Senin, 19 Agustus 2013

My words were cold and flat and you deserve more than that

======oo======

"Semalam pulang jam berapa?"

Kant mendongak, sekian menit menatap sarapan paginya tidak juga mengenyahkan pikiran rumit semalam.

"Jam satu. Aku bertemu dengan Lee dulu untuk mengambil berkas-berkas siswa." Kant mencoba tersenyum dan kembali menyuapkan sepotong sandwich ke mulutnya sementara Belle mengangguk mendengar dusta yang dikatakan Kant.

Maaf aku berbohong padamu.

"Jadi bagaimana pekerjaanmu?"

Sedikit tersedak dan ia batuk.

"Eh ya, begitu-begitu saja." Kant berusaha mengambil gelas berisi air putihnya.

"Begitu-begitu saja? Tidak ada yang memberi selamat atau kejutan?"

"Semua memberi selamat kecuali pekerjaanku." Susah payah ia mengatakannya. Tentu saja pikiran semalam masih menghantuinya dan akan terus menghantuinya sampai masa penugasannya tiba dan dia harus meninggalkan Belle seorang diri di Sallowsville.

Oh Tuhan, itu akan terjadi cepat atau lambat.

"Aku harus berangkat, maaf tidak bisa menemanimu lama-lama." Kant beranjak dari kursinya meraih mantel tebalnya dan menghampiri kursi Belle serta mengecup keningnya.

***

Kant menaruh kepalanya diatas meja sesampainya di Kementrian. Ia merasa pusing bukan main. Baru saja datang dan memasuki ruangan sudah ada 2 tumpuk berkas dan panggilan rapat pada jam 2 siang dan jam 3 sore. Belum lagi ia harus merampungkan materi untuk ujian FLEW dan HLEW. Oh tidak bisakan berhenti sebentar saja, ia ingin bernafas. Tidak bisakah pekerjaannya digantikan oleh orang lain?

Satu hal yang membuatnya kesal adalah ketika semua orang menjadi tidak sabaran. Mereka yang menunggu berkasnya untuk dianalisa dan disetujui oleh Kant mulai meneroronya menggunakan surat atau orang-orang suruhan yang menunggui Kant setiap tiga puluh menit sekali. Bagaimana kepalanya tidak mau pecah, hei? Ditambah lagi ia memikirkan kalau beberapa bulan lagi ia harus meninggalkan Belle sedangkan meninggalkan Belle sama sekali bukan hal yang dia inginkan. Kant memutuskan untuk mengambil pena dan menuliskan beberapa kalimat. Ia akan pulang cepat hari ini. Kalau perlu ia akan minta cuti untuk rehat sebentar dari pekerjaan di kementrian. Cukup, dia muak.

***

Pada akhirnya waktu akan menunjukkan betapa Kant merupakan lelaki dengan banyak dusta dan dia adalah laki-laki pengecut. 3 bulan sudah berlalu sejak surat panggilan dinasnya, dia bahkan tidak mengatakan apapun pada Belle. Padahal apa sulitnya mengatakan kalau dia akan pergi dinas? Apa sulitnya mengatakan kalau ia akan meninggalkan Belle sebentar saja untuk pekerjaannya? Baiklah, sebentar itu berapa lama? Hitungan bulan? Sayangnya Kant mendapat panggilan selama 3 tahun untuk memulai pekerjaannya. 3 tahun, sebentar katanya. Ini gila, orang waras macam apa yang menyuruh pengantin baru berpisah selama 3 tahun? Kementrian sudah pasti otaknya rusak. Kant berkali-kali memaki dirinya sendiri. Ia ingin melepas tanggung jawabnya sayang kontrak penelitian yang telah memanggilnya sudah ia tanda tangani sebelum pernikahan dan ia nampaknya setuju dengan waktu dinas selama 3 tahun.

Nyatanya jatuh cinta membuatnya lupa akan semua hal yang dilewatinya.

Kant menyeret langkah kakinya ketika malam sudah larut dan toko-toko di jalan Sallowsville sudah tutup. Musim dingin, tetap saja tidak ada libur dan ia baru saja kembali setelah menemui Lee di Salem. Minggu ke-enam musim dingin, malam memang dingin tapi ia tidak merasakan apa-apa dan mungkin mati rasa. Sesekali kakinya menendang tumpukan salju di jalan, memasukkan tangannya ke dalam mantel yang tebal dan ia berhenti di depan rumahnya. Sudah gelap, ia sudah memperingatkan Belle untuk tidak lagi menunggunya setelah kejadian pertama kali ia hidup bersama dengan Belle. Ia tidak mau membuat Belle sakit dengan terus-terusan membiarkan gadis itu tidur di ruang keluarga, di sofa, di depan televisi. Kant tidak ingin membuat Belle menunggunya, rasanya ada rasa bersalah yang terus menggerogotinya.

"Aku pulang..." Ujarnya dengan suara parau. Duduk di depan pintu masuk sembari membuka sepatunya. Menunduk diantara lututnya dan melepaskan tali sepatunya.

"Malam sekali?"

Kant tertegun, ia mengenali suara ini. Enggan menoleh seraya melepas sepatunya. Sudah dibilang jangan menunggunya malah sekarang belum tidur.

"Aku sibuk..." Kant bangkit, berjalan dengan sedikit menunduk dan mengambil sendal serta menaruh sepatunya di rak belakang pintu.

"Bertemu Lee lagi? Kapan punya waktu untukku?"

Kant menegapkan tubuhnya, di lihatnya Belle dengan piyama merah jambu lembut dan rambut yang tergerai. Matanya tidak menunjukkan tanda-tanda ia habis tidur dan kedua tangannya berada di belakang tubuh. Kant menaikkan alisnya, merasa aneh dengan Belle malam ini.

"Belum tidur?" Ia tetap tak melangkah maju dan menciptakan jarak dengan Belle. Seolah takut Belle menyembunyikan jebakan diantara keduanya.

Respon perempuan yang dinikahinya empat bulan lalu hanyalah menggeleng.

"Aku menunggumu..." Katanya merajuk dengan wajah memelas minta dipeluk. Kant mendengus, padahal sudah berkali-kali ia katakan kalau Belle tidak perlu menunggunya lagi sejak malam itu. Akhirnya ia mendekat, menatap seraut wajah yang dirindukannya siang dan malam meskipun setiap hari mereka bertemu.

"Aku 'kan sudah bilang jangan menungguku lagi."

"Iya, aku tahu..." Belle membawa satu tangannya dan menegakkan telunjukknya menyusuri dada Kant.

"Terus kenapa?"

Kenapa perempuan susah ditebak?

"Bukan keinginanku untuk menunggumu malam ini." Ujarnya manja. Belle menaruh kepalanya di dada Kant dan ia hanya menangkap gelagat aneh yang tak biasa ini. Sambil memutar matanya dan membiarkan Belle dengan tingkah anehnya.

"Lalu? Apa yang salah denganmu? Ini sudah sangat larut, ayo kita tidur." Kant merengkuh bahu Belle dan mengajaknya ke kamar. Namun Belle tidak bergerak, ia hanya diam dan menatap sebal. Kant mengernyit, meminta penjelasan tanpa mengucapkan apapun.

"Kalau ini keinginan dia, aku bisa apa? Dia ingin menunggu ayahnya pulang."

Kant mengernyit lagi, kebingungannya bertambah. Dia siapa yang dikatakan Belle? Sementara kedua matanya tertuju pada tangan Belle yang menunjuk perutnya dan matanya membelalak. Antara bingung dan terkejut.

"Dia? Siapa? Ayah? Maksudmu?"

Baiklah ini akan bertambah gila. Dia yakin besok harus dibawa ke psikiater.

Belle mendekat, merapatkan jarak keduanya. Tangannya yang mungil dan jarinya yang jenjang menyapu pipi Kant.

"Bisakah ucapkan selamat malam pada calon anak kita, ayah?"

Kant masih diam terpaku di tempatnya, kemudian tertawa kecil. Kini dia mengerti karena Belle mulai menatapnya dengan tatapan sebal. Kant membiarkan tangannya menghabiskan lingkaran keduanya, mengangkat tubuh Belle yang ringan ke udara dan mereka berputar-putar seperti berdansa. Kant tidak berhenti tertawa dan sesekali berteriak senang. Matanya berbinar, menyatu dengan senyum puas Belle yang memberikan kabar baik padanya. Akhirnya waktu membawanya pada babak baru kehidupan.

"Lihat, lihat! Positif! Tadi aku pergi ke St. Octavianus dan bertemu Sagitarius, katanya sudah 3 bulan." Belle berseru manja dalam gendongannya. Kant mengecup singkat Belle untuk menunjukkan betapa ia bahagia dengan keluarga kecilnya ini.

***

"Kita akan ke Sapporo?" Belle melebarkan matanya ketika Kant mengatakan kalau mereka akan bermukim sementara di Sapporo, "Itu artinya aku meninggalkan pekerjaanku? Kita akan ke rumah ibu?"

Kant mengangguk, sejak dinyatakan mengandung Belle jadi lebih cerewet dari biasanya. Untungnya Belle jarang mengalami morning sick selama masa kehamilannya sekarang, Belle juga lebih banyak makan terutama cokelat. Belle selalu meminta Kant membawakannya macam-macam cokelat setelah ia pulang kerja.

Berita tentang Belle sedang berbadan dua, sudah sampai di telinga Lee dan Hyun Na. Mereka turut senang dengan kabar baik yang satu itu, katanya Makabe akan punya teman. Kant hanya tertawa mendengar komentar teman-temannya. Ia juga sering berdiskusi dengan Lee dan Hyun Na, mengingat ia harus menjadi suami siaga untuk Belle. Katanya adalah hal yang wajar ketika wanita tengah mengandung dan meminta banyak hal aneh.

"Tapi kok mendadak sekali?" Belle menjilati permukaan sendok yang sudah diolesi selain cokelat dan menatap Kant penuh pertanyaan.

Pagi-pagi sudah harus berdusta.

"Minggu depan aku ada panggilan tugas..."

Tapi pada akhirnya ia sudah tak bisa berbohong lagi.

"Tugas?"

"Ya, penelitian yang kuajukan sebelum kita menikah sudah disetujui Kementrian dan Menteri Sihir sudah menandatanganinya. Ia memintaku untuk segera menyelesaikan penelitian itu."

"Sebentar, lalu kenapa kita harus ke Sapporo? Memangnya kau mau kemana? 'Kan hanya meneliti saja."

Kant meneguk ludahnya, membiarkan roti panggangnya nyangkut sebentar di tenggorokan.

"Aku akan melakukan penelitian di Afganistan dan Vietnam. Selama 3 tahun, Belle."

Suasana mendadak hening, hanya ada bunyi jarum jam yang berdetak. Masing-masing terpaku oleh sepasang bola mata. Baik Kant maupun Belle sama-sama menyimpan keterkejutan terutama Belle. Perempuan itu benar-benar terkejut dengan berita penugasan selama 3 tahun dan berada di luar Amerika.

"Jadi itu sebabnya kau ingin kita ke Sapporo?" Tanya Belle memecah keheningan sedangkan Kant hanya mengangguk dan mengelap sekitar mulutnya.

"Aku ingin ada yang menjagamu selama aku pergi, Bells. Aku tidak ingin kau kenapa-napa. Maaf aku tidak bisa menemanimu, aku tahu ini menyedihkan tapi aku... Aku tidak..."

Belle menunduk beberapa saat dan kembali mendongak dengan sebuah senyuman di wajahnya.

"Aku tahu, Kant. Kau bertanggung jawab atas pekerjaanmu. Aku mengerti kau tidak bisa seenaknya dengan pekerjaan ini. Jangan khawatir dengan keadaanku, aku akan baik-baik saja."

Tapi dia tahu Belle tidak baik-baik saja.

Sudut matanya, ada bening yang tertumpuk dan siap menetes dalam sekali kedip. Kant mendorong kursinya menjauh, meninggalkan tempatnya dan menghampiri Belle merengkuhnya dari belakang dengan harapan pelukan ini tak sekadar menenangkan Belle tapi menguatkannya. Erat sekali, seakan tidak ingin melepas barang sedetik saja.

"Maaf, aku tidak bermaksud meninggalkanmu sendiri dalam keadaan seperti ini. Maaf, aku tidak bisa menjadi suami yang baik, tidak bisa menemanimu di saat-saat sulit seperti ini, maaf."

Karena permintaan maaf tidak cukup untuk menggantikan waktu yang hilang. Ia beruntung Belle merupakan wanita dengan hati yang lapang. Senyumnya merekah bersamaan dengan tetes demi tetes airmatanya.

"Tidak apa-apa, Kant. Ada ibu yang akan menjagaku. Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja."

Ia menekankan pada kalimat aku akan baik-baik saja. Rasanya asing begitu kata baik-baik saja terdengar. Ia seperti ditampar berulang kali dan Kant memeluk Belle semakin erat. Dia tahu Belle menangis dari cara bernafasnya yang tidak beraturan serta isak yang terdengar sesudahnya. Ia meminta maaf, ribuan bahkan jutaan kali meminta maaf untuk waktu yang hilang setelah ini.

***

Sepenuhnya perjalanan ini didukung penuh oleh para sahabatnya meskipun Lee dan Hyun Na bahkan Andrea ingin menolongnya menjaga Belle, memang sudah tabiatnya tidak ingin merepotkan orang lain. Terlalu ingin menjadi sosok yang mandiri. Dengan diantar para sahabatnya, Kant berangkat menuju Sapporo.

Perjalanan berjalan sangat cepat karena ia menggunakan portal menuju kediaman keluarganya. Tidak sampai 1 jam keduanya bahkan sudah sampai di depan sebuah rumah terbuat dari kayu berdominasi cokelat. Rumah yang sama persis dengan milik Kant di Sallowsville. Keduanya bergandengan tangan memasuki halaman rumah, melongok ke dalam sebentar. Rumah ini tidak terlalu luas, sederhana tapi indah. Ada tembok yang mengitari rumah ini dan ada halaman serta di tengah-tengah ada batuan setapak. Di sebelah kanan terdapat halaman yang lebih luas dan dipakai untuk menjemur pakaian, tidak jauh dari tempat menjemur pakaian ada taman kecil berbentuk kotak, tidak besar dan sepertinya ditanami apotek hidup. Belle mungkin pernah mendengar kalau ibu Kant adalah seorang penyembuh dan beliau kerap kali memakai tumbuh-tumbuhan dirumah sebagai bahan dasar pembuat ramuan.

"Ayo, masuk. Ibu pasti ada di dalam."

Kant melangkah, merangkul bahu Belle untuk segera memasuki rumahnya. Di bukanya pintu, yang membedakan rumah ini dengan rumah Kant adalah pintunya. Kalau model pintu di rumahnya dibuka dengan cara menggeser kalau rumah ibunya dengan cara biasa, terdapat kenop pintunya. Pintu terbuka dan Kant mengucap salam seraya melongok ke dalam rumah.

"Ibu? Aku pulang!" Serunya setengah berteriak. Di sampingnya ada Belle yang masih diam mengamati seisi rumah. Rumah ini tidak tingkat, sederhana tapi unik. Ia berdiri mengarah pada lorong yang di setiap sisinya terdapat ruangan. Kant melangkah lebih dulu melongok ke setiap ruangan dirumah ini mencari ibunya.

Belle hanya diam di tempatnya sampai kemudian ia mendongak dan histeris. Kant mendengar teriakan Belle dan langsung lari menghampiri istrinya.

"Ada apa? Ah ibu!! Darimana saja?" Sesosok wanita tua yang bungkuk dan ringkih berdiri di depan Belle. Surainya sudah tidak lagi hitam, tubuhnya kurus dan kulitnya sudah keriput. Matanya cekung dengan hidung yang tajam dan bibir pecah-pecah. Kulitnya cenderung kering dan jalannya tertatih. Kant menghampiri ibunya dan merangkul tubuh ringkih orang yang melahirkannya.

"Ibu, aku pulang dengan Belle tentunya." Ia langsung mendapat pelukan dari wanita yang mengandungnya.

"Sudah lama ibu menunggumu, Kant. Ah Belle, maaf tadi aku mengagetkanmu. Seharusnya aku tidak melakukannya ya." Ibunya terkekeh membuat matanya menyipit dan ia tidak mengerikan lagi. Diam-diam Belle menghela nafas lega.

Kemudian ibunya menyuruh Belle dan Kant untuk duduk di ruang keluarga. Di sana terdapat meja pemanas dan televisi. Ketiganya mulai berbincang-bincang, Kant memberitahu ibunya kalau Belle sedang mengandung buah cintanya dan tujuannya datang ke Sapporo adalah untuk menitipkan Belle karena Kant harus meninggalkan Belle untuk sebuah tugas. Ibunya menggeleng dan berkali-kali mengutuk Kementrian, wanita tua renta itu tentu saja marah karena waktu Kant akan tersita namun di sisi lain ia merasa bangga memiliki menantu yang pengertian. Belle tertawa mengatakan pada keduanya kalau ia tidak khawatir ditinggal karena ada ibu yang akan menjaganya. Kant lega karena lusa dia sudah berangkat menuju Afganistan.

***

"Jangan lupa makan yang teratur, kalau sakit minum obat, jangan begadang, jangan melakukan hal yang aneh, kalau sudah sampai secepatnya kirim surat, kabari aku."

Belle mulai berkhotbah sembari memasukkan barang-barang Kant ke dalam tas. Kant mengulum senyumnya, memerhatikan gerakan Belle yang cekatan dan repot. Ibu muda ini menggemaskan rupanya.

"Nah sudah! Tidak ada yang ketinggalan, ingat ya jangan—" Kant mengambil langkah cepat untuk menyumpal Belle dengan bibirnya agar perempuan itu tidak lagi menceramahinya selama beberapa menit.

"Jangan begadang, harus makan teratur dan harus kabari dirimu secepatnya." Membentuk lengkungan sabit di sudut bibirnya. Belle mengangguk, jelas sekali ada rona merah disana. Kant mengulurkan tangannya, mengacak-acak rambut Belle dan meraih tasnya. Jam 2 siang, ia sudah harus tiba di Kementrian karena ia dan timnya harus segera berangkat. Belle tidak diperbolehkan mengantarnya sehubungan dengan keadaannya yang tengah hamil di usia rentan. Setelah pamit pada ibunya dan mengecup Belle, Kant langsung melakukan apparate ke Kementrian.

Jujur saja, ini hal yang paling berat baginya. Padahal seharusnya ia berada di samping Belle selama wanita itu mengandung anaknya.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar