Selasa, 30 Juli 2013

Hand Drawn Bones; You had a dream, but this ain't it.


Lloyd, bukan hanya sebuah nama. Tetapi sebuah kisah yang dimaknai sebagai keterikatan seseorang. Persaudaraan menjadi dasarnya, keduanya memilih jalan yang berbeda dengan tujuan yang sama. Dari arah yang berbeda seperti apa yang pernah mereka janjikan--bahwa takdir tak akan pernah salah. 

Apa yang membuat sebuah nama begitu berharga di telinga orang awam? 

Karena cikal bakal merupakan asal bagaimana seseorang berkembang, bagaimana sebuah keluarga mendidik anak-anak mereka dengan tegas, penuh intrik dan tragedi. Menekan, tanpa menerima perlawanan. Beberapa bibit mereka berkembang menjadi unggul, mampu bersaing dan dipercaya, bermuka dua dan sarkastik, tak sedikit yang menjadi pengkhianat, selebihnya mengabdi pada kekuasaan. Sampai batas tak ada akhir yang dijangkau dan pengaruhnya seakan mengikat hingga ke sendi-sendi tulang. Kehidupan ini tak dijalani orang normal selayaknya mereka dengan keluarga, dilindungi dan dikasihi namun bukan pula mereka yang disiksa atau diberikan kekerasan, ini hanya tentang bagaimana seseorang tumbuh dan besar dari sebuah nama, pengaruh dan lingkungan seorang yakuza. 

Karirnya dimulai saat ia dilepas untuk berangkat sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari tenggelam, namanya Lroy. Seorang pekerja keras, seorang yang ulet dan pemberani, tak ada yang ditakutinya sekalipun Tuhan karena ia skeptis akan religi. Dogmanya hancur, perspektifnya keluar jalur, ia hampa--tetapi hidup. Namun kemampuan duniawinya bekerja dengan baik terutama kecepatannya dalam berlari, ketepatannya dalam menyusun strategi dan ia tak pernah meleset dalam membidik. Saraf motoriknya terhitung sangat baik, ia menguasai pelbagai ilmu bela diri dan mahir menggunakan pisau. Serangan jarak jauhnya tak bisa dianggap sepele, ia menggunakan hampir semua tubuh dan otaknya untuk mengasah kemampuannya sendiri. Kemampuan yang diwarisi dari kakek moyangnya, dari seluruh pemilik darah Lloyd yang berkuasa. 

Hari-harinya dihabiskan dengan permainan senjata, pisau, dan beladiri, sekolah bukan prioritas utamanya meskipun ia terhitung sebagai pemuda yang sangat amat cerdas. Bahkan gurunya memberikan gelar 'The second Einstein' karena isi otaknya tak hanya sekadar permainan senjata belaka tetapi ia memiliki pengetahuan yang luas, tak terjangkau seperti melahap ensiklopedia setiap paginya. Usianya masih terbilang belia ketika 20 tahun ia sudah menyelesaikan pendidikan pasca sarjana dan orangtuanya terutama Victor Lloyd mengirimnya ke Rusia dan melemparkannya dalam kekejaman bisnis serta persaingan sengit antar penguasa, dimana power dipertahankan oleh masing-masing ketua organisasinya. Dalam praktiknya tak semudah saat ia menghafal teori setebal alkitab, jauh lebih sulit karena persaingan selalu identik dengan pertumpahan darah. Bisnis Lloyd diambang kehancuran, Victor tak lagi bisa menguasai wilayahnya. Rusia mengikuti jejak,terombang-ambing dalam nasib perekonomian yang krisis, sementara ia dipanggil kembali untuk memenuhi interest Victor. 

Tampu kepemimpinan jatuh, ia dianggap menguasai strategi wilayah, kritis dan licin. Perangainya yang piawai dengan berbagai kriminal pelan-pelan membangun kembali kepercayaan diri Lloyd, memberikan ruang untuk sekadar melebarkan sayap menjamah teritori dan bersiap perang. Strateginya tidak main-main, ia mampu menyusun taktik dari adu domba, kawan dengan lawan, semua ia jalani dan Jepang, German, Austria serta Hongaria tunduk dibawah kekuasaannya. Para kerdil berkedok mafia mulai mengabdi padanya secara perlahan dengan sumpah dan ikatan darah, dengan janji yang sampai mati harus dipenuhi. 

Ia mendapat banyak keuntungan dari tangan kotornya, meraup kejayaan dari strategi kejamnya, usia muda dihabiskan dengan tumpukan uang, kebiasaan yang krusial, sayang ia tak punya tujuan akan pedamping hidupnya. Luput seolah melupakan bila ia memiliki tugas yang tak kalah penting, melestarikan keturuna Lloyd. Karena tak selamanya seorang Lroy hidup dan berkuasa, karena tak selamanya ia diberikan nafas, disadarinya kemudian semacam barang. Para manusia tak beradab menawar putri-putri mereka, mengumumkan keunggulan dari sekadar kepuasaan fisik maupun batin, namun tak satupun menarik perhatiannya kecuali, ya kecuali seorang gadis dengan surai hitam bak Cleopatra, pipi yang menggembung dan membuatnya ingin selalu tersenyum, sorot tajam, namun gaya bicara membuktikan bahwa gadis ini memiliki intelektual diatas rata-rata. Ia memahami, tak hanya kekuatan fisik tetapi pikiran, you are what you think. 

Maka di malam pertemuan besar, ajang perjamuan dimana seluruh penguasa membawa putri mereka untuk dijadikan sandingan hidup sang penguasa, ia memilah, memilih siapa yang berhak melestarikan keturunannya. Menarik, dari sekian banyaknya sayembara hanya orang yang tidak berada dalam koridornya lah yang ia pilih, seorang putri memiliki darah Asia, seorang putri dari seorang ayah yang tua renta, anggota yakuza paling bungsu dengan kalkulasi atau total kekayaan diatas rata-rata namun pesonanya bak monalisa; mengganggunya, membuatnya tak bisa mengalihkan barang sesenti pun ia lengah. Terlalu memabukkan, karena seorang putri tak sekadar cantik parasnya namun cakap akan pikirannya. Kyoko--gadis itu, ia berkenalan setelah mangkir dari acara perjamuan, sejak kedatangannya, sejak acara makan malam, selalu yang berbeda mengganggunya. Ia sudah menarik dalam sambutan pertama, seolah tumpukan bidadari yang ditawarkan tak pernah berguna. Penguasa penentunya, ia tak perlu takut untuk bertindak layaknya diktator sejati, mengalahkan Hitler dari kawasan Prussia bahkan wilayah kecil sekelas Jepang. 

Penolakannya membuat para abdi ingin menghujat Kojiro tua namun ia menjamin totalitas keamanan, seraya mengatakan maksudnya, ia meminang si gadis di depan mata, malam itu juga seusai pelelangan perawan-perawan yang dikirimkan untuknya. 

"Kenapa anda memilih Kyoko, sementara tadi banyak gadis-gadis latin bermata biru, bersuari cokelat dan berkulit mulus menyambangi anda?" 

Pertanyaan klasik dan sederhana, ia memaksakan seulas bibirnya untuk tersenyum tanpa menghilangkan kewibawaannya. 

"Tidak ada alasan untuk menyukai seseorang sejak pertama kali saya melihatnya. Saya rasa anda lebih tahu sisi mana yang membuat anak anda terlihat menarik di mata saya." Ia tak sedang memainkan sandiwara, bila itu adalah pengakuannya murni dari nuraninya. 

Pada akhirnya, Lroy memilih wanitanya, memilih takdirnya dan seluruh hidupnya. Keduanya resmi mengikat hubungan, meresmikannya di depan altar dan kembali ke Rusia dengan sang gadis mendampingi setiap langkahnya. Baginya Kyoko adalah rumah paling nyaman, tempatnya kembali pulang ketika lelah, parasnya yang lembut, sorot mata yang mengasihi, tutur kata lembut, tak sekalipun ia mengeluh atau bahkan bersikap tidak kooperatif sebagai rekanan hidup, tipikal dewasa dan ia tahu Kyoko memahaminya dengan cepat bahkan hafal seluruh jadwal kegiatannya, mengobatinya ketika terluka, mengerti bagaimana sulitnya posisi Lroy ketika strateginya terancam gagal. Kehidupan sederhana namun rumit, karena kubah dosa setia menaungi keduanya, karena dosa berlanjut ketika Kyoko memberikannya keturunan. 

Seorang anak lelaki, diberikan nama Thunder Aquilla Lloyd. Pewaris tahtanya menapaki dunia. Jelas tergambar betapa ia menjadi sosok yang bahagia, kehidupannya sempurna, implikasi tragedi dan bahagia. Merasa puas karena Tuhan dirasa adil--bukan, tetapi dunia. Hadirnya seorang putra di tengah kehidupannya, membuatnya lebih memicu semangat untuk mencapai kejayaan mengumpulkan pundi-pundi uang dari hal yang jelas tidak halal. Semakin melebarkan sayapnya, menjamah Amerika sebagai kawan kerjasama sekaligus lawan yang harus ditundukkannya. Mereka punya power tentu saja, tetapi posisi deterence yang mengunci keduanya tak bisa untuk saling menyerang. 

Butuh usaha penuh, dalam kurun dua tahun untuk menumbangi kekuatan sarang besar mafia disana. Kota kelahirannya, membuatnya menapaki dunianya kembali, mengambil alih kekuasaan dan ia bisa. Alih-alih terkena tembakan pada bagian tubuhnya, nyaris vital tetapi fisiknya yang kuat mengalahkan kesakitan. 

Tahun demi tahun, kepemimpinannya semakin kuat. Mitra kerjasamanya semakin bertambah, satu per satu mereka yang memiliki latar hitam yang sama mengajukan diri sebagai abdi tertinggi, tak jarang diantara ratusan partner kerjasamanya baik sebagai kawan ataupun lawan semakin menunjukkan betapa mereka memiliki wajah yang tak diketahui jumlahnya. Usianya yang menapaki empat puluh tahun sudah waktunya mengurus sang pengganti, karena tampu kepemimpinan akan diserahkan kepada yang lain. Darah dagingnya, usianya cukup matang, enam tahun. Dilatih secara fisik, berlari, melompat, memanjat, merayap, diajarkan bagaimana cara memata-matai lawan, membaca gerakan lawan, situasi, kondisi, dipaksa untuk melihat adegan tembak menembak, pelemparan pisau, penggunaan pedang dan bela diri. Pada saat yang sama, kemurnian otaknya mencerna beberapa aspek yang harus dikuasai olehnya. Thunder mulai beradaptasi dengan dunia ayahnya. Tidak ada keluhan yang keluar sekalipun ia nyari mati kehabisan tenaga. Tetapi fisiknya yang kuat mengalahkan segalanya. Ia tumbuh dan kembang menjadi lelaki yang kuat secara fisik dan mental, hidup di kalangan para pecundang dan penjilat. Ayah selalu mengikutsertakan Thunder pada acara-acara perjamuan, untuk mengumumkan keberadaannya sebagai seorang anak dari yang berkuasa bahwa tampu kepemimpinan hanya miliknya seorang. 

Acara perjamuan--hadirnya penguasa-penguasa dari berbagai pelosok dunia, dedikasi mereka, topeng-topeng mereka mulai dikenakan, mengajaknya menimbun bisnis dengan keuntungan yang bisa memberi makan ratusan rakyat miskin di satu negara. Memilih, lima menit berdiri usai perjamuan ia sudah dikerubungi oleh orang-orang yang memiliki kepentingan terselubung. 

Sementara istri dan anaknya aman tak terjangkau karena ia punya puluhan abdi yang siap memberikan nyawa mereka. Kyoko berada di sisi sang kakek, bersama jagoan kecilnya dengan iris pekat dalam balutan jas, datang seorang lelaki lain. Bukan dari kalangan hitam sepertinya namun cukup erat kekerabatannya dengan sang kakek. Mereka akrab berbincang, Lloyd mengalahkan dari kejauhan. Lelaki itu dibiarkannya menyentuh Thunder dalam pengawasan sang kakek dan para abdinya. Mereka tertawa sedangkan Lroy merasa tak nyaman dengan berbagai macam bisnis yang ditawarkan. Ia menyerah, melangkah mundur dan menerima beberapa perusahaan yang berkembang. 

"Kenalkan Kyoko, ini Amano. Dia salah satu dari kerabat jauh kita. Kakeknya teman seperjuangan ayah sewaktu muda dulu." 

Mereka saling menjabat, "kedatangannya kesini tidak lain memiliki tujuan khusus. Ia tidak datang membawa tangan kosong. Hanya saja, ia ingin meminta tolong pada kalian." 

Kyoko menatapnya dengan sorot bingung, berusaha membaca dari sebuah lekuk wajah yang tersenyum lemah. 

"Meminta tolong?" 

"Ya, mereka datang untuk meminta bantuan kalian secara cuma-cuma." 

"Kalau boleh tahu, bisa katakan lebih jelas, tapi tentu saja setelah Lroy kembali bersama kita, no?" 

"Ah itu lebih baik...." 

Mereka menunggu, masih dalam perbincangan hangat sampai satu per satu tamu akhirnya melangkah keluar memutuskan bila eksistensi mereka sudah habis waktunya. Kini Lroy dihadapkan pada beberapa orang salah satunya yang tidak dikenali tetapi menyambut dengan rasa hangat. Kemudian sang kakek menceritakan tujuan lelaki itu datang, memohon padanya bahwa ia memiliki seorang cucu perempuan, memiliki anak lelaki yang malang nasibnya. Dictator menginginkan keduanya dalam pertarungan berdarah, ketika usia cucunya tidak lebih dari 2 tahun dan dilarikan ke Sapporo karena pemerintah akan mencekik bayi itu bila terdengar suaranya. Ini merupakan amanat dari kedua orangtuanya, Hikari nama cucunya. Saat ini berada di Sapporo dengan neneknya, kedua orangtuanya terancam tewas di arena buatan pemerintah. Keduanya diasumsikan tak lagi memiliki batas hidup yang lama. Amano, lelaki itu mengatakan bahwa di usianya yang senja ia tak mungkin bisa bertahan lama untuk melindungi cucunya. Menghidupinya dengan kasih sayang yang melimpah. Meski tidak berasal dari darah dagingnya sendiri, tetapi ia menyanyanginya. Hikari seperti penerang di dalam keluarganya. 

Lroy mencerna, rencana ini akan menghabiskan waktunya. Namun ini hal yang berbeda dari situasi yang biasa dihadapinya. Biasanya seseorang meminta perlindungan akan bisnisnya, tetapi lelaki ini tidak. Ia meminta perlindungan untuk seorang anak perempuan yang diakuinya sebagai cucu.

"Aku tidak mungkin hidup selamanya, tuan. Usia senjaku mungkin tidak lama, aku tidak bisa selamanya menjaga Hikari. Aku juga tidak bisa membiarkan gadis itu sendiri. Terlalu amat menyayanginya, tuan. Maka bila tidak keberatan, bersediakah bila aku menyerahkannya pada kalian? Ketika aku sudah tidak lagi bernyawa?" 

"Orangtua anak ini memintaku, karena pemerintah menyeret mereka dalam arena permainan--kematian. Keduanya tidak mungkin selamat. Itu alasannya aku ada disini, aku bersedia mengorbankan apapun untuk melindungi Hikari sekalipun aku harus menjadi budak kalian. Ayah dan ibunya sekarat di arena, anak ini tidak tahu apapun tentang orangtuanya. Aku tidak bisa memberitahunya. Bolehkah aku menyerahkan Hikari pada kalian? Seandainya baik aku dan istriku sudah tidak bernyawa? Sekarang Hikari tinggal di Sapporo, dekat dengan kediaman kakek kalian." 

Substansi memandangnya dengan tatap mengiba, ia seperti kerdil di tengah raksasa yang berhamburan. Tekadanya melindungi seorang gadis kecil semakin kuat, dirasakan sebuah tepukan di bahunya. Ketika seorang Amano nyaris tak bisa membendung aliran sungai di matanya. Mereka mengangguk, penguasa itu menghampirinya berkata menyetujui permintaannya. Dengan simpul yang ikhlas, setulus nuraninya berbicara. 

Misi itu telah disampaikan dan satu lagi bagian terpentingnya adalah keluarga Lloyd menerima satu misi yang berat, nyawa seseorang dalam pikulan mereka. Hari berjalan seperti biasanya, 2 minggu setelah dikabarkan melalui sang kakek, Kojiro bahwa kedua orangtua gadis itu telah menemui ajalnya dengan cara yang tragis di arena. Kyoko memekik, ia menangis. Membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang Hikari, di usianya yang setara dengan Thunder ia ditinggalkan, tidak diberitahu apa yang terjadi pada kedua orangtuanya sebagai korban dari pemerintah. Kyoko bahkan menangis dan memikirkan bagaimana bila Thunder yang mengalami nasib seperti Hikari, betapa perempuan itu menginginkan Hikari menjadi bagian dari keluarga Lloyd. Tetapi ia tak bisa gegabah, gadis itu masih punya kakek dan neneknya. Maka sesekali mereka berkunjung ke Sapporo, melihat gadis itu, melihat keadaannya. Kyoko menyempatkan diri membeli baju-baju, mainan serta makanan, memperlakukannya seperti anak sendiri ketika ia mengunjunginya. Jelas tersirat bahwa gadis itu tak mengetahui apapun tentang orangtuanya--yang telah tiada. Sorot matanya, ekspresinya yang datar setiap melihat orang baru. Kyoko menggeleng, ia ingin membawa Hikari namun ditahannya sampai waktu mengatakannya untuk memberikan tempat bagi si kecil Hikkari. 

Rutin, ia mengadakan kunjungan entah satu bulan dua kali ataukah sekali dalam setiap bulannya. 

3 bulan, setelahnya Kojiro senior dikabarkan meregang nyawa. Komplikasi jantung dan paru-paru tak bisa lagi ditahannya. 3 hari sebelum kematiannya, Kyoko diperintahkan untuk kembali ke Sapporo bersama keluarganya dalam keadaan ia tengah hamil muda. Mengandung satu lagi seorang keturunan Lloyd. Tanpa membuang waktunya ia segera berangkat mengamini sang ayah, sekadar permintaan terakhir sebelum menutup mata dan berhenti bernafas. Memboyong keluarganya serta Thunder yang masih berusia 8 tahun. Sesampainya di Sapporo Lroy mengantarkan sang istri ke pelukan sang ayah sembari berbisik bila ia harus melaksanakan amanat sahabatnya. Mafia sejati tak diajarkan berkhianat meskipun terpaksa kecuali nurani yang menuntut untuk berkedok kebaikan. Kojiro memberikan warisnya kepada menantunya, demi Kyoko, demi jagoan kecil dan satu lagi pendatang yang akan turun ke bumi. Memberikan amanat bahwa Kyoko harus berada di Sapporo dan meneruskan usaha ayahnya, pada akhirnya Lloyd memutuskan mengganti namanya menjadi Kojiro, seperti apa yang diperintahkan oleh tetuanya. Dilihatnya perlahan bila senja menutup malam, lelah dengan kelumit kehidupan yang menjeratnya. Ia sudah tenang di alam sana. 

Reinkarnasi terus berlanjut, Kojiro kedatangan satu lagi anggota baru. Jagoan kecilnya kembali, memenuhi ruangan dengan tangisnya yang membahana. Membuat Kyoko menghapus airmatanya berkali-kali dan Thunder terlihat gembira seolah mainan barunya tiba. Namun tugas baru terus berdatangan di usianya yang mencapai 10 tahun Thunder diberikan kepercayaan oleh sang ayah. Ia diceritakan berbagai macam kisah, berbagai macam pertarungan berdarah bahwa hidup tak pernah semudah tidur di atas ranjang, bahwa setiap apa yang dilakukan memiliki perhitungan, untung dan rugi. 

Senja menjadi berwarna, tahukah bahwa ia tak pernah berdiri dalam belahan bumi yang berbeda? Ia berpijak pada arah yang sama ketika usianya mencapai sebelas tahun dan mengerti betapa ayah mengajarinya banyak hal. Parasnya yang lebih mendekati Asia dengan surai sepekat milik sang ayah dan mata yang mirip ibu namun bentuk penciuman setara dengan ayah, Thunder mulai diberikan instruksi pengabdian. Sore itu ia tengah duduk bersama ayahnya, ia ingat itu akhir dari sebuah minggu dimana ayah meluangkan waktunya untuk keluarga kecil dan ibu menghabiskan waktunya bersama adik kecilnya. 

"Sini, ayah ingin cerita." 

"Hmm?" 

Dari mulutnya ia bercerita sesuai dengan alur, bila ia dianugerahkan kepercayaan penuh secara turun temurun. Ayah mengatakan bila ia harus melindungi seorang gadis, Hikari Amano. Seorang gadis yang orangtuanya meninggal dalam arena kematian yang dibuat oleh pemerintah Jepang, sekarat dalam keadaan keji dan tidak berkeperimanusiaan, sayangnya Mafia atau Yakuza juga tak pernah punya rasa belas kasih dengan lawan mereka. Ayah mengatakan bahwa Hikari adalah putri dari anak sahabatnya yang bernama Ryota, gadis itu kini tinggal bersama neneknya di Sapporo tak jauh dari rumahnya saat ini. Hanya berdua saja sebab Amano sudah meninggal 4 tahun silam, di tangan seorang wanita ringkih rasionya bekerja untuk menyerahkan Hikari dalam perlindungan yang memiliki power lebih kecuali diktator pemerintah yang mengharuskan Hikari merelakan nyawanya, menyusul kedua orangtuanya. Paling tidak, kehidupan anak itu akan lebih aman dan nyaman, wanita yang menjadi neneknya tak akan hidup selamanya, ketahuilah eksistensi nyawa hanya sementara. Lroy memberikannya selembar foto, jelas disana terpampang wajah seorang gadis dengan paras yang manis, pipinya penuh, matanya bulat, ia menyukai kesan pertama. Gadis itu nampak menggembungkan pipinya dan semakin tertarik ketika memandangi matanya. Thunder dilatih menjadi seorang lelaki sejati demi memenuhi kepentingan ayahnya sekaligus amanat yang diberikan kakeknya kepada keluarga Lloyd. Tanpa menolak tanpa perdebatan sengit pada akhirnya dia menerima--sukarela. 

Detik-detik tersortirnya ia ke dalam pendidikan akademik, Thunder sudah lebih dulu diajarkan cara-cara hidup, bagaimana ia membaca, menulis, merangkai strategi, membuat pertahanan kalau-kalau lingkungan sedang berbaik hati padanya. Thunder bisa membaca sejak usianya 2 tahun, bisa berbicara ketika usianya 11 bulan, fisiknya yang kuat sudah bisa memanjat pohon dengan ketinggian 12 meter dalam usia 6 tahun, mengenal senjata dalam usia 7 tahun, pandai menyusun strategi dan membaca situasi dalam usia 8 tahun. Darah Lloyd mengalir di dalamnya, ia tumbuh dan berkembang menjadi anak yang kuat, cerdas dan tangkas meski tidak banyak bicara. 

Usianya genap mencapai usia akademik, ia tidak diberikan kewenangan memilih sekolah tetapi ia tahu jalan hidupnya. Ketika diberitahukan bahwa gadis itu dalam jangkauannya, ia siap. 

"Siap dengan tugasmu?" 

Ia mengangguk mantap. 

"Jaga dia, Thunder. Buat ayah bangga dengan pengabdianmu." 

Ia mengangguk, menyetujui dengan lantang melalui sorot matanya, bila sampai titik darah penghabisan ia akan menjaga seorang Hikari Amano, meski harus mengorbankan nyawanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar