Minggu, 27 Mei 2012

Like We Use To Be (part 1)


“Kita putus?”

“Iya…”

“Kenapa?”

Suara hening menguasai keduanya, disebelang sana ia menahan nafas sekaligus berusaha menahan butiran airmata yang siap tumpah hanya dalam sekali kedip. Keadaan kali ini bukan lagi sekedar lelucon yang biasa dilakukan oleh keduanya ketika mereka bertengkar, bukan pula situasi dimana ia mencoba memancing agar sang lelaki menahannya. Ini serius, sudah waktunya ditangani tanpa hiasan tawa dan joke yang tidak bermutu. Pegangan tangannya mendadak gemetar, ada sesuatu yang menciutkan hatinya. Nyali yang melonjak seolah keadaan sudah membaca kondisi keduanya.

“Malas…”

Ia mengangkat alisnya, tanda sesuatu belum dicerna betul oleh otaknya. Meminta pengulangan akan maksud lawan bicaranya diseberang telfon.

“Iya, aku sudah malas denganmu…”

Seperti diam-diam ditusuk dari belakang pas mengenai ulu hati. Kalau telinganya belum tuli-tuli amat dengan alasan sederhana yang bisa mengakibatkan luka jauh dari kata sederhana. Ya, seketika luluh lantak dalam seketika. Jangan ditanya bagaimana rasanya saat alasan itu terlontar, jangan ditanya bagaimana rasa hatinya saat predikat itu terucap. Ya, kalian boleh mengatakan bahwa ia sedang mengalami kegalauan yang luar biasa. Alasan sederhana yang mampu membuat lubang sebesar sumur di dalam sebuah Keraton di kota Yogyakarta.

“Sudah ya, kita putus. Bye…”

Kemudian nada terputus itu berbunyi, nyaring dan mengisi otaknya. Berteriak hening sementara ia masih memegang gagang telfon di telinganya. Ia masih tidak percaya, semudah itukah dirinya dipisahkan? Semudah itukah mengucapkan kata putus? Semudah saat mereka berdua memulai cerita dahulu. Tuhan, boleh ia menangis di pundakmu sekarang? Karena begitu telfon genggam itu ia taruh di permukaan kasur, maka semuanya tak lagi sama.

***

Errr…. Hai, nama gue Vianthdhavie El Alfa. Gue biasa dipanggil Avie. Cukup singkat kan? Gue seorang siswi SMA kelas 2 dan gue bersekolah di sekolah swasta di Jakarta. Kalian bisa menggambarkan fisik gue dengan bentuk badan di atas rata-rata alias kelebihan berat badan, tinggi badan gue sekitar 163 cm, dengan rambut hitam panjang sepinggang. Gue tergolong murid yang biasa-biasa saja, nggak ada yang istimewa dari seorang gue. By the way, walaupun sekolah gue di Jakarta tapi rumah gue bukan asli domisili Jakarta, rumah gue letaknya di Bintaro. Pasti kalian Tanya deh kenapa sekolah gue di Jakarta? Kenapa gue nggak sekolah yang dekat dengan rumah gue saja? Alasannya itu murni karena gue ikut dengan keinginan nyokap gue. Aneh kan? Ya namanya juga anak yang penurut ya? Nggak murni penurut sih, gue cuma mau buktiin sama nyokap kalau gue bisa jadi anak yang penurut karena selama ini gue nggak pernah nurut sama beliau. Simple kan? Nah di samping itu juga ya karena sekolah gue itu katanya bagus, lulusannya terjamin masa depannya, kenapa gue bisa bilang begini? Weits! Gue nggak asal ngomong, buktinya ada yaitu salah satu keluarga gue sukses jadi pengusaha sebuah perusahaan asuransi terkenal. Beberapa temannya pun sudah bisa menjadi eksekutif muda hanya dalam umur 20 tahunan. Gila kan?! Siapa juga yang nggak mau sukses muda?

Gue anak kedua dari 3 bersaudara, sebenarnya sih 4 bersaudara. Cuma kakak gue sudah meninggal beberapa tahun silam, akibat penyakit gegar otak yang ia derita setelah ia tabrakan di jalan sepulang sekolah. Waktu itu umurku masih belasan tahun, dan kakak ku itu masih duduk dibangku SMA. Tragis memang, tapi ya itulah hidup. Gue punya kakak perempuan satu dan adik laki-laki satu. Kakak perempuan gue namanya Ivy, sedangkan adek gue itu namanya Ian. Ian itu nakal, gue sama dia nggak pernah akur sama sekali. Ada aja tingkahnya yang bikin gue kesel, nggak jarang gue berantem sama dia. Kadang-kadang sampai nyokap gue yang harus misahin gue sama dia. Cih! Oh ya, nyokap bokap gue—mereka itu pahlawan gue. Orangtua paling baik yang pernah gue punya. Mereka menomorsatukan anak. Nyokap gue seorang karyawan swasta, beliau bekerja di sebuah perusahaan obat di Jakarta, beliau itu orangnya terlalu baik sama orang lain. Dia nggak pernah tega buat nyakitin perasaan orang lain, dari nada bicaranya saja halus dan lembut meski masih kalah sama puteri keratin. Nah bokap gue itu kebalikan dari nyokap gue. Bokap gue bekerja untuk pemerintah Jakarta, beliau bekerja tanpa lelah demi gue sama saudara-saudara gue. Gue salut sama bokap, beliau tidak pernah absen untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kerja kerasnya membuat gue sadar bahwa betapa berharganya seorang ayah bagi keluarga, tanpa ayah keluarga gue tidak bisa apa-apa, apalagi ayah sehebat bokap gue. Wah, jarang ada atau mungkin beliau satu-satunya ayah yang mirip sama superhero?

Apalagi yang harus gue ceritain?

Oke temen-temen gue, khususnya temen sekolah gue? Kita masuk dari temen SMA dulu kali ya? Gue punya sahabat deket namanya Opi, dia itu sahabat yang paling deket sama gue di kelas. Dia yang selalu ngeluangin waktunya buat denger curhatan gue, nah Opi ini matanya sipit tapi dia dikenal tegas sama seantero sekolah. Bahkan dia selalu menyabet peringkat 1 di kelas. Betapa jernihnya otak sahabat gue, dan gue merasa beruntung bisa temenan sama Opi. Duduk sebangku dan bisa jadi sahabat yang deket sama dia tuh rasanya seneng banget! Nggak ketinggalan ada lagi sahabat gue namanya Naru. Dia cowok dan dia beda sama cowok kebanyakan, sifatnya yang pendiem dan kehidupannya yang misterius menjadi daya tarik sendiri di sekolah gue. Banyak banget cewek yang suka sama dia, nggak heran sih. Soalnya Naru itu hasil dari keturunan Barat sana, jadi ya nggak heran kalau banyak cewek yang ngejar-ngejar dia, ya kan?

Berikutnya temen-temen SMP gue. Nah ini dia. Dulu SMP gue punya kelompok, apa ya kalau zaman sekarang namanya… Gank? Yap! Seperti itulah kira-kira. Namanya Laskar Ngepot, nggak jelas memang namanya tapi entah kenapa kami membuat nama itu sebagai trademark. Terdiri dari empat orang, Aku, Salvi, Lunna, Camelio. Mau tahu kenapa namanya Laskar Ngepot? Jadi ceritanya ada di barisan akhir kelas 9 Sekolah Menengah Pertama. Ini memang tidak mudah, tapi beginilah cara Tuhan mempersatukan kami berempat. Bermula dari hanya gue dan Lunna yang 3 tahun selalu duduk satu meja, duduk satu bangku. Lunna itu sahabat gue yang paling gokil, penampilannya sama kayak murid-murid biasa, hanya ada beberapa kelebihan saja. Kelebihan warna kulit yang agak gelap, kelebihan kepribadian makanya terkadang dia suka abnormal. Maksudnya bukan abnormal dalam arti sesungguhnya, kadang-kadang dia suka absurd, sering gue dibikin ketawa sampai mau nangis gara-gara ulah konyolnya. Kemudian saat kelas 8 aku bertemu Camelio, Salvi juga bertemu di saat yang sama tapi kami tidak begitu dekat. Waktu itu aku belum terlalu mengenal Salvi seperti aku kenal Lunna. Kemudian pada akhir kelas 9, aku dan Lunna lagi-lagi satu kelas dan satu bangku, kami menghabiskan begitu banyak waktu bersama dengan tertawa. Tidak ada yang pernah kehabisan obrolan setiap kali kami terlibat percakapan, selalu saja ada bahan. Dan bagaimana aku bisa dekat dengan Camelio? Itu karena mantan pacar Camelio adalah mantanku juga.

Dunia memang sempit, eh?

Tinggalkan itu sejenak, dan bagaimana aku bisa dekat dengan Salvi?

Aku dekat karena hobi. Kuakui kami punya kesamaan minat, sama-sama suka menulis. Walau tulisanku belum sebagus tulisannya. Tulisan Salvi itu lebih menjiwai. Dari kesamaan minat aku bisa menjadi orang terdekatnya. Lagipula Salvi anak yang baik, dia tidak pernah marah, selalu lembut dan ramah. Sifatnya yang khas itu selalu membuat pertemanan kami nyaman. Ada banyak hal yang kami lakukan berempat, baik saat masih di sekolah dulu bahkan sampai sekarang. Kegilaan yang tidak berubah, terutama dari aku dan Lunna. Kami sama-sama memiliki sikap kurang waras kalau sudah bertemu, bagaimana cara kami melepaskan beban bersama, dan bagaimana dia bisa membuatku tertawa sampai menangis. Aku masih ingat bagaimana heboh kami saat berkaroke ria di salah satu mesin karoke di sebuah pusat perbelanjaan. Kami menjadi pusat perhatian bule dan para satpam di mall. Memalukan eh? Walaupun memalukan tapi aku menyukainya, aku selalu menyukai saat-saat yang aku lakukan bersama mereka. Hamper secara keseluruhan selalu menghilangkan bebanku.

Kemudian aku punya teman-teman kecil, “My Childhood” begitulah aku menyebutnya…

Alasannya?

Sudah pasti karena kami dekat dari kecil. Dari sejak aku berusia satu tahun, merekalah yang selama ini bersamaku, bermain dan bicara padaku. Mereka itu Erlan, Hendro, Udin, Paris, Agan, Pumi, Unge, Runi, dan masih banyak lagi.

Aku dekat dengan mereka sampai umurku 6 tahun, setelah itu kami terbiasa dengan dunia kami sendiri-sendiri. Aku sibuk dengan kegiatan akademisku, aku lebih suka berkecimpung dengan duniaku sendiri. Menghabiskan waktu sendirian, karena begitu berbaur dan menjadi terbiasa aku akan sangat sulit menerima kepergian mereka. Lalu 17 Agustus tahun 2009  kami semua dipertemukan kembali dalam sebuah organisasi di lingkungan rumah kami. Erlan terlihat simpati padaku, Hendro dan Paris juga. Semakin dewasa mereka semakin terlihat berbeda dengan masa kecil. Terkadang di sela kegiatan rapat yang berlangsung aku sering menikmati khayalanku tentang masa kecil yang sudah lewat. Aku selalu mengingat kalau kami main hujan bersama, aku denga kaus kutang dan menarik-narik bak kecil hanya untuk mandi di tengah hujan. Kemudian yang lain menyusul dengan kostum masing-masing.

Selesai dengan main hujan dan dengan perkenalan yang singkat.

Aku rasa cerita ini sudah harus dimulai, sudah tidak ada waktu untuk berbasa-basi kan?

1 komentar:

  1. menyentuh banget ceritanya vi..
    itu dari pengalaman pribadi ?

    BalasHapus