Kamis, 15 November 2012

I Looked To You As It Fell


Sejenak, Sean merasa catatannya mengenai identifikasi tentang sebuah topi muggle, masih sangat sedikit. Ya, hanya beberapa baris saja, dan tidak sampai satu paragraf. Baiklah, dia bisa menambahkannya beberapa baris lagi, karena di dalam otaknya masih tersimpan berbagai jawaban yang lagi, akan dituangkan di atas perkamen yang kini sudah terisi tulisan-tulisan tangan Sean mengenai topi yang dia dapatkan setelah mengambil sesuatu dari sebuah kotak yang disediakan Profesor. Dia bisa dibilang sedikit lebih beruntung, dibandingkan beberapa orang temannya yang mendapat benda muggle yang sangat aneh, dan bahkan Sean nyaris tidak pernah melihatnya di rumah keluarga McKinley.
Di sampingnya, gadis dengan marga Athena masih sibuk menulis identifikasi mengenai sebuah kabel. Sean sedikit lega dia tidak mendapat benda yang mengalirkan listrik itu. Soalnya, dia mungkin akan mendapat sedikit kesulitan untuk mengidentifikasi apa-apa saja yang menjadi ciri khas benda itu. Sepertinya, Ivy tidak mendapat kesulitan yang berarti pada tugasnya. Sean kagum pada gadis itu, meskipun sifatnya yang mungkin akan membuat Sean sedikit tertawa. Memang, gadis itu terlihat tidak terlalu serius dalam mengerjakan tugasnya. Tapi, itu bukan masalah.
" Mana? Boleh aku lihat? ", Sean meminta pada gadis itu, agar diberi kesempatan untuk melihat identifikasi yang dilakukan gadis itu. Paling tidak, kalau pun ada yang salah, Sean bisa ikut memberikan bantuan pada gadis itu. Yah, tak ada salahnya kan.
Sean memandangi jawaban dari gadis itu. Membacanya dengan seksama, dan terkadang tersenyum melihat jawaban gadis itu. Jawabannya tidak terlalu buruk, malah menarik buat Sean. Tak berapal lama, Sean sudah selesai membacanya, dan kembali menatap gadis itu. Sedikit tersenyum, paling tidak dia menghargai jawaban gadis itu. Apa yang akan dia lakukan selanjutnya? Terus tersenyum seperti ini hingga bel berbunyi, dan ketika itu giginya sudah kering semua? Tentu tidak, dia harus mengembalikan perkamen milik gadis itu, sekarang.
" Ini... ", ujarnya mengembalikan. "... jawabanmu menarik. ", dia tidak mengejek jawaban gadis itu lho. Dan, ngomong-ngomong Sean belum terlalu kenal gadis itu, sekalipun pernah bertemu di suatu tempat. Maaf, soalnya Sean sedikit sering lupa dengan nama-nama orang yang pernah dia temui, dalam selang waktu yang lama. " Aku harus memanggil namamu apa? "

§§§

Ivy bukan anak pintar, kakak…
Iya memang bukan, terus kenapa?
Jadi dia harus memutar otak walaupun soalnya sederhana. Ivy menekan penanya, kemudian menyelipkan beberapa helai surainya ke belakang telinga. Susah ya? Dan Ivy melontarkan pandangan pada benda panjang mirip ular warnanya hitam—lagi warnanya hitam. Ivy takut tahu! Masih untung benda itu tidak dia lempar ke meja Profesornya. Kalau nanti dia lempar pasti dia dimarahi, dan akan ia tanggapi dengan wajah yang melas, dan polos.
Ivy memang polos, kakak.
Ada yang mau intip-intip kertas perkamennya. Ivy menoleh, menarik setarik sabitnya. Menggeser perkamennya, supaya si McKinley dengan senyum menawan itu bisa melotot perkamen miliknya sampai puas. Hoo, agak mengerikan ya bahasanya. “Aku mengarang bebas lho…” Tidak penting ya kakak.
Dia membiarkan tuan McKinley meneliti pekerjaannya. Matanya memutar-mutar seperti naik komedi putar—salah kakak. Menoleh sekilas dan mendapati lelaki berumur 12 tahun itu tersenyum sendiri melihat jawaban Ivy. Memang ada yang lucu ya? Ivy merapatkan duduknya dengan McKinley, dia penasaran, sangat penasaran kenapa pemuda itu malah tersenyum melihat jawaban Ivy. Apa perkamennya terlihat meledek? Oh tidak mungkin.
Dan kau tahu, pemuda ini tersenyum lamaaaaaa sekali. Sampai giginya kering—salah lagi, kakak. Begitu perkamennya dikembalikan, Ivy merapikan alat-alat tulisnya. Dia memuji, katanya jawaban Ivy menarik. Ya jelas menarik, orang jawabannya mengarang bebas. Sujud syukur kalau diterima perkamen dan diberi nilai tapi ya tapi kalau tidak juga tidak apa, maka Ivy akan menangis meraung di pojok kelas.
“Eh?” Ivy berhenti merapikan alat tulisnya, “Hng… Panggil aku Ivy bukan Ipi, atau Ipin..” ia mengulurkan tangannya, tangan yang mungil dan halus—narsis sedikit. “Kita berteman?” sungguh, pertanyaan bodoh.

§§§

Jadi, namanya Ivy, eh?
Ya, kalau Sean tak salah dengan sih, begitu. Gadis yang begitu menarik minatnya itu, sudah diketahui namanya. Hah, mungkin mereka bisa bertemu lagi di kelas yang lain, jikalau Sean sedang merasa sepi karena tak ada hiburan. Setelah memberikan perkamen itu kepada pemiliknya, Sean memilih untuk kembali mengoreksi jawaban miliknya sendiri. Siapa tahu kan, dia justru banyak salahnya. Apapun, kalau tidak diteliti lagi, pasti akan ada sesuatu yang menimpa. Satu hal kecil, dapat mempengaruhi begitu banyak perubahan. Salah satunya, esai yang dikerjakan Sean ini.
Duh, otak Sean buntu lagi untuk ke sekian kalinya. Padahal, dia sudah menulis paragraf selanjutnya, dan itu artinya kemungkinan mendapat nilai cukup sudah di tangannya. Bagaimana tidak, Profesor hanya menyuruh esai yang dibuat singkat, tapi Sean malah membuatnya panjang lebar, dan bahkan dapat membuat mata Profesor yang membacanya bengkak saking panjangnya. Itulah kebiasaan Sean, selalu menyelesaikan suatu pekerjaan tanpa setengah-setengah. Mengerjakan tugas, harus selesai semua tanpa sisa. Kalau ada sisa, itu sangat memalukan sekali.
Itu prinsip keluarga McKinley....
Akhirnya Sean memutuskan untuk menyudahi pekerjaannya, untuk sementara waktu. Dan kini, dia mulai beralih lagi kepada Ivy, yang nampaknya sudah membereskan peralatannya, bersiap kembali ke ruang rekreasi sepertinya. Ingin rasanya Sean mengajaknya mengobrol lagi, hanya saja Sean bingung menntukan apa yang akan dibicarakan selanjutnya. Setelah berpikir cukup keras, muncul sati buah pertanyaan singkat yang mungkin, kalau dijawab hanya membutuhkan waktu tak sampai satu menit untuk berpikir. Kira-kira, begitulah.
" Tidak mau menambah jawaban lagi? ". nah, itu dia.

§§§

Dia mau menjawab apa lagi? Tidak ada. Semampunya saja mengerjakan, kalau terlalu banyak memutar otak nanti Ivy lapar, kalau lapar Ivy mau makan, tapi nanti makannya jadi lahap persis seperti buruh bangunan. Dan apa itu buruh bangunan? Tidak tahu. Jadi jangan tanya Ivy ya kakak.
Yak oke, bagaimana kelas hari ini?
Menyenangkan, karena apa? Karena Ivy banyak teman. Sehabis mati surinya dia dapat teman dan sudah diberi pencerahan oleh Tuhan Yang Masa Esa. Ivy begitu namanya dipanggil memang sudah merapikan alat tulisnya, kemudian menatap lembaran perkamennya. Hanya segelintir penjelasan saja tentang si kabel. Habis Ivy tidak mungkin mengarang bebas lagi, aduh jangan deh jangan. Pemuda disampingnya yang katanya namanya McKinley itu menanyakan sesuatu, Ivy mengernyitkan keningnya. Meraih perkamennya yang berisi tulisan bak cakar ayam di atasnya.
“Aku pikir ini sudah cukup. Kenapa? Mau memberiku contekan ya?” Lagi Ivy menaik-naikkan alisnya. Tetap dengan senyum manisnya. Sebenarnya dia masih belum mau pindah kelas, sungguh. Ivy masih betah sekali disini. Entah karena habis dari mimpi panjangnya tahun kemarin, mungkin bersamaan bangkitnya Ivy, Merlin juga bangkit lagi. Siapa itu Merlin? Siapa saja boleh. Ivy terkekeh sendiri, lalu disana terdengar ramai sekali acara diskusinya. Ramai sampai seperti orang arisan—arisan itu apa? Nanti sepulangnya Ivy dari sekolah, dia akan bertanya pada Mom. Karena biasanya ibu-ibu akan menghabiskan weekend mereka dengan arisan. Berkumpul lalu tertawa dengan jumawa. Yak oke yang itu tidak perlu dibahas.
“Jadi McKinley, tulisanmu bagus ya? Sama kayak orangnya.” Maksudnya gombal? That’s I mean. “Eh McLane, kamu punya risoles? Tadi ku dengar kau menyebut risoles.”
Omong-omong tentang risoles, Ivy jadi lapar. Kata Mom itu salah satu makanan Asia yang enak, entah isinya apa tapi patut dicoba. Yeah yeah kalau ada yang bawa, Ivy mau dong ya. Ivy lapar nih. Tapi memangnya boleh makan di kelas? Mungkin tidak boleh tapi nanti Ivy akan tawarkan juga pada Profesornya.

Hey, I Just Met You



P
elajaran pertama, di kelas Telaah Muggle. Akhirnya, Sean bisa menghadiri kelas tambahan yang menurutnya sangat menarik untuk diikuti, di tahun keduanya ini. Dia tak ingin hanya belajar sebatas pelajaran umum, macam Herbologi, Astronomi, Mantra dan lain-lain. Baginya, yang dia butuhkan adalah sesuatu yang baru, yang mampu membuatnya kembali bersemangat untuk mendapatkan nilai yang memuaskan, sekaligus dapat membawa Nadirs menjadi juara antar asrama tahun ini. Yah, paling tidak itu jadi salah satu harapan Sean untuk kali ini. Semoga saja, bisa. Gurunya, kepala asrama Carnegies, eh? Bagus, tidak seburuk bila diajar oleh guru yang menjadi kepala asrama Parthian, tepatnya di kelas Ramalan. Salah satu alasan kenapa Sean tidak memilih untuk memasuki kelas Ramalan. Catat itu, dan coba pahami. Pasti nanti akan ada kasus pilih kasih yang biasa terjadi di dunia muggle. Sean, sudah cukup sering merasakannya. Oke, dia percaya pada Profesor berwajah Asia yang mengajarnya saat ini. Kelihatan tidak terlalu buruk.

Sean duduk di salah satu bangku yang terletak di deretan belakang. Ini menjadi salah satu faktor, agar dia bisa mengawasi seisi kelas, entah itu kelihatan atau tidak. Dan tak berapa lama, seluruh murid disuruh maju ke depan, untuk mengambil sesuatu dari sebuah kotak yang sudah dipersiapkan Profesor. Eh? Kotak apa itu? Sean memandangi satu per satu temannya maju, dan mengambil sesuatu dari dalam kotak. Sepertinya, beberapa benda dari dunia muggle. Menarik, mereka akan mengidentifikasi benda-benda itu, eh? Sean siap untuk yang satu ini. Giliran Sean maju, dan mengambil salah satu benda yang ada di dalam kotak. Nah, sudah ada dalam genggamannya. Sean menarik benda itu, dan melihat benda yang sudah tak asing untuknya. Ini topi. Sean tersenyum sesaat, memandangi topi yang ada di tangannya. Dia langsung memakai topi itu di kepalanya, dan berjalan ke tempat duduknya semula. Yah, begitulah sifat anak seumuran Sean, tak akan malu, sekalipun sedang dilihat beberapa orang temannya yang mungkin terheran-heran dengan tingkah laku Sean, seperti anak abnormal?

Sean mengambil sebuah perkamen, dan sudah siap menulis. Dia kembali mengambil topinya dan mulai memandanginya. Apa yang akan dia tulis sekarang?

" Hei, dapat apa? ", itu dia bertanya pada orang di sebelahnya.

§§§
Telaah muggle—sigh.

Iya mengambil kelas ini karena yea dia hidup di di dunia muggle, dear. Benar-benar hidup dan menjalani kehidupan selayaknya muggle yang tak punya kekuatan sihir. Jadi ini adalah pertama kalinya ia kembali ke sekolah. Selama ini dia kemana saja? Dia tidur, mati suri. Gadis bertitel Athena itu hanya bisa menguap mendapati kelas Telaah muggle yang hanya berisi segelintir anak. Mana anak-anak rajin lainnya?

Memasuki kelas Telaah Muggle—duduk rapi.

Memperhatikan penjelasan, then—membuang wajahnya ke jendela. Musim gugur sudah tiba, jadi ia mengingat liburannya dengan Mom dan itu mengasyikkan. Di dunia muggle banyak tempat yang bisa dikunjungi. Ivy senang berada disana, kau tahu itu. Tetapi kata Mom, sebagai penyihir kita harus belajar sihir dan itu berguna di kehidupan muggle pada nantinya. Ia menurut saja, sebagai seorang anak perempuan berusia 12 tahun ia memang masih butuh pengawasan dari orangtuanya. Lalu disini katanya ada kotak, kotak yang isinya entah apa deh Ivy tidak tahu. Tubuh mungilnya berjalan ke depan kelas, mengambil kotak yang tadi dikatakan. Katanya di dalamnya ada satu benda. Mungkin berhubungan dengan Muggle, ya jelas berhubungan namanya juga Telaah Muggle, masa yang ada di dalam kotak malah kepala Troll kan tidak lucu.

Well, Ivy membuka kotak itu dengan pelan, mengernyitkan keningnya.

Mengambil dengan hati-hati benda tersebut dan ia menaruhnya di atas meja. “Kabel?” ia tersentak. Buat apa ada kabel? Kalau tidak salah Mom pernah memakai ini, “Aku dapat kabel, McKinley. Kau? Topi?” ia menoleh pada teman sebangkunya. “Lalu ini diapakan?” Iya memang Ivy tidak tahu kabel ini mau diapakan, sebab dia bukan tukang listrik atau tukang apapun.
§§§

Sean masih asik memandangi topi yang baru saja dia ambil dari dalam kotak di depan kelas tadi. Bukankah mereka semua harus mengidentifikasi benda-benda muggle itu? Seperti ciri-cirinya, bentuknya, kegunaannya, dan lain-lain. Untunglah kalau begitu, Sean tidak terlalu repot untuk berpikir, dan dia tak harus memeras keringat lebih banyak dari pada biasanya. Satu benda, yang dapat dengan mudah dia jelaskan di atas sebuah perkamen. Tapi, sampai saat ini dia belum memutuskan apa yang akan dia tulis, dan apa yang akan dia jelaskan di atas perkamennya.

Eh, Kabel? Sean menoleh ke samping, memandangi seseorang yang tadi dia tanya, mendapat apa. Seorang gadis, yang pernah Sean kenali, mendapat sebuah kabel yang sangat bermanfaat bagi muggle. Muggle tak bisa hidup tanpa kabel. Karena kabel itu dapat menyambungkan satu benda, dan dapat mengaktifkan sesuatu. Seperti sebuah kipas angin misalnya, yang pernah Sean baca di salah satu buku di dunia muggle. Kabel itu mengandung sesuatu, yang sampai saat ini belum bisa Sean temukan dalam prgram penelitian dunia muggle-nya. Uhm.

" Ya, aku dapat topi.... ", Sean menarik topinya, dan menunjukkannya pada gadis di sebelahnya, kalau tak salah namanya Athena, eh? ".... kita harus mengidentifikasi benda ini. Kegunaan, dan semacamnya. "

Yah, saling membantu satu sama lain bukan masalah, kan? Sean kembali memperhatikan topi miliknya, dan otaknya kini sudah terisi dengan berbagai jawaban yang akan langsung dia tuangkan ke atas perkamen yang masih putih bersih, masih belum tersentuh setitik pun tinta hitam milik Sean. Sean sudah mencelupkan pena bulunya ke dalam tinta hitam, dan mengarahkannya ke atas perkamen. Lama kelamaan, membentuk huruf demi huruf, kalimat demi kalimat, dan akhirnya sudah hampir menjadi sebuah identifikasi singkat, padat, dan tepat. Begitulah menurut Sean.

Sreet....

Nama : Sean McKinley
Asrama : Nadirs
Topi Muggle
Topi, sebuah benda dengan bentuk yang beragam, dan berbagai warna yang indah. Topi sering digunakan sebagai pelindung kepala di saat cuaca panas, atau sedang hujan. Namun, terkadang topi juga digunakan sebagai salah satu benda untuk memperlihatkan gaya masa kini. Sering terlihat, beberapa anak muda di dunia muggle, berjalan dengan sebuah topi di atas kepalanya, sambil mengunjungi satu per satu toko yang ada di dekatnya.

Tunggu, ini belum selesai sepenuhnya. Sean masih akan melanjutkan smua yang dia ketahui mengenai benda bernama topi itu. Namun, untuk saat ini dia berhenti sejenak, dan beralih ke gadis bermarga Athena yang ada di sampingnya. Apa gadis itu sudah bisa mengerjakan tugasnya dengan benar? Sean, dengan iseng melirik pekerjaan gadis itu, dan memperlihatkan sedikit senyuman di bibirnya. Yan gpasti, tak akan dilihat oleh gadis itu. Mungkin Sean bisa sedikit membantu, eh? Kalau iya, itu bagus. Tapi kalau tidak, itu memang nasib buruk Sean.

" Bagaimana? Bisa mengerjakannya? ", ujar Sean singkat saja.

§§§

Kabel… Buat apa?

Mom sering memainkannya kalau di rumah. Kabel itu seperti ular dan kata Mom, Ivy tidak boleh dekat-dekat dengan kabel. Berbahaya untuk anak kecil. Kabel itu panjang dan mayoritas berwarna hitam, terkadang ada warna merahnya dan dia punya kepala dengan 2 ujung yang tidak runcing, yang kata Mom juga itu berguna untuk mengalirkan sebuah aliran—mungkin aliran sesat ya?

Ivy juga tidak tahu, jadi bagaimana kalau diabaikan saja?

Ivy hanya melihat kabel itu sembari bergidik. Menoleh pada McKinley. Dia dapat topi, kalau topi sih Ivy punya banyak di rumah. Mom sering belikan itu setiap minggu—buat gaya katanya. “Jadi ditulis nih?” Ya iya dong ditulis masa mau dibacain di depan kelas? Ivy nih bagaimana ya? Ivy menyeret perkamennya, kemudian melirik McKinley, nampaknya ia lancar mengerjakan. Jadi? Apa yang harus dia tulis?

Nama : Viervhy Leandra Athena.
Kelas : Bourdon tingkat 2.

TELAAH MUGGLE
Kabel. Sejujurnya Ivy tidak tahu kenapa dia harus mendapat kabel. Kabel yang didapat Ivy warnanya hitam—dan dia takut warna hitam. Itu tidak penting. Kemudian ada kepalanya, ada seperti tanduk tapi bukan, dan kabel ini diam tidak menggigit karena dia baik-baik saja, tidak menggeram saat Ivy pegang. Kata Mom, kabel berguna untuk mengalirkan suatu aliran—aliran sesat sepertinya, Prof. Lalu yang lebih penting, kabel harus dijauhkan dari jangkauan anak-anak imut nan manis seperti Ivy.

Ia menghela nafasnya. Tidak yakin dengan isi perkamennya yang seperti ini. Mudah-mudahan saja nilainya bagus karena Ivy hanya mengerjakan apa adanya bukan ada apanya. “Ya, seperti ini sih. Habis aku tidak tahu sih McKinley…” Athena 12 tahun ini malah nyengir lebar 10 jari—mengerikan.

Senin, 15 Oktober 2012

Nilai FLEW

DAFTAR NILAI FLEW
TAHUN 1938-1939

Narumi Takahiro


Arithmancy : -
Rune Kuno : -
Mantra : O
Wand-Making : T
Herbologi : -O
Transfigurasi : O
Ramuan : O
Mantra Penyembuh : O
Sejarah Sihir : -O
Astronomi : E+
PTIH : O
Telaah Muggle : O
Pemeliharaan Satwa Gaib : O
Terbang : -
Ramalan : -

Catatan : - *(tidak mengambil mata pelajaran tersebut)

Selasa, 18 September 2012

Now I'm breathing like I'm running; private

Member Avatar

Sekeras apapun usaha Louis untuk menghentikan gadis ini menyumpah serapahi ayahnya itu tidak akan berlaku begitu saja, kecuali kalau Pak Tua Jahannam itu menarik kembali pengasingan dirinya ke Amerika. Louis seharusnya mengerti—Odessa bukan lagi gadis kecil penurut. Usianya sudah dua belas tahun, sebodoh-bodohnya dia tentu mengerti apa itu titah diasingkan ke Negara orang. Eskpansi dunia menjadi titik acu permasalahannya. Meskipun alasannya untuk menyelamatkan nyawa Odessa sekalipun gadis itu tidak akan peduli, toh pada akhirnya Napoleon senior akan tetap menggunakan hak veto atas hidupnya. Klise, ia tidak menginginkan alasan apapun dibalik pengiriman dirinya ke Salem. Sesungguhnya lidah ayahnya lebih busuk dari sampah, tahu? Parasnya agung, berbanding terbalik dengan apa yang ada di dalam otaknya.

Tsk!

“Mau kemana?” Suaranya nyaris berbisik. Louis harus menunduk untuk mendengar sepupu tersayangnya bicara.

“Aku mau kesana dulu, kau disini saja.” Ia menunjuk salah satu toko yang sangat ramai.

Panas, pekat, bau menyengat semuanya bercampur jadi satu. Hidungnya gatal, tidak suka wangi menyengat dengan campuran panas matahari. Oh dia butuh salju di musim panas, berapapun harganya akan dia beli demi mencegah kulit epidermisnya terkena serangan violet siang hari. Menaruh tangannya di depan dahi, seraya menutupi wajah yang tersengat. Ia belum mau memiliki kulit eksotis, cukup berbangga hati dengan ras Arya. Ras paling unggul dari segala ras di muka bumi. Iya terus saja membandingkan ciptaan Tuhan, ya? Memang sifatnya suka seenaknya seperti itu, kok. Berlari kecil menuju tempat teduh, cukup untuk melindungi tubuh berisinya dari siksaan matahari siang.

Menyandarkan tubuhnya pada susunan bata, menghela nafas. Membiarkan dadanya turun naik, sedikit mengelus. Menembus keramaian di pusat perbelanjaan ini tidaklah mudah. Terkutuklah ayahnya! Peluh mulai menetes bersamaan dengan kerongkongan yang terasa kering. Menatap nanar bangunan yang dimasuki Louis beberapa menit yang lalu, semoga pemuda itu melihatnya disini.


Member Avatar

Pikiran brengsek macam apa yang tiba-tiba saja menyambangi benaknya lagi. Harusnya Geoffrey Spielberg tidak mengingat rupa dan isi dalam panti asuhan tempatnya tinggal dulu. Entah kenapa pada saat mencari kesana-kemari, benaknya malah memikirkan ruang tidur di panti sana. Tsk! Ternyata berbelanja berdua saja sudah cukup membuatnya kewalahan, apalagi dengan banyak orang. See! Dia terpisah dari Worth. Namun Geo yakin hal ini tidak akan berlangsung lama. Dia dan Worth bukanlah dua pemuda bodoh yang tidak bisa saling berpikir cara untuk bertemu kembali.

Terlahir dengan pikiran yang berbeda dari entitas lain membuat Spielberg muda nampak aneh di mata sebagian orang. Dulu dia sempat menghajar habis-habisan anak tuan tanah kaya di daerah panti asuhan hanya karena mematahkan sebatang sisa rokok yang dia temukan tergeletak diatas tembok bekas bangunan tidak jauh dari terowongan air. Namun dengan kepintaran dan otak jahatnya, ia berhasil lolos dari hukuman. Dari kecil dirinya sudah terbiasa hidup keras, jika dia sudah menginginkan sesuatu maka dia akan melakukan apapun untuk mendapatkannya. Mungkin itu akan menjadi kelemahannya satu saat nanti. Siapa tahu.

Peluh nampak jelas sekali di wajahnya. Geo sebenarnya memiliki paras yang terbilang lumayan tapi dengan penampilannya yang biasa saja justru membuatnya terlihat seperti anak jalanan. Anak yang terbuang atau apalah namanya. Surai merah terangnya dibiarkan berantakan dan mata tajamnya menatap liar ke sekitar.

"......"

Satu entitas yang tengah berteduh disana membuat matanya terpaksa menetap lama untuk memperhatikan surai merah terang yang warnanya senada dengan yang ia miliki. Rasanya seperti pernah melihat gadis itu, tapi dia lupa. Geoffrey berjalan mendekat ke arah sana dan ikut berteduh sambil menatap ke jalanan, masih berusaha mencari Worth. Dahinya berkerut dan tangan kanannya menghapus keringat yang hampir saja jatuh ke pipinya.

Cih! Kenapa jadi penasaran.

"Permisi, apa kita pernah bertemu?"

Kalaupun tidak dijawab bukan masalah baginya. Dia tidak begitu membutuhkan jawaban itu. Lagipula gadis itu bukanlah orang yang dikenalnya dengan baik, hanya karena dorongan rasa penasaran dalam dirinya saja yang membuat pemuda Spielberg ini akhirnya bertanya seperti tadi.

"....."

Oh... sial, harusnya peduli setankan saja rasa penasaran itu.

Member Avatar


Merangkul dirinya sendiri, nafasnya terengah. Bukan lantara berlari kecil menuju tempat teduh, lebih karena persediaan oksigen mulai menipis di sekitarnya. Kepadatan orang-orang berjalan dan memenuhi setiap sisi jalan inilah yang membuatnya harus susah payah menghirup oksigen, ditambah bau tidak setiap setiap kakinya melangkah dalam hitungan jengkal. Berniat mengikt kasar helaian surai merahnya, ia terlalu sayang pada bagian tubuh tercintanya. Membawa telapak tangannya untuk mengelap peluh dengan harapan tidak ada lagi tetesan keringat yang jatuh untuk menghancurkan penampilan saat ini. Dilihat dari segi manapun, seorang puteri tidak boleh terlihat lusuh, ya?

Ah Louis dia lama sekali, bisa mati kering disini.

Odessa kecil menggelung surainya, menggerakkan tangannya seolah udara segar bisa keluar dari gerakan kasar tangannya sendiri. Mengingat sendirian di tengah keramaian itu sedih, lebih baik sendirian di dalam hening. Meskipun tak satupun yang memandangnya kesini, ia masih sering mendengus kesal apabila melihat anak-anak kecil bergerak manja pada orangtua mereka. Meminta ini dan itu, mengajak orangtua mereka kesana dan kemari. Ia sendiri kesini hanya berdua dengan Louis, secuil amarahnya menggelegak kala mengingat Napoleon senior begitu ingin mengasingkan dirinya ke Salem. Gadis kelahiran Sydney sama sekali tidak peduli dengan hiburan ibunya yang tempo hari mengatakan kalau ini demi kebaikan dirinya. Cih! Jangankan pengasingan, perjodohannya dengan Orion bahkan dengan alasan yang sama.

Nyx menunduk, membiarkan tatapannya hanya berujung pada dua tungkai yang kini menjejak di tanah. Entah kenapa ia merasa kalau mulai saat ini hidupnya mungkin memiliki kebebasan, tidak lagi terkungkung di dalam sebuah istana besar tanpa kehidupan. Calix Lumina, sejak ia dipindahkan kesana seorang diri, Napoleon hanya menugaskan pesuruh pribadinya untuk mengurus keperluan puterinya semasa ia menghabiskan pendidikan di Salem. Ah hanya pesuruh, bukan mata-mata. Ia bisa bebas melakukan kegiatan apapun, kalau tengah berada di Calix Lumina. Menyuruh Louis menemani dirinya pun  tidak akan ketahuan. Ya, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya kan.

Sigh—sebentar, ada yang berjalan kearahnya. Seorang gembel jalanan ingin meminta kepingan uang mungkin? Ia memiliki warna yang sama, hanya terlihat lebih kumuh.

Dihampiri seorang laki-laki di tengah keramaian, dan dia berada di sudut. Bukankah ini waktunya agar gadis Napoleon menghidupkan sikap waspadanya? Alisnya meninggi, mendapati pertanyaan ganjil yang berasal dari pemuda di depannya. Pernah ketemu katanya? Alibi macam apa yang dikatakan, ia bahkan baru melihat pemuda itu hari ini. Apa ini modus kejahatan baru terhadap sesama anak kecil? Belajarlah dari ajaran nenek moyang, meski ajaran itu sudah kuno dimakan usia. Maka jangan tatap mata anonim di dekatnya.

“Kurasa tidak. Kau siapa?” 


Member Avatar

Berarti dia salah orang. Atau mungkin hanya lantaran terlalu lelah dengan semua omong kosong ini makanya Geoffrey Spielberg merasa pernah melihat gadis dengan surai merah disana. "Oh... bukan siapa-siapa." Pemuda Spielberg itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Menarik nafas pendek dan mengeluarkannya dengan cepat. Pikirannya mulai muncul bayangan aneh-aneh lagi. Sepertinya dia benar-benar butuh benda sial yang mampu membuatnya melupakan sejenak tentang duniawi, membuatnya melayang hingga berada di dunia miliknya sendiri. Sialnya Geo belum menemukan Worth, itu artinya pemuda dengan surai merah terang ini harus rela menahan diri untuk tidak mengambil waktu penuh kenikmatan miliknya. Kemana pula perginya si-peti-harta itu. Merepotkan saja, suasana ramai seperti ini sungguh membuatnya merasa tidak nyaman, ditambah dengan sinar matahari yang begitu bersemangat di atas sana.

Lalu apa yang harus dia perbuat pada gadis di sampingnya ini?

Geoffrey itu bukanlah tipikal pemuda yang bisa berbasa-basi, dia sepertinya akan memilih untuk mengacuhkan si gadis alih-alih mengajak gadis itu bicara lagi dengan melontarkan pertanyaan lain sebagai permualaan. Tapi pertanyaan awal tadi memang serius dan bukan hanya sekedar basa-basi, dia hanya merasa pernah melihat another redhead di sampingnya ini. Siapa dia? Kenapa bisa terlihat familiar? Itu semua pada akhirnya hanya diabaikan olehnya. Namun, ditilik dari penampilannya, gadis ini seperti nona muda kaya raya yang memiliki segalanya atau mungkin mampu memiliki segalanya hanya dengan satu tunjukkan dari telunjuknya yang kecil itu. Dalam hal yang menyangkut masalah galleon, Geo tidak bisa berkata tidak tertarik. Masalah kehidupan dia yakin kalau dirinya jauh lebih tahu tentang asam garam dunia dibandingkan bocah perempuan disana. Hanya saja masalah uang, Geo kalau telak.

"......"

Spielberg muda mengacak surai merahnya. Tangan kanannya mengeluarkan rokok yang tinggal setengah dari saku celana. Tangan kirinya mengambil pemantik kecil dan mulai menghidupkan sisa rokok yang tadi sempat dia hidupkan tapi harus dimatikan lantaran Worth tidak begitu menyukainya. Geoffrey menghisap dengan ekspresi penuh kenikmatan dari benda yang selama ini menjadi temannya. Mulutnya menghembuskan sisa asap yang dihasilkan oleh rokok tadi. Masalah gadis disebelahnya tadi, dia sudah lupa, serius. Atensinya tentu saja akan tetap teralih jika ada sapaan lain. Begini-begini dia juga punya jiwa, tidak sepenuhnya mengabaikan. Fuh.


Member Avatar

Lagi-lagi harus mengenal anonim lain. Alibinya mengatakan kalau ia pernah melihat perempuan lain yang mirip dengannya atau malah katanya mereka pernah bertemu sebelumnya. Bertemu dimana? Alam akhirat sebelum lahir ke dunia? Mimpi! Cih, belakangan banyak sekali tipe-tipe kejahatan yang marak diperlihatkan. Bocah laki-laki ini contohnya, dari penampilannya saja sudah seperti penjahat. Wajar kalau Nyx bersikap waspada meski ia lebih banyak diam. Dia tidak suka banyak bicara pada orang yang belum dikenalnya, jangankan sama teman seumurnya, sama kedua orangtuanya saja ia jarang bicara. Maka tak jarang ia akan dinilai sebagai pribadi arogan.

Ketika ia mempeduli setani semua penilaian orang lain, faktanya ia sendiri terkadang menilai dirinya kelewat batas.

Tidak bisa hidup mandiri tanpa Louis. Selalu menyusahkan sepupu laki-lakinya dan tidak memberikan Louis celah untuk orang lain misalnya. Sekedar mengingatkan, mereka berdua jiwa yang terpisah setelah sekian lama bisa dipersatukan tanpa Napoleon senior bisa mengambil haknya, kecuali kalau Pak Tua sialan itu datang ke Calix Lumina dan menemukan anak perempuan tinggal satu atap dengan Louis Napoleon. Tapi toh biar saja, Louis sepupunya. Sudah dianggapnya menjadi bagian hidup paling penting dari segalanya. Tahu apa Pak Tua tentang hidup penuh kasih sayang, toh ia membenci puteri tunggalnya sendiri, kan?

Jika memang lahir untuk dibenci kenapa tidak sekalian saja dia dibunuh sebelum lahir?

Tidak perlu repot memperlakukan gadis belia sepertinya seolah ia berbeda gender. Kenapa juga mereka tidak memproduksi anak lagi? Bukankah ayah menginginkan anak laki-laki di dalam hidupnya? Sedangkan ia seorang perempuan, atau ia harus berganti peran sebagai anak laki-laki seumur hidupnya? Terserahlah, dia benci hidupnya sekarang.

Sigh—melirik pemuda anonim sebelahnya. Sejak kapan gembel punya tampang lumayan seperti dia? Gembel elite, katakanlah begitu. Ada sebuah benda terselip diantara bibirnya, dan itu mengeluarkan asap. Cerutu kah? Karena jika di istana, satu-satunya benda yang mengeluarkan asap dan diselipkan diantara bibir hanya cerutu milik Pak Tua sialan, ayahnya. Sebentar, ia menengadah berusaha mengingat nama benda yang tengah dinikmati pemuda sebelahnya. Hitungan detik berlalu, dan dia menyerah.

“Itu benda apa?” Tanya Nyx dengan wajah datar. 

Senin, 17 September 2012

May I?


Posted ImagePosted Image

Lloyd Leifheit yang dikenal sebagai orang hebat di dunia muggle ternyata tersusun atas fragmen-fragmen kekanakkan tiap kali berada di Rosemary Way.

Anthony berkali-kali melirik ke arlojinya, memastikan dia pulang tepat waktu untuk mengepak segala sesuatu yang perlu dibawa ke sekolahnya. Ada setitik rasa cemas di wajahnya, khawatir ke depannya dia bakalan telat menuju portkey. Orang tuanya ada di dalam toko es krim atas bujukan sang ayah—yang dengan konyolnya malah lebih ambisius dibandingkan dengan Anthony—sehingga dirinya hanya bisa tersenyum pasrah dan menitip-belikan sebuah es krim coklat bertabur kacang gurih.

Rosemary Way—mereka semua ada di sini untuk membeli keperluan sekolah Anthony. Semua ini berawal dengan seekor burung hantu di perpustakaan dan senyum yang mengembang di wajah Colette Leifheit tatkala putranya menyampaikan gulungan surat berisi undangan bersekolah di Institut Sihir Salem. Orang tuanya tak henti-hentinya bersorak dan mengucap selamat pada Anthony, dan dia cukup lega bahwa keduanya tidak menuntut dirinya untuk mencapai sekolah yang lebih tinggi lagi—meskipun sang ibu adalah lulusan Hogwarts. Ayahnya sebenarnya ingin mengadakan jamuan makan malam untuk merayakan keberhasilan Anthony, tapi ibunya ngotot pergi ke Rosemary Way untuk membeli perlengkapan sekolah putranya.

Leifheit muda itu berdecak pelan, memperhatikan berbagai macam penyihir hilir mudik di hadapannya; beberapa menggandeng tangan-tangan kecil usil yang mencoba untuk mengayunkan tongkat sihirnya. Mungkin calon murid Salem seperti dirinya. Merasa tidak bisa menunggu dengan keadaan bengong lebih lama lagi, Anthony mengeluarkan sebuah buku dari tas selempangnya—The Grapes of Wrath, karangan seorang muggle yang dibelinya beberapa bulan sebelum pindah ke Sallowsville—dan bersandar di tiang lampu terdekat.

Seperti biasa, susah sekali menemukan tambatan untuk Anthony kembali ke dunia aslinya. Dia menutup bukunya setelah melahap lima halaman dan mendapati sebuah sosok yang berdiri di sebelahnya.

"Salem?" tanyanya penasaran, memberanikan diri untuk memulai percakapan pertama.



Posted Image



Louis selalu saja bisa diandalkan, dimanapun gadis ini membutuhkan bantuan disanalah ia bisa menemukan Louis Napoleon mengulurkan tangannya. Sementara pemuda tersayangnya tengah membelikan segala kebutuhan sekolahnya, Nyx malah asyik berada di tengah kerumunan Rosemary Way. Nona besar tidak perlu repot berkecimpung di tengah banyaknya gembel jalanan hari ini, tidak perlu merasa kepanasan karena yang dia lakukan hanyalah duduk-duduk saja di Rosemary Way. Sebenarnya Louis mengajaknya untuk membeli semua kebutuhan Odessa hari ini, Nys sendiri mau saja tapi sejurus kemudian Louis mengatakan kalau lebih baik ia duduk saja di Rosemary Way. Ah memang Napoleon satu itu sangat perhatian terhadap dirinya.

Pemuda seperti itu bisa dihitung jari kan?

Pesan terakhirnya menuntut Nyx untuk tidak kemana-mana selama Louis membeli peralatan sekolah dirinya. Mengulum senyum seraya mengangguk. Ah senyum yang hanya ia tunjukkan pada kalangan tertentu, bukan lagi rahasia yang ia simpan untuk dirinya. Bahkan kolega ayahnya tahu kalau anak gadisnya bukan gadis biasa. Tumbuh kembang dari didikan sekeras militer ayahnya, mana bisa menjadi gadis urakan kan? Menatap kerumunan Rosemary Way dengan datar, kapan terakhir kali ia hidup di dalam keramaian? Mungkin saat dirinya berada di kandungan. Begitu terjun ke dunia, ia tidak bisa merasakan bising, yang ada selalu senyap menghampiri. Jelas saja ia membenci Napoleon senior, kepala ayahnya terbuat dari batu mungkin, telinganya pun sudah tertutup ketamakan. Otaknya hanya penuh dengan bisnis, dan uang.

Kenapa malaikat maut tidak menjemputnya secara sukarela? Ayahnya mati pun Nyx tak akan menyesal.

Berdiri di tengah kerumuna tak juga membuat Odessa beranjak menuju konter pemesanan yang padat, antrian sepanjang ular tak juga memberikannya minat. Tempat duduk pun selalu terlihat isinya, tidak adakah satu tempat saja untuk gadis ini? Berharap laki-laki dengan buku bacaan di sana bisa memberikannya tempat. Tungkainya melangkah, memberikan jalan baginya menemukan tempat. Hanya menatap sekilas ketika si empunya tempat sudah lebih dulu menyadari kehadirannya tanpa diminta, ditatapnya datar. Lantaran kata Salem membuatnya ingin melarikan diri dari tempat ini—tempat dimana ayahnya berniat mengasingkan Nyx dari dunianya sendiri.

“Menurutmu?” Tanpa tedeng aling-aling langsung mendudukkan dirinya. Ini tempat umum, tidak perlu meminta persetujuan resmi kan? 


Posted ImagePosted Image

"Oh, maaf—aku tidak sopan, ya? Here."

Leifheit muda itu bergeser, kemudian menyisakan tempat yang cukup untuk gadis itu duduk kemudian memperhatikan surai sang gadis yang berwarna merah menyala, dan mengangkat alisnya sembari berpikir apakah dia bisa menerangi ruangan saat mati lampu menggunakan kepalanya. Bukan sebuah hinaan, tolong simpan pukulanmu untuk Anthony—dia cuma berasumsi. Toh dia sudah melihat banyak sekali penyihir yang lebih ajaib dari apa pun yang kauanggap ajaib.

Gadis itu menjawab pertanyaan Anthony dengan pertanyaan yang sama sekali tidak membantu. Dia hendak tertawa, tapi ditahannya. Dikiranya Anthony tukang kepo apa. Nope, tidak sama sekali; yang dia inginkan hanyalah percakapan antar-penyihir cilik yang normal dan biasa, dan kalau gadis itu tidak menginginkan Anthony mengusiknya—dia hanya perlu bilang tidak. Semudah itu. Kalau mereka ternyata sama-sama murid Salem, bukankah itu berarti kesempatan untuk berteman lebih terbuka untuk mereka?

Anthony Leifheit membuka kembali bukunya, napasnya berat.

"Hanya sekedar bertanya." dia menolehkan kepalanya ketika menjawab, setidaknya cukup sopan daripada menjawab dengan mata terarah ke rangkaian kata-kata rumit yang dipegangnya. "Kau yang tanya. Menurutku kau juga akan masuk Salem."


Musim panas di Rosemary Way dengan pemandangan berpasang-pasang mata yang berbinar tatkala tangan mereka digandeng oleh orang tua mereka memasuki sebuah toko tongkat dan buku artinya surat undangan dari Salem. Tidak perlu repot-repot menyimpulkan dari mana dia mengetahui hal itu, sebab di dunia muggle pun terjadi pemandangan yang sama. Berbondong-bondong orang tua dan anak memasuki toko buku, hendak memilah-milah apa saja yang akan dibawa anak mereka pada tahun ajaran pertama.

Anthony hanya bisa membayangkan dirinya yang menggandeng tangan orangtuanya waktu itu, namun inilah saatnya.

"Leifheit, ngomong-ngomong. Anthony Leifheit."

Posted Image

Melirik lawan bicaranya. Nyaris kelereng kembarnya bergulir secepat peluru tanpa jeda, lantas tanpa meminta izin pada anak laki-laki di sebelahnya, ia segera mengambil alih tempat duduk yang cukup untuk ukuran bokongnya. Hawa panas tak menyurutkan niatnya untuk tetap menunggu Louis membelikan barang belanjaannya. Cih, sejauh mata memandang rasanya keharmonisan keluarga tercipta disini. Sepanjang jalan Rosemary Way, ia bisa melihat bagaimana tangan-tangan mereka saling menggenggam, menunjukkan wajah ceria dan teriakan manja. Lantas apa boleh ia memohon hal yang sama kalau saja Napoleon senior masih memiliki otak yang tidak karatan seperti besi tua, ha?

Selalu seenaknya, dan jangan pernah menatapnya seolah dirinya adalah alien yang baru datang ke permukaan bumi.

My, my mendengar kata Salem saja dia sudah mau muntah, apalagi kalau membayangkan berada di dalamnya? Maaf maaf saja, kalau bukan atas perintah omong kosong ayahnya, ia tidak akan pernah sudi berada di tempat itu. Tentunya alasan kenapa ia menyeret Louis untuk menemaninya kali ini. Namanya juga putri tunggal, setiap titahnya harus dituruti atau gadis ini akan melakukan segala macam cara untuk membuat pesuruhnya bertekuk lutut dan siap menuruti semua permintaannya. Matanya kini tertuju pada lalu lintas pejalan kaki Rosemary Way, orangtua dan anak. Mereka sangat akrab no? Raut wajah bahagia, mata berbinar terpancar dengan jelas. Beberapa mungkin memiliki kebanggaan tersendiri kalau anak mereka diterima untuk bersekolah di Salem, tapi lihatlah gadis ini?

Duduk di salah satu kursi tepi jalan, memakai baju seadanya, rambut merah menyala tergerai, dengan sajian airmuka kasat belas kasihan. Anggaplah orang yang baru saja memberikannya tempat duduk ingin beramah-tamah dengannya.

“Dan menurutmu apakah aku memiliki keinginan untuk berada disana, huh?”

Sekilas menggumam, namun memalingkan wajah. Louis sudah terlalu lama berada di dalam bilik-bilik penjualan. Seharusnya dia sudah kembali dengan segelas air limun untuk tuan puteri kesayangannya. Kerongkongannya berdesir, seteguk ludah saja membuatnya semakin ingin meneguk tetes demi tetes air dingin di terik siang begini.

“Napoleon, Nyx.” Tanpa menatap pemuda di sampingnya. Ia pikir berkenalan dengan orang asing bukan sesuatu hal yang baik.

Posted ImagePosted Image

Beberapa tahun yang lalu, Melle Goodwin, nenek muggle Anthony bilang bahwa dirinya merupakan tipe yang socially awkward. Kepribadiannya berubah-ubah, tergantung bagaimana orang memperlakukan dirinya. Sesaat dia bisa menjadi sosok yang ramah dan periang, namun ada kalanya dia bertransfigurasi menjadi pemuda yang moody dan menanggapi segala sesuatunya dengan serius. Awalnya Anthony tidak percaya—dahinya mengerut dan neneknya bilang bahwa dia manis sekali—sama sekali tidak terpikir bahwa hal itu hampir serupa dengan memiliki kepribadian ganda. Dia tidak bisa membayangkan bertingkah jutek di depan Nathaniel Heffley, tetangganya di Sallowsville.

Tapi detik ini juga, Leifheit muda itu mengerti mengapa neneknya berkata begitu.

Pemuda itu berkali-kali menghela napas berat, dan biner matanya tidak lagi menaungi orang-orang di sekitarnya dengan tatapan teduh. Mata itu meredup, memandang statis pada variasi kata yang rumit. Suasana hatinya begitu jelek sehingga dia harus membaca beberapa kalimat di bukunya berulang kali. Gadis yang satu ini juteknya bukan main, seolah-olah di dalamnya selalu ada yang berkontradiksi dengan Anthony. Namun dia tentu tidak akan membiarkan pemikiran itu menetap di benaknya.

"You don't have to that rude—santai saja," balasnya cepat, mengernyit seakan ucapan gadis itu adalah yang terganjil. Anthony malah lebih menyukai membayangkan belajar dan berteman di Salem. Bayangan-bayangan itu selalu menghangatkannya. Mungkin memang akan ada suka di antara duka atau bahkan kebalikannya, tapi itu sama sekali tidak mengusik keantusiasan Anthony terhadap Salem.

Nyx Napoleon, katanya, bahkan tanpa melirik ke arah lawan bicara. Anthony menutup bukunya kembali, dan menopang dagunya.

"Kau cukup sopan untuk berbicara tanpa melihat kepada siapa dirimu berbicara, ya?"

Smiles.

Posted Image

Nyx Napoleon, bukan tanpa alasan ia diberi nama demikian. Ayahnya menyimpan ambisi tersendiri untuk memiliki anak laki-laki. Ia ingat, dulu sebelum Napoleon termakan oleh rencana politik, ibunya masih menyediakan tempat untuk berlindung. Menceritakan apa saja yang ia ketahui tentang ayahnya. Jauh sebelum Nyx lahir, keduanya memang menginginkan anak laki-laki. Ibu dan ayahnya harus melewati 11 tahun untuk memiliki anak seperti dirinya itupun dengan sedikit keterpaksaan. Mengertilah ketika keinginan seseorang tidak terpenuhi, Napoleon senior sudah banyak merencanakan hal-hal berbau kemiliteran bagi anak laki-lakinya. Namun begitu Nyx dinyatakan lahir dan berjenis kelamin perempuan, harapan yang selama ini dibawa ayahnya punah. Pupus bersamaan dengan kebaikan hatinya semasa dia hidup. Satu tanya, apa salahnya berjenis kelamin perempuan? 

Dia, kalau boleh memilih pun tidak ingin lahir di kalangan bangsawan, apalagi hidup di keluarga bertitel terpandang—sigh. 

Ekor matanya mengawasi Leifheit, namanya. Anonim yang baru saja mengenalkan namanya beberapa menit lalu. Tadinya dia memang orang asing kan, tapi tidak lagi. Guess, dia termasuk calon murid di Salem. Wajahnya menampakkan kalau dia senang berangkat ke tempat antah berantah bernama Salem. Tsk, memangnya tempat itu semenarik apa? Meskipun Louis mengatakan padanya kalau warga Salem jauh lebih ramah daripada warga di sekolahnya, tetap saja ia tidak peduli. Keinginannya pun hanya satu, ingin bersama Louis meskipun hanya satu tahun saja. Pemuda itu benar-benar membuatnya bergantung, saat ini. Maka tidak bisa ia bayangkan kalau tidak memiliki sepupu seperti Louis pada saat dirinya diasingkan begini. 

Atensinya tertarik, Nyx memaksa kepalanya untuk menoleh, menjaga kedua matanya untuk siaga dengan siapa ia bicara. Ditatapnya lekat-lekat pemuda yang baru saja menutup bukunya. Sopan katanya? Tahu apa dia tentang sopan santun, hmm? Tanpa menunjukkan keramahannya, ia menatap diam Leifheit muda. My my, dia tahu pemuda itu kesal. Tapi toh peduli setan, dia orang asing begitu juga dengan Nyx. Mereka hanyalah dua komposisi orang yang melakukan interaksi awal di dalam strata sosial. Kalaupun harus bicara banyak, mengingat Nyx bukanlah orang yang bisa bicara seenaknya terhadap seseorang yang baru dikenalnya—siapapun itu. Memutar matanya, mendengus. 

Posted ImagePosted Image

Bokongnya mulai terasa tidak enak lantaran terlalu lama duduk tanpa berganti posisi untuk beberapa saat. Siku kirinya masih bertopang di paha kirinya, balik menopang dagunya sementara tangan kanannya memegang buku pada ujungnya; menahan agar halaman-halamannya tidak terbalikkan. Pada akhirnya Leifheit muda itu melepas topangannya dan meregangkan tangan kirinya ke atas, sehingga syal coklat yang mengelilingi lehernya terlepas. Ibunya bilang Rosemary Way cukup berangin di musim panas, jadi dia terpaksa memakai syal di atas t-shirt abu-abunya.

Alih-alih menjawab pertanyaannya, gadis Napoleon itu membisu dalam diam. Anthony bisa mendengarnya mendengus beberapa saat kemudian, tapi itu sama sekali tidak mengusiknya. Perempuan. Bisa begitu rumit untuk sepersekian detik, unpredictable dalam jangka waktu yang lama. Kendatipun demikian, semua perempuan terlihat sama di mata Anthony, dan dia tidak mau ambil ribut soal itu. Selama dua belas tahun menghembuskan napas juga dia tidak pernah mau mengerti tentang apa yang membuat perempuan begitu berbeda dengan laki-laki. Begitu juga dengan dara Napoleon yang ada di sebelahnya—biarkan saja. They don't know each other so well, by the way.

Namun Anthony tetap bertanya-tanya apakah nantinya dia akan mengerti.

Berusaha mengalihkan pikirannya, dia merogoh saku jeans-nya, mengeluarkan bungkusan-bungkusan kecil berwarna kuning. Manisan karamel yang dibelinya di toko manisan beberapa jam lalu lezat sekali. Anthony kemudian mengulurkan tangan kanannya yang penuh dengan bungkusan karamel kepada Napoleon di sebelahnya.

"Karamel," ujarnya berusaha memecah keheningan, sambil memasukkan satu ke dalam mulutnya. "Ambil saja kalau mau. Ibu bilang biasanya perempuan makan manisan kalau suasana hati mereka sedang jelek. Kalau kau tidak suka, ya—"

Jeda.

"—kau cukup aneh."

Posted Image

Lantaran sudah terbiasa dengan orang awam, puluhan pasang mata akan menatap kearahnya tanpa bisa diminta pertanggung jawaban. Padahal ia memiliki anggota tubuh yang lengkap, wajahnya pun tidak buruk-buruk amat, Louis bilang dia cantik untuk anak seusianya. Terkadang sepasang mata milik orang lain tak pernah luput memandang dirinya, di saat dunia sibuk pun mereka masih bisa menatap Nyx dengan sengit. Napoleon perempuan mulai berpikir, apa yang salah dengan penampilannya? Toh saat ini dia hanya mengenakan terusan berwarna merah marun, menyarukan keadaan surainya yang menyala. Memang ini terlalu terang untuk musim panas berangin?

Tapi toh siapa pula yang peduli?

Louis saja tidak berkomentar macam-macam, dan Louis tidak menyuruhnya untuk berganti pakaian maupun penampilan. Anggap saja orang-orang itu baru melihat penduduk Australia terdampar di Amerika. Ya ya salahkan saja si Pak Tua Jahannam yang tega membuang anaknya sendiri ke Negeri orang. Tanpa sadar setiap mengingat ayahnya, jari-jari kurus miliknya mengepal. Ada emosi terselubung memindai, mengintai di setiap sudut tatapan matanya. Ingatan tajam awal mula ia begitu membenci keluarganya sendiri. Bisa saja melakukannya di tengah keramaian, sejatinya hal-hal intermezzo seringkali hinggap di kepala anak kecil berusia dua belas tahun saat ia memiliki jeda waktu menunggu seseorang kembali untuknya.

Louis, Louis… Kau dimana? Tega membiarkan Nyx bersama seorang aneh di sebelahnya yang kemudian menawarkan permen.

Tolehan kepalanya menarik minat pada sekumpulan bungkusan kecil berwarna kuning di telapak tangan seseorang, permen karamel? Apa ini modus operasi kejahatan terbaru? Memikat korbannya dengan memberikan mereka bermacam-macam makanan menarik yang sudah dibubuhi obat tidur, kemudian saat si korban memakannya maka si pelaku bisa bebas berbuat apa saja yang dia inginkan. Permasalahannya disini, pelakunya mana mungkin anak kecil. Namanya juga perempuan, dan untuk Nyx pikiran negatif bisa datang kapan saja dia inginkan, tidak peduli orang itu siapa dan memiliki gelar apa. Perannya di lingkungan sosial pun tak banyak berpengaruh untuk penilaian secara pribadi bagi Nyx. Pelan-pelan kepalanya mendongak, menatap entitas muda di sebelahnya. Leifheit sudah tidak lagi bersama bukunya, baru saja telinganya menangkap kata pujian—anggapannya.

Aneh—bahkan Leifheit sudah urutan kesekian yang mengatakan kalau dia adalah gadis aneh.


“Kau…” Nyx menatap entitas oppositenya lurus-lurus, tanpa sedikit pun berkedip menatap mata lawa bicaranya, “sudah orang keseratus sekian yang mengatakan seperti itu. Murni karamel? Bukan tindak kejahatan dengan modus baru?”

Manik kembarnya menyapu seluruh garis muka Leifheit saat itu juga tanpa senyuman.