Senin, 19 Agustus 2013

I’m just too far from where you are; Let me go home


----------------***-----------------

Afganistan, Timur Tengah. Ia sudah berada disini kurang lebih 2 bulan. Membosankan, penelitian tentang muggle, karakteristik mereka, pada akhirnya ia terseret sebagai mata-mata. Agen ganda istilahnya, tapi sayang Kant tidak menyadari. Terlalu kalut, setiap hari kepalanya hanya penuh dengan Belle, Belle dan Belle. Puluhan surat sudah mendekam di kamarnya terlalu lama, semakin hari hanya sedikit surat yang dapat dibalas Kant. Keadaan semakin keruh setiap harinya, belum lagi pengaruh politik. Bias dari Soviet mendadak masuk dan bertentangan dengan Amerika. Ia benci politik, serius. Dirinya dilibatkan, suasana semakin keruh ketika terjadi kudeta dan Kant merasa kondisi semakin tidak nyaman. Benda-benda asing di angkasa diawasi secara ketat sehingga ia tidak bisa mengirim surat kepada Belle. Selama berbulan-bulan sampai perang dingin tiba. Afganistan mendadak kacau, ia dan timnya sulit bergerak untuk penelitian. Mereka dikawal ketat, disangka sebagai mata-mata Amerika padahal identitasnya sudah disamarkan. Diam-diam Kant kecewa, ia jadi sulit komunikasi dengan Belle. Surat terakhir yang datang adalah ini.

Hai, Kant.

Usia kandunganku sudah menjelang kelahiran. Sebentar lagi kita akan menjadi orangtua yang nyata. Kata dokter, bayi kita sehat. Mereka akan menjadi anak-anak yang kuat. Terima telah membawaku ke Jepang, ibumu senang sekali karena ia akan menjadi seorang nenek. Hmm, aku harap kau baik-baik saja. Aku lihat berita di televisi, katanya suasana disana sedang kacau? Kau tidak apa-apa ‘kan? Jangan lupa makan teratur, cepatlah pulang. Aku merindukanmu dan juga bayi kita.

Salam rindu,
Istrimu.

Tangannya gemetar saat lembaran itu datang, kabar terakhir yang dibacanya dari Belle setelahnya tidak pernah ada lagi surat yang datang. Kant selalu berada di luar jauh dari mess-nya di Afganistan. Tenaganya diforsir keras untuk penelitian, Kementrian tidak mau tahu kendala apapun yang terjadi di Afganistan. Mereka yang kemana-mana dikawal menggunakan senjata api, ditodong sana-sini, bahkan setiap saat bisa mendengar bunyi ledakan granat tanpa jeda. Tapi penelitian masih berjalan, ia lelah. Lelah mengamati semuanya, ia ingin kembali—ingin melihat bayinya. Surat yang datang terakhir sekitar dua minggu, lalu Belle apa kabarnya? Dia tidak bisa mengirim surat, well benda-benda diangkasa dikawal sangat ketat. Ia tidak bisa sembarangan menerbangkan burung hantunya bahkan ketika malam.

Bersabarlah..

“Penugasan ulang! Hari ini kita berangkat ke Vietnam!” Josh, salah satu anggota timnya menatapnya bahagia. Ha, kau senang?

Kant meraih tasnya dengan malas, menggantungnya di bahu dan bergegas berjalan. Penelitian semacam antropologi di Afganistan sudah selesai, mereka kembali ditugaskan ke Vietnam. Di tengah perang yang berkecamuk, tahu apa rasanya? Menyedihkan. Waktunya seringkali terbatas, begitu menjejakkan kaki di Vietnam ia hening sejenak bersama tim-nya. Tidak ada mess, hanya barak-barak pengungsian. Banyak bangunan luluh lantak dan kebanyakan menjadi puing. Ia tiba di sebuah kota kosong, tidak tahu apa namanya. Hancur lebur seperti habis di bom, ia bersama lima orang lainnya berdiri terpaku di depan helicopter yang mengantar mereka. Saling berpandangan, apa yang akan mereka teliti disini kalau tidak ada manusianya?

Pada akhirnya kakinya tetap melangkah, menuju petak barak yang tersedia. Tidak jauh dari tempat mereka turun tadi. Disanalah banyak barak-barak yang ternyata dihuni oleh penduduk Vietnam. Mereka, kurus sekali, perut mereka buncit, kulit mereka pucat kumal, hanya memakai pakaian seadanya, benar-benar kondisi yang menyedihkan. Kant bersama timnya bergegas mengeluarkan bantuan seadanya, apapun yang berguna di saat kondisi darurat seperti ini. Mereka memang dibutuhkan pada dasarnya ia tahu kenapa Kementrian mengirim mereka kesini. Semuanya hanya permainan politik, yes. Dia sudah hapal, nasib durjana macam politikus mentah ala-ala koboi Amerika. Mereka itu pejantan tangguh, siap mencabik tapi juga siap mengulurkan tangan untuk mengobati, makanya tak heran.

Vietnam semakin kacau, ketika dua kekuatan besar menyatu, memberikan definisi peperangan dalam keadaan deterrence. First track second track, Amerika mulai menekan Soviet untuk mundur, sayang komunis tak ingin mengalah. Beberapa orang Amerika di Vietnam segera ditarik paksa, tetapi ia dan timnya terkungkung di wilayah musuh. Kant dan timnya berada di wilayah selatan, terjepit oleh komunisme. Sedangkan warga Amerika di Selatan sebagian sudah dipulangkan. Sadar akan nasibnya yang hanya tinggal menghitung waktu ia diam sejenak. Tidak ada yang bisa dilakukannya bahkan saat Amerika mulai menggempur wilayah Utara dengan bom mereka. Habis sudah granat ditebarkan, Kant dan timnya melarikan diri dengan susah payah, bersembunyi bersama pengungsi lain, mereka tiarap. Suara berdebam keras, ledakan tak berhenti, ia nyaris kehilangan anggota badannya kalau saja tidak punya kemampuan lari yang cepat.

***

Keadaan semakin parah, Vietnam kacau balau. Belle ingat, ini sudah detik-detik terakhir Kant menunaikan tugasnya. Ia dan kedua anaknya duduk di depan televise sembari berharap-harap cemas. Tidak pernah ada kabar sejak dua minggu sebelum kelahiran putra dan putri  keduanya. Kant seakan lenyap, Belle sempat meminta Lee mencari tahu melalui Kementrian namun informasi yang didapat hanya sekadarnya. Lee mencuri berita dari Sullivan, Kementrian hanya mengatakan Kant masih hidup dan sudah dipindahtugaskan ke Vietnam. Daerah perang yang tengah berkecamuk. Setiap hari televisi semakin membuatnya depresi, setiap hari yang ada hanya berita penyerangan, bom, granat atau apa saja yang meledak. Belle hanya bisa berharap Kant bukan salah satu korban peperangan. Ia ingin suaminya kembali dengan selamat.

“Ibu, boleh aku matikan tivinya?”

Belle menoleh, sulung dari kembarnya memergoki Belle tengah menggigiti bibir bawahnya. Menatap nelangsa tayangan di televisi.

“Tidak perlu, Judith…” Ia meraih tangan anak sulungnya. Melukiskan sebentuk sabit dengan cekungan bola mata penuh air mengembang di sudutnya.

“Kapan ayah pulang? Aku tidak pernah bertemu ayah, ibu. Ayah seperti apa? Kapan kita bisa bertemu ayah?” Kali ini si bungsu Kazumi yang mengatakannya.

Belle, sekali lagi hanya melemparkan senyuman, menahan sedih. Lantaran suara anak-anaknya lah yang membuatnya ingin menangis. Kant mengingkari janjinya, bukan 3 tahun melainkan selama 7 tahun ia berada jauh dari keluarga. Tidak pernah kembali, kepada anak-anaknya Belle hanya dapat menceritakan bagaimana ayah mereka, wujudnya, sifatnya, apa pekerjaannya, kebiasaannya dan semua hal tentang Kant hanya diketahui anak-anaknya melalui cerita Belle tanpa melihat langsung wajah ayahnya. Belle mulai lelah, surat-surat yang dikirimnya tak pernah mendapatkan balasan dari Kant, lumpuh total. Komunikasi terputus, ia sempat depresi dan putus asa, ia sempat tidak ingin bicara dengan siapapun termasuk Lee. Sayangnya sahabat karib Kant tidak menyerah, Lee membujuknya meyakinkan bahwa Kant masih hidup dan tidak akan melupakan Belle. Tetap saja, tujuh tahun bukan waktu yang sebentar ‘kan?


Lee yang mengurus Belle dan anak-anaknya, dibantu oleh Hyun Na. setiap kabar apapun, setiap detail sekecil apapun tentang Kant tak pernah ia lewatkan. Hidup atau mati, ia akan terus menunggu.

***

1973—Kant dan timnya ditangkap, ditahan sebagai tahanan perang. Ia dikurung dibalik jeruji besi dan menjadi topic hangat. Seharusnya ia bisa menggunakan sihirnya, tapi ketahuilah ini dunia muggle. Ia tidak bisa seenaknya menggunakan sihir atau mantra apapun karena akan fatal akibatnya. Berhari-hari berada di tengah medan perang tanpa perangkat militer sangatlah menyiksa, niatnya meneliti hanya sebatas 3 tahun hempas sudah. Ini sudah tahun ke 7 dan Kant beserta timnya sama sekali belum menyentuh rumah. Mereka terkurung dalam kondisi perang ini. Penderitaannya semakin bertambah ketika hidupnya berada di dalam sel, makan hanya seadanya, ia tidak terurus, yang paling penting, dia rindu keluarga kecilnya.

Apa kabar Belle?

Apakah dia sudah melahirkan?

Kalau sudah bagaimana anak mereka?

Seperti apa wujudnya?


***

 29 Maret 1973—dengung mesin terdengar begitu keras. Dengan tangan berada di belakang dalam keadaan terborgol, ia dilepas bersama lima rekannya. Pembebasan ini sudah ditunggu lama sekali oleh Kant. Perang sudah usai, ia diputuskan untuk dikirim kembali ke Amerika. Penderitaannya selesai sudah, ia memasuki transportasi yang disediakan, bersikap selayaknya manusia, melindungi diri tanpa menggunakan tameng sihir apapun, semua murni dirasakannya, siksa penderitaan saat perang.

“Ibu, rapi sekali? Kita mau kemana?”

“Kita akan bertemu ayah.” Belle menjepitkan surai Judit Isabell anak sulungnya dengan wajah sumringah.

Dia sudah mendengar kabar kalau hari ini Kant akan pulang bersama timnya. Beberapa bulan yang lalu, ia semakin terpuruk dengan berita Kant ditangkap dan ditahan sebagai tahanan perang. Ia tidak bisa membayangkan Kant hidup di dalam jeruji besi, pasti menderita sekali. Ia sendiri menangis ketika kabar itu mampir di telinganya hanya saja di depan anak-anaknya ia harus terlihat baik-baik saja.

“Ayah? Ayah pulang?” Judith nampak begitu senang.

Gadis bersurai hitam dengan mata pekat jelas merupakan pantulan Belle. Keduanya mirip sekali sedangkan bungsu dari kembar pengantin ini, Kazumi. Benar-benar mirip Kant, mata, hidung, dagu bahkan pipi. Kazumi lah kekuatannya selama Kant tidak ada, wajah yang serupa dengan Kant yang membuatnya rindu setiap hari. Ketika Judith selesai dengan penampilannya, Belle menghampiri Kazumi dan memeluknya erat-erat, menaruh dagunya di atas bahu sang bungsu dan menangis untuk melegakan perasaannya beberapa menit.

***

Kementrian begitu ramai, bersama dengan Lee dan Hyun Na, ia menunggu di sebuah lapangan luas di area kementrian. Dengan gaun biru laut tanpa lengan sebatas lutus dilapisi cardigan putih susu, ditemani kedua putra dan putrinya ia menunggu dengan tidak sabar kendaraan yang membawa suaminya selama tujuh tahun.

Di kedua sisinya Judith Isabel menunggu sang ayah dan adiknya Kazumi Lroy. Menatap lapangan terbang dimana ayahnya akan menunjukkan wujudnya. Ayahnya akan datang, memperlihatkan sosoknya di depan. Setiap hari selama tujuh tahun hanya mendengar cerita ibu tentang ayah, tentang ayah yang sibuk tetapi menyayangi keluarga kecilnya. Akhirnya ia akan dipertemukan dengan ayahnya.

“Ibu, kapan ayah sampai?”

Belle menoleh, mengembangkan senyumnya, “Sebentar lagi. Kita tunggu saja.” Ia semakin erat menggenggam tangan Kazumi. Semua yang berada di sini di lapangan belakangan kementrian, mereka adalah keluarga yang menunggu sanak saudara, suami, kakak, adiknya pulang dari medan pertempuran. Meskipun Kant bukanlah seorang tentara tapi kehadirannya sangat berharga.


***

Ia pulang, ke rumah. Hari yang ditunjuknya sejak bertahun-tahun lalu, dimana ia dipisahkan dari keluarganya oleh Kementrian. Setelah melewati banyak masa yang membuat perutnya mual, dari mulai ditempatkan di Afganistan kemudian Vietnam. Dari masa paling tenang sampai masa paling hancur, ia mengalaminya bersama para rekannya. Wajah yang mulai ditumbuhi rambut di sekitar rahang dan dagung, serta tubuh yang semakin kurus dengan pakaian lusuh. Barang yang dibawanya hanya sedikit saja selebihnya sudah ditahan oleh oknum tak bertanggung jawab. Sepanjang perjalanan menuju Amerika ia hanya terdiam, Kant memikirkan bagaimana nasib keluarganya, bagaimana Belle dan anak-anaknya. Sampai ketika deru semakin riuh dan turun perlahan, matanya menangkap di balik cahaya surya yang menyilaukan. Di antara setumpuk manusia di lapangan kementrian. Belle disana dengan Lee dan Hyun Na dan dua anak kecil yang digenggamnya. Kant tidak mengenali keduanya, ia menyipitkan mata berkali-kali, mengedipkannya berkali-kali juga.

Begitu kakinya menjejak, ia sedikit dipapah oleh beberapa orang yang memakai seragam. Jalannya tertatih hingg tiba di depan orang-orang yang dikenalinya. Rasa haru, bahagia bercampur menjadi satu.

“Tadaima…” Katanya dengan suara lemah. Belle nyaris melompat kearahnya, memeluknya seakan tak ingin melepaskannya barang sedetik pun. Kant merasa pundaknya basah, ia masih sedikit pusing akibat kejadian-kejadian yang menerpanya. Di sisi lain Lee menghampiri dan menepuk pundaknya. Kant mengangkat tangannya balas memeluk Belle erat-erat. Tujuh tahun yang hampa, sepi dan tidak berwarna. Setengah kehidupan hancur dan kandas, tidak ada kesempatan untuk pulang. Keadaan yang membuatnya menderita, untungnya Belle tidak menanyakan apapun yang terjadi padanya—hanya sebuah pelukan hangat sebagai sambutan selamat datang kembali yang sangat lama serta kecupan singkat penuh airmata membawanya kembali pada kehidupan yang sebenarnya.

“Jangan menangis…” Menghapus airmata Belle dengan kedua ibu jarinya. Disana tertera senyuman yang ingin dilihatnya—selalu selama tujuh tahun dan menghilang. Belle berbalik, meraih kedua anak kecil di belakangnya dengan senyum ceria.



“Judith, Kazumi, ini ayah.” Sebuah senyuman lebar diiring tetesan airmata yang tiada henti. Ia bisa melihat di mata keduanya ada rasa kelegaan dan rindu yang bercampur jadi satu. Belle mendongak, melihat bagaimana reaksi Kant setelah ini. Begitu kedua anaknya melompat dan Kant dilihatnya berlutut memeluk anak-anaknya menjadi harga yang tidak pernah terbayar apapun. Kebersamaan yang utuh milik keluarga kecilnya yang akan selalu ada meskipun jarak membentang ribuan bahkan jutaan kilometer. Di dekat Hyun Na, Belle bersedekap, menutup mulutnya, pundaknya naik turun tidak karuan. Ia menangis sejadi-jadinya; ia bersyukur Kant kembali meski dalam kondisi yang kurang baik. Hatinya terketuk hebat ketika Kazumi dan Judith memeluk Kant erat-erat, bertiga yang tidak akan dipisahkan kembali. Tujuh tahun tidak saling bertemu dengan rindu yang menggempur. Kant menghampiri Belle sembari menggendong Kazumi, di sebelahnya Judith berlari kecil kemudian meraih tangan Belle. Kant merengkuhnya membawanya dalam bingkai keluarga kecil yang bahagia sebab pada akhirnya menunggu tak akan sia-sia jika dilakukan dengan bersabar. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar