Selasa, 27 Agustus 2013

I'm Trying To Tell You Just How; I Find It Hard To Let Go And Give Up On You




“Nyx!”

Dihampirinya satu-satunya pintu yang dikenali oleh seorang Louis. Diketuknya secara brutal dibantu ekspresi panik, semi pucat, sekaligus ketakutan yang menerkam. Tetapi bukan Louis namanya bila ia tidak bisa menyembunyikan emosinya terhadap orang lain kalau bukan pada orang yang ditujunya. Pintu berderit, terbuka, memperlihatkan seorang anak lelaki bersurai pirang, tidak lebih tinggi darinya. Wajahnya menampilkan emosi tak senang, barangkali laki-laki memang punya dendam pribadi dengannya di saat ia tidak tahu kesalahannya apa dan muncul berbagai pertanyaan yang ingin diucapkan. Louis menggeleng, bukan saatnya. Maka ia merapikan diri di depan sang pemuda.

“Nyx ada?”

“Sedang tidur. Kau? Louis?”

“Err, ya. Boleh aku masuk? Ada berita penting yang harus aku sampaikan.” Mendesak, semakin tidak menyenangkan. Ah kau pikir ia suka dengan keadaan darurat begini? Sayangnya si pemuda malah diam di tempat tidak bergeming barang sedikit pun malah menatapnya dari ujung kaki sampai kepala, alisnya menukik sebelah dan nampak sewot. Oh ayolah, Louis bukan seorang kriminil jalanan, reputasinya di Salem sangat baik, tolong jangan dinodai.

“Besok saja kembali lagi.” Benar ‘kan kehadirannya tidak diterima.

“Tidak bisa, aku harus cepat-cepat memberitahu Nyx.”

Nampaknya pemuda ini bebal, kelewat sebal dengan Louis. Setengah pintunya tertutup namun tangannya terulur, berusaha membuat celah.

“Tidak ada yang pernah menolak Fergusson sekalipun anaknya sendiri dan kalau ini terjadi, aku bisa pastikan Nyx tidak akan pernah kembali lagi.”

Pada dasarnya Louis tidak pernah suka mengancam, dia lebih suka memakai cara halus, lebih suka dengan kekeluargaan, selagi suatu masalah bisa dibicarakan secara baik-baik, selagi solusi bisa didapatkan dengan kepala dingin untuk apa menyiapkan air mendidih dan menyiramkannya? Louis menunggu beberapa detik sampai pemuda itu menyerah dan melebarkan jarak daun pintunya memperlihatkan kembali bentuk wajah sebalnya pada Louis dan kali ini membiarkan pemuda itu melepas mantel dan menggantungkannya di samping pintu kemudian duduk di ruangan kecil tak jauh dari pintu masuk.

“Ada apa?”

Masih dengan nada yang sama, tekanan yang sama dan ekspresi yang sama. Louis tidak bergerak, ia tetap diam. Pemuda keturunan Napoleon ini tidak perlu bertanya siapa pemuda ini, darimana asalnya, Odessa tunggal sudah cerita padanya, semuanya tanpa terkecuali. Biar ia rinci, nama pemuda ini Andrew Dixon dari asrama Nadirs, lahir di Boston sehari sebelum Valentine, keturunan muggle, anak bungsu dari tiga bersaudara, ayahnya seorang pembuat roti, ibunya menekuni bidang yang sama hanya beda jalur; catering. Memiliki dua kakak perempuan, selama sekolah di Salem ia tinggal di Sallowsville bersama keluarganya yang lain namanya Merry Joanne. Merry Joanne, tidak bisa disebut keluarga paling tidak perempuan setengah tua itu cukup akrab dengan Andrew. Na’ah selesai ‘kan? Jangan tanya Louis darimana ia mendapat semua informasi itu. Untuk seukuran keluarga Napoleon, terlalu mudah baginya untuk mencari tahu asal-usul seseorang tanpa harus ikut campur atau bertanya langsung, semuanya dilakukan secara instan, yes.

Louis duduk menyilangkan kakinya, menengadah pada langit-langit rumah sambil berpikir, ia ini tamu. Biasanya Nyx yang menyambutnya dan akan menghidangkannya lemon tea, yeah Odessa tahu apa yang ia suka. Kali ini agaknya sedikit berbeda penyambutannya, hanya seorang laki-laki, lebih muda darinya, masih berstatus siswa dan tidak lebih baik darinya, menurutnya. Karena menurut Louis tidak ada laki-laki dan perempuan tinggal satu atap meskipun status mereka berpacaran meskipun di Barat itu adalah hal yang biasa, tapi masalahnya bukan itu, ia tidak mempermasalahkan siapa yang tinggal satu atap bersama Nyx, ia tidak begitu peduli selama Nyx mencintai pemuda itu dan bisa seutuhnya lepas dari Louis. Yang ia harus garis bawahi adalah Dixon ini anak yang cukup nekat, kenapa? Kau tahu Nyx Odessa Napoleon adalah seorang putrid tunggal yang lahir di keluarga Napoleon, keluarga berada, kasta brahmana, kelas atas, pureblood, segala yang diinginkannya ada, pebisnis kelas kakap, mafia nomor dua yang ditakuti seantero dunia, memiliki standar tinggi dan sangat protektif serta posesif dengan keluarganya, satu sama lain. Bahkan Napoleon tidak segan-segan menggelontorkan orang-orang kepercayaannya hanya untuk mengawasi binatang peliharaan mereka sekalipun anjing Chihuahua. Mereka tidak akan sudi salah satu diantaranya disentuh oleh orang-orang dari kasta rendah, awam, kampungan dan errr dari kelas bawah. Tidak akan pernah, tapi laki-laki ini menempuh resiko yang berbahaya. Dia tahu pasti, kalau bukan karena rasa sayangnya atau orang ini memang gila.

Obsidiannya bergulir turun naik mengamati berkali-kali pemuda bermarga Dixon, ia tidak mencibir, tidak ingin merendahkan hanya saja Louis kagum, betapa pemuda ini memiliki tekad yang kuat. Nyx selalu cerita padanya Dixon tidak takut dengan keluarga Napoleon, seriously. Yes, ia pikir itu bercanda dan pada kenyataannya yang bersangkutan hadir disini, bisakah ia menganggap cerita Nyx adalah lelucon kalau faktanya apa yang ingin ia buktikan sudah tersaji di depannya. Dixon laki-laki yang nekat, entah dia tidak tahu atau memang sudah tahu kalau Calix Lumina tepatnya disebuah rumah kecil di sudut jalan berwarna putih bercorak minimalis sudah dijaga ketat bagik pagi, siang, sore bahkan malam oleh sekumpulan manusia tak kasat mata, penyihir kelas atas tertutup kabut dan merupakan orang-orang kepercayaan dari keluarga Napoleon, kaki tangan Fergusson—untuk putrinya. Louis tahu benar bila Fergusson menyayangi putrinya lebih dari apapun, harta yang paling berharga meski sikapnya jauh di luar dari kata sayang. Ia mengasingkan putrinya ke Amerika sementara yang bersangkutan sedang ongkang-ongkang kaki menikmati suguhan uang panas di kamarnya, ia juga selalu memerintah putrinya, mengekangnya, membatasinya, hanya demi satu tujuan, menjaga agar Nyx tidak dipegang sembarang orang. Sayang sekali ‘kan? Ayah yang baik, terlalu baik. Nyx tak pernah tahu apa yang ayahnya lakukan, yang ia tahu Fergusson hanyalah seorang yang menyebalkan otoriter, tidak menyukai pertentangan, perdebatan bahkan penolakan, egois, harga dirinya tinggi sekali dan hanya bisa dibeli oleh uang, Fergusson bukan ayah yang baik menurut Nyx, karena siapapun tidak ada yang boleh menyentuh perintahnya dengan kata tidak sekalipun putrinya sendiri atau malah istrinya.

Sayangnya dibalik itu semua, apa yang ada dalam pengertian Nyx jelas berbeda ketika Louis berhadapan langsung dengan entitas yang paling ditakuti oleh putrinya. Laki-laki itu tidak lebih dari seonggok daging menyedihkan, dengan paras pias akibat ditinggal harapan. Louis ingin tertawa keras-keras saat Fergusson mengemis padanya, meminta agar dirinya menikahi Nyx hanya agar anak gadisnya lepas dari tuntutan piala bergilir. Louis membungkuk, menyatukan kesepuluh jarinya, menikmati aroma kekhawatiran dari pemuda di depannya.

“Aku tidak dibuatkan minum?” Sebuah seringai tanpa maksud melecehkan pemuda Dixon. Laki-laki itu mendecak sebal, tidak bergerak hanya memutar bola matanya. Louis ingin tertawa, dia senang membuat orang lain jengkel padanya kecuali Genevieve.

“Mau minum apa?”

“Biasanya Nyx menyuguhkanku lemon tea..” Belum selesai ia bicara, pemuda itu sudah meletakkan segelas air putih diatas meja. Louis melirik sebentar, menikmati paras asam bagai limun di depannya. Lalu kembali bersandar tanpa selera untuk menyeruput air putih di depannya.

“Ada apa kesini?”

Louis mengulur waktunya, menoleh ke seluruh ruangan, benar-benar hanya ada pemuda ini dan mungkin benar Nyx sedang tidur. Ia tengah menimang-nimang bagaimana cara ia mengatakan kabar ini. Bukan suatu hal yang menyenangkan pula baik, ini berita yang sudah biasa di telinganya tapi akan luar biasa bagi dua insan manusia yang tengah jatuh cinta. Then, ia menarik sudut bibirnya, khas Louis.

“Nyx harus kembali ke Australia selepas tahun ajaran ini.” Tanpa melukis wajahnya dengan berbagai emosi, segalanya terasa datar dan omongannya seperti bualan, seperti pengantar koran di London yang tengah menagih janji pembayaran kepada pembelinya. Ekspresi yang sulit diterka oleh Louis hanya kernyitan dahi dan hening tanpa sebuah kalimat penyangkalan. Seharusnya ini akan menjadi awal yang bagus karena ia tidak perlu menjelaskan lebih, ia sendiri jengah dengan konsekuensi berita ini, serius.

“Dalam rangka apa? Berapa lama?”

Pada akhirnya buka suara juga ‘kan? Louis menarik nafas dalam-dalam, bahunya mengedik dan ia melemparkan tubuhnya lagi ke bantalan sofa marun.

“Tidak tahu, ayahnya hanya menyuruhku mengatakan ini, dia hanya harus pulang,” Menerawang dan mengembalikan obsidiannya pada sasaran, “untuk waktu yang tidak ditentukan.”

“Kenapa?”

That’s sounds great! Ini pertanyaan yang dinantikan oleh Louis sejak ia mengatakan berita ini pada pemuda lugu di depannya.

“Karena kalian…” Sebuah alasan terpenggal, menimbulkan riak kekhawatiran bagi keduanya, sebuah kata yang tidak nyaman di telinganya, “Fergusson sudah tahu tentang kalian, lebih tepatnya kau, Dixon. Fergusson tahu siapa kau, dimana kau tinggal, tanggal berapa kau lahir, siapa keluargamu, apa latar belakang mereka, pekerjaan mereka dan yang lebih penting…”

Oh betapa Louis bicara seperti seorang pemimpin mafia saja.

“Dari kasta mana kau berasal.”

Penuh penekanan dalam kata kasta, ini selalu digarisbawahi oleh Fergusson, laki-laki congkak dengan segala kecurangannya itu tidak akan pernah berteman dengan kasta sudra, coba saja.

“Lantas?”

Louis benar-benar dibuat tertawa, tanpa dosa, tanpa perasaan bersalah, hanya sedikit menyesal kenapa Dixon harus membencinya, menganggapnya menyebalkan padahal kalau ia bisa sedikit lebih baik, Louis akan membantunya, memperjuangkan keduanya sampai akhir karena dia punya masalah yang sama.

“Kalian harus berpisah.” Tidak ada opsi lain selain itu, catat.

Louis menunggu sampai amarah terkumpul, sampai gejolak emosi timbul dan meretas, mulai memercik dan membakar. Louis bersedekap, sebenarnya tidak ada lagi yang ditunggunya, lagipula tadinya ia hanya ingin bicara berdua dengan Nyx tentang masalah ini namun dilihat dari kondisinya nampaknya bicara dengan kekasihnya lebih baik. Nyx, pribadi yang mudah terguncang bagaimanapun ia tidak bisa mendengar kabar seperti ini, baginya masalah besar. Dan Louis mengambil gelas berisi air putih dan meneguknya, ia tidak mengharapkan balasan atas pembicaraan ini karena sudah jelas, titah sang raja sudah diagungkan, digaungkan untuk ditaati bukan untuk dilanggar.

“Kau pasti sudah tahu kalau rumah ini dijaga ketat oleh lusinan orang-orang tak kasatmata, ‘kan? Mustahil kau tidak tahu, Nyx pasti cerita padamu.” Ia hanya menerka, padahal belum tentu benar, “beberapa minggu yang lalu mereka—orang-orang ini melaporkanmu pada ayahnya, mereka bilang ada laki-laki selain aku yang sering datang kesini. Awalnya Fergusson tidak percaya, tapi kau harus tahu laki-laki tua nan terhormat itu selalu punya cara agar laporannya tidak meleset dan yeah, seminggu yang lalu aku menerima laporan darinya.”

“Kalau laki-laki itu aku?”

Exactly! Genius sekali! Dan kau harus menebak bagaimana reaksinya?”

Seperti bermain hangman omong-omong.

“Dia marah besar, mengamuk dan langsung merajuk padaku.” Mudah sekali ‘kan membuat Fergusson terlihat lemah? Sentuh saja putri semata wayangnya. Louis menghela nafas perlahan, bukan itu yang membuatnya senang. Amarah Fergusson tak pernah membuatnya senang kecuali rasa puas karena bisa membuat laki-laki itu murka akan nasib anaknya dan bahwa ia bisa memperlihatkan sisi kemunafikannya, sisi kelemahan dari seorang laki-laki. Bahwa sekeras apapun seorang lelaki terhadap perempuan, ia akan tetap lemah bila perempuan kesayangannya disentuh orang lain tanpa seizinnya. Diam-diam Louis mengamati raut wajah Dixon, nampak tenang ah tapi dia tahu kalau itu bukanlah ketenangan sesungguhnya. Jauh di dalam pasti ia bimbang. Jangan lupa Louis juga laki-laki, dia tahu benar sifat laki-laki itu bagaimana terutama terhadap wanita terkasihnya.

“Kau bicara apa pada Fergusson?”

Kiamat sudah dekat, pada akhirnya mengundang keingintahuan mereka yang tak punya busana, lisensi untuk dianggap keluarga. Louis memutar matanya.

“Aku tidak mengatakan apapun selain berjanji akan membereskan masalah ini. Omong-omong, aku tidak akan lama disini, Nyx harus tahu hal ini, biar aku bicara dengannya, bisa kau bangunkan?”

Dan kenapa juga dia harus minta tolong kepada anak bocah?

Louis menunjuk dengan dagunya, menyuruh tanpa bersuara sekaligus mengatakan lewat matanya ‘atau aku sendiri yang akan membangunkannya’ karena bukan hal yang sulit membangunkan Nyx. Dia sudah lebih lama mengenal Nyx, jauh sebelum Dixon mengenal Nyx. Bibirnya menukik, menandakan kemenangan saat Dixon beranjak tetapi suara pintu berderit terdengar dan Odessa tunggal sudah berdiri di depan pintunya dengan wajah tidur yang membekas. Louis kontan berdiri, menyambut sepupu terdekatnya sekaligus orang yang harus ia perjuangkan demi keegoisan seseorang.

“Puas tidurnya?”

“Louis? Kapan kau datang?”

“Beberapa menit yang lalu.”

“Ayah?”

Nyx menelengkan kepalanya, merapatkan piyama merah marunnya. Enggan mendekat, parasnya menandakan waspada tingkat akhir. Nyx sudah tahu bila Louis datang tidak sesuai jadwalnya ada hal penting yang harus disampaikan, baik atau buruknya itu bukan masalah karena setiap kedatangannya selalu membuat jantung Nyx berdebar. Louis mengulurkan tangannya, berusaha memberikan sepucuk surat dengan lambang organisasi gelap milik ayahnya. Sembari berdiri kasual, mengulum senyumnya, sesekali melirik Dixon.

“Ah Nyx, Dixon… Aku harus pergi sekarang, waktuku terbatas ada urusan lagi. Jaga diri kalian baik-baik dan… jangan menyerah, I think…”

***
Jangan menyerah, katanya.

Kalimat terakhir menggantung menggambarkan keadaan yang sesungguhnya, meramalkan apa yang harus ia capai dengan batin dan airmata terkuras. Sampai Andrew pulang, Nyx tidak pernah membuka amplopnya, namun ketika dirinya tidak ada di rumah kecil itu ia tidak tahu. Tetapi sejak hari itu Nyx selalu kelihatan baik-baik saja, tidak ada perubahan yang terjadi pada Nyx. Gadis bersurai merah darah itu bersikap seperti biasa, selalu tersenyum, selalu tertawa, tetap memeluknya, tetap bercanda bersamanya seolah tidak ada yang salah diantara keduanya. Andrew juga tidak mau bertanya, tidak ingin mengungkit apa isi dari amplop yang diberikan Louis tempo hari lalu. Bukannya ia tidak ingin membahas atau dia takut, dia hanya tidak ingin tahu apapun yang tertulis disana sekalipun itu akan merenggut satu-satunya harapan hidupnya—sekalipun itu akan membawa Nyx pergi jauh darinya. Andrew tidak peduli.

Keras kepala, ya. Dia berusaha tidak ingin tahu meskipun pembicaraan dengan Louis memakan batinnya, memberikan tekanan batin sebesar perasana gelisahnya saat ia mendengar nama Fergusson. Nyx mungkin terlihat baik-baik saja, namun disanalah pertanyaannya. Seolah tidak pernah ada yang salah, seolah Louis tidak pernah datang dan berita itu tidak pernah ada. Tetapi Andrew tahu bila sekali waktu parasnya mengguratkan rasa sedih, ketika ia lengah, ekspresi Nyx berbeda dari biasanya. Tatapannya seringkali kosong dan terkadang tidak fokus di saat-saat melankolis. Euforia kesedihannya mendadak lenyap, tertimbun tekanan, saat itulah Andrew tahu lebih baik tidak menanyakan apapun pada Nyx karena setelahnya akan menimbulkan luka menganga dan gadis itu akan menangis. Meski ia lebih menyukai debat dengan Nyx, adu mulut sampai gadis itu marah besar, tidak mau bicara, ia lebih suka Nyx marah padanya, teriak di depan wajahnya, menyumpah serapah akan dirinya daripada gadis itu diam dan kemudian menangis.

Disinilah ia berdiri, mengantarkan seorang gadis pergi—untuk waktu yang tidak ditentukan.

Pelukan, kecupan, setiap kata ia renungkan. Bukan keinginannya untuk berpisah, ia juga tidak ingin melepaskan, namun satu-satunya jalan agar Nyx tidak bersedih adalah mengikuti permainan gadis itu. Mengikutinya seolah ini tidak pernah terjadi, seolah tidak pernah ada perpisahan, seolah dirinya tidak pernah diminta pergi. Maka Andrew berusaha untuk biasa saja ketika mengantar Nyx sampai Australia, ia tidak begitu peduli sejauh apa perjalanannya. Walaupun seharusnya ia berada di Boston menemani ayah dan ibunya mengelola bisnis mereka. Sebentar saja meluangkan waktunya untuk hati yang akan tinggal, untuk perasaan yang akan tetap pergi meski ia meminta untuk tetap berada disini. Pemuda bersurai pirang itu menatap hampa jemputan yang melaju sampai hilang di tikungan jalan. Menghela nafas, meyakinkan dirinya bila semua baik-baik saja.

“Ia akan kembali, tenang saja. Aku akan usahakan ini untuk kalian. Bukan hanya kau yang punya hati untuk diperjuangkan, aku juga.”

Itu yang Louis katakan. Lelaki itu menyelinap ke tempat dimana Nyx mendarat dan menahannya saat Dixon tengah keluar dari toilet. Nyaris tertawa hampa, membiarkan asanya meluap secara langsung. Bukannya ia tidak peduli, bukannya ia tidak ingin berterima kasih pada Louis, tetapi ia tidak pernah suka berhutang budi pada siapapun. Keras kepala, bebal, itulah sifatnya. Tidak mudah menyerah dan ingin puas dengan hasil kerjanya sendiri. Andrew menggeleng, kemudian melangkah pergi kembali ke tanah kelahirannya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar