Minggu, 27 Mei 2012

Like We Use To Be (part 2)


“Jadi, lo mau sampe kapan kayak gini?” Tanya Angie sahabat kecilku di seberang telfon. Ia nampak mulai gusar dengan kelakuanku belakangan ini. Aku hanya mengangkat alis dan pura-pura tidak mengerti maksudnya. Sampai terdengar helaan nafas panjang dan terlampau berat.

“Sampai gue sembuh total dari sakit ini…” jawabku cuek. Aku memang tidak begitu peduli dengan mereka yang berusaha menyembuhkan aku dari sakit hati yang aku derita sejak tanggal 8 Mei lalu. Aku menjadi begitu urakan, bahkan hampir tidak bisa mengenal diriku lagi. Sepenuhnya aku tidak tahu apa yang aku perbuat dengan diriku sendiri. Semua berubah dengan cepat tanpa bisa aku cegah sama sekali. Dimana keberadaan gadis manis yang berada di dalam diriku? Sekarang berganti menjadi perempuan binal dengan sejuta kenakalan di dalam otaknya; drastis memang. Aku tertawa renyah, kemudian Angie akan memasang tampang jengkel di seberang telfon sana.

“Gue nggak mau lo nyakitin diri sendiri terus, Vie…” ia diam, “lo boleh sakit hati, tapi nggak kayak gini caranya. Nggak dengan ngancurin diri sendiri…”

Aku mengangguk di telfon, hanya sekilas mendengarkan perkataannya sembari menyalakan puntung yang sudah kesekian kalinya. Duduk di sebuah patung berwujud ksatria dan kuda. Disinilah awal aku memulai dan seharusnya harus disini juga aku mengakhirinya. Di bawah tugu patung kuda yang letaknya tidak jauh dari rumahku. Aku sering ke sini, belakangan sejak putus dari Udin. Oh kalian tidak tahu kalau Udin itu mantanku? Sahabat kecilku itu yang termasuk kawanannya Erlan. Aku menghisap puntung berwarna putih itu dan menahan nikmatnya sampai terasa sesak di dadaku. Ketika aku yakin semua beban menghilang, barulah aku hembuskan. Rasanya tenang, tapi membunuh.

Aku menatap sekitar, hanya ada aku seorang diri di tugu ini. Menghabiskan waktu sore dan memang sudah kebiasaanku beberapa waktu terakhir. Mungkin ini akibat depresi berat yang aku alami. Aneh ya? Seperti pembodohan kepada diri sendiri. Angie masih mengoceh di seberang telfon dan aku membiarkannya untuk tetap bicara sesuka hatinya. Sepanjang apapun dia memberikan aku saran, aku tidak mau menggubris. Biarlah, toh semuanya sudah terjadi. Udin ya? Seharusnya dia bertanggung jawab atas hancurnya aku, atau aku yang terlalu naïf untuk mengakui bahwa aku sudah tidak ada gunanya bagi dia? Untuk sebuah alasan bosan seperti barang yang habis pakai, kemudian dibuang begitu saja? Jangan Tanya apa rasanya ketika kau mencintai seseorang dengan setulus hati kemudian dia membuangmu begitu saja, ketika kau telah memberikan apa yang terbaik buat kata “kita” dan dia hanya memandang sebelah mata. Sekecil apapun usahamu tidak akan ada harganya, kecuali kalau kau berkorban untuk memenuhi nafsu setannya. Biadab kan? Apa masih pantas disebut manusia?

“Kalo lo begini dia malah seneng, Vie…” Aku tahu Angie sangat khawatir pada keadaanku yang semakin hari semakin rusak. Aku berubah menjadi pribadi keras dan brutal, anarkis terhadap diri sendiri dan acuh terhadap lingkungan. Aku sering keluar malam, mengendap-endap ke warung di belakang rumah untuk membeli beberapa puntung rokok dan kemudian berangkat ke tugu kuda tengah malam hanya untuk menyaksikan bahwa hening masih ingin berteman denganku. Setidaknya alam tahu apa yang kurasakan dan bagaimana perih yang aku terima pada hari belakangan. Apa kalian mengharapkan aku menangis? Aku sudah menangis sejak 3 hari yang lalu, aku bahkan tidak makan nasi untuk beberapa waktu. Maka tubuhnya yang gempal ini sedikit mengurus, ditambah aku mengonsumsi tembakau dalam lintingan putih. Aku tidak perlu makan, aku hanya butuh ketenangan jauh dari kehidupanku yang sekarang. Kalau kata Angie, lebih baik menangis supaya perasaanmu lega. Tapi tahukah terkadang tangis itu sama sekali tidak berguna? Tangis itu sama sekali tidak berguna, tidak bisa menahan kepergian seseorang, tidak bisa mengubah keputusan seseorang, setidaknya itulah yang membuatku muak dengan tangisan. Aku muak menangis untuk seorang bajingan yang sama sekali tidak pernah menghargai aku. Menginjak-injak harga diriku, kemudian membuangku begitu saja. Sialan, dia pikir aku apa?

Aku menghisap asapnya dalam-dalam, beberapa hisap terakhir. Habis ini aku harus bertolak ke penjual teh langgananku dan membeli makanan serta obat kumur atau parfum dengan daya wangi yang di atas rata-rata, karena asap rokok itu keras pengaruhnya.

By the way, aku melakukan ini dengan cara sembunyi-sembunyi. Aku menghancurkan diriku sendiri dengan cara yang aku lakukan, dengan tekad yang aku bulatkan. Aku selalu tidur di pagi hari, kelayapan di malam hari, kemudian menghabiskan waktu sendirian di tempat sepi, menengadah ke langit dengan tatapan sendu dan perasaan campur aduk, di selingi dengan beberapa puntung putih yang sudah menjadi pengusir kegalauanku. Lalu ibuku curiga? Tidak, beliau memang sempat beberapa kali bertanya padaku kenapa tanganku bau rokok. Aku selalu dapat menjelaskan kepada beliau, aku bilang saja aku habis dari warung internet dekat rumah yang kalau di atas jam 9 itu sudah waktunya para perokok dengan bebas menduduki singgasana mereka dengan asapnya. Jadi saja aku kecipratan baunya. Lalu ibuku percaya. Karena aku selalu menjaga kepercayaannya, jadi kalau aku bohong sekalipun dia akan selalu percaya. Selalu ada akal yang menghiasi trik sederhana. Aku tersenyum, kemudian mematikan puntung terakhir sedangkan Angie masih berbicara, kali ini bukan tentang aku atau hubunganku yang kandas dengan Udin, tapi lebih kepada soal dirinya dengan pacarnya. Peduli setan, aku sudah tidak memikirkan cinta. Sudah kukubur jauh-jauh, dan kuinjak-injak, sama ketika dia menginjakku dulu.

“Oke sip! Curhatnya lanjut ntar malem, gue mau cabut dulu! Oke? Bye, friends!”

Aku menutup telfonnya. Aku tahu Angie kesal omongannya tidak kudengarkan, tapi biarlah dia sudah tahu bagaimana diriku kalau sedang ada masalah. Buat apa bersahabat sejak baru lahir tapi tidak mengerti satu sama lain. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar