Selasa, 30 Juli 2013

Hold on to this lullaby even when music's gone.


Kau seharusnya tahu bahwa memiliki suami yang mencintaimu dan mengandung seorang anak darinya adalah sebuah kebahagiaan yang patut membuat siapapun iri. Kau punya segalanya, suami yang mencintaimu, keluarga yang menyayangimu, teman-teman yang membantumu serta jabatan yang meninggikanmu. Semua itu apa yang kurang? Apalagi kini keluargamu tengah berbahagia, mereka menantikan manusia baru yang ada di dalam tubuhmu. Menantikan ia lahir ke dunia, menanti tangisannya dan menanti manusia itu tumbuh besar. Manis bukan? Kau memilikinya, kau memiliki segalanya. Apa yang kurang?

Ivy menyisir surainya, terduduk dengan perut besar di depan cermin riasnya. Setiap hari tubuhnya bertambah berat seiring dengan jabang bayi yang semakin membesar di dalam perutnya. Tangan mungilnya masih tetap menyusuri beberapa helai yang kusut, wajahnya cenderung pucat tanpa polesan bedak apapun. Setiap kali biner cokelatnya memantul pada permukaan cermin, ia menemukan seseorang penuh dengan kebahagiaan yang mencuap-cuap, penuh dengan kasih sayang, namun setiap kali ia mengerjap ia merasa menatap sesuatu yang lain dari balik matanya. Menemukan serpihan lain dari bentuk kebahagiaan, pecahan harapan dan perasaan belum benar-benar tersusun rapi hingga kelopaknya tertutup kembali. Di balik matanya ia menemukan hal lain, dua sisi yang bertentangan. Rona merah kembali menghilang seiring dengan helaan nafas dan pergerakan menaruh sisir diatas meja. Dia sudah terlalu banyak menghabiskan waktunya di depan cermin sedangkan menit akan terus melaju tanpa berharap untuk berhenti. Memoles sedikit saja wajahnya dengan taburan bedak dan lipstick peach, ia mengambil tas kerjanya dan bergegas berangkat. Ritual pagi yang biasa dilakukannya, sarapan yang baik bagi ibu hamil untuk memenuhi nutrisi sang bayi. Satu dua teguk setelah itu sisanya dijadikan bekal saat tiba di kantor.

Tidak butuh waktu lama, dia sudah mencapai tempat kerjanya. Perutnya yang membuncit selalu menarik perhatian banyak orang, terkadang beberapa membantunya berjalan. Ini sulit bagaimana menyeimbangkan tubuhmu dengan kaki-kaki yang kecil. Sesekali ia harus menumpu tangan pada bagian pinggul dan melangkah dengan tertatih. Usia kehamilannya tidak lagi muda, menginjakkan 7 bulan kontras dengan ukuran tubuhnya yang tidak terlalu besar. Ivy masih tetap terlihat mungil, masih tetap berwajah seperti anak-anak. Membentuk lekuk sabit di bibirnya, menyapa beberapa yang lewat, butuh waktu yang cukup lama untuk sampai ke ruangannya. Untungnya ia tidak bekerja sendirian, ia memiliki seseorang yang dapat dipercaya, selama ini menangguhkan bebannya bila tak sanggup melakukan pekerjaannya seorang diri. Mila, namanya. Wanita bersurai platina dengan tubuh tinggi dan kurus namun cenderung bungkuk selalu setia menghabiskan waktunya bersama Ivy ketika berada di kantor. Dia asisten yang setia untuk segala keperluan Ivy bahkan ketika Ivy kesulitan untuk melakukan hal-hal sepele, membuat susu misalnya. Mila juga pernah mengantarkan Ivy ke rumah sakit di dunia muggle sesekali untuk memeriksa kandungan Ivy apabila ia tidak sempat memeriksanya ke St. Octavianus. 

Waktu terasa begitu cepat meski tanpa Dante disisinya. Setiap hari ada satu sampai dua surat yang mampir kerumahnya, terkadang ada benda-benda dari Rusia yang Dante kirimkan. Ivy selalu senang dengan Dante, meskipun jauh, meskipun ia tak pernah melihat raganya tetapi perasaannya tetap sampai. Seolah sang jabang bayi mengetahui seberapa besar ayahnya mencintai dia dan bayangan setiap malam akan mimpi buruknya tentang masa lalu mungkin akan segera berakhir. Karena setelah ini ia tidak memiliki urusan apa-apa dengan masa lalunya terutama dengan kau-tahu-siapa yang dia maksud. Seseorang yang selalu tertuju ketika ia membuka lembaran lalunya. Ketika ia memutar balik ceritanya dengan Dante, jauh sekali jauh sebelum sang jabang bayi lahir. Bayangan itu seakan menjadi tinta hitam di awal-awal masa keemasannya bersama Dante, nyaris tak pernah tidur semalaman dan ia membangun dinding sendiri untuk menjauhkan Dante agar tidak menyentuhnya. Berusaha sekian lama memendam apapun yang tidak ingin ia beritahu, sayangnya kebersamaan dengan Dante memaksanya untuk berani melepaskan. Untuk berani mengikhlaskan kepergian seseorang selamanya, selama ia berusaha menimbun perasaan sampai takdir berkata untuk berhenti menahannya. 

Ivy beringsut, ini musim semi. Sudah lama sekali tidak melihat kelopak-kelopak bunga mereka, mewarnai karpet hijau dan serbuk bertebaran. Ia berdiri membelakangi pintu masuk dan seolah hanya ada dirinya di ruangan. Tidak ada Mila, tidak ada tumpukan berkas, tidak ada dering telepon—hanya dia, hanya dirinya yang menatap melalui kaca-kaca jendela sambil sesekali mengelus perutnya yang membuncit. Ivy selalu menyukai musim semi, biner cokelat terangnya bisa mengamati banyak warna, merekam semangat keluarga-keluarga kecil yang bertaburan di taman-taman Amerika, sedangkan di Calix Lumina ia tidak mendapatkan apapun. Sepanjang musim ia hanya akan melihat salju, salju dan salju. Bahkan walaupun musim panas salju tidak benar-benar mongering disana. Terkadang sedikit ragu apakah nanti anaknya bisa bertahan dengan udara di Calix? Atau dia akan memutuskan untuk pindah ke Rusia?

Sayangnya opsi kedua selalu menjadi yang paling mustahil untuk diterima—mengingat ibu mertuanya selalu kontra dengan dirinya dan sama sekali tidak bisa menerima kehadirannya. Padahal hanya menunggu sedikit saja, sedikit waktu untuk dapat menerima kehadirannya, mungkin bukan dia, tapi biarkanlah sang malaikat kecil diberikan pengakuan, setidaknya ia akan bangga mengetahui ayahnya ternyata seorang yang paling berpengaruh di daratan Eropa. Hng, rasanya ia sedikit kelelahan selama berdiri, belakangan ini memang Ivy cepat lelah. Untunglah bulan persalinan hanya tinggal menunggu waktu saja, ia akan cuti panjang setelah bulan ini berakhir. 
Suara ketukan menyadarkannya dari lamunan, Ivy membalikkan tubuh dan menyuruh tamunya masuk. Tanpa melihat siapa yang masuk, ia mencoba untuk berjalan menggapai kursi kebesarannya, perlahan-lahan namun telinganya tak melepas dari sebuah suara ketukan sepatu membentur lantai. Suaranya nyaring, itu sudah biasa. Ia akan menghadapi satu lagi dari sekian banyaknya agen yang mengenakan pakaian hitam dan mata mereka yang selalu disembunyikan oleh kacamata hitam. Ah, ya dia merasa kesulitan untuk duduk. Satu tangannya menyanggah pinggul dan satu lagi menahan dibagian bawah perut. 

“Hati-hati…” 

“Ah ya terima kasih sudah…..” Ia melepas pandangannya, mengarah pada tamu yang datang, “mengingatkan.” 

Untuk kesekian kalinya Ivy ingin membunuh takdirnya sendiri. Untuk kesekian kalinya ia merasa dikhianati oleh takdirnya sendiri. Ini bukan lelucon, ‘kan? Ini bukan sesuatu yang harus ia tertawakan, ini lelucon yag sangat-sangat tidak pantas untuknya. Tuhan, kenapa kau beri aku cobaan yang sedemikian sulit? Kau jauhkan ia dari Dante tapi kau pertemukan aku dengan orang ini, salahku apa? 

“Apa kabar, Ivy?” Suara itu, suara yang sangat ingin dia dengar sejak 7 tahun silam, sejak ia dikabarkan menghilang, sejak harapannya putus di tengah jalan. Suara yang tidak pernah terdengar lagi bersamaan dengan raga yang tenggelam. Dadanya terasa sesak, seperti ditonjok ratusan tangan, nafasnya tercekat dan matanya membulat. Mungkin saat ini wajahnya lebih mirip melihat hantu di siang bolong daripada melihat manusia dengan kemeja sutra hitam, dasi hitam dilapisi jas Armani dan surai cokelat terang yang disisir sangat rapi meskipun ditata berantakan. Laki-laki ini cerita masa lalunya, cerita yang tidak pernah usai sampai detik ia ingin melupakannya. 

“Baik… Tentu saja, baik.” Memaksakan diri mengulas senyumnya, mencari posisi duduk yang nyaman. Dilihatnya Mila menghampiri membawa beberapa berkas dan kemudian memandangnya dengan ekspresi aneh. Asistennya bisa menanngkap raut wajah janggal Ivy meskipun ia berusaha tersenyum, topeng apapun dapat ditebak dengan mudah oleh Mila. Dengan hati-hati Mila meletakkan tumpukan berkas-berkas diatas mejanya. Ia menjelaskan kedatangan Sean ke tempatnya dengan hati-hati dan Ivy berusaha mencerna dengan baik ketika jantungnya mengkhianati dan mengakibatkan kepalanya tak bisa berpikir jernih. Oh Tuhan, jangan sekarang, tolong. 

Ivy mengangguk, ketika akhirnya ia berusaha menatap Sean dengan tenang. Jantungnya masih belum stabil, rona kebahagiaan seperti petasan yang dapat meletus ratusan kali. Rasa senang yang membuncah sekaligus rasa sakit karena tikaman masa lalu yang begitu pedih dan tajam, nyeri terasa diseluruh tubuhnya bahkan menekannya hingga Ivy sulit bernafas. 

“Jadi?” Ia membuka pembicaraan. 

“Yang dikatakan asistenmu itu hanya kamuflase saja, mengerti ‘kan?” 

Ivy mulai ber uh oh seenaknya, ia membuka beberapa lembar kertas pada bagian persetujuan. Dia paham—kasusnya ternyata beberapa penyihir di Amerika menggunakan hewan gaib dirumah mereka. Beberapa dalam pengawasan dan selebihnya ternyata mulai mengabaikan peraturan. Sebagai duta sudah sewajarnya ia mencintai negaranya sendiri, keamanan tentu menjadi prioritas utama. Ketika ancaman keamanan menjadi serius, Ivy harus siap sedia di tempatnya. Biner cokelatnya tak melepas pandangannya barang sedetik pun dari wajah yang begitu ia rindukan sejak tujuh tahun silam, hidung yang mancung, mata yang besar dan kecokelatan, struktur rahang yang kuat bahkan aroma Sean menghipnotis Ivy saat itu juga. Tolong, ia sudah memiliki seorang suami sekarang. Penjelasan mengenai beberapa penyihir yang menyimpan hewan gaib di dalam rumahnya, tentu saja bukan sekelas hippogriff melainkan hewan gaib dalam ukuran kecil tanpa perizinan dari kementrian sihir Amerika, ia diminta untuk bekerjasama dengan kementrian muggle di Amerika. Sayangnya Sean tak punya koneksi untuk meminta tolong pengawasan di dunia muggle. Ia tidak mengenal siapapun di dalam kantor kementrian Amerika dunia muggle. Kementrian sihir memintanya untuk tetap berlaku stabil, takut kalau penyihir ini lambat laun akan membuka identitas mereka pada dunia. Ia pikir hanya ada satu atau dua orang saja yang memiliki hewan gaib, ternyata data menunjukkan lima puluh lebih dari mereka yang memiliki hewan gaib dan hanya beberapa yang memiliki lisensi pemeliharaannya. 

Kebanyakan muggle di dunia Amerika kelewat sangat rasional, mereka jarang percaya sihir bahkan dongeng-dongeng konyol seperti ini. Maka ketika diutus untuk melaksanakan kerjasama dengan kedutaan Amerika ia merasa pusing dan tidak tahu strategi apa yang digunakan. Tetapi ketika Kementrian memberikan nama seseorang yang dijanjikan sebagai relasi paling dekat dengan kementrian muggle di Amerika, ia merasa tidak asing dengan nama itu. Ya, Viervhy Leandra Athena. Nama yang tidak pernah asing di telinganya, maka Sean menyanggupi tugasnya melakukan diplomasi meningkatkan hubungan kerjasama. Ia pikir ini akan lebih mudah, sangat amat mudah meskipun ia harus merasakan gejolak batin di dalam dadanya saat pertama kali bertemu—kembali dengan Ivy. 

Ivy mengangguk, menghabiskan separuh dari lamunannya hanya untuk mengamati paras Sean. Ia menghela nafas, pikirannya sekarang sedang tidak karuan, hanya bisa mencerna, bukan lantaran ia bodoh atau tidak mengerti pokok masalahnya, lebih karena ia ingin sekali pulang dan terbangun dari mimpi yang sudah lama ingin dilupakannya. Menghapus memori tentang McKinley saat ini juga dan mengenyahkan pikiran apapun yang menjadi dasar terganggunya pikiran seorang Ivy. 

“Hmm, ya aku mengerti. Disini memang nyaris tidak ada yang percaya tentang sihir, mereka selalu menganggapnya dongeng pengantar tidur,” Mengulas senyumnya, “ada lagi yang bisa kubantu?”

“Itu saja…” Ivy meraih berkas-berkas diatas meja dan menumpuknya menjadi satu. Satu tatapan mengganggunya, ia melepas barang sedetik arahan matanya dari tumpukan berkas, “terlalu kaku…” 

“Pardon?” 

“Kau,” 

Ivy mengernyitkan keningnya, “Kenapa denganku?” 

“Sudah lama tidak bertemu, kau terlalu kaku, maksudku terlalu formal untuk teman lama.” Sean terkekeh, tawa ringan yang selalu ingin dia dengar sejak berada di tingkat dua, saat ia menantikan senyum sederhana dari pemuda sederhana menjadi tawa yang khas di telinganya. Ivy mendadak gugup, pipinya merona merah seraya membuang wajah. 

“Karena berada di kantor, ‘kan? Profesional itu perlu, McKinley.” Lagi, ia memaksakan diri mengulas senyumnya. 

“Oh, kalau begitu… Kau ada waktu sebentar setelah ini?”

“Untuk?” 

“Makan siang di luar mungkin…” Sean mengedikkan bahunya. 

Hangat menjalar, Sean mengajaknya untuk waktu informal di luar jam bekerja. Biasanya ia akan menganggapnya sebagai permintaan khusus kliennya, tapi kali ini kenapa rasanya sangat berbeda. Biasanya ia akan dengan malas memenuhi permintaan kliennya soal makan siang di luar, cuaca terkadang tidak bersahabat, tetapi dengan Sean segalanya menjadi tidak terkendali. Tanpa menunggu waktu, ia segera memenuhi ajakan kliennya itu. Ini menimbulkan pertanyaan besar, bagaimana Mila menatapnya dengan sangat aneh dan ia menuntut jawaban ketika Ivy menyambar tas kerjanya dan meninggalkan ruangan bersama McKinley dengan wajah berseri. Ivy berhutang cerita pada Mila saat ini. Tidak jauh dari kantornya, di dekat taman St. Morris. Ada sebuah restoran bergaya Eropa dengan desain sederhana zaman romawi kuno. Makanannya lezat, mereka memasang berbagai menu khusus bahkan untuk ibu hamil. Ivy lupa kalau dirinya sedang berbadan dua saking senangnya dia bertemu dengan Sean. Pemuda itu tidak mengalami banyak perubahan, penampilannya masih sama hanya pundaknya lebih bidang, tubuhnya lebih tegap dengan garis wajah yang tegas serta aroma laki-laki yang sangat kuat. 

“Sudah lama sejak di Yellowstone…” Kata-kata ini membuatnya mendongak, menatap raut wajah yang mendadak pias tapi berusaha tersenyum, sayang pandangan mata itu kosong. 

“Sangat lama dan kau menghilang lagi?” Menaikkan alisnya. 

“Aku tidak menghilang,” 

“Oh…” 

Keadaan menjadi sangat hening, masing-masing bergelut dengan pikirannya sendiri. Baik Ivy ataupun Sean, keduanya sama-sama tak tahu bahan pembicaraan apa yang pantas untuk siang ini. Ivy berusaha menyibukkan diri dengan cara memotong-motong beef yang menjadi menunya siang ini. Memaksa mulutnya untuk mengunyah meskipun ia tidak sedang lapar. Sean, dia tahu pemuda ini mungkin melakukan hal yang sama. Ivy hanya berharap, detik ini juga biarpun ini hanya mimpi, jangan bangunkan dia meskipun dunia hancur saat ia tertidur lelap. 

“Maaf waktu itu aku tidak datang ke pernikahan kalian…” 

Permintaan maaf yang menurut Ivy tidak pantas diucapkan, itu hanya akan menggoreskan luka. Ingatkah bahwa ia menunggu sosok McKinley tiba di depannya, mengulurkan tangan alih-alih memberinya selamat tetapi malah mengajaknya pergi bersamanya kemudian keduanya hidup bahagia. Ivy hanya menarik sudut bibirnya, asimetris, ia tak sanggup menahan gejolak menyedihkan di dalam dadanya, sama sekali tidak bisa ia tahan. Bahkan tangannya ingin sekali melempar Sean dengan gelas, betapa menyebalkan sosok McKinley. 

“Tidak apa-apa, aku tahu kau sibuk…” Senyumnya merekah, menahan kepedihan. Susah payah untuk tidak mengambil lembaran lama dan membuka seluruh coretannya, menggantinya dengan kalimat-kalimat baru yang lebih pantas untuk menggambarkan situasi hening seperti ini. 

"Bukan itu,” Sejenak Ivy terdiam, menunggu lanjutan kalimat yang akan diucapkan pemuda McKinley, “terkadang ada beberapa hal yang harus aku lewatkan, demi menjaga sesuatu yang berharga.” 

Anggap saja Ivy tidak pernah mengerti apa yang dibicarakan McKinley saat ini. Alih-alih lebih tertarik dengan beefnya daripada pembicaraan yang berujung pada kelukaan. Pedih menggantung disisinya, menggoyahkan harapan bahkan mungkin keinginan untuk tetap berada di jalan yang benar. Ingatkan ia, saat ini ceritanya sudah selesai, ini hanyalah bagian terkecil dari ingatan masa lalu yang belum tuntas sekadar dongeng pengantar tidur selama ia menaungi masa kecilnya. 

“Kau bahagia, Ivy?” 

Percaya atau tidak, pertanyaan ini benar-benar membunuhnya, menikamnya hingga tidak bisa bernafas barang sedetik pun. Tangannya mendadak gemetar, jantungnya memompa darah terlalu kuat, nafasnya tercekik di kerongkongan. Bahagia, satu kata sederhana namun terlalu rumit untuk dijabarkan. Bahagia, ia Tanya hal itu. Bahagia adalah perasaan yang seharusnya ia rasakan, bahagia memiliki suami yang mencintainya, menyayanginya, bahagia memiliki sang jabang bayi, bahagia karena akan menjadi wanita seutuhnya setelah melahirkan darah daging dan buah cinta suaminya. Harusnya hal itu bahagia ‘kan? Sulit, terlalu sulit untuk merepresentasikan definisi bahagia. Bahagia, tetapi juga menyakitkan. Ia harus mengatakan apa? Mungkin ia bahagia dengan Dante—pria yang baik, bermartabat, memiliki kedudukan, dihormati segala kalangan, penyayang, mengerti bagaimana perjuangan Ivy melupakan seorang Sean. Bukan, Ivy tidak akan pernah melupakan Sean sekalipun ia dikabarkan telah meregang nyawa—melupakan perasaan itu lebih dari segalanya, sulitnya bukan main. Ia berjuang selama beberapa tahun terakhir untuk benar-benar membuka lembaran baru dengan sisa-sisa kenangan lama yang masih dan akan terus menempel di kepalanya. 

“Menurutmu?” Memasukkan sepotong daging ke dalam mulutnya tanpa melihat lawan bicaranya.

“Kau pasti bahagia ya? Buktinya sudah terlihat.” Sean tertawa renyah. 

Tertawa saja, tidak tahu ‘kan kalau perempuan di depanmu ini mau menangis? 

Ivy mati-matian menjaga agar airmatanya tidak mengalir sembarangan, agar ia bisa menyembunyikan perasaannya yang hancur saat ini. Mengingat darah daging Dante ada di dalam perutnya dan kini ia harus berhadapan dengan seseorang yang ia inginkan untuk menanam benih di dalam tubuhnya. 

“Yang kudengar gosipnya sih, katanya kalian membuat beberapa teman-teman seangkatan sangat iri. Dante pasti sangat menyayangimu, dia pasti sering menemanimu dan si kecil itu ‘kan? By the way sudah berapa bulan usianya?” Racauan itu seperti bom atom yang ingin meledak tepat di telinganya. Tangannya mulai gemetar, memotong daging-daging saja ia harus susah payah. Ada perasaan seperti tertohok di bagian jantung, kali lain ia harus belajar untuk benar-benar memisahkan antara pribadi dengan pekerjaan. Ivy ingin sekali memperlakukan Sean sebagai teman lama, bukan sebagai kisah masa lalu yang belum selesai. Ivy ingin sekali menganggap segalanya sudah selesai, tidak perlu merasakan sesak setiap kali mengingat bahkan melihat Sean di depan matanya. Dia sudah lelah, terlalu lelah untuk mengingat serpihan kenangannya. Memeluk lukanya, membalutnya namun setiap kali ingin sembuh selalu saja terbuka kembali, bagai menabur garam diatas luka—perih. Mati-matian ia menahan laju emosi, ini bukan sembarang emosi yang berujung pada amarah melainkan emosi yang beruju pada kelukaan. Menangis mungkin satu-satunya jalan keluar ketika ia tak bisa lagi menahan perasaannya terlalu lama, ingin sekali menghambur ke dalam pelukan McKinley. Selama tujuh tahun, ia pikir ia berhasil menyingkirkan bayangan Sean, dia pikir tujuh tahun adalah waktu yang cukup bagi Ivy untuk menghindari kenyataan bahwa ia dan Sean tak bisa bersama. Sayangnya tujuh tahun ini juga memberikannya kenangan yang tersisa, perasaan yang tertinggal. 

“Itu hanya gossip saja, Sean. Dante sedang tidak berada disini, dia di Rusia, kerajaannya butuh sosoknya saat ini. Ah kebetulan sudah 7 bulan,” Pun untuk tersenyum rasanya sangat pahit, ada getir yang menjalar di dalam nadinya, menusuk-nusuk hingga membuat lubang yang semakin besar, “jadi bagaimana denganmu? Sudah menemukan perempuan yang cocok? Apa kau sudah menikah?” 

Memaksakan diri menatap mata seseorang yang dengan pertimbangan ketika kau ingin melihatnya karena rindu yang membuncah atau kau tidak ingin melihatnya dengan alasan sakit setiap kali kau melihat kedua matanya. Kali ini gentian Sean yang memalingkan wajah, posisi duduknya tak lagi formal, ia bersandar pada kursi dan membiarkan kakinya lurus di bawah meja. Ivy menghela nafas, mungkin pertanyaannya sama-sama membuka luka lama. Padahal ia ingin sekali bertanya tentang kenapa selama ini menghilang, kemana saja, apa yang Sean lakukan selama menghilang, kenapa tidak memberikan kabar dan yang lebih penting adalah apa Sean memiliki perasaan yang sama dengan Ivy? Apakah dia bahagia melihat Ivy bersama Dante sekarang? Pikirannya terus berputar, seolah tergugu mendengar jawaban Sean. Lidahnya mendadak kelu, ia tidak bermaksud membuat Sean tidak ingin bicara dengannya lagi. Dia hanya ingin tahu apakah Sean telah menemukan penggantinya, lebih tepatnya seseorang yang dapat membuat pria itu merasa nyaman, tersenyum dan tertawa sama seperti ketika keduanya baru bertemu pertama kali. Kau tahu, selama tujuh tahun ini senyum Sean tak pernah berubah, ia selalu menyukainya, ia selalu menyukai sikap hangat Sean—sampai kapanpun, meskipun Dante akan marah bila ia terus menerus seperti ini. 

“Sulit mencari seseorang yang dapat membuatku tersenyum—seperti dulu…” Kecut, ia mendapati ekspresi wajah tak seimbang dengan kalimat barusan. Seperti ada sesuatu yang menyakitkan dibalik mata seorang Sean. Ivy meraih gelas berisi cairan limunnya, menyesapnya perlahan, membiarkan kerongkongannya terisi oleh cairan. Kering menggantung sama dengan suasana saat ini. 

“Oh, bukankah di kota ini banyak sekali gadis-gadis cantik?” Ivy semakin memaksakan diri untuk mendesak Sean, padahal ini bukan keinginannya, sama sekali bukan hal yang ingin dilakukannya—menyudutkan Sean bukanlah hobinya. Dua sisi—senang dan sedih. Entah dia harus merasakan sedih atau senang ketika Sean mengatakan kalau ia belum menemukan perempuan yang dapat membuatnya tersenyum, it means Sean masih seorang diri mengarungi dunia. Ia belum menemukan belahan jiwanya bahkan mengikatnya di depan altar, tidak seperti Ivy yang sudah lebih dulu memutuskan untuk mengikat diri dengan Dante. Sedih—menyesali keputusannya yang sangat gegabah, seharusnya ia bisa lebih sabar menunggu Sean, seharusnya dia menolak tawaran Dante yang ingin menjadikannya ratu. Kalau saja ia sudah tahu lebih dulu seperti apa kehidupan sebagai seorang ratu, kalau saja ia tahu masa depannya sejak lama, seandainya dia tahu kalau Sean akan kembali kehadapannya, mungkin ia bisa memutuskan kalau ia tidak perlu menikah dengan Dante, ya dia tidak perlu repot-repot bersandiwara kalau selama ini dia bahagia. Sayangnya, takdir sudah mengaturnya, sudah menuliskan ceritanya lebih dulu. Ivy hanya bisa meretaskan senyumnya, meneguk pil kekecewaan sampai habis. Kelereng cokelatnya dengan jelas melihat kelukaan disana, Sean mungkin bisa melepaskannya, Sean mungkin akan menganggapnya sebagai orang yang berdosa. Tidak, sayang… Ivy tidak tahu apapun yang Sean pikirkan, pemuda ini hanya berusaha untuk tidak menimbulkan riak selama pembicaraan ini berjalan. Ia hanya bisa berasumsi kalau Sean mungkin ingin memperbaiki hubungan yang telah lama rusak, jembatan yang terputus, sayangnya jembatan itu sudah diikat kembali oleh orang lain, kali ini lebih kokoh, lebih kuat dan lebih indah dengan kayu yang nyaris dimakan rayap. Ivy tak sebahagia kelihatannya, selama apa yang ia yakini untuk dilepaskan pada kenyataannya masih ia genggam dengan erat. Tuhan, jangan lagi membuatnya bimbang dalam kondisi seperti ini. 

Dua jam—pertemuan yang cukup singkat namun menguras emosinya. Persediaan airmatanya nyaris terbendung dan siap keluar begitu ia tiba dirumah. Ivy mendongak, melihat jam dan ternyata sudah menunjukkan pukul tiga. Belakangan sejak kehamilannya berada pada usia diatas empat bulan, Ivy semakin memperpendek jam kerjanya, ia tidak betah berlama-lama berada di dalam kantor, terkadang ia memutuskan untuk bekerja setengah hari, untungnya atasannya mengerti kondisi Ivy yang sekarang jadi tidak terlalu menimbulkan masalah. Hanya saja ia harus menimpakan pekerjaannya kepada Mila, gadis itu tidak pernah mempermasalahkan pekerjaan yang sangat banyak. Dia cukup teliti dan cekatan dalam memahami konsep pekerjaan dan nyaris tak pernah melakukan kesalahan. Ah, dia beruntung sekali. Ivy memutuskan untuk kembali pulang saja, kalaupun kembali di kantor rasanya tidak enak. Pasti ia akan menangis setelah pertemuan ini, lebih baik pulang dan tidur saja. Biarkan saja emosi ini meluap dengan sendirinya, biarkan saja ia menahan tangis di balik matanya, biarkan saja. 

Ivy beringsut dari tempatnya, dengan cepat dan cekatan Sean sudah lebih dulu mengawasi gerakannya. Ia memundurkan kursi dan memegangi punggung Ivy. Seketika itu ia meyakinkan diri untuk menahan nafasnya dan tidak berharap lebih, sungguh. 

“Rumahmu dimana?” 

“Calix Lumina…” 

Ivy meraih tasnya, menyampirkan di bagian pundaknya. Kentara sekali Sean sangat terkejut dengan letak rumahnya yang bisa dibilang jauh dari tempatnya bekerja. Ivy biasa menggunakan perapian ketimbang pintu masuk resmi gedung kedutaan untuk para penyihir. 

“Kuantar saja, itu lumayan jauh. Kau tidak mungkin pulang sendiri, ‘kan?”

Ivy menimang-nimang. Dia memang tidak biasanya pulang sendirian, biasanya ia meminta tolong peri rumah atau Narumi yang menjemputnya. Ivy seringkali merepotkan banyak orang dengan kehamilannya. Kali ini ia merepotkan Sean, padahal ia tidak suka merepotkan banyak orang. Ia tidak suka menjadi beban banyak orang, Ivy membuka mulutnya namun tertahan karena Sean sudah lebih dulu merangkulnya. Ini merupakan pemandangan yang janggal kalau saja orang-orang disini tahu bahwa Ivy sudah memiliki suami dan tengah mengandung anak dari suaminya tetapi malah berjalan berangkulan dengan pemuda lain. Lain halnya kalau publik menyangka bahwa Sean lah suaminya dan Ivy tengah mengandung anaknya. Itu khayalannya, impiannya sejak dulu sejak dia bertemu dengan Sean di kelas telaah muggle. Impian yang sudah lama ia kubur karena kali ini bukan Sean lah masa depannya. Mati-matian Ivy menyembunyikan rona kemerahan di wajahnya, mati-matian pula ia menahan degup jantung yang semakin keras. 

“Oh great, beda benua, right? Lewat mana?”

“Aku biasa pakai perapian, seharusnya sih dijemput adikku, tapi sepertinya dia sedang sibuk.” 

“Oh well, perapian?” Sean mengangguk, mengantar Ivy menuju perapian. 

Perapian berada di dalam ruangannya, dibuat dan didesain dalam sebuah ruangan khusus agar orang lain tidak mencurigai kalau tiba-tiba Ivy menghilang tanpa jejak. Mila tahu kalau Ivy seorang penyihir, awalnya gadis itu terkejut dan menyangka Ivy gila. Tentu saja, Ivy sangat khawatir dengan keadaan mental Mila saat itu tapi yah mau bagaimana lagi? Mila lambat laun terbiasa dengan identitas Ivy saat ini. Mila juga selalu menutupi identitasnya bila ada muggle lain yang menanyakan Ivy. 

“Aku akan pulang sekarang, Mila. Katakan saja pada yang lain seperti biasa. Oh ya, jangan katakan apapun tentang aku diantar oleh Tuan McKinley, aku ada sedikit urusan dengannya. Dia teman lamaku.” Mengulas senyumnya dan Mila mengangguk. Ivy memutuskan untuk lebih dulu menggunakan perapian kemudian diikuti Sean. Tidak butuh waktu lama untuk sampai di Calix Lumina. Suasana yang dingin, ia sudah terbiasa dan Sean mendadak merasa dingin dilihat dari gesture yang memeluk tubuhnya sendiri. Ivy melirik Sean yang nampak susah payah beradaptasi dengan lingkungan Calix, sesekali terkikik. Beberapa kali pemuda itu merutuki daratan Calix yang dingin. Padahal ini musim semi, tapi salju tak sepenuhnya mengering. Percayalah sekalipun musim panas, Calix selalu diselimuti salju. Ia juga bingung kenapa dulu memutuskan untuk tinggal di Calix, kalau ada tempat-tempat lain apalagi Calix sangat jauh dari tempatnya bekerja. 

“Kau bisa tahan tinggal di daerah sedingin ini?” Tangan itu gemetar, asap putih keluar ketika Sean membuka mulut untuk bicara. 

“Menurutmu? Aku sudah lama pindah kesini, Sean.” Mengulas senyumnya, mulai melangkah meninggalkan daratan tempatnya mendarat tadi. 

“Oh well, bayimu tidak rewel, huh? Kau tahu ini dingin sekali, ya tuhan bahkan ini sudah musim semi.” 

“Salju disini tidak pernah benar-benar mencair sekalipun disengat matahari pada musim panas, percayalah.” 

Kemudian disusul tawa dan tidak terasa kalau keduanya sudah sampai di depan pintu rumah minimalis. Tangan kecilnya meraih gagang pintu, menekannya ke bawah sampai terdengar bunyi dan pintu terbuka. Disambut hangat, suasana di dalam rumah tak seperti diluar. Kebanyakan rumah di Calix memiliki suasana rumah yang hangat berbanding terbalik dengan suasana diluar. Maka Ivy tidak merasa heran kalau Sean sangat bingung dengan perubahan suhu di luar dan di dalam rumah. Ivy mempersilahkan Sean masuk, sedangkan ia sendiri pergi ke dapur mencari Mom. Kemungkinan Mom tengah memasak makan malam tercium dari aroma yang berasal dari dapur. Ia menoleh ke dapur, didapatinya Bibi Weisz disana, Ivy segera menghampiri. 

“Mom kemana?” 

“Dia sedang pergi ke Sallowsville sama ayahmu.” 

“Mereka menginap?”

“Tidak, hanya pulang setelah makan malam.”

“Eh yah…” 

“Ada apa? Ada tamu?” Ivy mengangguk, “temani saja, nanti akan kubuatkan minum. Jangan banyak bergerak. Kau pasti lelah, Ivy.” 

Ivy kembali meninggalkan dapur, ia duduk di sofa tepat di depan Sean. Sembari menunggu minuman datang. Sean terlihat nyaman dengan suhu di dalam ruangan, Ivy sendiri menyandarkan dirinya sembari tangannya memegangi perut yang membuncit. 

“Kau tinggal sendirian?”

“Tidak, ada Mom, Dad, Bibi Weisz, terkadang adikku tinggal disini, tapi saat ini dia berada di Sallowsville.” 

“Oh, adikmu? Suasananya sepi sekali…” 

“Hanya ada Bibi Weisz saat ini, dia pengasuhku. Oh ya, Mom dan Dad sedang pergi ke Sallowsville, mereka mengunjungi adikku. Jangan Tanya kemana Dante setelah ini,” Memaksa bibirnya untu tersenyum sementara Bibi Weisz datang membawakan minum, “ah, ini dia. Sean kenalkan ini Bibi Weisz, dia yang mengasuhku dulu selama Mom tidak ada, dan Bibi Weisz ini Sean McKinley teman lamaku, dia alumni Salem juga.” 

Bibi Weisz nampak terpana—ia harus mengakui siapa yang tidak terpana bila melihat Sean. Kulitnya yang putih kemerahan dengan hidung mancung, mata besar bibir tipis serta tatanan rambut cokelat yang agar berantakan tetapi potongannya sangat rapi. Ah belum lagi penampilannya dengan kemeja sutra hitam dan dasi hitam, memperlihatkan otot-ototnya meski terbungkus rapi, belum lagi aroma musk yang menguar ketika berada di dekat Sean. Wanita berumur pun akan terpesona apalagi mendapati pria itu tersenyum dan memperlihatkan sederet gigi-gigi putihnya. Bibi Weisz menjabat tangan Sean dan kembali ke dapur setelah perkenalan singkat. 

“Kau tidak pernah merasa kesepian selama Dante di Rusia?” 

Ivy memutar bola matanya, kesepian atau tidak sebenarnya dia merasa sangat kesepian. Dante memang jarang bicara, tipikal pria pendiam dan lebih sering menutup diri. Dante lebih suka bertindak ketimbang bicara, sikapnya selalu membuat Ivy merasa aman dan hangat. Ia selalu bisa menjadi putrid yang bahagia ketika Dante berada disisinya, tapi ia juga bisa menjadi seorang putrid yang terluka ketika Dante meninggalkannya. 

“Hmm, terkadang…” 

“Siapa yang mengantarmu ke dokter selama Dante tidak ada?” Tatapan Sean seketika menghangatkannya, ia mendengar ada nada kekhawatiran dari balik lidahnya. Ah perasaan ini sudah lama tidak Ivy rasakan. 

“Narumi kadang Mom, tapi lebih sering asistenku di kantor, Mila. Bila aku libur bekerja, orang rumah yang akan mengantarku, tapi kalau jadwal pemeriksaan jatuh pada saat aku bekerja, maka aku meminta Mila mengantarkanku ke rumah sakit muggle.” Ia terkikik. Ada sarat kesedihan disana, sebenarnya bila ia jujur. Selama mengandung, Ivy ingin sekali Dante menemaninya walau hanya sekali. Ia ingin Dante mengetahui perkembangan anak mereka, mengetahui bagaimana bayi mereka mendapat tempat yang nyaman di dalam rahim Ivy. Setiap kali bertukar surat dengan Dante, Ivy ingin sekali menyuruh Dante pulang dan menguncinya agar tidak ada seorang pun yang memisahkan dia dengan Dante, sayangnya tidak bisa. Ia tidak bisa berlaku positif, Rusia lebih membutuhkan Dante ketimbang dirinya bahkan bayi mereka. Lagipula kalau ia boleh jujur, ia tidak bisa bersikap terlalu protektif kepada Dante, tidak seperti dulu saat dirinya terjebak dalam kenangan seorang McKinley. 

“Kau wanita yang tangguh, calon ibu yang kuat. Aku tidak mengerti, seharusnya Dante disisimu, ‘kan? Apalagi sebentar lagi kau akan melakukan persalinan, oh baiklah aku seperti sedang menggurui kalian.” Sean mulai terlihat frustasi. 

“Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa mandiri, Sean. Aku tidak ingin merepotkan siapapun terutama suamiku.” 

“Oh yah, tapi bahaya sekali ‘kan? Kalau aku menjadi Dante, aku pasti akan selalu berada di sisi istriku sampai anak itu lahir ke dunia, aku pasti akan mengantarnya ke dokter dan aku ingin selalu tahu bagaimana perkembangan bayiku.” Seolah-olah mengatakannya dengan wajah tak berdosa. 

Itu menyakitkan—bagaimana ia mulai berkhayal kalau ia tengah mengandung buah hati dari McKinley dan bukan Dante. Ini membunuh ketika ia mendengar sederet kalimat yang diucapkan McKinley barusan. Urat-urat di wajahnya mengeras, tangannya mendadak dingin, biner cokelatnya menatap lurus dan kosong seolah hanya ada penyesalan di depannya. Ia bertanya-tanya sendiri benarkan Dante menginginkan makhluk kecil ini lahir ke dunia? Bukan hanya sebagai penghias bagi status keduanya? Matanya kini mengarah pada McKinley yang masih duduk dengan posisi santai. Sesekali menggeleng, mendongak untuk menahan beberapa tetes yang akan mengalir dari matanya. Ia tak pernah bisa menahan emosi yang terlalu kuat—tidak pernah bahkan saat memutuskan untuk melupakan Sean lebih dari itu bahkan saat ia tahu Sean pernah kembali ke Salem pada saat-saat terakhir ujian kelulusan. Itu menyakitkan—tentu saja. Ia tak pernah berharap kalau pertemuannya dengan Sean akan menguras emosi yang sedemikian besar hingga sesak tak dapat lagi ditahan. Seolah Tuhan mengujinya, sejauh mana ia melupakan McKinley, sejauh mana jalannya untuk menatap kembali masa depan bersama Dante. Bibirnya mengukir getir, sekali lagi dilihatnya McKinley dengan mata berkaca-kaca, menahan beban perasaan yang begitu mencekiknya. Namun buru-buru ia hapus sebelum mengundang kekacauan bahkan sebelum Sean sempat menoleh kepadanya. Ivy sudah memasang wajah penuh senyuman seraya mempersilahkan Sean meneguk minumannya. 

“Sudah waktunya aku pulang…” Waktu berjalan semakin cepat, Ivy memeriksa jam dinding rumahnya, sudah menunjukkan pukul lima sore. Perbincangan yang menyenangkan, dua jam tertawa dan mengenang masa-masa sekolah mampu membuat Ivy melupakan kesedihannya, melupakan ketidakhadiran Dante disisinya. Kembali merasakan masa-masa duduk di bangku sekolah, banyak yang dibicarakan meski hanya berupa topic-topik ringan, itu sangat membantu Ivy menjernihkan pikirannya. Sean mengatakan padanya kalau dulu ia sempat mengira Ivy adalah anak kecil yang salah masuk Salem. Ukuran tubuhnya memang kecil untuk anak-annak seusianya maka Ivy tak marah ketika Sean menilainya salah masuk Salem. Perbincangan yang terus berlanjut selama hampir dua jam di dalam rumah, nyaris terisi dengan tawa dan ingatan-ingatan yang sedikit konyol menurut keduanya. Kalau saja ya kalau saja menit bisa sedikit lebih lambat, ia ingin sekali menahan Sean dirumahnya, sayang ia bukan lagi seorang gadis tanpa seorang pendamping. Masih lebih ringan bila ia dan Dante hanya sebatas kekasih tetapi lebih dari itu, kedatangan Sean akan menimbulkan pertanyaan besar bagi pihak manapun terutama keluarganya. Sean mohon pamit pada dirinya, ia lantas berdiri dan bergerak menuju pintu. Ivy sebagai pemilik rumah bermaksud mengiringi pemuda itu sampai pintu. 

“Aku senang berkunjung kesini, tidak salah memang kementrian memberikanku tugas untuk berhadapan denganmu, Ivy.” 

“Ah jangan terlalu meninggikan, sebaiknya hati-hati saat pulang.” Ivy meraih pintu, menelengkan kepalanya. Menatap biner cokelat yang sama dengannya, senyumnya terlampau merekah. Mendadak menjadi panas ketika tangan Sean terulur untuk mengacak-acak surainya. Terkadang Dante melakukan itu ketika Ivy merajuk. Hmm… Dan kemudian suasana mendadak hening, keduanya terdiam. Ivy menyimpan kalimat-kalimat lain yang ingin dia katakan sedangkan Sean nampak diam dengan tingkahnya yang tak mengeluarkan sepatah kata apapun dari bibirnya. Pecah ketika Sean mengulurkan tangan, menggapai jemarinya. Perasaan hangat yang tak pernah ia dapatkan bahkan ketika berhadapan dengan Dante, sekalipun Dante memperlakukannya demikian bak ratu yang terhormat. Pipinya memerah, menahan degup jantung yang berdetak bagai pacuan kuda. 

“Aku bersedia menempati posisi Dante selama dia pergi, jangan sungkan untuk menghubungiku, Ivy.” 

Ivy mendongak, menaikkan sebelah alisnya. Tidak benar-benar maksud dari pembicaraan Sean. 

“Maksudmu?” 

“Kau sedang berbadan dua, butuh pengawasan dari semua pihak terutama suamimu, paling tidak kau butuh diperhatikan terutama saat memeriksakan kandunganmu, ‘kan? Mulai sekarang, aku akan menemanimu—tentu saja selama Dante di Rusia, anggap saja pengganti dari masa-masa ketiadaanku.” 

Kata-kata itu seolah mendekapnya terlalu erat, menimbulkan rasa panas pada kedua matanya, kabut mulai menyelimuti pada bagian cokelatnya. Satu kedip saja, airmata itu akan meluap dan meluncur bebas. Saat ini memang seharusnya ia butuh seseorang yang menjaga, Ivy tak memungkiri rasa iri setiap melihat para wanita muda yang tengah mengandung berjalan-jalan di taman kota dengan suami mereka atau ketika ia pergi memeriksakan kandungannya, ia selalu menangkap pemandangan yang diinginkannya bahkan sejak usia kandungannya baru menginjak beberapa minggu. Mereka—para calon ibu selalu ditemani oleh calon ayah, tidak sepertinya. Selalu Narumi bahkan Mila, ia seperti tak diberi kesempatan menikmati detik-detik menjadi calon ibu. Dante hanya tahu melalui surat, tidak pernah melihat keadaan bayi-nya. Sean mengatakan hal yang benar tadi, kalau seharusnya seorang suami berada disisi istrinya yang tengah mengandung, menikmati masa-masa tumbuh kembang janin keduanya. Ivy menunduk, menyadari betapa kebenaran itu menohok dirinya dalam sekali ucap. Menyadari rasa kesepian yang sudah terlampau lama terpendam, ia tak memungkiri bila ia menginginkan tempat bersandar. 

“Tidak perlu repot-repot, Sean. Dante akan marah bila tahu kau terlalu baik padaku.” Ujarnya dengan suara parau akibat menahan tangis. 

“Apa pintu itu sudah tertutup? Pintu yang selama ini sudah kau buka untukku?” 

Ivy mendongak, sesak yang mengikatnya tak bisa lagi ditahan—perasaan ini mencekiknya. Menyuruhnya membuka lembaran lama dan menatap sebuah coretan dengan penuh kepedihan. Senyum asimetris tersungging di bibirnya, mengenyahkan sedikit saja keteguhan hatinya untuk melenyapkan sosok McKinley di kepalanya. 

“Aku tidak tahu. Pulanglah sebelum semuanya terlambat..” Dan ketika kalimat itu berakhir, ia merasakannya—sebuah pelukan, sebuah pelukan yang sudah lama didambakan olehnya, sebuah pelukan yang menyeluruh. Jarak menjadi penebus rindu yang menghilang selama tujuh tahun. Digantikan dengan tangis penuh sesak serta keteguhan yang semakin lama memudar. Ivy membenamkan kepalanya di tubuh Sean diiringi isak yang dalam. Memohon agar tangisannya dapat berhenti barang sedetik saja, Dante akan sangat marah—tidak, Ivy lebih takut Dante kecewa karena selama ini usahanya untuk membuat Ivy bahagia adalah sia-sia. Meskipun tak sepenuhnya benar. Ivy bahagia, sangat bahagia. Tetapi ia tidak bahagia ketika harus berpura-pura melupakan perasaannya kepada Sean. Dia lelah terlalu lelah untuk bersembunyi dan berlari, selama ini ia telah menghindari sosok yang kini memeluknya. Berlari berharap persembunyiannya tak dapat ditemukan. Malang Tuhan tak mengizinkannya barang sedikitpun untuk melupakan. Anggap saja ini ujian. Cukup lama bagi Ivy merasakan segalanya seperti mimpi tak berkesudahan, Sean mengusap puncak kepalanya dan ia dapat merasakan dengan jelas ketika pemuda itu mencium puncak kepalanya. Hanya berharap bila Bibi Weisz tidak meninggalkan dapur dan tidak melihat adegan memalukan seperti ini. Bila ia tidak mengingat statusnya sebagai istri orang, Ivy tidak akan melepaskan pelukan tadi secara sukarela. Sayangnya ia harus melepaskannya sekarang, sebelum menjadi bahan omongan orang lain disini. 
Menghirup nafas dalam-dalam, menghapus airmatanya mengganti dengan senyumannya kembali. 

“Sean, pulanglah.” Suara itu lebih terdengar seperti bisikan ketimbang perintah. 

“Kau harus berjanji padaku untuk terus menghubungiku, setidaknya aku akan menebus waktu yang hilang sebelum terlambat, sebelum waktu mengharuskanku… yah kau tahu maksudku, Ivy.” 

“Tentu saja aku tahu, jauh lebih tahu daripada dirimu, Sean. Terima kasih, akan kupertimbangkan tawaranmu tadi.” Seulas senyum terukir di wajahnya. Meski kebimbangan masih merayap di pikirannya. Sean menatapnya, sorot itu jelas menuntut agar janjinya dipenuhi, butuh waktu satu menit menunggu Sean membalikkan badan dan kemudian melangkah meninggalkan pintu utama. 

“Sean…” Tubuh itu berbalik dengan kernyitan di dahinya, “jangan sia-siakan kesempatan kedua.” Lagi, ia tersenyum dalam kubangan luka. Menggoreskan lebih dari satu pecahan sakit pada kulit hatinya. Menyeruak bagai koreng yang tidak pernah sembuh bahkan mendekati amputasi. Sean mengangguk, wajah itu cerah menyambut jawabannya. Pelan-pelan Ivy menutup pintunya hingga pintu menyembunyikan dirinya yang sebenarnya, ia terdiam. Menatap lusinan kenangan yang kali ini terpaksa dibuka oleh tangannya sendiri. Apa yang sudah ia lakukan barusan? Apa yang sudah ia taruh sebagai harapan? Taruhan, banyak hati yang akan terluka sesudah ini. Ivy tidak sanggup membuat dirinya termaafkan kalau Dante tahu dirinya melakukan hal yang salah. Sayangnya hati lagi-lagi mengkhianatinya, ia tak menganggap bahwa memberikan kesempatan kedua untuk Sean adalah salah. Ivy menghirup nafas dalam-dalam berusaha mencari celah untuk bernafas. Tak ditemukannya kelegaan selain airmata yang mengucur semakin lama semakin deras. Tolong, ia tak ingin merasakan sakit seperti ini. Ivy melangkah dengan gontai menuju kamarnya, memulai perang batin antara dirinya dengan kenangan waktu lalu serta efek sakit yang ditimbulkan setelahnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar