Jumat, 08 Juni 2012

Hikmah Kehilangan-8 ball


Sudahlah jangan diratapi lagi
Yang hilang ataupun tuk lama pergi
Kau merugi saat semua lenyap
Cuma sekejap bahagia yang terkecap

Tak lengkap tanpa yang terbiasa
Jangan jadikan alasan tuk asa binasa
Pahit terasa bila telah sirna manis
Ubah pilu jadi tawa sembunyikan tangis

Cukup hari ini saja ratapi perpisahan
Jangan biarkan beban duka berkepanjangan
Sia-sia merintih bila tak berhenti
Ingat bahagia dan sedih itu berganti

Hidup dan mati itu pasti
Datang dan pergi itu hakiki
Hilang dan memiliki itulah takdir
Ingat adanya awal pasti ada akhir

bila sudah waktunya, yang pergi biarlah pergi..
(relakan saja yang telah jauh pergi)
Relakanlah saja semua, Tak usahlah kau ratapi lagi..
(tak ada gunanya harus larut dalam ratapan)

Kabar baik kadang tak mau berpihak
Berita duka tampil menunjukkan hak
Menang telak gencaran nestapa
Seolah berkata ini belum seberapa

Memang kan jadi hal yang terberat
Hari buruk serasa lama terlewat
Begitu cepat berlalunya tawa tadi
Berganti kisah buruk kesedihan pun terjadi

Tak mudah memang lalui cobaan
Lupa bahwa akal dan hati sumber kekuatan
Semua terlupakan
Semua terabaikan

Terlewatkan hal terpenting untuk kembali
Pada Sang Maha Peduli pemegang kendali
Coba kenali Dia lebih dekat lagi
Pertolongan darinya takkan pernah pergi

Pasrahkan semua petiklah hikmah
Keluh kesah tak berarti tanpa berserah
Bukan menyerah di keterbatasan
Namun itu pilihan terbaik maka lakukan !!

Percaya akan ada hikmah di balik peristiwa
Tak selamanya duka tak selamanya tawa
Yakin hari pastikan berganti
Maknai kehilangan sebagai peneguh hati



Kamis, 07 Juni 2012

Still

:: Airmata, tangis, permohonan untuk tinggal, luka dan keputusasaan. Tidak satupun bisa menyentuh. Harus kamu tahu bahwa suatu saat kebersamaan itu akan berakhir. Akan selesai. Dan tidak ada janji atau pernyataan yang pernah diucapkan. ::

:: Aku tidak bisa mendekat, karena kamu itu seperti fatamorgana. atau garis cakrawala. Tetap ada dikejauhan sana. Tetap ada dalam jarak yang sama. ::

:: Apa yang dilihat dari kejauhan itu kadang kala tidak dapat menghilangkan rasa yang ada di dada. Rasa yang tidak dimengerti. Terkadang bentuknya sederhana dan dihilangkan lewat cara yang juga sederhana. ::

:: Bagiku hidup tetap berjalan seperti keinginan. Harapan, mimpi, dan cita-cita masih ada didepan sana. Utuh dan akan menjadi milik ku suatu saat nanti. ::

:: Cinta Sejati adalah keikhlasan untuk membiarkan seseorang yang dicintai bahagia, meskipun bersama orang lain, meskipun diri sendiri harus hancur. ::

:: Kemarahan menguap. Meninggalkan rongga kosong yang segera digantikan rasa bersalah. Dan rasa baru ini terasa lebih menyakitkan. ::

:: Ketika akhirnya aku menyadari itu, aku berhenti melawan. Yang tetapharus dilakukan adalah bersikap seperti cadas. Agar diriku tetap terlihat baik-baik saja. ::

:: Kini mereka berhadapan. mereka menatap diam. Pada seseorang yang berdiri sangat dekat di hadapan. Hanya bisa begini, karena dirinya pernah diminta untuk pergi. ::

:: Sendiri... Ternyata adalah kekosongan. juga sakit dan kehilangan. sedih dan penyesalan. sendiri itu juga sunyi, sangat sunyi. ::

:: Wujud rasa putus asa, pasrah, juga keikhlasan untuk melepaskan, tapi sekaligus keinginan untuk terus mempertahankan. Agar dia tetap hidup dan tidak benar-benar hilang. ::

:; Hanya kamu yang bisa memahami. untuk satu ruang kosong yang kini tak lagi terisi, mereka yang datang dan pergi itu bisa sesaat menutupi. karena begitu sendirian, aku akan kesepian. ::

:: Sama sekali bukan karena janjinya terhadap Cinta, tapi karena hanya dari kejauhanlah apa yang dibiarkannya tetap hidup dalam hati dan pikiran bisa dilihatnya dalam realita. dengan kedua mata. ::

:: Ada satu ruang yang kadang kala kosong. Tempat aku berlari saat hati tidak lagi mau diam. satu tempat dimana aku bisa berharap dapat melihat kembali apa yang sekarang telah menjadi kenangan. ::

:: Darimanapun cinta itu datang, dari arah yang salah atau benar, torehan pertamanya selalu jadi yang paling menyakitkan, mungkin karena kita membuka seluruh, mungkin juga karena membutakan, hingga tanpa sadar kita melepaskan semua pertahanan diri. ::

:: Seseorang terpuruk diujung sana. seseorang berdiri mematung di ujung yang lain. salah satu berusaha untuk menggapai, sementara yang lain terlanjur menganggapnya telah berpaling ke arah yang lain. ::

:: Ada permohonan menggila dalam dia, agar kamu menoleh, sesaat saja. atau mengeluarkan suara, sedikit saja. agar ada alasan untuk kamu menahan langkah ku. agar ada dalih untuk kamu menarik ku kembali ke samping mu. ::

:: Langkah ku sudah surut sejak awal, ingin sekali mengakui bahwa, "YA, AKU MENYAYANGI kamu yang saat ini bersama ku. Tapi itu tidak ada gunanya kalau sepasang mata itu tidak lagi menatap ke arah ku. Hanya akan sia-sia. Tidak ada cermin yang memantulkan kata "YA" itu. tidak ada gema yang bisa menciptakan perulangan, agar tetap ada harapan meskipun dua, tiga, seratus "YA" sebelumnya tidak terdengar. ::

It's about all of us

Kejadiannya tanggal 30 November 2008

Dalam rangka sidang terakhir kelas 9, kita pergi ke museum mandala sama Monas. Waktu itu yang hadir, Samara, Gue, Lia, Rifa, Fathim, Manda, Andira, sama Rasendah. Saat-saat yang paling gue senengin dan paling gue inget itu adalah pertama perdana jalan-jalan bareng walaupun Lia masih bawa-bawa keluarganya, uh well emang dia hobinya begitu. Tapi nggak apa-apa, Sam juga banyak pak cik nya yang bikin gue.... Oke, well agak menarik minat. Aha, dan ada banyak hal yang kita lakuin di sana.

Yang paling gue seneng itu di monas, yang pas main di pelataran cawan. Rame-rame foto ngebelakangin matahari yang udah sore. Terus main lari-larian ke sana kemari, iya gue seneng banget. Waktu itu gue masih polos, nggak pernah mau mikir macem-macem. Yang gue tau cuma kesenangan aja, yang gue tau kepuasaan dari kebersamaan yang gue jalanin sama mereka. Terus gue pernah bilang, "suatu saat nanti pasti gue bakalan ke sini, dengan atau tanpa kalian."

Dan well, gue nggak nyangka kalo pas SMA gue bakalan sekolah di SMK Jawis, jurusan travel yang setiap saat berurusan sama objek wisata, dan Monas udah pasti jadi langganan. Gue udah buktiin ke mereka kalo pada akhirnya gue ke sana dengan atau tanpa mereka, dan gue puas. Ada banyak kenangan yang bisa gue nikmati di sana terutama di pelataran cawan. Nggak tau, gue suka aja di sana. Anginnya, pemandangannya tetap sama kayak dulu pas gue ke sana tahun 2008. Nggak nyangka aja gue bisa menjejaki tempat-tempat yang dulu gue mau datengin lagi. Iya, momentum sama mereka itu yang paling berharga buat gue. Setiap gue ke monas dan gue ke cawan, yang gue inget itu pasti mereka, teriakan mereka, ketawanya mereka, semuanya tentang mereka. Iya gue selalu inget itu dan nggak akan pernah lupa.

Makasih ya kalian yang udah kasih gue banyak kenangan, gue masih simpen foto-foto kalian lho...


Ini pas di depan museum mandala, ya kan?

Moment yang paling gue suka adalah yang ini!

Kalo yang ini di museum gajah...

Museum Mandala lagi...

Yang pake baju item itu pak cik nya samara... :)


Yak cukup itu aja, lagian gue cuma mau berbagi kenangan aja kok.

Rabu, 06 Juni 2012

He Is My First (part 4)


Seolah tak pernah aku temukan, untuk satu jawaban yang menggema, meneriakkan beberapa patah kata dalam lengkung abadi senja. Tak pernah aku menaruh harapan besar di atas langit mega, aku hanya butuh seteguk surya untuk menguatkan. Mengalihkan diriku dari badai, pasir dan Hera akan bertanya pada Zeus, bagaimana memikat dewa dengan kecantikan Aphrodite sebagai tahtanya. Kemudian bumi akan tertawa, mengguncang Yunani hanya dalam sekejap.  Isak tangis malaikat yang membuatnya terheran, ada apa dengan langit kelam? Mampukah awan menunjukkan singgasananya? Di balik kelabu malam, dan gagak yang menghindar? Apa aku harus mencari celah dimana kedatangan ajudan Tuhan? Oh sebaiknya kotak Pandora tidak perlu dibuka, bukankah sebuah rahasia akan tetap menjadi rahasia? Seperti takdir yang tidak perlu dibuka isinya. Tidak seru, seperti puzzle yang kehilangan potongannya atau malah sudah lengkap sebelum kita bisa menyusunnya. Seperti permainan yang sudah usai kemudian dimainkan kembali, tidak seru. Tidak ada tantangan yang membuat keadaan menjadi terhakimi.

Rutinitas yang membosankan, setiap hari hanya ada pelajaran di dalam kepalaku. Pun tugas hanya itu-itu saja yang aku kerjakan, bayangkan bagaimana ada di posisiku?

Dituntut menguasai keseluruhan pelajaran dan setiap harinya harus menelan beberapa kalimat di dalam buku pelajaran. Yeah, aku tersiksa sejujurnya. Namun tak bisa kubayangkan bagaimana raut wajah kedua orangtuaku kalau mereka melihat nilaiku tidak sepadan dengan apa yang ada dipikiran mereka. Pasti aka nada raut kecewa di sana, dan aku tidak bisa membayangkannya. Sama sekali tidak bisa kulihat wajah kelelahan itu kecewa. Mau jadi anak apa aku ini?

Aku menghela nafas, untuk beberapa minggu melelahkan di sekolah.

Dengan kegiatan yang itu-itu saja, sebagai pelajar tentu kejenuhan menjadi yang paling utama. Peluang hari libur walau Cuma satu hari benar-benar dimanfaatkan olehnya sebagai penambah stamina. Belum lagi beberapa tuntutan di sekolah, sementara kedua orangtuanya berjuang demi pendidikannya, gadis berusia Sembilan tahun ini berjuang untuk melihat senyum kedua orangtuanya.

***
“Yah, hujan….” Keluhnya saat melihat awan meneteskan airnya. Jutaan titik air menjatuhkan diri mereka ke dataran aspal. Keras, tapi tidak sakit. Berkali-kali terbentur dan tak bergeming, “ini gimana pulangnya ya?”

Viervhy Juliana melirik arloji biru di tangannya, saat ini berdiri di lorong Ruang Tata Usaha sebelum mencapai gerbang, menikmati sajian langit dengan air tawarnya. Menghanyutkan, pemandangan serupa yang dinikmati oleh anak-anak lainnya. Bening hitam memantulkan perangkap halusinasi yang terekam, sejenak mencium aroma seseorang. Terlalu dikenalnya, ia menoleh. Sesosok tinggi jangkung sudah berada di sampingnya, berdiri tegak dan menatap ke arah yang sama tanpa jeda, tanpa lirikan syang pasti, tanpa gerakan interupsi lainnya. Ivy, biasa dipanggil namanya hanya bisa menatap diam pemuda di sampingnya. Bibirnya mengatup namun detak jantung seolah bicara padanya. Pemuda pemilik surai kecokelatan ini mampu membiusnya dalam sekejap, membuat Ivy serasa sesak nafas di tengah guyuran hujan. Ia tetap mengawasi Favi dalam jarak dekat, diam-diam menyelipkan kecewa sebab dalam jarak sedekat ini saja komunikasi sebatas kalimat sapa tidak terucap sama sekali.

Inginnya mengatakan hal yang wajar, sama seperti anak laki-laki lain yang dekat dengan Favi, menanyakan segala hal tentang kehidupan Favi, semuanya. Ivy seolah haus dengan laki-laki di sebelahnya. Daya tariknya seperti magnet segitiga Bermuda, memantau seluruh nadinya agar terus menelusup di dalam dekap kagum seorang adam.

“Pulang?” Fauzi kulihat sudah berdiri di sebelah Favi, menepuk pundak pemuda itu dengan santai. Favi menunjuk langit dan menggeleng. Bahasa isyarat, kenapa dia tidak bicara saja?

“Tunggu aja dulu sampe reda, lagian bakalan lama deh. Eh, Ivy…” Tolehan Fauzi membuatku mengukir senyum, dan mengangguk, “mau pulang juga?”

“Iya, cuma hujan. Nggak tau nih mau pulang gimana.” Aku mengedikkan bahu.

“Perpus aja yuk sama gue, Fav, Vy… Yuk, si Ito juga masih di perpustakaan tuh.” Ia menoleh ke lantai 2 tempat dimana perpustakaan berada.

Seketika mata kami beradu tatap, sama-sama mengalihkan pandangan ke arah perpustakaan. Sebuah kebetulan atau memang jalan pikiran kami sama? Bahkan dalam sepersekian detik kami berdua sama-sama melangkah untuk satu tempat tujuan—perpustakaan. Kami ingin ke sana, di lantai 2. Setidaknya membaca beberapa buku bisa membunuh waktu, walau langit belum sembuh kesedihannya setidaknya tangisannya tidak menjerit akibat batin yang tersiksa. Menaiki satu per satu anak tangga menuju lantai 2, aku di depan dan Favi di belakang kami. Rasanya seperti mengumpat dalam sunyi, hanya degup jantung sendiri yang terdengar. Hanya bisikan dinding yang kau raba, semuanya hanya kau sendiri yang merasakan. Herannya aku tidak berani menoleh ke belakang, terlalu takut untuk mengetahui ia hanya berjarak beberapa centi dari tubuhku, dan posisi kami sangat dekat.

Aku menghela nafas begitu berbelok ke arah perpustakaan dan Favi mengikuti tepat di belakangku. Bukankah seharusnya ia berjalan saja di sebelahku? Atau di depanku? Kenapa harus di belakangku? Seperti ekor yang setia menemani, aku tetap menatap lurus ke depan sampai menemukan palang perpustakaan. Lorong lantai 2 menjadi begitu sunyi setelah pulang sekolah, aku tidak yakin banyak anak yang menghabiskan waktu di perpus. Kau tahu sendiri anak sekolah dasar tidak akan betah berdiam diri di perpustakaan, kecuali kalau di dalam perpustakaan itu ada arena bermain seperti yang ada di taman kanak-kanak.  Sama sekali kami tidak saling bicara, menutup mulut dengan sejuta kata. Aku tidak tahu apakah Favi ingin bicara padaku atau tidak, aku tidak tahu apa yang Favi pikirkan selama beberapa menit yang lalu.

“Ah!”

Aku menarik tanganku, menyadari kalau sedaritadi aku mematung di depan pintu perpustakaan dan tadi tangan kami hampir saja bersentuhan di gagang pintu. Awkward moment, no?

Sekali lagi, kedua mata pekatku menatap kelereng cokelat milknya. Bola mata indah yang selalu menghiasi wajah manisnya. Hidung mancung, dengan kulit putih yang kontras, matanya belo, bibirnya tipis, pipinya tembam, dahinya tertutup poni yang menyamping ke arah kanan. Bulu matanya lentik, alisnya tidak terlalu tebal, surainya cokelat, proporsi tubuhnya agak bungkuk, aku menyukai semua yang tergambar jelas di wajahnya. Asal tahu saja, baru detik ini aku bisa sedekat ini dengannya.

“Jangan bengong…”

Kalimat pertama yang diucapkannya padaku.

Bukannya menjawab aku malah diam menatap Favi. Suara singkat itu begitu menggema di dalam kepalaku. Aku mengikutinya masuk ke dalam perpustakaan. Bilik yang dominan selalu sepi, jarang murid berkunjung ke sini kalau bukan pada saat jam tidur siang. Iya, kebanyakan dari mereka biasanya ke sini saat waktu istirahat siang, memilih tidur di kursi-kursi milik perpustakaan. Jelas saja mereka akan terlelap, Air Conditioner di sini sangat dingin berbeda dengan yang ada di kelas-kelas. Tumpukan buku dan jajaran lemari yang tinggi membuat beberapa murid berlangganan menjadikan perpustakaan sebagai kamar tidur mereka yang kedua—nyaman. Suasana yang tenang dan hening, siapa yang tidak betah.

“Ito dimana? Katanya di sini…” Favi balik badan, ia menatapku dengan wajah tanda tanya.

Sepertinya dia bertanya pada orang yang salah, atau malah bukan sepertinya? Sudah pasti salah, karena aku sendiri tidak tahu Ito ada dimana. Seketika dadaku bergemuruh tak tentu arah, mulai berdegup kencang menyadari situasi yang ada di luar perkiraan. Aku mengitari sekeliling perpustakaan, tak satupun aku temuka makhluk bernafas kecuali udara. Wajahku bersemu merah, menatap Favi sedekat ini. Ah jantungku jadi tidak karuan, bagaimana ini?

“Nggak tau, di sini bahkan nggak ada satu murid pun yang duduk.” Memalingkan wajah, memperlihatkan fakta dan realitanya. Favi menaikkan sebelah alisnya, ia berusaha mengecek ke seluruh ruangan, berharap menemukan satu orang saja di dalam. Langkahnya tenang, matanya mengawasi. Sampai ia kembali di hadapanku dan mengehela nafas, namun kulihat tangannya terisi sesuatu. Buku? Sempat-sempatnya di dalam keadaan yang seperti ini dia berniat meminjam buku perpustakaan? Aku menunjuk buku di tangannya.

“Itu Ito? Kok dia jadi kecil?”

Ini bukan joke murahan, tapi memang aku merasa aneh dan perlu terbiasa dengan suasana yang terlalu kaku seperti sekarang. Favi mengangkat buku itu ke depan wajahnya dan memperlihatkan judulnya di depan wajahku, “7 Keajaiban Dunia.” Dongeng macam apa? Oh ralat, itu bukan dongeng, tapi sejenis buku pengetahuan yang aku tahu dia menguasainya. Aku mengedikkan bahu, dan demi Tuhan untuk pertama kalinya aku lihat dia tersenyum. Senyum tulus dan wajahnya berseri penuh arti. Selasar menghangat di sekujur tubuhku, menimbulkan satu-satunya kesadaran diriku kalau saat ini yang terjadi di depanku adalah nyata. Favi tersenyum jenaka ke arahku. Sungguh ini kejadian langka.

“Bukan, ini buku yang mau gue baca.” Ia menatapku dengan jenaka, setiap centi gerakannya akan terekam begitu kuat di dalam ingatanku, “mau tetep disini atau keluar? Hujannya udah reda belum ya?”

Di luar dugaan dia banyak bicara. Aku baru menyadari kalau ucapan Ito ada benarnya. Kalau hanya sepintas mengenalnya, Favi akan seperti balok es yang mematung di tengah jalan. Dingin, tak satupun senyum yang terukir pada raut mukanya, tidak satupun kata berarti yang keluar dari bibirnya kecuali pada saat moment tertentu. Ah kenapa aku baru menyadarinya? Menyadari laki-laki ternyata lebih dari yang aku duga, nyaris seperti kotak Pandora yang di letakkan secara sembarangan. Tidak, Favi diletakkan di tempat khusus yang bahkan tidak pernah tersentuh oleh apapun. Hanya ada beberapa tangan yang menyentuhnya dengan hati-hati. 

Jumat, 01 Juni 2012

He Is My First ( part 3 )


Seperti biasa setiap hari pertama sekolah di tahun ajaran baru, sudah pasti aka nada kegiatan interaktif antara guru dan murid. Seperti pemilihan ketua kelas, pemilihan wakil, dan seluruh perangkat sekolah. Kemudian penyusunan jadwal mata pelajaran, ditutup dengan pengumuman kalau besok kegiatan belajar mengajar sudah dimulai.

Itu artinya aku akan bergulat lagi dengan pelajaran, berkutat dengan tugas dan berpacaran dengan buku pelajaran. Oh bosan, berusaha menikmatinya adalah jalan yang bagus sekalipun tidak terlalu efektif. Yeah, ini resiko yang harus aku ambil untuk membuat keluargaku bangga. Aku tidak ingin melihat mereka kecewa dengan hasil yang pas-pasan. Kedua orangtuaku itu kan sudah bekerja keras untuk membiayai sekolah, mereka bekerja siang dan malam demi aku untuk mendapat pendidikan yang layak dan ilmu yang bermanfaat. Aku tahu mereka menyimpan banyak harapan padaku, mereka ingin melihat aku sukses melebihi mereka. Maka untuk setiap usaha yang mereka lakukan aku tidak ingin semuanya jatuh sia-sia. Karena masih muda aku yakin peluang untuk sukses banyak, hanya saja jangan sampai aku menyerah dengan mudah.

Bagaimana bisa aku menyerah dengan mudah atas pendidikan dan kesuksesan sedangkan kedua orangtuaku saja tidak menyerah begitu saja demi membuatku sukses di masa depan? Konyol, huh?

Aku membereskan buku-buku yang masih kosong, dan berniat untuk langsung pulang ke rumah. Karena harus istirahat, sementara sore nanti aku ada les tambahan. Jadi sebaiknya daripada keadaanku memburuk dan jatuh sakit, harus sedia payung sebelum hujan dari sekarang.

“Bareng Vy?” Aku menoleh, mendapati Ito sudah berada di belakangku dan sudah memanggul tas ranselnya.

“Tumben…”

“Tumben apanya?”

“Biasanya bareng Favi, kok tumben mau bareng gue?” Aku berniat memakai tas ransel dan baru saja bicara tentang Favi orangnya malah sudah muncul tepat di belakang Ito.

“Favi mau main ke rumah gue, nah lo kan searah sama gue jadi sekalian aja…”

Aku bukannya mengangguk malah mengalihkan pandangan pada Favi yang sama-sama menatap ke arahku. Kenapa aku malah membenci saat-saat seperti ini? Saat-saat ketika ia menatap mataku dan aku hanya bisa berdiri diam mematung. Apa yang salah dengan tatap matanya? Apa yang salah dengan bius yang mengarungi alam bawah sadarnya?

“Hei, Vy! Jadi nggak pulang bareng?” Ito mengagetkan lamunanku.

Sialan, desisku. Mengganggu saja, menganggu pikiranku tentang Favi. Imajinerku tengah merasakan kedamaian tadi.

“Hng… yaudah, oke.”

***
Aku melihatnya, dia begitu tenang. Seperti air yang mengalir mengarah pada samudera. Hampir tidak pernah kutemui ia bergejolak seperti api yang siap dipanaskan. Tidak pernah kulihat amarah menguasainya, selalu ketenangan yang mendominasi wajahnya. Di saat seperti apapun yang kulihat hanya angin mendayu. Siapa yang tidak terpikat pesonanya?

Aku tahu, aku hanya anak kecil berusia 9 tahun yang terlalu berpikir secara dewasa, namun itu semua tidak ada artinya. Meski aku terus mencari jawaban apa yang aku rasakan setiap kali melihat dia? Apa yang aku rasakan ini wajar? Terlalu terpikirkan, aku tidak bisa mengelak dari badai yang datang, yang membuatku menelan bulat-bulat pikat tubuhnya.  

“Itu rumahnya Ivy!” tunjuk Ito saat aku berhenti di depan rumah.

No response, tidak ada respon berarti yang Favi katakan. Ia menatap datar bangunan 2 tingkat di sebelah kiri kami. Sementara aku sudah membuka gerbang dan aku masih tidak bisa memalingkan tatapanku dari kedua mata cokelatnya.

“Makasih ya udah nganterin…” Ito melambaikan tangannya sementara aku bergegas masuk ke dalam rumah, menaruh sepedaku dan pergi ke kamar.

Sengaja aku melewati dapur dan pirantinya. Aku sedang tidak ingin menyentuh apapun di meja makan, aku hanya ingin segera tidur dan berangan-angan dengan pikiran imajinerku. Terutama tentang pemuda bernama Favian. Nama kecil yang selalu membuatku tersipu setiap kali mata kami bertemu tatap, nama yang selalu ada di dalam kepalaku, nama yang selalu aku hembuskan setiap kali merasa kesepian, nama yang sudah aku ukir baik-baik di suatu tempat tak bertuan. Menaruh lenganku di atas kepala, sebaiknya aku beristirahat saja.