Minggu, 27 Mei 2012

Like We Use To Be (part 3)


Malam beranjak, seringkali aku pulang hanya numpang mandi dan makan. Begitu makan malam selesai aku mengunci diri di kamar. Mengingat pertemuanku tadi dengan si pedagang teh dekat rumah. Aku bersyukur diriku menjadi orang baik, aku bisa dekat dengan siapa saja sekalipun dengan kalangan yang di bawah, tapi aku senang. Mereka lebih banyak membantuku di kala aku sedih dan kacau. Mereka yang menghiburku dengan cara mereka sendiri. Aku berjalan menuju meja kecil di kamar, semacam meja belajar untuk anak SD dan mulai menyalakan laptop. Menyibukkan diri dengan browsing internet. Sebenarnya aku membenci internet, apalagi dengan forum sosial facebook. Aku membencinya karena banyak kenangan pahit di dalamnya. Ada banyak cerita yang tidak ingin aku jelaskan, dan tidak ingin aku ingat. Sakit sendiri bila mengingatnya. Jari-jariku mengentak permukaan mouse, sudah puas dengan internet aku berniat akan pergi lagi ke patung kuda. Mengambil sekotak rokok di lemari bajuku dan kemudian mengantungi lalu berniat pergi. Namun langkahku tertahan di ambang pintu. Sesuatu yang sama sekali tidak ingin aku temui sampai aku mau mati. Dia lewat bersama teman-temannya, aku hanya mendengus kesal. Sembari mengeluarkan motor dari dalam rumah. Aku harap Erlan tidak sadar ketika aku keluar rumah, jadi dia tidak perlu repot-repot menyeret si Udin ke depan wajahku.

Aku membuka pintu pagar, berderit. Membuatku menahan ngilu, karena Erlan akhirnya menoleh dan dia sudah bersiap menghampiriku. Damn it! Kau tahu apa artinya? Sial! Iya ini sial, seharusnya nanti saja aku keluarkan motornya sampai mereka menghilang di tikungan belakang rumah.

“Mau kemana Vie?”

“Ah? Gue? Mau jalan aja…” aku berusaha bersikap cuek, tapi gemuruh itu tidak kunjung hilang.

“Jalan kemana? Sendirian?”

“Iya… Lo?” aku segera menduduki jok motorku.

“Gue mau ke belakang sama anak-anak…” Erlan memerhatikanku dari atas sampai bawah. Wajahnya terlihat bahwa dia sedang mengamatiku lekat-lekat. Aku diam, berusaha tidak tahu dengan apa yang dia lakukan, “lo… nggak apa-apa?”

Aku mendongak, mengangkat alisku sebelah, “Gue? Emang gue kenapa? Hahaha…” tertawa hampa.

“Gue denger lo putus sama Udin…” wajahnya nampak prihatin.

“Kalau iya, lalu kenapa? Ada masalah?” Berusaha untuk tenang meski aku tidak bisa tenang.

Aku menyalakan mesin motor, tapi dengan cepat Erlan menahan tanganku, ia memegang kunci motorku dan mematikan mesinnya. Wajahnya meminta pengertian untuk didengarkan. Aku menghela nafas, dan melunak. Aku tahu kawanannya sedang memerhatikan kami. Aku mengisyaratkan agar bisa bicara berdua dengan Erlan, dan ia menerimanya. Ia menyuruh kawanannya untuk pergi duluan. Aku duduk rileks di jok motorku. Erlan masih menatapku hampa dan prihatin.

“Gue denger lo ngehindar dari anak-anak, apalagi kalau Udin lagi nongkrong.” Aku tersenyum getir mendengar Erlan bicara. Mengetahui bahwa aku menghindar ini bukan hal yang bagus. Memang pada beberapa pertemuan aku selalu mengelak untuk berada dalam satu pertemuan dengan Udin. Alasannya sudah jelas karena kami putus dan pasca putus itu sendiri. Aku memang tidak bisa begitu saja menerima keputusan secara sepihak. Berat rasanya.

“Gue cuma butuh waktu, Lan… Butuh waktu buat nerima semuanya…”
Erlan menatapku dengan tatapan aneh, dia benar-benar menatapku lekat.

“Tapi jangan gitu Vie… Gue tau rasanya sakit, tapi…” belum sempat ia meneruskan aku sudah memotongnya terlebih dulu.

“Kalau emang lo tau rasanya, mengertilah. Nggak mudah Lan buat nerima keputusan secara sepihak. Ditambah kenyataan kalau alasan putusnya itu sederhana, tapi bukan alasannya yg sederhana, tapi dibalik alasan itulah yang nggak bisa gue terima.” Erlan mengangguk, kemudian menepuk bahuku.

“Gue harap lo bisa pulih dan kumpul bareng kita lagi… Kita mulai dari nol, Vie…” aku mengangguk.

“Gue bisa pastiin, kalau gue udah siap ngadepin dia lagi, gue akan dateng dengan sendirinya Lan…” Senyum getir dan aku menyalakan mesin motor.

Lagi, malam aku bercengkrama dengan hening dan bergelut dengan rokok—

***

Duduk di bawah malam itu sudah seperti kebiasaanku. Aku memikirkan ulang perkataan Erlan. Memikirkan semua reka ulang, seperti manis memori yang pernah kuteguk bersama Udin. Tidak bisa aku pungkiri memang memori lah yang menahanku untuk tidak pernah benar-benar meninggalkan Udin. Katakanlah aku bodoh, aku masih saja berharap dengan Udin. Laki-laki yang jelas membuangku, aku tertawa getir. Hembusan asap keluar berbaur dengan gelap malam. Aku menolehkan kepala, malam memang selalu sepi di sini, terkadang aku sering takut untuk datang ke sini sendirian, tetapi aku butuh waktu sendiri, aku butuh keadaan tenang. Aku butuh sesuatu yang bisa membersihkan luka di dalam hati. Menyilangkan kaki di atas jok motor, tanganku dengan lincah memencet tombol-tombol di handphone. Memutar lagu mellow, biar saja. Biar menekan atmosfer yang sedang berlangsung. Pertanyaannya adalah apakah aku akan menangis lagi? Apakah 3 hari 3 malam itu belum cukup menguras batin yang begitu mendalam? Apakah semua ini belum cukup menyayat hati sampai aku tidak bisa berpikir jernih?

Sesekali aku menyisipkan pemikiran, apa ini sebuah karma?

Kebanyakan orang yang mengatakan padaku adalah karma itu tidak ada, yang berlaku hanya hukum alam. Mari kita telaah, apa yang dimaksud dengan karma dan apa yang dimaksud dengan hukum alam? Menurut beberapa orang, karma adalah kasus dari daur ulang sebuah kejadian, kejadian sebab akibat yang akan terus berkelanjutan seperti siklus. Pemikiran ini didapat dari masyarakata India, karma dikatakan adalah sebagai hasil dari sebuah perbuatan di masa lalu, sekarang dan yang akan datang. Sedangkan hukum alam terbagi dalam beberapa bagian, ada hukum sebab akibat, hukum daya tarik, hukum kreativitas, dan hukum tujuh. Sebenarnya masih banyak lagi tentang hukum alam, kalau aku bahas satu-satu mungkin tidak cukup dalam semalam. Hukum sebab akibat adalah hukum fundamental, segala sesuatu yang terjadi di dalam diri kita berasal dari sebab yang khusus. Pemikiran adalah sebab dan kondisi adalah akibatnya. Hukum sebab akibat berpatokan pada hukum fisika newton yang berbunyi, “setiap aksi akan menimbulkan reaksi yang sebanding atau berkebalikan.” Pada hukum sebab akibat, yang perlu diperhatikan adalah kualitas dari sebuah hubungan yang dijalani, besar atau kecil masalahnya atau apa yang kau lakukan itu akan sangat berpengaruh dalam hukum ini.

Dari keterangan di atas keduanya memang berkaitan, hukum sebab akibat dan karma adalah sama. Sama-sama berlaku di dalam kehidupan manusia. Siklus kehidupan yang akan terus berjalan, bersamaan detik dan menit yang saling berkejaran, kemudian jam akan memeluk mereka dalam dekapan bernama waktu. Waktu itulah yang membentuk proses bagaimana terjadinya karma, kapan dan pada saat apa karma itu akan terjadi. Mungkin sekaranglah karma yang aku rasakan, dan itulah konsekuensi yang harus aku terima bagaimanapun juga. Sayangnya aku bukan tipikal orang yang mudah menerima segala sesuatunya, karena segala sesuatunya membutuhkan proses yang panjang. Aku tidak pernah memikirkan bagaimana hasil yang kudapat, aku memikirkan bagaimana proses ini akan berjalan dan apa yang aku lakukan di dalam proses itu. Apa aku bisa baik-baik saja? Atau aku memilih menyakiti diriku sendiri? Semuanya hanya aku yang tahu. Menghela nafas, puntung rokok sudah hampir habis. Aku melihat layar handphone. Sepatutnya aku meminta maaf pada orang yang telah aku sakiti hatinya, dengan kerendahan hati aku meminta pada Tuhan agar ini bisa berjalan dengan baik-baik, walaupun dengan waktu yang relatif lama.

Membayangkan apa yang terjadi hari esok membuatku sangat takut dan kalut. Aku tidak pernah tidur nyenyak seperti beberapa bulan kemarin, aku selalu terngiang apa yang sudah aku lewati bersama sang mantan. Aku membencinya, jujur saja. Aku memang membencinya, aku membenci laki-laki yang sudah menginjak martabatku sebagai perempuan. Susah untukku memaafkan orang yang telah melukai hati. Kau tahu, sakit hati itu obatnya jarang, karea ketika sudah tergores dan lukanya sangat dalam kau akan merasa akan nyeri yang sangat luar biasa, berdenyut keras hingga kau selalu ingin menangis. Tidak ada yang benar-benar bisa melawan patah hati dalam waktu yang singkat, apalagi seperti diriku ini. Aku menggeleng, aku memang bodoh. Diam-diam aku masih mengharapkan bisa mengembalikan hubungan yang sudah kandas. Sampah, mantanku itu sudah tidak menoleh padaku. Baginya sekali mantan tetap mantan, oh ironi sedangkan aku masih mengharapkannya. Ini lucu, ada berpuluh-puluh pasangan yang ingin memperbaiki hubungan mereka yang sudah kandas, beberapa berhasil dan sisanya gagal dengan berbagai macam aksi yang mereka lakukan, mulai dari mengiris nadi sampai gantung diri. Ya maaf-maaf saja, aku tidak sampai seperti itu. Aku hanya merusak diriku sendiri dan itu masih taraf wajar. Karena aku bingung mau berlari kemana.

Sudah puas duduk di patung kuda dan bercumbu dengan lintingan tembakau, aku bergerak menembus angin, melawan pekat malam menggantung di langit khatulistiwa. Menerjang beberapa antrian mobil di jalan, menghabiskan begitu banyak waktu kesendirian sampai rasa yang aku miliki pudar.

Bagaimana aku mempertahankan seseorang yang tidak ingin dipertahankan? 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar