Kamis, 15 November 2012

I Threw A Wish In The Well


Cih, dengan Parthian, ya?
Lagi-lagi, kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, menggabungkan semua asrama menjadi satu, dalam sebuah kelas. Memang, itu tak masalah, tapi tak enak untuk Sean. Dia kurang senang bergaul dengan asrama berlambang Gagak, yang jika mendapat pertanyaan, selalu menjawab di luar akal sehat. Sean tidak mengerti, kenapa asrama itu terkenal dengan ketelitiannya, dan sebagainya. Padahal, rata-rata anak Parthian tak memiliki semua kriteria itu. Mungkin, kemenangan mereka tahun kemarin itu, hanya sekedar keberuntungan belaka. Ya, Sean yakin itu.
Bersama kepala asrama Nadirs, Sean cukup senang. Apalagi ketika Profesor Aleyha menanyakan perbedaan antara beberapa Mantra yang dia tunjukkan di depan semua murid-muridnya. Sean tentu ingin sekali menjawab, hanya saja dia terlambat. Beberapa anak sudah terlebih dahulu menjawab, dan menjelaskan panjang lebar. Dan lagi, beberapa anak Parthian menjawab panjang lebar, namun tak jelas arah dan tujuan jawaban mereka. Huh, dasar, membosankan sekali belajar satu ruangan dengan mereka. Kenapa tidak dicoba untuk dibagi saja?
“ Sean McKinley, Nadirs, Prof. ", Sean berdiri, bersiap untuk menjelaskan jawabannya. " Protego, Expelliarmu, dan Finite merupakan tiga Mantra yang tergolong Mantra pelindung, dilihat dari efek yang dihasilkan. Protego, menghasilkan sebuah tameng yang dapat melindungi, Expelliarmus, dapat melucuti senjata lawan saat terdesak. Dan Finite, Mantra untuk menghentikan efek dari mantra yang sebelumnya digunakan.... "
Eit, belum selesai....
“.... Dan, Stupefy merupakan Mantra yang digunakan untuk menyerang. Efeknya dapat membuat orang yang terkena Mantra ini pingsan. "
Done....

Sean kembali duduk di tempatnya, dan kembali fokus ke depan kelas. Dia menunggu respon dari Profesor, atau mungkin dari teman-temannya yang lain, yang mungkin kurang setuju dengan jawabannya. Itu bukan masalah untuk Sean, karena dalam belajar, jelas, ada salah ada juga benar. Jadi, dia masih menunggu dalam diam, sambil sesekali melirik ke arah seisi kelas yang cukup ramai. Ngomong-ngomong, ke mana anak Nadirs lainnya? Apa hanya Sean seorang saja yang berada dalam kelas ini? Hei, hormatilah kepala asrama kita, sobat!

§§§

Ah, dengan asrama Parthian ne? Ia masih duduk dengan tenang di koordinatnya sendiri, memutuskan untuk membolak-balik buku subjek Pertahanan terhadap Ilmu Hitam ini secara asal. Nyatanya nama asrama tersebut malah mengingatkannya dengan Minhye yang juga tengah berada di bawah naungan asrama berlambang burung gagak tersebut. Akan lebih menyenangkan mungkin kalau mereka bersama dalam satu tingkat dan kelas. Namun sayangnya tidak, kenyataan bahwa Minhye satu tahun lebih muda darinya membuat siapapun tak dapat memikirkan kemungkinan seorang anak yang lebih muda setahun usianya masuk dalam jejeran tingkat yang jauh lebih senior darinya. Walau hanya satu tahun bedanya juga sih. Ah, lupakan saja, mengingat sepertinya ia akan mulai sibuk dengan kelas-kelas pilihan yang diambil nanti.
Sedikit tidak menyesal memilih kelas terbang di antara sekian banyak kelas berisikan teori yang lainnya. Berharap saja sistem kelas terbang tidak akan membuat siswa-siswinya harus mengalami teori secara terus-menerus seperti itu. Sementara tugas Pertahanan terhadap Ilmu Hitam yang diberikan Profesor Devearux saja belum ia kerjakan sampai saat ini. Bukan karena malas, lebih tepatnya belum sempat mencari sumber essai tersebut di tempat yang memadai. Maksudnya ke perpustakaan, yah mungkin memang sedikit ada rasa malas juga terkadang. Ia kan masih manusia pada normalnya walau saat ini ia masuk ke asrama tempat para cedekiawan katanya.
Ketika materi kelas dibuka dengan empat pertanyaan untuk membedakan empat kata mantra yang diberikan di muka kelas. Eh-hem, ia tahu sih, tentu saja karena pernah mendengarnya dari buku-buku lain sebelumnya. Masalahnya disini adalah, yang menjawab sudah banyak sekali tuh, mau turut menjawab saja rasanya sudah tidak ada kata lain lagi yang hendak ia ucapkan. Sesungguhnya ingin menambahkan bagian Expelliarmus, tapi sudahlah. Lain kali saja, masih banyak kesempatan juga ini kan? Kalau diperkenankan sih, inginnya dia bertanya, tapi ini masih sesi jawab kan?
"Nice, McKinley", lontaran lain untuk anak teman seasrama dan sekamarnya sekaligus malahan. "Kau sudah baca materi itu terlebih dulu ya?", tidak heran untuk ukuran anak Nadirs sih.

§§§

Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam—open.
Sudah dibuka ya kelasnya? Oh well, gadis Athena 12 tahun itu segera bergegas menuju kelasnya. Kelas ini yang selalu dipenuhi siswa-siswi lain ketika palangnya memutar dan menunjukkan kata ‘open’. Tuh lihat saja, ketika kaki mungilnya telah menapaki kelas ini sudah banyak murid berhamburan. Semangat sekali ya? Beda deh sama Ivy yang setiap hari terasa lemah. Memang lemah kok.
Ivy memilih duduk di sudut ruangan—sudah kecil duduknya dipojokan persis tuyul ya?
Abaikan pernyataan barusan. Fokus saja kepada pelajaran. Sesungguhnya Ivy takut dengan pelajaran ini, karena hitam. Berhubungan dengan kata hitam sedangkan Ivy paling takut dengan segala yang berbau hitam. Karena hitam itu gelap, gelap itu suram, suram itu… Ah sudahlah lupakan—Ivy takut. Omong-omong Profesor tadi bilang 4 mantra ya? 4 mantra yang disebutkan. Kan tuh, baru begitu saja kelas sudah ramai sekali, kicauan sudah terdengar dimana-mana. Satu per satu jawaban serta sanggahan sudah terdengar. Ivy menoleh, belum ada satupun dari asramanya yang datang dan pada intinya dia disini sendirian, eh?
“Prof…” ia mengacungkan jari telunjuknya. Tubuh mungil berdiri, “Protego mantra pelindung yang sederhana, umumnya memang diperuntukkan melindungi penyihir dari lawan, Stupefy mantra penyerang dan mengakibatkan lawan kehilangan kesadaran, kalau Expelliarmus…” ia berhenti mencoba mengingat materi yang ia baca 2 hari yang lalu. “Mantra melucuti tongkat sihir lawan, dan Finite… aku belum terlalu paham, Prof. Terima kasih.” Ia duduk kembali.  Jadi dimana teman-teman seasramanya? Jadi ia mepet saja deh dengan Miss McLane. Boleh ya kakak? Bolehdomsah—Ivy tersenyum, “Kalau Finite itu apa ya, McLane? Bisa dijelaskan padaku sedikit?”

§§§

Tahu tidak, setelah Sean menjawab pertanyaan dari Profesor tadi, dia sudah merasa cukup lega, karena jawabannya itu, paling tidak dapat mengimbangi apa yang sudah dikatakan anak-anak lain sebelum dirinya menjawab. Sudahlah, toh bukan urusannya juga kalau nantinya anak-anak asrama lain itu yang akan menguasai kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam ini. Sementara Nadirs, Sean merasa, kemungkinan untuk meraih kejayaan dalam kelas sedikit memudar. Hanya Sean sendirian, atau mungkin tambahan satu atau dua anak Nadirs lainnya. Benar-benar, menyebalkan.
Tak lama setelah Sean duduk, sebuah suara terdengar lewat di telinga Sean. Suaranya terasa tak asing lagi untuknya, seperti suara teman satu asramanya di Nadirs. Sean menoleh, dan mendapati seorang pemuda berparas Asia dengan marga Salveau dibelakangnya. Sedikit memuji Sean, tidak membuat Sean menjadi sombong atau besar kepala. Dia hanya menjawabnya dengan sebuah senyuman pada teman satu asramanya itu. Paling tidak, dia masih menghemat kata-kata untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan selanjutnya yang pasti akan lebih sulit.
" Yah, tapi aku tak membaca satu buku. ", memang benar. Gila saja kalau misalnya Sean dapat membaca satu buku tebal, dan dapat menghafalnya persis, seperti apa yang tertulis di dalam buku. Oh, lupakan hal yang satu ini, kembali ke tempat semula, Kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam.
Padahal, baru beberapa saat Sean mencapai puncak ketenangan, dia kembali mendengar sebuah suara, dengan nada sedikit sombong. Sean tak menoleh langsung, dia masih serius menatap ke depan kelas, tepat dimana Profesor berdiri. Hingga akhirnya, Sean benar-benar mendengar, bahwa anak bernama America itu menyanggah jawaban Sean sebelumnya. Memang, itu bukan masalah. Tetap, masih dalam posisi diam, Sean memandang ke depan. Dia tak mau mencari masalah dengan asrama Gagak Hitam yang suka menebar kesombongan itu.
Cih...
"Kenapa kelas tidak dipisah saja. Nadirs, dengan Nadirs.... ", Sean berbisik pada Salveau. Tak ada yang mendengar percakapan itu, hanya mereka berdua saja. ".... begitu lebih baik. "
Sean kembali lurus ke depan, siap mendengar dengan tajam pertanyaan yang mungkin akan diluncurkan Profesor lagi. Dia sudah siap sepenuhnya, dengan berbagai jawaban yang panjang, ataupun yang sangat singkat. Jangan sampai dia terlambat untuk menjawab pertanyaan itu. Dia tak mau kehilangan poin lagi, yang sangat berguna untuk membuat asrama Nadirs berjaya diantara mpat asrama yang ada di sekolah sihir ini. Dan, mungkin tambahan beberapa anak Nadirs, akan membuat Sean bersemangat dan kemungkinan meraih kemenangan semakin terbuka.

§§§

Hng, Leopart.
Cengiran miring tergantung di wajah gadis red-headed itu. Yea, Ilona tadi tidak bilang kalau Stupefy Expelliarmus bukan mantra pertahanan kok. Dia hanya menspesifikasi, bahwa Stupefy digunakan untuk merobohkan musuh dan Expelliarmus untuk perlucutan senjata dan Protego sebagai tameng. Ha, kalau bisa Ilona ingin lihat bocah Parthian ini menggunakan Stupefy sebagai tameng. Melipat kedua tangan, gadis itu mulai mengonter kata-kata Leopart dan membalas tatapan sinisnya dengan cengiran miringnya dan raut wajah kalem.
                        "Apa aku bilang sesuatu tentang Stupefy dan Expelliarmus bukan mantra pertahanan, Leopart? No."
Terdiam, menyusun kata-katanya lagi. Ck, kali ini dia tak boleh jadi Ilona yang mudah naik darah. Dia tidak peduli dengan detensi, tapi pasti poin Carnegies akan mendapat atensinya. Dan jangan sampai hal itu terjadi hanya karena anak ini.
"Aku hanya bilang kalau yang berfungsi sebagai tameng adalah Protego, Leopart. Say, bisakah kau gunakan Stupefy sebagai tameng jika ada musuh yang akan menyerangmu? Lagipula tadi kau sendri yang bilang, hm?"
Hm, Ilona sudah selesai. Walau begitu dengan senang hati ia melanjutkan jika ada kalimat-kalimat penyulut perang dari anak itu. Berpaling sambil nyengir kepada Athena—Hau, siswi Bourdon yang ini imut-imut sekali sih. Lalu garuk-garuk kepala sejenak, mengingat-ingat definisi dari mantra 'Finite'. Ah, salahnya sendiri juga sih hanya membolak-balik buku PTIH-nya semalam alih-alih membaca dengan seksama. "Hng—kalau tidak salah.." Mengeluarkan buku teks-nya dari tas, lalu membuka-buka halamannya.
            "Ah! Yeah, Finite digunakan untuk menghentikan mantra yang sedang bekerja. Misalnya ada sesuatu yang dirapalkan Wingardium Leviosa.. Maka kita gunakan Finite untuk menghentikan efeknya.."
          Nyengir sok inosen kepada Athena.
          "Eh—tapi itu kalau tidak salah, ya. Soalnya aku semalam juga hanya membolak-balik bukunya, ehehe..."
          Ah, Ilona. Kan malu pada Athena, tahu. Ketahuan deh kalau Ilona tidak sedang dalam mood 'ayo-belajar-yang-rajin' begitu. Walaupun wajahnya juga sekarang masih setengah nyengir setengah mengantuk juga. Hng, rasanya kalau dia bisa membeli obat penghilang kantuk dengan senang hati gadis itu akan membelinya sepaket. Kalau-kalau dia bisa dalam mood seperti ini beberapa kali dalam setahun, kau tahu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar