Kamis, 31 Mei 2012

Ketika Kau dan Aku Jatuh Cinta


"Sedikit perubahan, sedikit saja.. Tidak akan terlalu kentara, kan?"

"Aku terlihat seperti makhluk asing. Seseorang yang tak kukenali."

"Kadang aku kagum pada kekuatannya berkembang dalam segala sesuatu yang seharusnya memurukkannya. Hanya, dia sendiri nggak pernah sadar kalau dia memiliki sesuatu itu."

"Walau langkahnya tergesa, dia berusaha tersenyum untuk meyakinkan bahwa dia nggak apa-apa. Bahwa dia bisa sendiri."

"Untuk sesaat biarlah aku menjadi cantik. Biarlah aku seperti ini, sebentar saja."

"Terulang terus, sampai aku mulai gerah dan frustasi dengan diri sendiri."

"Lo nggak akan menyerah semudah itu, kan?"

"Jauh dalam diriku, aku tidak ingin menyerah kalah. Tapi, jujur-sejujurnya, aku malu."

"Nggak ada yang namanya menang atau kalah, selama kita berusaha. Dan itu yang bikin gue mencoba lagi."

"Entah apa yang dia rasakan sekarang. Tidak, aku tahu. Sedih, kecewa, marah, kalut. Kosong."

"Kenapa ya orang-orang yang kita sayang harus pergi begitu cepat?"

"Kenapa hidup nggak bisa adem ayem? Kenapa bahagia nggak bisa berlanjut lama?"

"Kita jadi takut merasakan bahagia karena kalau terlalu bahagia, suatu saat semua itu bisa hilang dan menjadikan kita hampa."

"Waktu hidup manusia itu nggak pasti. Kita nggak punya kemampuan untuk nentuin masa dan arah hidup kita. Kalau yang di atas bilang waktu kita selesai, kita harus lepas tangan. Itulah ironisnya kehidupan. Hidup ini milik kita, juga bukan milik kita sendiri."

"Ketenangan yang jarang kutemukan pada dirinya yang ceri; ketenangan yang sangat mengerikan. Tidak ada yang bisa menyelamatkan siapa pun dari rasa semacam itu."

"Aku hanya bisa balik menatap matanya, membiarkannya merasakan segala yang harus ia rasakan."

"Butuh waktu yang lama untuk berhenti menyalahkan, Tuhan. Untuk meyakinkan diri sendiri bahwa ini bukan salah siapa-siapa. Butuh waktu buat kembali percaya lagi, kalau gue pantes bahagia."

"Sampai tangis mereda, dan kehilangan kemampuan untuk menangis. Aku mengerti."

"Tapi gue belajar bahwa pada saat-saat seperti ini, lo hanya harus menjadi diri sendiri. Lakukan apa yang lo mau, rasain apa yang harus lo rasain."

"Padahal, aku kangen suaranya. Kangen mengobrol sebelum tidur dan mengakhirinya dengan ucapan I Love You."

"Semua disimpannya rapat-rapat, seperti tameng, seperti rahasia. Apa yang dia rasakan, apa yang dia pikirkan, kami nggak tahu jelas. Akhirnya, aku memutuskan untuk nggak memaksa. Mungkin hal-hal semacam itu lebih baik tidak dibicarakan."

"Mendadak aku merasa takut, ingin menangis, ingin memberi tahunya kalau semuanya akan baik-baik saja. Ingin melihatnya tersenyum dan bukan menangis. Ingin segera sampai di sana."

"Mencoba menenangkanku dengan caranya sendiri, tanpa sepatah kata pun."

"Di situlah letak bahaya nya. Gue tau dia lebih  sakit dari itu. Dia lebih ringkih dari kelihatannya. Lebih ingin menangis dibandingkan kami semua bertindak seakan-akan dia baik-baik saja."

"Dia terus bilang ke gue, 'gue baik-baik aja kok', tpi dibalik itu, gue tahu semuanya. Gue tahu, tapi nggak bisa berbuat apa-apa."

"Kita semua berpura-pura mengikuti caranya, beranggapan semua udah lwat dan nggak perlu diungkit lagi."

"Namun sekali lagi gue tahu, dia sebenarnya lebih sakit hati dari itu. Dia diam saja, dan di antara kami seperti ada perjanjian tak tertulis untuk berpura-pura bahwa semua lancar apa adanya."

"Dan diam-diam, gue kecewa. karena mungkin  dulu gue terlalu pengecut untuk lebih menyelami hatinya atau mencoba menyembuhkan lukanya."

"Rasa kesepian yang dulu disimpannya rapat-rapat, yang nggak bisa diganggu-gugat orang lain dan nggak bisa dikorek oleh siapa pun, menguap sedikit demi sedikit. Dia terlihat lebih manusiawi, terbuka, lepas..." 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar