Selasa, 30 Juli 2013

Numbers Count For Nothing; Wait until light, my dear.


Disclaimer : Terima kasih untuk Battle Royale, Lula, Amano Ryota, Shirahata Cho, Hikkari dan semua nama-nama yang disebutkan dalam cerita ini. In Roleplayer ini adalah faktanya Ryota. Maaf bila ceritanya kurang menyenangkan, terima kasih untuk silent reader. Enjoy it!





Apa kau percaya pada akhir yang bahagia? 

Aku tidak... 

Bahagia itu hanya merupakan dongeng belaka, bukan cerita pangeran dan putri. Keduanya tak memiliki akhir yang bahagia, konflik selalu mengiringi dalam setiap alurnya. Cerita lama. Percaya atau tidak ia skeptis dengan bahagia. Definisi bahagia merupakan semu dalam titiannya, segalanya begitu saru. Setiap kata dalam rangkulan paragraf mematikan rasanya untuk sekadar mengatakan bahwa ia bisa bertahan untuk seseorang yang mungkin tak ingin dipertahankan. 

Setiap tangisan akan pecah menjadi tawa, sendu akan berhias pada senyuman, kelegaan dalam kecemasan sirna. Berganti arahan pada fokus sang jabang bayi yang baru lahir ke dunia. Setelah beberapa jam sebelumnya nyaris tak menemui titik yang mengharuskan ia merasa lega. Duduk dalam ruang tunggu berjam-jam, menunduk dengan rasa tak karuan. Hidup dan mati, telinganya pekak oleh teriakan. Seolah ia dipersalahkan, kadung ia sayang pada ibu dari bayinya. Tak ingin apapun menghalanginya turun ke dunia, mencicipi barangkali kehidupan yang tak seberapa menyenangkan. Ia diam, mengatupkan bibir dalam kurun waktu 8 jam di sisi sang ibu menanti kelahirannya, sumber kebahagiaan dari luka yang membusuk menjadi nestapa. Pintu besar berderit, memerlihatkan sesosok lelaki berbalut hijau, wajahnya tertutup setengah. Ada rona yang berbeda, dibaliknya seorang wanita bertubuh kecil dengan senyum mengembang, di tangannya sang malaikat menggeliat pulas dengan mata terpejam dan Ryota nyaris ingin melompat ketika sang wanita memberikannya kesempatan untuk menyentuh kulit selembut kapas dan jemarinya menyapu tiap jengkal sang bayi. Dia berhasil--awal barunya menjadi seorang ayah. 

Dibawanya sang kecil ke dalam ruangan, kembali menatap cemas pada seorang perempuan yang terbaring lemah. Dengan kekuatan seadanya, ia menyunggingkan senyum memamerkan sang bayi yang berada pada pelukannya. Tanpa mengatakan apapun, sorot matanya sarat akan kebahagiaan, ia mendekat memberikan kesempatan bagi si bayi untuk mengenal ibunya. Ditaruhnya sang malaikat kecil di atas tubuh Shirahata, jelas sekali dalam pias wajahnya ia bahagia. Dengan seluruh sisa tenaganya, tangannya memegang jemari-jemari kecil milik darahnya. Ini memori yang tak bisa ia lupakan, ketika Cho mendongak berusaha mengatakan kehidupannya kini sempurna dengan atau tanpa keluarga yang mendukung status barunya. Ryota menempatkan dirinya di sisi sang Shirahata, memeluknya, berbisik.

"Terima kasih sudah melahirkan Hikkari, terima kasih untuk segala yang Cho berikan. Aku mencintaimu, kemarin, hari ini, esok dan selamanya." Bibirnya mengecup kening Shirahata dengan penuh kasih. Bulir-bulir nampak tertahan, tak bicara tapi menjadi bukti kuat bahwa keduanya sama-sama bahagia. 

"Aku akan pulang..." 

Dia tahu menit tak akan membiarkan keduanya mereguk sulang bahagia. Tak ada pilihan lain selain mengangguk meski perih menghantam. 

"Jaga Hikkari untukku..." 

Ia mengangguk dalam diam. Menahan perih sekuat yang ia bisa. Sorot melepaskan tak kunjung membuai, ia habis dimakan asa. Terkulai lemah, baru saja kebahagiaan itu diraihnya. Tapi tahukah Tuhan bisa mengambil apapun dalam hitungan detik bahkan sekali dalam mengerjapkan mata? Karena kepergiannya menyisakan pedih yang mendalam, ia tidak pernah lupa memori yang diciptakan sekalipun berdarah sekalipun mengiris. Tahukah bahwa dalam diam ia menangis? Tak dikatakan tak ia tunjukkan, karena ia laki-laki yang sejati. Menangis bukan bagian dari dirinya tapi untuk seseorang yang ia cintai melebihi ibunya sendiri, hanya diam, hanya sesak, hanya nafasnya yang tak beraturan. Untuk bicara saja sulitnya bukan main, karena ketika bibirnya terbuka ia akan menangis, airmata itu akan jatuh dan ia tahu bila ia menangis Cho tak akan pergi, sayangnya ia sadar bila Shirahata masih memiliki keluarga. 

Terlalu egois untuk membiarkannya pergi, satu langkah saja ia tak ingin melepas barang satu tolehan saja untuk meyakinkan bahwa kepergiannya hanya sementara sebab bukan hanya Amano yang membutuhkannya, malaikat kecilnya juga butuh sang ibu. Ditinggalkan dalam usia belia terlalu muda untuk mengerti sebuah kehilangan--sementara. 

Kembali sendiri, kehidupannya berjalan dengan normal. Putus sebelah seolah menghilang, ia melewatkan sisa-sisa harinya dalam kubangan harapan, Shirahata tetap hidup, bernafas dan berjalan, ia lihat kondisi gadis itu baik-baik saja pasca melahirkan. Tubuhnya memang belum terlalu menyusut masih menyisakan bekas-bekas sang jabang bayi disana--kasat mata. Hanya Ryota yang mengetahui, sisanya ia abaikan. Namun Shirahata lebih mirip udara, dia ada, dirasakan tetapi tak bisa digenggam. Ryota tak pernah mendekatinya sekalipun ingin, sekalipun waktu mengunci mereka dalam diam. Pada akhirnya pemilik bening hitam ini memilih pergi daripada harus merasakan sakit yang mengiris. 

Atap sekolah, halaman dan semua tempat yang ia kunjungi hari itu mengingatkannya pada pertemuan pertama dengan Shirahata, kesan canggung, kesan bahwa gadis itu terlalu angkuh untuk mengakui rasa yang teronggok di dalam hatinya, bahwa Ryota terlalu angkuh untuk mengakui betapa ia mencintai seorang kupu-kupu maya. Visualnya akan Cho menjadi momok menakutkan sejak kepergiannya. Tak disangka bila ia berlari menyusuri kuil dan menapaki puluhan anak tangga. Disinilah ia berdiri menggendong seorang perempuan--ibu dari anaknya. Tubuhnya yang ringkih masih terasa, terbalut duka dan sepi. Ia menghampiri pembatas antara daratan dengan lautan. Berdiri menghempas angin, melupakan sisa kenangannya, memaksanya mengingat deretan memori yang bernyanyi bagai alunan musik sebelum tidur. Ia terbuai. 

Festival kembang api, kau tahu? Banyak anak perempuan yang datang, mereka mengenakan yukatta mereka dengan surai yang dikepang melingkar dan menempel di kepala mereka. Bunyi ketukan alas kaki yang terbuat dari bambu nyaring terdengar, riuh rendah suara pedagang menawarkan dagangan mereka. Di sela-sela hilir mudik pemuda dan pemudi yang datang, diantaranya merekalah yang mengukir moment paling indah dan tak dilupakan. Diantara manusia lain yang memiliki tingkat kesadaran tinggi, seorang Ryota menggandeng tangan lain, menyematkan jemarinya menuntun Shirahata pada kesenangan. Membawanya melihat-lihat hal yang menyenangkan disini karena katanya Shirahata Cho tidak pernah berkunjung pada festival budaya macam ini. 

"Mau kemana?" 

"Mancing saja yuk." 

"Aku mau ikan!" 

"Iya, iya..." 

Keduanya menghampiri tenda pemancingan. Cho mulai bersemangat ia histeris bagai anak kecil diberikan kembang gula. Ryota mulai mencoba, menyaring beberapa ikan namun lolos tak di dapat satupun sampai ia kesal dan memilih untuk menggulung lengannya saja kemudian mengambil dengan tangannya sendiri secara membabi buta, begitu tertangkap ia persembahkan pada Shirahata. Ia memekik senang, dalam pantulan beningnya Ryota tak akan pernah lupa wajah bahagia Cho, senyumnya, tawanya yang membuat Ryota yakin malam ini akan berbeda dari malam lainnya. 

Mereka berjalan, menyusuri taman-taman sampai kembang api ditembakkan di udara. Dengan kembang gulanya, keduanya saling bicara saling bercerita satu sama lain, saling tertawa dan mendongak ke langit ketika warna warni langit didominasi oleh cahaya api yang melesat, bunyi yang memekakakan, decak kagum dari banyak orang. Tak luput keduanya hingga selesai, Ryota tak melupakan tujuan utamanya selain mengenalkan budaya negerinya sendiri. Melawan arus ketika yang lain menuju tangga kuil. Hanya saja ia ingin menghabiskan waktu bagi keduanya, lebih larut. Karena ia tahu tidak ada lagi waktu yang tepat selain ini. Digenggamnya tangan mungil Shirahata, dibawanya pada pembatas pagar, kemudian keduanya menyaksikan sorot lampu warna warni dari pulau di seberang sana. Ia menyukainya bila jenuh akan datang kesini setiap tahun. Chikusaku menjadi tempat favoritnya, alasan utamanya sederhana. Tempat ini, tempat dimana ayah dan ibu bertemu pertama kali. Tempat mereka mengukuhkan hubungan mereka yang mungkin kandas di tengah jalan tapi ia tahu Hideaki masih mencintai ibunya bahkan saat pria itu tiada. Ia tahu, ia bisa merasakannya seperti yang ia rasakan. Sekalipun Cho ingin meninggalkannya, sekalipun Cho akan membencinya karena ia terlalu cinta, terlalu menyayangi gadis ini sepenuh hatinya. Ia tidak peduli alasan apapun, tidak ada yang menghentikannya untuk tetap mencintai Shirahata. 

"Senang?" 

Cho mengangguk. 

"Aku punya cerita untukmu..." 

"Hmm?" 

"Tempat yang kita pijaki saat ini, tempat ayah dan ibuku pertama kali bertemu," Ia mengatakannya tanpa menoleh seolah memandangi langit dengan hitam yang mencekam, memutar tubuhnya agar dapat melihat Cho lebih leluasa. Dalam balutan dress tanpa lengan berwarna krem dengan perut sedikit membuncit. Ryota merogoh saku celananya, mengambil sebuah kotak yang ia pendam sedaritadi tadi. Merah membara, membukanya dan mengambil isinya. Sebuah cincin, satu mata berlian, keperakan, bukan warnanya bukan pula harganya, ia menarik tangan Cho.

"Aku tahu ini mungkin terlalu cepat, kita baru berusia enam belas tahun. Aku memang tak pernah mengatakan apapun tentang kita, selalu aku atau kamu. Tahukan aku bukan pribadi yang bisa mengumbar apa yang kurasakan?" Ia menatap Cho sedalam dan semeyakinkan yang ia bisa, agar Cho bisa menyelami keseriusan dalam setiap patah kata yang ia ucapkan, "bila selama ini aku diam, bila selama ini aku terkesan sarkas kepadamu dan mungkin bila selama ini aku menjadi gila gara-gara kamu. Meskipun aku tak pernah mengatakannya, tapi bolehkah aku memesan tempat terlebih dahulu? Di hatimu, selamanya..." Bersamaan kata terakhir yang terucap, ia menyematkan cincin bertahtakan berlian pada jari manis Cho. Merengkuhnya dalam sekali dekap, merasakan dua kehidupan sekaligus dalam pelukannya. Apa yang ia genggam tak mudah untuk dilepaskan. Jawaban apapun yang diberikan Cho, pemuda kelahiran Sapporo ini tahu bahwa gadis itu miliknya, sejak dulu. Sejak pertemuan keduanya, sejak ia mengimplementasikan wajah Ryota dalam lukisan kasar. 

Aku mencintainya, kuakui. Perbedaan ini menjadi jurang tapi aku tahu kami punya jembatan yang menghubungkan, Hikari disana dengan cinta yang kami punya. Aku memang tak pernah mengatakannya betapa aku mencintai gadis dalam dekapanku. Sikapku yang cenderung sarkas tak bisa terbaca apakah aku memiliki rasa yang sama, tetapi dibaliknya aku pemilik rasa posesif yang paling besar. Seiring dengan Shirahata yang selalu menghadapiku dengan kesabarannya, aku mengerti bahwa wanita memiliki kesabaran tanpa batas, pemilik kekuatan paling dominan, ia berusaha menaklukanku dengan apa yang ia punya--kasih sayang tanpa batas untukku dan untuk bayi kami. Aku mungkin bukan lelaki yang baik, bukan lelaki yang punya segalanya, harta, pekerjaan atau apapun yang bisa menjadi tolak ukur seorang pria, tetapi aku mungkin lelaki yang tepat untuknya. Terlalu percaya diri tapi aku merasakannya, sekuat apapun aku mencoba menjauhi Shirahata aku tidak bisa, padahal aku tahu kami sangat amat berbeda. Aku tidak peduli kekurangannya, aku tidak peduli seberapa plin plan dia, Shirahataku tetap sama, tetap Shirahata yang kusayang. Aku tak pernah mengatakan mencintainya sehari-hari tetapi bukan berarti aku tidak mencintainya. Karena aku tahu cinta bukan dikatakan, tetapi ditunjukkan, sebanyak apapun kau mengatakannya, tidak akan berarti tanpa pembuktian. 

Kali ini, aku membuktikannya... 

18 Maret--aku memutuskan mengabdikan diriku pada seorang Shirahata, utuh sampai nafasku berhenti. 

"Terima kasih untuk mencintaiku selama ini..." Ia berbisik, kalimat yang hanya bisa didengar oleh keduanya. Menggeser kepalanya, menyusuri kulit putih Shirahata dan mengecup miliknya. Hangat dan lembut, gadis ini gadisnya--miliknya seutuhnya. 

Ingatannya membawa kembali pada titian asa, ia menunduk menyesal. Tak cukup berani untuk mengajak gadis itu bicara di sekolah, bukan karena harga dirinya tetapi ia terlalu senang hingga lupa darimana harus memulai. Shirahata masih terlihat biasa saja di kelas, sorot matanya melembut kala beradu pandang dengannya tetapi Ryota menjadi canggung seolah melihat Hikari disana menyambut ayahnya dengan mata sang ibu. Mencengkram kuat pagar pembatas, sekuat mungkin menekan otot perutnya ia berteriak sekuat yang ia bisa selantang yang ia bisa. Tertinggal perih yang membara, membalut lukanya seperti garam yang ditaburkan tak tersisa, airmata dan tangis permohonan seolah tak bisa diganggu gugat. Ia ketakutan, setengah mati. Tak ingin ditinggalkan, posesif--menyakiti dirinya sendiri. Tak bisa menahannya, Ryota nyaris tak bisa tidur setiap malam. Suara Hikari memekakan telinganya memanggil ibunya, sedangkan Shirahata mungkin tidak mengetahui. Ia bangun tengah malam, kadang tidak tidur hanya untuk Hikari, hanya untuk melampiaskan rindunya pada sang ibu dari si bayi. Ia merasa kemungkinan kecil untuk membawa Shirahata, meski ia tahu tak ada ibu yang tak merindukan anaknya. Tangis pecah, lagi ia memohon untuk tidak menyakiti dirinya sendiri. Terlambat--perih sudah membusuk disana, luka menganga tak terobati. Baginya Shirahata kini menghilang, tak ada lagi di matanya, menjauh. Sadar atau tidak, baginya seseorang yang dekat akan menjauh lalu ia jatuh mengasihani diri sendiri. Bagaimana bisa mencintai seseorang yang ingin pergi? Bagaimana ia bisa menyimpan rasa ini ketika Shirahata kian menjauh dari genggamannya? Bagaimana bisa ia mengatasi ini sendirian? Hari-hari menjadi penuh tanda tanya, ia memunguti sisa-sisa harapannya membawanya pulang menuruni kuil dan kembali ke rumah. Langkahnya gontai seolah tak tahu arah mana yang dituju oleh langkah-langkahnya. 

Memanggul tasnya, menyusuri stasiun, melewati gang-gang kecil termasuk rumah Hideaki. Sedikit saja sejarah terlupakan, Saeki bukan lagi tujuannya, ia melupakannya, sudah. Hideaki Tosho dinobatkan sebagai kakak yang tepat bagi Saeki. Ia tersenyum masam, ada yang lebih penting dari sekadar Saeki, kehidupannya mulai terbentuk meminta tanggung jawabnya secara utuh. 

"Tadaima..." 

Ia lelah, tak ada jawaban. Dibantingnya pintu dan lagi terdengar suara Hikari menangis. Ryota mengintip, ibunya selama ini membantunya menggendong sang bayi dan berhenti bekerja karena katanya Hikarilah hidupnya sekarang. Meski terlalu cepat tapi ibu tak punya pilihan, ia menyambut si kecil dengan sukacita. Begitu juga Ryota, tersenyum masam kemudian menutup kembali pintunya. Menaiki anak-anak tangga yang berderit. Hening, kakinya terhenti tepat di ambang pintu. Pelan-pelan nafasnya menderu, menyapa ruang, fatamorgana tetapi nyata. Dilihatnya bayang Shirahata disana, duduk dipinggir ranjang memakai terusan biru muda dengan surai menjuntai, wajahnya lembut, sorot penuh kasih, ia rindu... Ya dia rindu. Seketika membuang tasnya, berlari namun yang didapatinya hanya ruang hampa. Shirahata tak ada disana, gadis itu lenyap dihempas khayalan. Ia mati, tangannya melayang kearah bayang semu, sejurus kemudian tangannya menembus pantulan dirinya sendiri, kepingan demi kepingan berjatuhan. Suara ini dia hapal, menjadi memorinya lagi ketika Cho ingin meninggalkannya ketika ia tidak sigap menahan Shirahata untuk tetap disini--bersamanya. Memilih pergi dan dengan bodohnya ia membuat gadis itu menangis lagi. Darah segar mengucur, jatuh berbentuk titian panjang, Ryota mati rasa. Tatap matanya tertuju pada lantai, ia duduk di pinggir pembaringan. Ada nyeri disana, perih yang tak dirasa. Ingatkah dulu saat ia nyaris mati kehabisan darah saat bertengkar dengan Shirahata? Jatuh, gelap saat dirinya berusaha untuk menyuruh Cho membunuhnya. 

Tak dilakukannya, gemetar memilih untuk menangis di sudut ruangan. 

Payah, ia tak bisa menjadi lelaki yang sempurna. Tidak bisa menjaga ibu dari anaknya, dunianya kini lenyap, berbaur dengan duka. Kosong, hampa, ia berdiri sendirian, sementara tangis Hikkari semakin kencang. Tak berlangsung lama, Ryota beringsut dengan darah yang masih mengucur setia mengikuti langkahnya. Ia tak merasa apapun kecuali pening luar biasa menyerang kepalanya. Tubuhnya mulai hilang keseimbangan, menabrak dinding, tidak ada rasa sakit kecuali melayang dan kepalanya seperti dibenturkan ke dinding berkali-kali. Kemudian ada banyak bintang dan ia melayang, terakhir jatuh bunyi berdebam dan semua sirna. 

Gelap tak menyisakan apapun untuk dilihat. Terbesit dalam ketakutannya, mungkin ini akhir dari hidupnya yang sudah menanggung dosa terlalu lama. Beningnya tertutup rapat, nafasnya semakin pelan seiring dengan detak jantungnya yang melemah. Dingin mendekapnya, putih menjadi warna dominan--semuanya terasa ringan dalam ketiadaan. 

Di usia senjanya seorang perempuan berwajah pucat baru saja menemukan jasad anaknya di bawah tangga. Tubuhnya kaku, dingin, wajahnya pucat pasi persis kertas yang tak pernah disentuh manusia. Kehilangan akal, mirip orang kesetanan, ia melarikan anaknya ke rumah sakit terdekat. Meski keputusan belum dikumandangkan, sepasang matanya kosong. Dalam dekapannya Hikkari kecil tertidur pulas, ibu anak ini tidak tahu apa yang terjadi pada anaknya, pada ayah sang bayi. Dipindahkan sang malaikat pada tangan suaminya, ia memutuskan untuk berlari sekuat tenaga, menuju rumah sebuah keluarga setelah seorang berseragam hijau mengatakan berita duka. Ia berlari sekencang yang ia bisa demi mengatakan kabar yang tak ingin didengarnya detik ini juga bahkan selamanya bahwa ia belum siap kehilangan. Matanya memerah, dadanya sesak, ia berlari tanpa berhenti ketika sampai di depan sebuah rumah dan mengetuknya dengan langkah tergesa-gesa, sore hari menjadi momok yang paling menakutkan. Seperti malam menelan surya, maka habislah kehidupan. Lelah, mungkin itu sisa kekuatannya untuk bertahan. Kepergiannya mengajarkan bahwa ada rasa sakit yang tak bisa terobati ketika cinta menjauh dan pergi. 

"Permisi! Selamat sore!" Tangannya tak berhenti mengetuk pintu rumah Shirahata, bibirnya gemetar sementara matanya sudah basah. Tak bisa lagi dibendungnya untuk putra sulungnya. Ketika pintu terbuka dan hadir seorang perempuan tatkala Tuhan tahu siapa yang dibutuhkan. Disana berdiri seorang perempuan dengan surai pekat, wanita setengah tua melompat, memeluk erat hidup putranya. 

"Cho..." Sesegukan, tak bisa lagi, ini sesak seperti dibunuh pelan-pelan, "Ryota..." 

Nafasnya tak beraturan, dilepaskannya rangkulan, ditatapnya sepasang mata kucing yang pias. Tanpa peduli siapapun yang melihat adegan ini menjadi terlalu dramatis. 

"Ada apa bu? Bicara pelan-pelan..." 

Disambarnya kembali tubuh Shirahata dalam pelukannya. 

"Ryochan..." Sungguh, ini perih. 

"Iya, Ryochan kenapa?" 

Berusaha untuk mengatakannya, mungkin ini kabar duka yang tak bisa diterima untuk siapapun bahkan untuk dirinya sendiri. Bahwa ini terlalu pahit untuk diterima seorang diri, bahkan untuk manusia yang baru saja bahagia beberapa bulan yang lalu. 

"Ryota koma... Dokter bilang keadaannya kritis."


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar