Jumat, 15 Juni 2012

Hanya Cinta Yang Bisa--Perhaps You

Tak tahukah seperih apa perasaan hati yang tak terbalas? Menanti sesuatu yang tak kunjung datang?

Hari berganti hari, tetapi arah hatiku tak pernah berubah--selalu tertuju kepadamu. Aku tak pernah jenuh menunggu... menunggu untuk kau cintai. Namun, kau hanya menganggapku lalu. Seperti tak kasat mata aku bagimu. 

Terkadang lelah menyuruhku menyerah, memintaku berhenti melakukan perbuatan sia-sia dan mulai mencari cinta baru. Namun, bagaimana aku sanggup melakukannya, kalau semua tentangmu mengikuti seperti bayangan menempel di bawah kaki? Dan bagaimana pula caranya membakar habis semua rindu yang bertahun-tahun mengendap di hatiku?

Aku berharap mendapatkan jawaban darimu. Namun kau tetap membisu, membuatku lebih lama menunggu. 

Perhaps You

"I don't have time for this bullshit called romance!"

"Setelah beberapa saat hanya memendan dan diam, namun lama-lama rasa penasarannya pun membuncah dan tak terbendung lagi. Aneh memang dengan apa yang terjadi pada perasaannya saat ini."

"Kalau dia punya perasaan yang sama denganmu, you'll be happy. Kalaupun nggak, kamu jadi nggak penasaran lagi. Penantianmu selesai."

"Sebelumnya tak pernah terpikirkan bahwa perasaan pada orang itu, selama delapan tahun yang menyesakkan ini, mungkin hanya rasa penasaran, bukan cinta."

"Pemikiran itu seolah menampar tepat di wajah. Apa benar? Apa benar sebetulnya tidak pernah mencintai orang itu? Dan selama ini dia hanya mencari jawaban dari rasa penasarannya itu?"

"And this is my bet, kalau setelah kamu tau perasaan dia sebenarnya ke kamu, dan apapun jawabannya ternyata setelah itu perasaanmu menguap begitu saja, berarti benar.... Kamu penasaran."

"Maybe I should keep this to myself, wait until I know you better."

"Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia berjalan di jalan yang tidak lurus. Untuk pertama kalinya, aku mengingkari prinsipku sendiri--untuk selalu melakukan segala hal yang benar dalam hidup."

"

Jumat, 08 Juni 2012

Rembulan Gading


“Bahwa sepi ini mercusuarku menuju pagi. Bahwa hatiku tak akan lupa, berubah patah, dan mati.” -Rembulan Gading
“Tinggallah kini aku dalam yakinku saja. Bahwa langkah ini berkah.” -Rembulan Gading
“Karena aku tahu, setelahnya akan purnama. Utuh, penuh, dan sempurna.” -Rembulan Gading
“Seperti bulan yang ramping, pucat dan gading, jika ini sepi, parasmu yg setengah pergi tak pernah membuatku lari.” -Rembulan Gading
“Namun di sisi lain, ia tak bisa menenangkan amarah yang entah dari mana muncul di benaknya dan mulai merajalela.” -Rembulan Gading
“ia mengerti bahwa dia pun dipenuhi keinginan yang kuat untuk segera melegakaan perasaannya.” -Rembulan Gading
“Tak ada yang istimewa. Tak ada yang perlu disesali. Tak da yang perlu dipikirkan lagi. But, really?” -Rembulan Gading
“Kita harus tumbuh menjadi manusia baru, yang tidak takut meninggalkan masa lalu, dan berani memutuskan sesuatu.” -Rembulan Gading
“Ia ingin bisa menanggung apa yang ia rasakan tanpa mengeluarkan setitik pun airmata kesedihan.” -Rembulan Gading
“Ini benar-benar tak lucu, Tuhan. Atau seharusnyakah ini lucu?” -Rembulan Gading
“Setelah sekian lama dihadang kenangan tentang dia, pada saat yang sama pula ia kembali dihadapkan pada kenangan yang kini hadir 3 dimensi.”
“Beginikah sense of humor Tuhan bekerja?” -Rembulan Gading
“Sementara aku ingin berteriak dan berkata bahwa aku tak ingin dia pergi.” -Rembulan Gading
“Ada yang tak terkatakan dalam pertemuan itu. Pertemuan yang berujung pada perpisahan.” -Rembulan Gading
“Sesaat setelah menyuruh dirinya untuk tidak memperlihatkan apa yang terjadi dalam hatinya, ia meledak dalam tangis.” -RG
“Semua orang di dunia ini pernah mengalami kehilangan. Dari yang paling tak berarti, sampai yang tak bisa dilupakan dari hati.”-RG
“Bahkan saat ia masih begitu kecil untuk mengerti sebuah arti kehilangan. Ia ingin perasaan yang lega. Ia hanya ingin merasa lega.”-RG
“Wajah yang membuatnya tak berkompromi pada jarak. Ia ingin mengeluarkan berjuta kalimat yang selama ini ia simpan di kepala.” -RG
“Bagaimana menjelaskan cinta dengan beribu pukulan?” -Rembulan Gading
“Bagaimana mau mengatasnamakan cinta jika yang terjadi adalah luka-luka secara nyata?” -Rembulan Gading
“Cinta kadang memang konyol dan susah dimengerti.” -Rembulan Gading
“Bisa nggak elo denger betapa absurdnya kata-kata elo itu betapa berlawanannya dengan kenyataan yang terjadi selama ini?” -Rembulan Gading
“Gue yang tahu gimana dia! Dia mencintai gue dengan caranya sendiri yang nggak bisa dimengerti orang lain.”-Rembulan Gading
“Celah sekecil apa pun, meskipun nggak ada kesepakatan, pasti akan dipakai sebagai modal untuk berharap.”-Rembulan Gading
“Emang aneh yang namanya perasaan itu. Mau dikendaliin kayak gimana juga masih suka bandel.” -Rembulan Gading
“Kamu masih sangat mencintainya. Akuilah, maka kamu akan hidup tenang. Mengenyahkaan hanya akan membuatmu tersiksa lebih lama.” -RG
“Belum lagi celah untuk prasangka yang bisa menjerat jika kewarasan tak sedang jadi kiblat.” -Rembulan Gading
“Seperti sosok yang tak jelas yang sedang membuang kata-kata pada sosok lainnya. Tak memerlukan tanggapan balik, namun ditunggu-tunggu.” -RG
“Jika kaurasakan baik-baik, semuanya menunjukkan padamu tentang tumbuh, tentang berkembang. Dan untuk kesana, kautemui gugur, dan mati.” -RG
“Tidakkah kau lihat musim berganti setiap kali? Dan semuanya membawa warna sendiri-sendiri.” -Rembulan Gading
“Men can plan something seriously. Just don’t forget God’s sense of humor.”-Rembulan Gading

Here, After

Suatu saat, cinta itu pernah ada. Dan aku melihatnya pergi tanpa sempat kucegah sama sekali. Sejak itu hari-hari terasa sulit untuk dijalani. Aku bahkan sulit untuk tersenyum pada bayanganku sendiri dicermin—karena saat itu aku tahu hanya aku sendiri yang terlihat di situ. Meskipun kedengarannya tak masuk akal, sering aku berharap bisa membalikkan waktu. Aku bahkan bersedia memberikan apa saja supaya bisa mengucapkan apa yang selama ini terpendam begitu saja di hati. Suatu saat, cinta itu pergi. Menyisakan sejuta penyesalan karena tak cukup sigap menahannya tetap berada di sini…

Elegi

“Dia akui keegoisannya. Melukai dengan seluruh kesadarannya...




lalu mengejar dengan segala cara agar maaf diberikan. 


 




Namun kini tak lagi. Akan diterimanya seluruh caci maki dan semua hal yang memang harus diterimanya..






Tidak ada yang salah dengan harapan yang terus digenggamannya kuat-kuat itu. Yang salah adalah dirinya yang terlalu fokus dengan hatinya sendiri…