Minggu, 27 Mei 2012

Like We Use To Be (part 7)


Seandainya menghapus kenangan itu semudah membersihkan bekas airmata pada wajah. Maka dia tidak harus merasa sakit dan terpuruk seperti ini kan? Seandainya ia tidak perlu mengingat kenangan dan mengenang perpisahan, maka ia akan dengan bebas mengingat hal yang hanya mengandung unsur kebahagiaan. Tapi ia tahu itu adalah mustahil untuk dilakukan, karena dunia selalu berlawanan. Ada hitam ada putih, ada baik ada buruk, ada bahagia ada duka, ada pertemuan da nada perpisahan. Semua itu sudah berjalan seperti hukum alam. Rotasi bumi saja terkadang di atas dan di bawah, seharusnya Avie tidak perlu merasa khawatir dengan perpisahan. Seharusnya dia punya estimasi keadaan, ada banyak seharusnya yang ingin dia katakan.

Harus dia akui, caranya tadi salah. Menangis di depan Udin tidak akan membuahkan hasil apapun, hanya pekerjaan yang sia-sia. Tangisannya tidak akan menahan Udin untuk tidak pergi darinya dan tetap bersama dengannya. Tangisannya tidak akan membuat keadaan kembali seperti normal, kecuali kalau ia memiliki sebuah alat penjelajah waktu dari robot elektronik berbentuk kucing. Menatap pantulan bening di depannya, ada satu wajah—penuh gejolak. Wajah yang tidak benar-benar memasang senyuman selama 4 bulan belakangan, wajah yang selalu diterpa kelelahan, wajah yang menyimpan banyak kosakata rumit pada setiap jeda nafasnya. Avie menyerah, ia sudah lelah dengn belenggu perasaan yang nyaris memikatnya seperti ular ingin memakan mangsanya hidup-hidup. Menarik handuk di sisi wastafel, mengelap wajahnya dan kembali duduk di teras bersama beberapa teman-temannya. Kali ini ia merasa sedikit ringan, tidak seberat saat pertama kali menatap si pemilik mata cokelat—Udin. Untuk satu detik pertama, senyuman lah yang menghiasi wajahnya, satu senyum yang akan selalu ia patri sekarang dan sampai kapanpun. Sekembalinya Avie dari dalam rumah, semua terasa hening. Baik Erlan, Hardi, Gagah ataupun Udin terdiam melihatku duduk di antara mereka.

“Apa?”

Aku balik menatap mereka satu per satu, mengedikkan bahu.

“Mata lo bengkak, Vie? Kenapa?” Tanya Gagah dengan wajah polosnya.

Haruskah aku menjawab pertanyaan yang sama sekali tidak ingin aku jawab? Haruskah aku menjawab pertanyaan yang isi jawabannya akan memperlihatkan sisi lemah seorang wanita? Ya aku tahu mereka sahabat masa kecilku yang selalu menghabiskan waktu bersamaku kapan pun dan dimanapun saat aku membutuhkan mereka, tetapi bukankah kebersamaan tidak menjadikan seseorang kehilangan privasi dan alasan pribadi yang harus mereka kubur dalam-dalam. Lebih pada intinya adalah ia tidak ingin oknum yang bersangkutan mendengar penuturan atas lemahnya batin seorang wanita. Gengsi? Tidak ada lagi yang namanya gengsi, lebih kepada aku tidak ingin dia merasa terpojok. Meski aku tahu, semua pihak ini akan selalu berada di tengah, tidak memihak baik aku ataupun Udin. Aku mengerti.

“Nggak, tadi kelilipan terus gue garuk deh, kenapa Gah? Emang bengkak banget?” suaraku tiba-tiba parau.

“Lo baik-baik aja?” Hardi menatapku dengan wajah kepo—nya. Aku menjitak kepalanya karena kebetulan duduknya di sebelahku.

“Apaan sih? Pada kenapa coba? Gue baik-baik aja kok, serius deh. Yuk ah, masa ultah gue jadi garing begini…” aku bersungut-sungut membenarkan posisi duduk.

Bukannya memulai gerakan,  nyaris suara jangkrik mendominasi suasana sekitar, Avie melayangkan tatapannya pada Udin. Menatapnya cukup lama, ada yang hendak ia katakan lewat hati yang terus menggumam. Kau tahu? Kau lagu terindah untukku, kau sahabat kecil tapi cinta terdekatku. Bagaimana aku bersyukur Tuhan telah memberikanku waktu untuk bersamamu? Menjalani cerita singkat dengan jajaran pengalaman konyol di setiap menit bersamamu. Kau memang tulisan masa kecilku, tempatku menghabiskan arena bermain selama bebas dari derap akademik. Kau baju zirah yang memberiku keberanian untuk memutuskan sebuah keputusan antara ya dan tidak, keputusan untuk tetap mencinta dan rela ditinggalkan. Kau orang pertama yang memberikan luka di atas tawa, yang memberikan ingkar di atas perjanjian, yang memberikan ku tangis di atas canda—pahit tapi aku menyukainya. Seperti kopi yang diminum setiap orang, candu bubuknya memikat para penikmat.

Penikmat cinta jelata sepertiku mendapatkan ganjaran untuk karma yang selalu mengejar di belakang. Tak peduli seberapa jauh aku berlari dan seberapa dalam aku bersembunyi. Karma selalu menemukanku di mana saja, dan kapan saja. Karma dan cinta, akan selalu datang beriringan. Tidak bisa terpisahkan, seperti aku yang merasakannya. Mungkin mulai detik ini aku akan menikmatinya bersama segelas anggur untuk semangkuk karma yang terhidang, untuk sejumput perih yang menjadi penyedap, bagaimanapun rasanya cinta tanpa kepedihan bukanlah kisah yang menarik untuk dibaca, tidak pernah menarik perhatian seperti buku dengan sampul polos di depannya. Cinta itu selalu menimbulkan satu gejolak, dimana amarah, kesal, bahagia, sedih, senang, duka, semuanya akan menjadi satu dalam hitungan jam. Hanya dengan jentikan jari dan kau akan menemukan kalau dirimu berada di sana, ditemukan cinta sekaligus diterkam kepedihan.

Tapi bukan itu, masalahnya adalah bagaimana caranya untuk menghentikan luka yang merajam?

Cara terbaik agar aku terlihat baik-baik saja, agar aku tetap bersikap seperti karang di lautan yang tidak goyah diterpa ombak. Aku ingin tetap tenang seperti batang pohon yang akarnya menancap erat di dalam tanah, meski angin topan memporak-porandakan, ia akan setia di tempatnya. Tidak pernah terlihat limbung dan kacau, hanya daunnya saja yang berguguran, tapi kemudian akan tumbuh bersamaan musim semi tak terlihat di batas Tenggara. Aku ingin seperti bangunan rumah, tetap kokoh meski dimakan rayap, hanya saja  aku  tidak ingin statis di tempat, kalau perlu beralih menjadi kaum hedonis. Sayang, hedonis malang. Mungkin kau akan dihukum dewa kalau melanjutkan, apa dosa akan membuatmu sekarat? Bagaimana kalau kuceritakan Hera mengemis pada Zeus di pelataran? Oh bahkan cerita seperti itu hanya bias—hanya karangan semata agar aku senang. Agar aku merasa masih ada banyak kisah yang bisa ditertawakan.

***

Pelan-pelan dalam hitungan menit aku belajar, belajar untuk bisa menerima keadaan.  Memulihkan hati yang terkoyak, bahkan kepercayaan diri yang jelas bertebaran di jalan. Tidak lagi kutemukan diriku memungut serpihannya. Kepingan itu sudah menjadi sampah. Maaf bukan aku menyerah pada kenangan, namun tidak ada gunanya menoleh ke belakang. Sebab tidak ada apapun yang aku temukan, baik Udin yang tertawa bersamaku, atau kegiatan lain yang melibatkan dua hati saling menggenggam erat. Semua tidak ada, kisah sudah usai. Benci dan dendam telah aku binasakan, bersamaan dengan nyeri yang perlahan menghilang di ufuk senja. Mengorbankan banyak waktu, tenaga dan pikiran.

Satu malam kuhabiskan bermain kartu dengan teman-teman masa kecilku, bertindak seolah semua akan kumulai dai nol. Seperti aku baru mengenal mereka pada masa kecil, semu mengulangi masa kekanakan yang menghilang terhalang oleh batasan ilmu yang tidak tergubriskan. Suara derai tawa, lemparan joke, dan ajang curhat menjadi akhir dari segala yang aku rasakan. Jauh dari apa yang kupikirkan ketakutan bisa teratasi dengan sendirinya. Motivasi dan ocehan beberapa pihak tidak lagi menjadi yang paling aku acuhkan, aku mencoba untuk peduli pada diri sendiri, tidak berusaha untuk menghakimi masa lalu dan menaruh Udin sebagai terdakwa percintaan, satu kasus sudah selesai. Aku berdamai dengan masa lalu. Biar bagaimana juga mereka tetaplah senyum yang berharga, kebersamaan selama belasan tahun ini akan tetap terjaga.

Tepat pukul jam 12 malam, mereka semua bersiap pulang. Masing-masing beranjak dari lantai yang mereka duduki beberapa jam lalu. Erlan mengulurkan tangannya padaku, Hardi memelukku, Gagah hanya membungkukkan tubuhnya, dan begitu aku melirik pada sesosok masa lalu—aku lebih suka menyebutnya sahabat kecil, ia menatapku dengan kikuk. Aku sendiri mulai mengembangkan senyum di sudut bibirku. Udin menghampiriku, dan ia mengantarkan kelingkingnya ke depan wajahku, dengan satu tarikan simpul penuh makna—bendera putih akhirnya berkibar.

“Kita teman ya sekarang…”

Ia mengacungkan kelingkingnya, aku menghela nafas mantap dan mengaitkan jari kelingkingku pada kelingkingnya, mengangguk penuh semangat.

“Iya, kita teman—sahabat kecil dari dulu sampai sekarang…” Terasa di puncak kepalaku tanganya menepuk pelan, Udin berbalik diiringi senyum manis dari semua sahabat kecil yang datang malam ini. Diam-diam aku tetap menarik kesimpulan, bahwa aku tetap menyayanginya entah sampai kapan. Perasaan sesak selama mengalami pasca putus cinta perlahan akan lenyap, aku tahu sakit ini butuh proses untuk penyembuhan. Aku melambaikan tanganku sampai mereka menghilang di belokan sebuah gang. Berbalik ke belakang dan menengadah ke langit, Tuhan sudah menjawab doaku beberapa hari yang lalu. Aku diizinkan untuk tersenyum bahagia, merasakan lagi kehidupan yang menghilang beberapa bulan yang lalu. Terima kasih, Tuhan. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar