Senin, 19 Agustus 2013

When everything was going right; I know just why you could not


________OO_________

Pernikahan.

Sulit baginya untuk percaya kalau saat ini—saat matahari mengintip dari tirai di kamarnya dan ketika ia menoleh di sisinya ada seorang perempuan yang begitu didambakannya, seorang perempuan yang terlalu sempurna untuk mengatakan janji hidup bersamanya. Seorang perempuan yang menjadi tempat bersandarnya sejak ia kehilangan arah sejak ia putus asa dengan berbagai komitmen di masa keemasannya. Ia tak meragukan barangkali Tuhan tahu apa yang dibutuhkannya pun ia menginginkannya dalam waktu yang lama. Ya, takdir angkat bicara dengan senang hati memeluk keduanya dalam ikrar dan sumpah, pernikahan.

Lucu 'kan?

Perjalanan Jacques Kant mencari cintanya bisa dibilang sedikit lucu. Ia dikenal sebagai petualang, seorang yang tak bisa tidak memiliki kehidupan dan travelling. Hobinya adalah melakukan perjalanan dan memerhatikan kebiasaan-kebiasaan kecil orang lain. Seringkali ia mengorbankan banyak waktunya hanya untuk melakukan perjalanan; perjalanan ke negeri-negeri seberang demi memenuhi egonya seorang diri meninggalkan profesinya sebagai seorang guru dan meninggalkan anak-anak didiknya hanya agar ia memperkaya dirinya sendiri. Kant termasuk egois.

Tidak hanya sekali dua kali pada perjalanannya ia merasa tertarik dengan beberapa perempuan. Di setiap belahan dunia, setiap negara selalu ada wanita-wanita yang menggodanya. Paras yang cantik, setipe dengan barbie, lekuk tubuh yang sempurna dan kulit seputih porselen serta sehalus kain satin. Ia sudah terbiasa dengan lusinan wanita sempurna seperti itu. Maka ia tidak merasa gugup sama sekali ketika melihat beberapa perempuan mendekatinya menyatakan kalau dirinya tertarik karena dalam satu malam ia bisa menghabiskan tiga jenis perempuan berbeda hanya untuk menemaninya bicara tentang apa yang mereka lakukan seharian, dua hari yang lalu sampai sebelum mereka menjadi dewasa. Apapun bisa ia bicarakan tanpa mengatakan barisan mana hal tabu dan mana hal yang pantas. Kant bukan seorang playboy kelas kakap ia hanya menyambangi wanita-wanita untuk penelitian, singkatnya hidupnya dipenuhi penelitian.

Sendiri—klise—kebiasaan kuno. Dari sekian banyak perempuan paling hanya satu atau dua saja yang hinggap. Selebihnya dibiarkan begitu saja dan mereka yang sudah tahu seluk beluk Kant seperti apa atau paling tidak tahu tabiat kecil pemuda ini (termasuk yang buruk) pasti akan memilih pergi dan beberapa tidak hanya bertahan lama hanya satu atau dua bulan, setelahnya entah lari kemana. Kant merasa dalam situasi ini dirinya cenderung dipersalahkan secara total. Ia cenderung mengeruk keegoisan bagi dirinya sendiri. Satu yang paling ia ingat adalah ketika ia jatuh cinta pada muridnya sendiri.

Ini bukan mimpi, kenyataannya memang seperti itu.

Dulu, ia lupa nama desanya. Ketika ia tengah berkunjung ke salah satu desa untuk menghabiskan masa liburannya sampai Salem membuka gerbangnya kembali ia memutuskan untuk pergi ke salah satu desa dan melakukan penelitian disana sekaligus melakukan kunjungan kepada kakaknya yang baru saja melahirkan anak pertamanya. Sore hari ia duduk-duduk di bangku halaman kuil membaca kisah klasik tentang pelaut dan romansa ombak yang memabukkan. Kala itu seseorang mendatanginya, ia kenal betul perempuan itu. Perempuan cerdas, terhormat dan garis keturunannya tidak diragukan. Ia kenal baik akan dedikasinya yang tinggi dan rasa disiplin serta percaya diri yang melampaui batas, gadis itu Agatha Thompson. Kant tidak munafik, lelaki kelahiran musim semi ini sama sekali tidak menampik kalau pertemuan itu mengundang hal yang tak biasa, menciptakan benih-benih konyol yang ia sebut rasa cinta. Mereka hanya bicara singkat dengan pertemuan intens setiap sore selama dua minggu dan berlanjut hingga berkirim surat sampai rentang waktu 2 bulan.

2 bulan, pada umurnya yang tidak lagi muda. Ia mulai mencari kebenaran akan keduanya, Kant mencoba menanyakan hal yang biasa ia tanya kepada gadis lain setelah perkenalannya dirasa cukup. Namun sekiranya seminggu sebelum pertanyaannya sampai tiba-tiba saja keturunan Thompson tidak lagi mengirimkannya surat, berhenti memberi kabar padanya. Kant menunggu, ia memberi waktu pada dirinya sendiri selama 3 hari, kemudian seminggu, kemudian sebulan dan ia mulai lelah dengan permainan hati yang tak sampai. Sejak itulah ia memutuskan untuk tidak lagi membuka hatinya agar tidak merasakan kecewa yang kesekian kalinya.

Meski terlihat baik-baik saja tetapi Lee tahu kalau sahabatnya tidak akan pernah baik-baik saja. Maka sewaktu malam berakhirnya keputusan bahwa ia dan Agatha menyudahi segala hubungan mereka, ia mendapat wejangan istimewa kalau mungkin saja orang yang selama ini dicarinya ternyata berada di sekitarnya, mungkin saja Tuhan sedang menyiapkan seseorang yang terbaik untuk Kant dan sebentar lagi pasti akan menemukannya. Ini lucu baginya wejangan itu hanyalah sebuah dakwah tanpa pembuktian, irrasional. Ia bisa gila secara sepihak, kau tahu. Menyebalkan ketika menerima sebuah kabar langsung dari pemiliknya kalau ia kini benar-benar menyedihkan. Membujang sendirian, menderita. Lee telah melamar pujaan hatinya Hyun Na yang selalu ia puja setiap detik, setiap mau makan, mau mandi bahkan mau buang air kecil. Menjijikan, tahu. Lee bisa mendadak puitis seperti orang tolol kalau sudah bicara tentang Hyun Na, dia sering nyanyi-nyanyi sendiri, sering tertawa sendiri bahkan nyengir sendiri sampai giginya kering. Kant sering bergidik ngeri kalau ketika ia tiba di ruang guru melihat Lee sedang mengelus-elus kaktus dan menatap durinya penuh cinta seakan duri-durinya adalah bulu mata Hyun Na atau lebih anggunnya bulu kaki Hyun Na.

Cinta itu segalanya, kata Lee.

Tahu apa si idiot yang satu itu?

Cinta itu buta, ya memang.

Cinta itu...... Penderitaan.

Yang berbuah manis pada waktunya.

God, damn!

Kau tahu karma? Dia mendapatkannya. Ya ya ya, Kant tahu kalau dirinya baru saja mendapatkan hukuman akibat ulahnya sendiri. Menyepelekan perasaannya. Hah, tak ada untungnya mendapatkan hati yang telah tiada. Masih untung ia diberikan karir yang gemilang. Sejak keputusan terakhir menutup kehidupan hatinya ia jadi lebih berhati-hati dengan perempuan manapun dan itu membuat gerah sahabat karibnya sendiri. Barangkali ia akan mendapat hidayah dari Tuhan.

Lucu sekali.

Pada kenyataannya, tak selamanya manusia sendiri dan tak selamanya ia merasa sakit 'kan?

Pada akhirnya Tuhan akan memberikan ia kebahagiaan sama seperti yang Lee rasakan. Bukan berarti ia tidak merasa iri ketika Lee menceritakan kehidupan pernikahannya, bagaimana malam-malam yang ia lalui bersama Hyun Na, bagaimana setiap pagi selalu ada yang membuatkannya kopi dan menyapanya ketika usai bertugas. Sial, itu semakin membuatnya pusing. Racauan Lee seperti dosa yang tidak akan pernah diampuni. Kant mati-matian menahan agar ia tidak meratapi setiap dongeng selamat tidur dari Lee dan berharap keesokannya ia masih bisa melihat Lee karena ia bisa saja berbuat brutal dengan mencekik sahabatnya yang satu itu.

Ah tapi itu cerita lalu toh sekarang saat ini seseorang tengah terbaring manis di sebelahnya, seseorang yang telah melewatkan satu malam paling manis bersamanya dan bersedia menerima kehidupannya dari awal hingga detik hari ini. Ariabelle Kant, namanya resmi berubah sejak upacara sakral keduanya kemarin. Gadis itu meringkuk dalam pelukannya, Kant sudah sejak lima belas menit yang lalu hanya diam menatap berlian paginya. Mengusap epidermis pipi pasangan hidupnya dan tidak membiarkan gadis itu terbangun hingga ia memutuskan untuk membuatkan sarapan.

Ia memiliki kebiasaan yang berbeda, Belle selalu mengantarkan makan malamnya dulu sewaktu mereka belum menjadi pasangan seperti ini, kali ini biar ia yang melakukan hal manis itu pada pasangan barunya. Memasak adalah salah satu keahliannya, ia cukup lama tinggal menyendiri di belahan dunia manapun. Jadi tidak diragukan lagi kalau ia pandai memasak untuk dirinya sendiri meski hanya membuatkan pancake saja dan menghidangkannya di atas meja. Merasa kurang maka ia menaruhnya pada meja kecil dan menatanya semanis mungkin. Ia ingin memperlakukan Belle seperti gadis normal lainnya tanpa menggunakan embel-embel penyihir. Tidak lupa 'kan kalau ia seorang Profesor yang mengajar Telaah Muggle. Maka ia menyusuri lorong rumahnya yang tidak jauh dari ruang tidurnya di desa Sallowsville, membuka pintunya dan membangunkan Ratunya dengan kecupan ringan di kening.

"Selamat pagi..."

Mata itu terbuka perlahan, tangan kecil itu teraih untuk mengucek mata. Kantuk masih tersisa tetapi Kant menaruh meja kecil itu di atas kaki Belle yang terbalut selimut dan wanita yang paling disayanginya setelah sang ibu memekik terkejut. Ia meraih Kant dalam pelukannya dan mencium pelipis lelakinya.

"Manis sekali, terima kasih." Belle menyiapkan alat makannya, memotong pancakenya menjadi potongan kecil-kecil dan mulai melahapnya.

"Enak?"

"Enak, kau yang membuatnya sendiri?"

"Ya, baguslah. Makan yang banyak, aku harus bersiap-siap dulu."

Belle mengerutkan keningnya, "Mau kemana?"

"Bekerja. Aku mendapat panggilan lagi untuk menyelesaikan satu laporan dari Kementrian." Ia mencoba tersenyum sebagai hiburan.

Mungkin, Belle ingin Kant tetap disini, sayangnya ia bukan tipikal pemaksa.

"Hng, ya sudah tidak apa-apa." Ia kembali melanjutkan makan tanpa melupakan langkah Kant yang menjauh dan mulai sibuk dengan pikirannya sendiri.

***

Kembali membagi waktu untuk pekerjaan yang menumpuk. Kementrian seringkali tidak mau tahu apa yang dilakukan oleh pegawainya, padahal ia termasuk orang sipil. Seorang guru dengan gaji tak seberapa tapi Kementrian sering menjadikannya sebagai aset berharga. Tidak percaya? Memang selama ini ia bisa melakukan perjalanan darimana uangnya? Mengemis? Kant selalu mendapat asupan dana dari tempatnya bekerja, penelitian lelaki keturunan Jepang ini sangat berharga. Meneliti tingkah laku manusia, tata cara mereka hidup dan rahasia apa yang membuat muggle bertahan hidup tanpa sihir dan bagaimana cara penyihir berinteraksi dengan muggle. Banyak penelitian yang dikeluarkan Kant dan mendapat apresiasi berharga dari Kementrian. Terkadang ia harus rela dua puluh empat jam penuh bekerja tanpa peduli hal-hal kecil lain, makan misalnya atau ke gereja pun ketika dirinya berada di Salem. Kementrian tetap memintanya meneliti kehidupan muggle.

"Pagi, Tuan Kant."

"Ya, pagi."

"Selamat atas pernikahannya."

"Terima kasih."

Boleh ia menyebut ini sebuah kejutan kecil? Setiap orang yang ditemuinya sepanjang lorong Kementrian mengucapkan selamat padanya. Kant geleng-geleng kepala pun yang membuatnya benar-benar tidak habis pikir, ada sekitar empat karangan bunga yang mampir di dalam ruang kerjanya berikut dengan ucapan selamat atas hari pernikahan. Tanpa basa-basi dan beramah-tamah akan kehidupan pribadinya, Kant memposisikan untuk menaruh bokongnya dan segera berkutat dengan berkas-berkas yang menunggu untuk dibaca. Di ruang yang besarnya mencapai 8meter x 8meter ia duduk seorang diri dengan tumpukan berkas-berkas. Terlalu larut hingga tidak menyadari kedatangan seseorang yang membawa tumpukan berkas lain dengan senyum sumringah.

Kant mendongak, kejutan kecil. Pemuda Sullivan sudah berdiri di depannya.

"Oh kau, ada apa?"

"Lima puluh laporan dalam satu hari. Aku tidak mengerti kenapa penyihir begitu posesif akan dunia muggle." Lelaki itu menaruh dirinya tanpa perlu dipersilahkan untuk duduk.

Kant mengulum senyumnya, meraih tumpukan berkas lain dengan map tertera lambang resmi Kementrian pada sampul depannya.

"Mereka hanya belum terbiasa, Sullivan. Lagipula masih banyak hal-hal di dunia muggle yang harus dipelajari supaya penyihir dapat berbaur tanpa terlihat berbeda." Kant membuka salah satu laporan dan terkekeh geli kemudian menggeleng.

"Dan oh aku membawa ini." Sullivan menunjukkan padanya sebuah amplop cokelat dengan benang di depannya. Membuat Kant mengernyitkan kening. Bergegas mengambil amplop cokelatnya, membuka dan membaca isinya.

***

Penugasan lagi, Kant harus keluar kota lagi bulan Desember itu berarti 4 bulan lagi.

Lama-lama kehidupannya menyedihkan. Ia akan meninggalkan Belle untuk waktu yang lama. Ah, betapa pekerjaan ini membuatnya muak. Sejak membaca lembar penugasan yang diberikan kepadanya, ia menjadi jengkel setengah mati. Kementrian tidak memiliki hati nurani, seenaknya menugaskan orang yang baru saja menikah dan tanpa persetujuan ke daerah mana. Sial, Kant membanting dirinya ke kursi. Pukul delapan malam dan ia belum pulang juga. Rela meninggalkan Salem dengan mood yang tidak begitu bagus, pembicaraan dengan Sullivan pun nampak tak menarik. Jauh ia ingin menghubungi Lee dan tak ingin pulang kerumah terlebih dulu.

'Kutunggu kau di tempat biasa.'

Itu tulisan yang ia baca di selembar surat balasan milik Lee. Kant melipatnya dan memasukkan ke dalam saku mantel kulitnya, bergegas menuju tempat favorit keduanya. Apparate satu-satunya jalan paling praktis karena tidak perlu lelah meski penampilan menjadi berantakan.

Ia tiba, tidak sampai lima menit. Menyeret kakinya ke ruang guru Salem. Belle pasti sudah pulang, kelas juga sudah usai. Tidak ada yang tersisa kecuali guru-guru dan murid yang hobi berpatroli malam. Mengandalkan situasi yang menguntungkan ia segera menemui karibnya dan menceritakan apa yang mengganggu pikirannya.

***

"Aku pulang."

Kant menggeser pintu rumahnya. Rumah miliknya di desa Sallowsville sengaja didesain seperti rumah-rumah di Jepang agar ia tidak mengabaikan kultur tanah kelahirannya. Kalau biasanya di desa Sallowsville banyak rumah dengan gaya klasik atau minimalis ia lebih memilih ke arah Jepang. Dominasi cokelat dan putih menghiasi tembok rumahnya. Kant menaruh sepatunya di rak kecil di belakang pintu masuk dan menggantinya dengan sendal. Kemudian menyusuri lorong untuk menemukan dapur dan mengambil minum. Tenggorokannya mendadak kering. Tidak jauh dari dapurnya agak menyerong ke sebelah kiri ada ruang tamu yang menyatu dengan ruang keluarga. Rumah Kant tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil paling tidak cukup ditempati oleh 5 sampai 6 orang atau lebih. Keluar dari dapur ia menuju lantai atas namun di pertengahan jalan ia berhenti mendapati televisi di ruang tamu menyala. Kant berhenti dan menyambangi ruang itu, mengernyitkan kening.

Seketika hatinya mendadak menciut melihat Belle tertidur di atas kursi.

Pasti dia menungguku pulang semalaman.

Dalam diam, Kant mematikan televisi dan menggendong Belle ke kamar. Ia sendiri merasa tidak enak untuk menceritakan kepada Belle kalau 4 bulan lagi ia harus meninggalkan Belle. Padahal pernikahan mereka baru berusia beberapa hari. Kant menghela nafas, setelah memposisikan Belle di kasur tepat di sebelahnya ia berbaring. Memikirkan bagaimana harus memberitahu Belle. Di satu sisi ia sebenarnya ingin mengajak Belle pergi menghabiskan masa-masa pernikahannya, berlibur ke pulau misalnya. Sayang kesibukan ini menyitanya di luar dugaan. Ia sendiri bingung harus melakukan apa, dia takut Belle menyesal atau marah karena Kant tidak bisa meluangkan waktu untuk keduanya. Tapi bukan perkara liburan, Kant tidak ingin meninggalkan Belle sendirian dirumah. Wanita terlalu rentan apabila ditinggal seorang diri dirumah, tetapi tidak mungkin mengajak Belle ikut pergi dengannya karena pekerjaan ini membahayakan.


Ketika ia menyuarakan masalah ini pada Lee, sahabatnya hanya menjawab kalau lebih baik membawa Belle ke Jepang. Sapporo salah satu tempat yang sangat cocok bagi keduanya, Belle bisa dititipkan dirumah orangtua Kant tanpa harus merasa bersalah karena di Sapporo Belle bisa menemani ibunya Kant. Saran Lee ada benarnya juga, cara itu lebih baik. Tapi bagaimana mengatakannya? Apa Belle akan marah padanya? Semakin dipikirkan semuanya terasa semakin memusingkan. Akhirnya Kant berusaha menutup matanya dan menghabiskan malam yang panjang dengan pikiran mumetnya. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar