Minggu, 27 Mei 2012

Like We Use To Be (part 5)


Tidak pernah ada yang istimewa di hari yang aku jalani selama ini. Tanpa seorang kekasih di sampingku. Aku tetap masuk sekolah seperti biasa, tetap menjalani hari-hariku seperti biasa. Walau aku terus menghindar apabila kumpulan Erlan telah stand by di depan rumahku. Untungnya Erlan memahami dalam keadaan yang sulit seperti ini.

Oh matahari sudah mulai menyapa dunia, harusnya aku bergegas mandi. Tapi rasanya malas sekali, kebetulan sedang libur sekolah. Aku melihat jam di kamar, sudah jam 9 eh? Cepat sekali, pasti ini akibat aku begadang semalaman karena telfonan dengan Tama. Mengucek mata dan mengulet sebentar. Surga itu kalau kita sudah tidur di kasur dan ngulet sebebas merpati. Aku merayap mencari handphoneku yang sepertinya sepanjang malam berdering, kulihat ada lebih dari 10 message yang diterima. Keningku berkerut, bertanya dalam hati siapa saja yang mengiriman pesan. Kubuka satu per satu pesan singkat yang kuterima, dan isinya semua mengucapkan “Happy Birthday” disambangi dengan ucapan permohonan lainnya. Aku mendongak, berusaha mengingat hari. Memang ini tanggal berapa? Aku mengecek kalender di handphone. Astaga, ini kan tanggal 11? Hari ulang tahunku, 11 Juli! Kenapa aku bisa lupa, ya tuhan? Jari-jariku menari-nari di atas keypad dengan lincah, mengetik beberapa balasan untuk pesan singkat. Ucapan pertama sudah pasti dari Tama, rupanya semalam aku ketiduran saat telfonan dengannya, dia mengucapkan selamat ulang tahun ditelfon tapi aku tidak mendengarnya. Alah, bodoh sekali aku?

Aku senyum-senyum sendiri, mereka mengingat ulang tahunku. Lalu aku beranjak menuju laptop dan membuka media sosial online, mendapati beranda facebook penuh dengan ucapan selamat kepadaku rasanya senang sekali. Namun jauh dari semua itu, aku berharap Udin tidak lupa dengan hari ini. Sekilas aku mengingat, diantara tumpukan ucapan selamat di pesan singkat tidak ada satupun dari Udin. Mungkin dia lupa ulang tahunku, mungkin. Aku menghela nafas, buat apa aku peduli padanya lagi? Seperti dia akan peduli padaku saja.

Lagi, handphoneku berdering.

“Ya, halo Lan?” Kali ini Erlan menelfonku, aku mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan Erlan, 

“Oh oke, jam berapa? Oooh, oke! Sip!” aku menutup telfonnya. Nanti malam mereka akan berkumpul di depan rumahku, memang adat sih kalau di komplek rumahku itu yang ulang tahun wajib mentraktir teman-teman sejawat. Aku sih tidak apa.

Sebentar….

Berarti nanti malam ada…. Udin?

Ya tuhan, kenapa aku bisa lupa?!

Bisakah kau batalkan saja janji hari ini, Tuhan? Aku hanya tidak ingin bertemu dengan Udin. Bodohnya aku, kenapa bisa lupa?! Aku harus bagaimana? Apa aku harus menelfon Erlan lagi dan mengatakan padanya kalau malam ini aku tidak bisa mentraktir anak-anak? Tapi tadi aku sudah mengatakan oke, aduh bagaimana ini? Seperti orang kesurupan, aku gelisah tidak karuan. Bolak-balik dari depan laptop ke atas tempat tidur, memeluk bantal kemudian kembali ke depan laptop.

Aku hanya belum siap bertemu dengan Udin, bagaimanapun keadaannya…

Aku tahu ini adalah bagian pengecut dari diriku, menghadapi ketakutan terbesarku. Bayangan Udin yang selama beberapa bulan ini tidak pernah lenyap, bayangan Udin yang selalu memenuhi ketakutanku akan menjadi nyata. Tuhan, kau berikan aku cobaan macam apa? Aku menggigit bibir kuat-kuat. Sial, aku tidak bisa berbuat apa-apa selain aku sudah terlanjur mengucapkan ya, dan Erlan bukanlah tipikal seseorang yang seenaknya membatalkan janji. Ah, mati aku!

Sepanjang hari ini aku lewati dengan tidak bersemangat, selalu saja wajah Udin yang ada di kepalaku. Caranya tersenyum, caranya menggenggam tanganku, caranya merangkulku setiap kami bertemu, caranya tertawa, dan semuanya. Mama bahkan sampai heran melihat tingkah laku ku, aku hanya diam sepanjang hari dan menatap kosong apa yang ada di depanku, termasuk makanan sore ini. Ulang tahunku, tidak ada yang istimewa. Bagiku kalau keluargaku sudah mengucapkan dan mengingat saja itu sudah cukup. Mama berkali-kali bertanya padaku, ada apa? Tapi aku hanya membalasnya dengan tersenyum dan menggelengkan kepala. Tidak perlu ada yang tahu aku kenapa, aku baik-baik saja.

Sampai langit sudah memunculkan mega, pada bukit barisan aku bertanya. Harus bagaimana kalau aku bertemu dengan Udin? Aku terus berpikir keras, tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Mental seperti menciut dengan sendirinya.

“Kak! Handphonenya bunyi tuh!”

Aku beranjak dari ruang tv, tempat aku sedari siang menonton tv. Sebenarnya aku tidak fokus menonton sih, pikiranku masih berlarian entah kemana. Aku meraih handphone yang tergeletak di meja telfon, ada nama Angie tertera di sana. Buru-buru aku masuk kamar, bocah satu ini mau apa? Pasti dia akan menceramahiku sepanjang dosa. Begitu sampai di kamar, aku segera duduk di depan meja belajar dan mengangkat telfon dari Angie dengan wajah bosan setengah abad.

“Yeah…” sapaan pertamaku.

“Kemana aja lo? Gue telfonin nggak pernah diangkat!”

Aku menguap sejenak, terkadang aku bosan dengan ocehan Angie, tapi biar bagaimanapun dia tetap sahabatku yang mengerti jelek bagusnya diriku.

“Maaf, maaf… Gue lagi menenangkan diri nih, sob.”

“Oke gue maafin, khusus hari ini aja, soalnya lu lagi ulang tahun!” Suaranya terdengar bahagia, “Happy Birthday ya mybest friend!”

“Makasih…. Ada apaan nelfon gue?”

“Gimana kabar lo? Udah baikan apa belom?”

Aku memutar mata, bagaimana bisa aku merasakan sudah lebih baik atau malah semakin buruk kalau keadaan hati saja masih gamang seperti ini? Berusaha untuk merasakan denyut baik-baik saja ternyata sama susahnya dengan melupakan orang yang telah memberi kita banyak kenangan selama bersamanya. Aku menghela nafas. Terdiam sejenak, aku tidak ingin menjawabnya secara buru-buru, karena aku tahu aku tidak baik-baik saja, masih ada sisa luka yang harus aku benahi dan aku obati dengan kemampuanku sendiri. Senyum masam mulai menghiasi wajahku, betapa melupakan adalah hal yang paling aku benci, karena tak satupun usahaku berhasil melakukannya.

“Gue mati rasa, nggak bisa bedain mana yang baik-baik aja mana yang nggak…”

Angie hening, apa dia mengerti yang aku rasakan? Aku tidak meminta orang berusaha untuk mengerti apa yang aku rasakan, setidaknya dengan perkataan mereka yang menghiburku itu sudah cukup. Seperti pesakitan aku harus tergopoh-gopoh membalutkan perban di sekujur luka yang sama sekali tak terlihat dengan mata orang awam.

“Gue tau sob, nggak gampang ada di posisi lo…” Nah kan, sesi galau sudah dimulai. Enyahlah malaikat, tunda saja kebahagiaan yang akan kudapat sampai semester depan kehidupan.
“Rasanya ini tahun terburuk gue…” aku mendesah, kecewa pada keadaan. Terlalu banyak kejadian biadab tak terduga yang menyiksaku pelan-pelan tanpa jeda. Setidaknya walau masih diberi kesempatan untuk bernafas tapi aku sama sekali tak merasakan, hanya nyeri di dalam denyut hati yang seringkali mencuat keberadaannya.

“Tahun terburuk gimana?”

“Nggak pernah gue ulang tahun ditemenin perasaan sakit begini, sob.”

“Lo kuat, Vie…”

“Sekarang sih kuat, tapi nggak tau nanti malem kuat apa nggak.”

“Maksud lo?”

Aku menceritakan janjiku pada Erlan dan kemungkinan Udin datang di antaranya. Angie cukup paham dengan jalan ceritaku, dia memahami usahaku untuk menjauhi Udin beberapa bulan ini. Di sela cerita aku sempat meneteskan airmata, setiap kali kata itu, nama itu mampir di lidahku pasti aku selalu terdiam dan menjatuhkan airmata terlebih dulu. Aku tahu menghindar bukan hal yang tepat, aku tahu aku hanya memperburuk keadaanku sendiri, aku pengecut. Jauh di dalamnya aku lebih sakit dari ini semua. Jauh di dalamnya keadaan lebih buruk dari yang terlihat, aku tidak pernah benar-benar bisa lupa pada sosok Udin.

“Dengerin gue, please untuk sekali ini aja!” Angie membentakku, baru pertama kali aku dibentak olehnya, “cara lo menghindar selama ini, itu hal yang paling salah yang pernah lo lakuin! Gimanapun caranya lo harus bisa ketemu Udin, gue tau mental lo belum siap, tapi sampai kapan? Mau sampai kapan lo ngumpet? Mau sampai kapan lo diteror rasa sakit kayak gitu? Sampai lo mati dan Udin hidup bahagia dunia akhirat, hah?! Sob, denger ya… jalan satu-satunya untuk sembuh dari rasa sakit, ya lo harus datang ke sumbernya!”

“Gue nggak bisa…” kataku terbata-bata.

“Lo belom coba… Jangan bilang nggak bisa. Percaya sob sama gue, lo takut karena lo belum terbiasa tanpa Udin, lo takut ketemu dia karena lo takut ada gejolak yang sama. Sob, denger ya… Semua ini, semua cerita lo sama Udin itu udah abis masanya… Cobalah lo damai sama masa lalu, ini buat lo juga, buat diri lo…”

“Gue takut…” erangku.

“Apa yang lo takutin? Udin? Erlan? Siapa?”

Ya gue takut sama dia, lo tau lah…”

“Selama ini waktu lo buat sembunyi, ngehindar, itu udah cukup! Waktu lo mempersiapkan diri juga udah cukup, Tuhan udah kasih batas waktunya, dan sekarang lo harus berani ngehadepin kenyataan sob… Kenyataan kalo lo sama Udin itu ya Cuma tinggal cerita, udah nggak ada apa-apa lagi. Semakin lo sembunyi, semakin lo kayak gini, ketakutan itu bakalan tinggal, tapi coba lu hadepin dia, lu liat dia setiap hari, pasti lu bakalan terbiasa. Ayolah sob, nggak ada salahnya dicoba…”

Satu hal yang paling tidak aku suka adalah meninggalkan zona aman.

Aku tidak terbiasa beranjak dari zona aman, karena aku adalah tipikal orang yang kalau sudah terbiasa dengan satu hal itu akan bergantung terus menerus dan aku tidak berniat mengubah apapun selama itu menjadi hal yang paling nyaman untukku. Mungkin mengumpat di balik layar cerita yang sudah selesai merupakan hal yang paling nyaman dalam diriku, aku tidak berniat beranjak untuk menghadapi kemungkinan yang bisa membuat keadaanku lebih parah. Memang aku pernah mendengar, untuk menghilangkan rasa sakit itu ya memang kita harus datang pada sumbernya, kita yang harus mengobatinya dengan cara kita sendiri, tidak peduli pada keadaan kalut atau apapun, selama ada kemauan untuk sembuh. Aku mengepal tanganku, omongan Angie ada benarnya. Seharusnya, rehat untuk pesakitan sudah selesai, aku sudah tidak lagi di rawat dalam unit galau darurat, aku sudah hampir sembuh. Hanya butuh selangkah agar bisa menghabiskan sisa-sisa luka dalam sekejap atau secara bertahap.

“Jadi, gue harus ketemu dia?”

“Betul!”

“Lo yakin nggak akan apa-apa? Nanti kalo gue sakit lagi gimana?”

“Setiap apa yang lo lakukan, selalu ada resiko yang harus lo ambil. Gimanapun sakitnya ngadepin mantan, masih lebih sakit kalo lo nggak bisa ngadepin dia. Mantan itu bukan untuk ditakutin, sob…”

“Makasih sob…”

Secepat kilat aku menutup telepon dari Angie dan kudengar dari arah bawah, mama memanggilku. Beliau mengatakan kalau di depan rumah sudah ada beberapa teman kecilku. Nah kan? Apa kubilang? Mereka sudah sampai duluan, kemudian aku bersiap. Tidak, aku tidak perlu berdandan mewah layaknya putri raja atau finalis Miss Universe, aku juga tidak memakai gaun mahal dan sepatu hak tinggi seperti anak remaja kebanyakan, aku hanya menggunakan setelan celana jeans dan kaos saja. Mengambil jaket yang sudah tergantung dan berlari kecil menuju depan rumah. Kulihat beberapa dari mereka sudah tersenyum ke arahku. Yang harus diketahui adalah hati kecilku menginginkan kedua mata ini menangkap sesosok lelaki jangkung hitam manis, dengan senyum piawai merayu para wanita. Dimana dia? Dimana makhluk yang selama 4 bulan ini aku hindari? Dimana makhluk yang selama ini sudah membuat luka di dalam hatiku?

“Happy birthday, Vie!” Erlan mengulurkan tangannya, disusul rangkulan sebagai kakak. Jabat tangan dengan teman-temanku yang lain pun aku laksanakan. Aku tetap berusaha kalem, walaupun mata ini masih mencari celah dimana bisa kutemukan sesosok Udin di antara mereka.

Aku tidak pernah tahu kalau ikatan batin seorang sahabat yang sudah dekat selama belasan tahun ternyata kuat. Baik, Erlan atau siapapun yang ada saat ini seharusnya tidak mempunya kekuatan telepati kan?

“Cari Udin?” Erlan menatapku lekat-lekat.

Tertembak sasaran aku segera membuka mulut dan mengatakan tidak, sederet alasan sudah kupakai sebagai tameng dari perasaanku yang sebenarnya. Betapa aku ingin menemuinya, karena ini ulang tahunku, aku ingin tahu apakah dia mengingatnya?

“Happy birthday….. Avie…”

Sepenggal kalimat, dan sekelebat jabat tangan serta tatap mata lembut seketika membuatku terpaku dalam hitungan menit. Wajahku menegang, tubuhku seolah tidak bisa menahan beban diriku sendiri, kedua mataku jelas menangkap siapa yang berada di hadapanku, jelas telingaku belum tuli, aku masih menghapal suaranya, bahkan hidung kecilku masih mengenali wangi yang selalu menyapa lembut pernafasanku. Dia berdiri di sana, mengenakan kaos merah dan celana pendek favoritnya. Fisiknya masih sama seperti saat kami masih bersama. Antara percaya dan tidak, aku sama sekali tidak tergerak untuk melakukan apapun, aku hanya menatapnya dalam diam. Diam dan benar-benar mengunci mulut rapat-rapat. Menggigit bibirku kuat-kuat, aku berharap semuanya memang terjadi demikian, dimana pada akhirnya aku meleburkan sakit, kecewa, senang, bahagia, terharu dan semua menjadi satu dalam desakan nafas beruntun.

“Ma—kasih…” jawabku terbata sembari meraih tangan lembut itu. Tangan kosong yang beberapa bulan lalu memilih melepaskanku.

Tuhan, aku tidak bisa berbohong—aku masih menyayanginya.

Desahan kecewa, hati menjerit tapi malam tidak pernah sadar bahwa keduanya tengah berperang rasa. Satunya berpikir bahwa dirinya sudah ditarik lebih jauh untuk hilang dari ingatan, tapi yang lainnya berharap semuanya bisa usai dengan cara mengumpulkan damai. Sayangnya, aku tidak pernah bisa berdamai dengan rasa sakit. Selalu ada celah menemukan sesak yang tersembunyi. Sialnya, terlalu lama memendam perasaan itu merusak kinerja hati nurani. Untuk beberapa menit aku tidak melepaskan jabat tangannya, aku memilih untuk merasakan kalau saat ini Udin yang ada di hadapanku adalah dia yang jelas-jelas telah membuangku. Baru kali ini aku merasakan benci dan sayang dalam waktu yang bersamaan, jelas ini gila dan hal paling absurd yang pernah aku rasakan.

“Mau masuk?”  tanyaku menatap satu per satu teman-temanku.

“Mau lah, si tante masak apa, Vie?” Tanya Erlan melongok ke dalam rumah.

“Nasi kuning, biasalah kan setiap keluarga gue ulang tahun, nasi kuning selalu bertengger di rumah. Yaudah, masuk aja dulu.” Kataku sembari membuka pagar.

Aku menutup pager dan berbalik untuk masuk ke dalam. Namun aku merasa ada yang menghalangi jalanku, mendongakkan kepala, mendapati siapa yang ada di depanku. Tuhan, Udin lagi. Mau apa orang ini? Aku mengernyitkan kening, bermaksud bertanya ada apa dengan gerakanku.

“Jangan ngerusak diri lo lagi, cukup!” nada tegas yang keluar dari bibirnya. Dalam hitungan detik ia membalikkan badan dan masuk ke dalam rumahku.

Tanda tanya besar segera hinggap di dalam kepalaku. Apa maksudnya? Apa yang Udin tahu tentang aku? Apa yang cemaskan dari diriku? Toh aku merusak diriku sendiri, tidak menyeret namanya. Atau karena aku merusak diri atas namanya? Tapi yang aku rasakan malah sebaliknya, aku tidak benar-benar mengerti apa yang dimaksud olehnya. Apa Erlan sudah menceritakan padanya? Tentang kebiasaan merokok yang aku jalani sekarang ini? Kebiasaan aku menghabiskan waktu dengan membunuh satu-satunya jiwa yang hidup? 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar