kali ini kami tidak berpegang tangan seperti dulu, kami tidak saling merangkul seperti dulu. Ada saat aku benar-benar merindukan memori yang telah hilang, puncaknya adalah sekarang. Memutuskan perkara sederhana itu tidak semudah mengunyah permen kemudian menelannya, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, aku menatapnya. Jauh menatap dalam sorot yang seolah menantangku untuk menuruti keinginan, bukankah seharusnya ini menjadi hal yang mudah? Karena aku sudah terbiasa menghisap batangan racun itu? Berdebat dengan diri sendiri itu tidak pernah semudah yang kalian bayangkan, jauh lebih sulit daripada adu mulut dengan orang lain.

“Nggak…” tolakku dengan halus. Seketika wajah Udin bertanya-tanya.

“Kenapa nggak?”

“Gue mau berhenti…. Udah cukup nyakitin diri sendiri, bener kata lo…”

Ada getar emosi yang merayap seolah disusul perasaan menyakitkan, berimbas pada airmata yang telah mengelompokkan di kedua sisi ujung kelopak mata. Berat, menahan mati-matian laju sesak yang ingin keluar. Sekaligus aku tidak ingin Udin melihatnya, kalau aku menangis Udin tak mungkin memelukku lagi, dia tidak akan sama seperti dulu. Kami akan terhalang status yang melekat, padahal aku tidak mau seperti ini. Rasanya menyakitkan, jauh lebih menyakitkan ketimbang tertabrak mobil. Aku menghela nafas berkali-kali, sulit menjaga airmata di saat-saat begini. Sisi diriku yang lain mengatakan kalau aku boleh menangis, tapi aku menahannya. Tidak boleh, meski pada akhirnya aku runtuh juga. Aku menundukkan kepala, dan sesekali menengadah, menahan laju airmata yang nampaknya semakin deras. Aku tahu, Udin mengetahui aku menangis. Sayangnya dia tidak mengatakan apa-apa, tidak juga berbuat apa-apa, dia hanya terdiam bersama sebatang rokok terselip di bibirnya. Payah, harusnya aku tidak boleh seperti ini. Tangis yang meraja, sakit yang terus mendendam, rindu yang sengit, keinginan kembali, semuanya bercampur jadi satu. Tuhan, tolonglah kalau memang harus aku habiskan rasa ini sekarang, aku rela. Aku rela membuang perasaan yang sudah aku jaga selama berbulan-bulan ini hanya supaya aku menjadi lebih baik.

Tangis diam ternyata lebih menyakitkan, tanpa suara. Emosi tertahan, isak yang tidak ingin aku keluarkan. Agar yang lain tak mengetahuinya, cukup ruang dimensi milikku dengan Udin saja yang mendengar. Pantulan nafsu emosi yang menggelegar seolah aku kesetanan, dadaku semakin sesak, kepalaku berputar. Memutuskan untuk beranjak.

***

“Lah, Avie kemana, Din?” Udin mengedikkan bahunya, membuang puntung yang mulai habis. Kemudian kembali menempatkan diri di tengah teman-temannya.

“Nangis?” Erlan menatap Udin dengan penuh tanda tanya, dia pasti tahu apa yang sudah terjadi. Udin mengangguk, dan Erlan mendesah. Dia mengerti, adalah hal yang wajar ketika Avie menangisi Udin. Erlan menatap mantap Udin, tidak mungkin Erlan tidak mengerti. Karena kami semua besar dari kecil, Erlan sudah pasti paham dengan watak masing-masing dari kami, “dia butuh waktu supaya bisa nerima semuanya…”

“Kenapa perempuan selalu menangisi hal-hal yang sudah berlalu? Bukannya itu pekerjaan yang sia-sia?” Kali ini Gagah angkat bicara, dia yang paling muda diantara kami. Erlan mengerutkan keningnya, kemudian tersenyum hambar.

“Karena dominan perempuan dikuasai oleh perasaan bukan logika, seandainya otak mereka berjalan pasti akan dilibatkan dalam perasaan. Hati yang mengontrol mereka, bukan ini…” Erlan menunjuk pelipisnya dan tersenyum kecut, “itu sebabnya ibu-ibu sering merasa tersinggung karena mereka mikirnya pake perasaan.”

“Nah lo Din, kenapa nggak mau balikan?”

Selalu saja ada pertanyaan yang tidak ingin dijawab olehnya, Udin menatap teman-temannya, haruskah dia menjawab pertanyaan yang mungkin jawabannya akan sulit untuk diterima? Lelaki dengan surai tinta itu mulai menghela nafasnya, tanda ia sudah mulai keluar dalam zona aman dan seperti ingin menjelaskan. Yang lain menunggu jawaban, sementara hening terlihat meragukan, masing-masing memiliki persepsi tersendiri.

“Karena emang nggak mungkin, Gah… Ada saatnya sebuah hubungan itu memang harus berakhir, seindah apapun jalan ceritanya, ada saatnya kita yang harus menghentikan perasaan sayang itu sendiri. Ada hal-hal yang nggak bisa lo ngerti dalam sebuah hubungan, Gah…” Dengan gaya santai Udin berdeham, tidak ada yang tahu apa yang ada di dalam pikiran seorang remaja tanggung hitam manis seperti Udin, “Gue nggak mau balikan bukan karena gue nggak sayang. Tapi gue nggak mau nyakitin dia lebih jauh. Paham? Lebih baik begini, walaupun butuh proses buat nerima semuanya.”

“Gue itu benci liat dia nangis, gue benci ngerasa bersalah. Setiap dia ketemu gue, gue tau dia luka, gue tau dia mau nangis setiap ketemu gue, dan itu semakin membuat gue berpikir kalau gue balik sama dia sama aja gue nyakitin dia. Lagian hubungan yang udah putus terus disambung lagi, nggak jaminan kalau hubungan itu akan sama seperti saat pertama kali lo jalanin. Pasti ada yang beda, atau malah terkadang ketidakcocokan akan mulai muncul dan bisa jadi ada perpisahan yang kedua kali. Kalau memang belum jodoh, sama aja kan endingnya bakalan berakhir juga? Mau dipertahankan sekuat apapun, kalau Tuhan mengatakan tidak, ya pasti akan ada perpisahan. Suka atau tidak suka, perpisahan itu pasti ada.”

Erlan melayangkan tepukan pada bahu Udin, “Ngerti kan lo semua?” 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar