Senin, 19 Agustus 2013

My words were cold and flat and you deserve more than that

======oo======

"Semalam pulang jam berapa?"

Kant mendongak, sekian menit menatap sarapan paginya tidak juga mengenyahkan pikiran rumit semalam.

"Jam satu. Aku bertemu dengan Lee dulu untuk mengambil berkas-berkas siswa." Kant mencoba tersenyum dan kembali menyuapkan sepotong sandwich ke mulutnya sementara Belle mengangguk mendengar dusta yang dikatakan Kant.

Maaf aku berbohong padamu.

"Jadi bagaimana pekerjaanmu?"

Sedikit tersedak dan ia batuk.

"Eh ya, begitu-begitu saja." Kant berusaha mengambil gelas berisi air putihnya.

"Begitu-begitu saja? Tidak ada yang memberi selamat atau kejutan?"

"Semua memberi selamat kecuali pekerjaanku." Susah payah ia mengatakannya. Tentu saja pikiran semalam masih menghantuinya dan akan terus menghantuinya sampai masa penugasannya tiba dan dia harus meninggalkan Belle seorang diri di Sallowsville.

Oh Tuhan, itu akan terjadi cepat atau lambat.

"Aku harus berangkat, maaf tidak bisa menemanimu lama-lama." Kant beranjak dari kursinya meraih mantel tebalnya dan menghampiri kursi Belle serta mengecup keningnya.

***

Kant menaruh kepalanya diatas meja sesampainya di Kementrian. Ia merasa pusing bukan main. Baru saja datang dan memasuki ruangan sudah ada 2 tumpuk berkas dan panggilan rapat pada jam 2 siang dan jam 3 sore. Belum lagi ia harus merampungkan materi untuk ujian FLEW dan HLEW. Oh tidak bisakan berhenti sebentar saja, ia ingin bernafas. Tidak bisakah pekerjaannya digantikan oleh orang lain?

Satu hal yang membuatnya kesal adalah ketika semua orang menjadi tidak sabaran. Mereka yang menunggu berkasnya untuk dianalisa dan disetujui oleh Kant mulai meneroronya menggunakan surat atau orang-orang suruhan yang menunggui Kant setiap tiga puluh menit sekali. Bagaimana kepalanya tidak mau pecah, hei? Ditambah lagi ia memikirkan kalau beberapa bulan lagi ia harus meninggalkan Belle sedangkan meninggalkan Belle sama sekali bukan hal yang dia inginkan. Kant memutuskan untuk mengambil pena dan menuliskan beberapa kalimat. Ia akan pulang cepat hari ini. Kalau perlu ia akan minta cuti untuk rehat sebentar dari pekerjaan di kementrian. Cukup, dia muak.

***

Pada akhirnya waktu akan menunjukkan betapa Kant merupakan lelaki dengan banyak dusta dan dia adalah laki-laki pengecut. 3 bulan sudah berlalu sejak surat panggilan dinasnya, dia bahkan tidak mengatakan apapun pada Belle. Padahal apa sulitnya mengatakan kalau dia akan pergi dinas? Apa sulitnya mengatakan kalau ia akan meninggalkan Belle sebentar saja untuk pekerjaannya? Baiklah, sebentar itu berapa lama? Hitungan bulan? Sayangnya Kant mendapat panggilan selama 3 tahun untuk memulai pekerjaannya. 3 tahun, sebentar katanya. Ini gila, orang waras macam apa yang menyuruh pengantin baru berpisah selama 3 tahun? Kementrian sudah pasti otaknya rusak. Kant berkali-kali memaki dirinya sendiri. Ia ingin melepas tanggung jawabnya sayang kontrak penelitian yang telah memanggilnya sudah ia tanda tangani sebelum pernikahan dan ia nampaknya setuju dengan waktu dinas selama 3 tahun.

Nyatanya jatuh cinta membuatnya lupa akan semua hal yang dilewatinya.

Kant menyeret langkah kakinya ketika malam sudah larut dan toko-toko di jalan Sallowsville sudah tutup. Musim dingin, tetap saja tidak ada libur dan ia baru saja kembali setelah menemui Lee di Salem. Minggu ke-enam musim dingin, malam memang dingin tapi ia tidak merasakan apa-apa dan mungkin mati rasa. Sesekali kakinya menendang tumpukan salju di jalan, memasukkan tangannya ke dalam mantel yang tebal dan ia berhenti di depan rumahnya. Sudah gelap, ia sudah memperingatkan Belle untuk tidak lagi menunggunya setelah kejadian pertama kali ia hidup bersama dengan Belle. Ia tidak mau membuat Belle sakit dengan terus-terusan membiarkan gadis itu tidur di ruang keluarga, di sofa, di depan televisi. Kant tidak ingin membuat Belle menunggunya, rasanya ada rasa bersalah yang terus menggerogotinya.

"Aku pulang..." Ujarnya dengan suara parau. Duduk di depan pintu masuk sembari membuka sepatunya. Menunduk diantara lututnya dan melepaskan tali sepatunya.

"Malam sekali?"

Kant tertegun, ia mengenali suara ini. Enggan menoleh seraya melepas sepatunya. Sudah dibilang jangan menunggunya malah sekarang belum tidur.

"Aku sibuk..." Kant bangkit, berjalan dengan sedikit menunduk dan mengambil sendal serta menaruh sepatunya di rak belakang pintu.

"Bertemu Lee lagi? Kapan punya waktu untukku?"

Kant menegapkan tubuhnya, di lihatnya Belle dengan piyama merah jambu lembut dan rambut yang tergerai. Matanya tidak menunjukkan tanda-tanda ia habis tidur dan kedua tangannya berada di belakang tubuh. Kant menaikkan alisnya, merasa aneh dengan Belle malam ini.

"Belum tidur?" Ia tetap tak melangkah maju dan menciptakan jarak dengan Belle. Seolah takut Belle menyembunyikan jebakan diantara keduanya.

Respon perempuan yang dinikahinya empat bulan lalu hanyalah menggeleng.

"Aku menunggumu..." Katanya merajuk dengan wajah memelas minta dipeluk. Kant mendengus, padahal sudah berkali-kali ia katakan kalau Belle tidak perlu menunggunya lagi sejak malam itu. Akhirnya ia mendekat, menatap seraut wajah yang dirindukannya siang dan malam meskipun setiap hari mereka bertemu.

"Aku 'kan sudah bilang jangan menungguku lagi."

"Iya, aku tahu..." Belle membawa satu tangannya dan menegakkan telunjukknya menyusuri dada Kant.

"Terus kenapa?"

Kenapa perempuan susah ditebak?

"Bukan keinginanku untuk menunggumu malam ini." Ujarnya manja. Belle menaruh kepalanya di dada Kant dan ia hanya menangkap gelagat aneh yang tak biasa ini. Sambil memutar matanya dan membiarkan Belle dengan tingkah anehnya.

"Lalu? Apa yang salah denganmu? Ini sudah sangat larut, ayo kita tidur." Kant merengkuh bahu Belle dan mengajaknya ke kamar. Namun Belle tidak bergerak, ia hanya diam dan menatap sebal. Kant mengernyit, meminta penjelasan tanpa mengucapkan apapun.

"Kalau ini keinginan dia, aku bisa apa? Dia ingin menunggu ayahnya pulang."

Kant mengernyit lagi, kebingungannya bertambah. Dia siapa yang dikatakan Belle? Sementara kedua matanya tertuju pada tangan Belle yang menunjuk perutnya dan matanya membelalak. Antara bingung dan terkejut.

"Dia? Siapa? Ayah? Maksudmu?"

Baiklah ini akan bertambah gila. Dia yakin besok harus dibawa ke psikiater.

Belle mendekat, merapatkan jarak keduanya. Tangannya yang mungil dan jarinya yang jenjang menyapu pipi Kant.

"Bisakah ucapkan selamat malam pada calon anak kita, ayah?"

Kant masih diam terpaku di tempatnya, kemudian tertawa kecil. Kini dia mengerti karena Belle mulai menatapnya dengan tatapan sebal. Kant membiarkan tangannya menghabiskan lingkaran keduanya, mengangkat tubuh Belle yang ringan ke udara dan mereka berputar-putar seperti berdansa. Kant tidak berhenti tertawa dan sesekali berteriak senang. Matanya berbinar, menyatu dengan senyum puas Belle yang memberikan kabar baik padanya. Akhirnya waktu membawanya pada babak baru kehidupan.

"Lihat, lihat! Positif! Tadi aku pergi ke St. Octavianus dan bertemu Sagitarius, katanya sudah 3 bulan." Belle berseru manja dalam gendongannya. Kant mengecup singkat Belle untuk menunjukkan betapa ia bahagia dengan keluarga kecilnya ini.

***

"Kita akan ke Sapporo?" Belle melebarkan matanya ketika Kant mengatakan kalau mereka akan bermukim sementara di Sapporo, "Itu artinya aku meninggalkan pekerjaanku? Kita akan ke rumah ibu?"

Kant mengangguk, sejak dinyatakan mengandung Belle jadi lebih cerewet dari biasanya. Untungnya Belle jarang mengalami morning sick selama masa kehamilannya sekarang, Belle juga lebih banyak makan terutama cokelat. Belle selalu meminta Kant membawakannya macam-macam cokelat setelah ia pulang kerja.

Berita tentang Belle sedang berbadan dua, sudah sampai di telinga Lee dan Hyun Na. Mereka turut senang dengan kabar baik yang satu itu, katanya Makabe akan punya teman. Kant hanya tertawa mendengar komentar teman-temannya. Ia juga sering berdiskusi dengan Lee dan Hyun Na, mengingat ia harus menjadi suami siaga untuk Belle. Katanya adalah hal yang wajar ketika wanita tengah mengandung dan meminta banyak hal aneh.

"Tapi kok mendadak sekali?" Belle menjilati permukaan sendok yang sudah diolesi selain cokelat dan menatap Kant penuh pertanyaan.

Pagi-pagi sudah harus berdusta.

"Minggu depan aku ada panggilan tugas..."

Tapi pada akhirnya ia sudah tak bisa berbohong lagi.

"Tugas?"

"Ya, penelitian yang kuajukan sebelum kita menikah sudah disetujui Kementrian dan Menteri Sihir sudah menandatanganinya. Ia memintaku untuk segera menyelesaikan penelitian itu."

"Sebentar, lalu kenapa kita harus ke Sapporo? Memangnya kau mau kemana? 'Kan hanya meneliti saja."

Kant meneguk ludahnya, membiarkan roti panggangnya nyangkut sebentar di tenggorokan.

"Aku akan melakukan penelitian di Afganistan dan Vietnam. Selama 3 tahun, Belle."

Suasana mendadak hening, hanya ada bunyi jarum jam yang berdetak. Masing-masing terpaku oleh sepasang bola mata. Baik Kant maupun Belle sama-sama menyimpan keterkejutan terutama Belle. Perempuan itu benar-benar terkejut dengan berita penugasan selama 3 tahun dan berada di luar Amerika.

"Jadi itu sebabnya kau ingin kita ke Sapporo?" Tanya Belle memecah keheningan sedangkan Kant hanya mengangguk dan mengelap sekitar mulutnya.

"Aku ingin ada yang menjagamu selama aku pergi, Bells. Aku tidak ingin kau kenapa-napa. Maaf aku tidak bisa menemanimu, aku tahu ini menyedihkan tapi aku... Aku tidak..."

Belle menunduk beberapa saat dan kembali mendongak dengan sebuah senyuman di wajahnya.

"Aku tahu, Kant. Kau bertanggung jawab atas pekerjaanmu. Aku mengerti kau tidak bisa seenaknya dengan pekerjaan ini. Jangan khawatir dengan keadaanku, aku akan baik-baik saja."

Tapi dia tahu Belle tidak baik-baik saja.

Sudut matanya, ada bening yang tertumpuk dan siap menetes dalam sekali kedip. Kant mendorong kursinya menjauh, meninggalkan tempatnya dan menghampiri Belle merengkuhnya dari belakang dengan harapan pelukan ini tak sekadar menenangkan Belle tapi menguatkannya. Erat sekali, seakan tidak ingin melepas barang sedetik saja.

"Maaf, aku tidak bermaksud meninggalkanmu sendiri dalam keadaan seperti ini. Maaf, aku tidak bisa menjadi suami yang baik, tidak bisa menemanimu di saat-saat sulit seperti ini, maaf."

Karena permintaan maaf tidak cukup untuk menggantikan waktu yang hilang. Ia beruntung Belle merupakan wanita dengan hati yang lapang. Senyumnya merekah bersamaan dengan tetes demi tetes airmatanya.

"Tidak apa-apa, Kant. Ada ibu yang akan menjagaku. Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja."

Ia menekankan pada kalimat aku akan baik-baik saja. Rasanya asing begitu kata baik-baik saja terdengar. Ia seperti ditampar berulang kali dan Kant memeluk Belle semakin erat. Dia tahu Belle menangis dari cara bernafasnya yang tidak beraturan serta isak yang terdengar sesudahnya. Ia meminta maaf, ribuan bahkan jutaan kali meminta maaf untuk waktu yang hilang setelah ini.

***

Sepenuhnya perjalanan ini didukung penuh oleh para sahabatnya meskipun Lee dan Hyun Na bahkan Andrea ingin menolongnya menjaga Belle, memang sudah tabiatnya tidak ingin merepotkan orang lain. Terlalu ingin menjadi sosok yang mandiri. Dengan diantar para sahabatnya, Kant berangkat menuju Sapporo.

Perjalanan berjalan sangat cepat karena ia menggunakan portal menuju kediaman keluarganya. Tidak sampai 1 jam keduanya bahkan sudah sampai di depan sebuah rumah terbuat dari kayu berdominasi cokelat. Rumah yang sama persis dengan milik Kant di Sallowsville. Keduanya bergandengan tangan memasuki halaman rumah, melongok ke dalam sebentar. Rumah ini tidak terlalu luas, sederhana tapi indah. Ada tembok yang mengitari rumah ini dan ada halaman serta di tengah-tengah ada batuan setapak. Di sebelah kanan terdapat halaman yang lebih luas dan dipakai untuk menjemur pakaian, tidak jauh dari tempat menjemur pakaian ada taman kecil berbentuk kotak, tidak besar dan sepertinya ditanami apotek hidup. Belle mungkin pernah mendengar kalau ibu Kant adalah seorang penyembuh dan beliau kerap kali memakai tumbuh-tumbuhan dirumah sebagai bahan dasar pembuat ramuan.

"Ayo, masuk. Ibu pasti ada di dalam."

Kant melangkah, merangkul bahu Belle untuk segera memasuki rumahnya. Di bukanya pintu, yang membedakan rumah ini dengan rumah Kant adalah pintunya. Kalau model pintu di rumahnya dibuka dengan cara menggeser kalau rumah ibunya dengan cara biasa, terdapat kenop pintunya. Pintu terbuka dan Kant mengucap salam seraya melongok ke dalam rumah.

"Ibu? Aku pulang!" Serunya setengah berteriak. Di sampingnya ada Belle yang masih diam mengamati seisi rumah. Rumah ini tidak tingkat, sederhana tapi unik. Ia berdiri mengarah pada lorong yang di setiap sisinya terdapat ruangan. Kant melangkah lebih dulu melongok ke setiap ruangan dirumah ini mencari ibunya.

Belle hanya diam di tempatnya sampai kemudian ia mendongak dan histeris. Kant mendengar teriakan Belle dan langsung lari menghampiri istrinya.

"Ada apa? Ah ibu!! Darimana saja?" Sesosok wanita tua yang bungkuk dan ringkih berdiri di depan Belle. Surainya sudah tidak lagi hitam, tubuhnya kurus dan kulitnya sudah keriput. Matanya cekung dengan hidung yang tajam dan bibir pecah-pecah. Kulitnya cenderung kering dan jalannya tertatih. Kant menghampiri ibunya dan merangkul tubuh ringkih orang yang melahirkannya.

"Ibu, aku pulang dengan Belle tentunya." Ia langsung mendapat pelukan dari wanita yang mengandungnya.

"Sudah lama ibu menunggumu, Kant. Ah Belle, maaf tadi aku mengagetkanmu. Seharusnya aku tidak melakukannya ya." Ibunya terkekeh membuat matanya menyipit dan ia tidak mengerikan lagi. Diam-diam Belle menghela nafas lega.

Kemudian ibunya menyuruh Belle dan Kant untuk duduk di ruang keluarga. Di sana terdapat meja pemanas dan televisi. Ketiganya mulai berbincang-bincang, Kant memberitahu ibunya kalau Belle sedang mengandung buah cintanya dan tujuannya datang ke Sapporo adalah untuk menitipkan Belle karena Kant harus meninggalkan Belle untuk sebuah tugas. Ibunya menggeleng dan berkali-kali mengutuk Kementrian, wanita tua renta itu tentu saja marah karena waktu Kant akan tersita namun di sisi lain ia merasa bangga memiliki menantu yang pengertian. Belle tertawa mengatakan pada keduanya kalau ia tidak khawatir ditinggal karena ada ibu yang akan menjaganya. Kant lega karena lusa dia sudah berangkat menuju Afganistan.

***

"Jangan lupa makan yang teratur, kalau sakit minum obat, jangan begadang, jangan melakukan hal yang aneh, kalau sudah sampai secepatnya kirim surat, kabari aku."

Belle mulai berkhotbah sembari memasukkan barang-barang Kant ke dalam tas. Kant mengulum senyumnya, memerhatikan gerakan Belle yang cekatan dan repot. Ibu muda ini menggemaskan rupanya.

"Nah sudah! Tidak ada yang ketinggalan, ingat ya jangan—" Kant mengambil langkah cepat untuk menyumpal Belle dengan bibirnya agar perempuan itu tidak lagi menceramahinya selama beberapa menit.

"Jangan begadang, harus makan teratur dan harus kabari dirimu secepatnya." Membentuk lengkungan sabit di sudut bibirnya. Belle mengangguk, jelas sekali ada rona merah disana. Kant mengulurkan tangannya, mengacak-acak rambut Belle dan meraih tasnya. Jam 2 siang, ia sudah harus tiba di Kementrian karena ia dan timnya harus segera berangkat. Belle tidak diperbolehkan mengantarnya sehubungan dengan keadaannya yang tengah hamil di usia rentan. Setelah pamit pada ibunya dan mengecup Belle, Kant langsung melakukan apparate ke Kementrian.

Jujur saja, ini hal yang paling berat baginya. Padahal seharusnya ia berada di samping Belle selama wanita itu mengandung anaknya.



I’m just too far from where you are; Let me go home


----------------***-----------------

Afganistan, Timur Tengah. Ia sudah berada disini kurang lebih 2 bulan. Membosankan, penelitian tentang muggle, karakteristik mereka, pada akhirnya ia terseret sebagai mata-mata. Agen ganda istilahnya, tapi sayang Kant tidak menyadari. Terlalu kalut, setiap hari kepalanya hanya penuh dengan Belle, Belle dan Belle. Puluhan surat sudah mendekam di kamarnya terlalu lama, semakin hari hanya sedikit surat yang dapat dibalas Kant. Keadaan semakin keruh setiap harinya, belum lagi pengaruh politik. Bias dari Soviet mendadak masuk dan bertentangan dengan Amerika. Ia benci politik, serius. Dirinya dilibatkan, suasana semakin keruh ketika terjadi kudeta dan Kant merasa kondisi semakin tidak nyaman. Benda-benda asing di angkasa diawasi secara ketat sehingga ia tidak bisa mengirim surat kepada Belle. Selama berbulan-bulan sampai perang dingin tiba. Afganistan mendadak kacau, ia dan timnya sulit bergerak untuk penelitian. Mereka dikawal ketat, disangka sebagai mata-mata Amerika padahal identitasnya sudah disamarkan. Diam-diam Kant kecewa, ia jadi sulit komunikasi dengan Belle. Surat terakhir yang datang adalah ini.

Hai, Kant.

Usia kandunganku sudah menjelang kelahiran. Sebentar lagi kita akan menjadi orangtua yang nyata. Kata dokter, bayi kita sehat. Mereka akan menjadi anak-anak yang kuat. Terima telah membawaku ke Jepang, ibumu senang sekali karena ia akan menjadi seorang nenek. Hmm, aku harap kau baik-baik saja. Aku lihat berita di televisi, katanya suasana disana sedang kacau? Kau tidak apa-apa ‘kan? Jangan lupa makan teratur, cepatlah pulang. Aku merindukanmu dan juga bayi kita.

Salam rindu,
Istrimu.

Tangannya gemetar saat lembaran itu datang, kabar terakhir yang dibacanya dari Belle setelahnya tidak pernah ada lagi surat yang datang. Kant selalu berada di luar jauh dari mess-nya di Afganistan. Tenaganya diforsir keras untuk penelitian, Kementrian tidak mau tahu kendala apapun yang terjadi di Afganistan. Mereka yang kemana-mana dikawal menggunakan senjata api, ditodong sana-sini, bahkan setiap saat bisa mendengar bunyi ledakan granat tanpa jeda. Tapi penelitian masih berjalan, ia lelah. Lelah mengamati semuanya, ia ingin kembali—ingin melihat bayinya. Surat yang datang terakhir sekitar dua minggu, lalu Belle apa kabarnya? Dia tidak bisa mengirim surat, well benda-benda diangkasa dikawal sangat ketat. Ia tidak bisa sembarangan menerbangkan burung hantunya bahkan ketika malam.

Bersabarlah..

“Penugasan ulang! Hari ini kita berangkat ke Vietnam!” Josh, salah satu anggota timnya menatapnya bahagia. Ha, kau senang?

Kant meraih tasnya dengan malas, menggantungnya di bahu dan bergegas berjalan. Penelitian semacam antropologi di Afganistan sudah selesai, mereka kembali ditugaskan ke Vietnam. Di tengah perang yang berkecamuk, tahu apa rasanya? Menyedihkan. Waktunya seringkali terbatas, begitu menjejakkan kaki di Vietnam ia hening sejenak bersama tim-nya. Tidak ada mess, hanya barak-barak pengungsian. Banyak bangunan luluh lantak dan kebanyakan menjadi puing. Ia tiba di sebuah kota kosong, tidak tahu apa namanya. Hancur lebur seperti habis di bom, ia bersama lima orang lainnya berdiri terpaku di depan helicopter yang mengantar mereka. Saling berpandangan, apa yang akan mereka teliti disini kalau tidak ada manusianya?

Pada akhirnya kakinya tetap melangkah, menuju petak barak yang tersedia. Tidak jauh dari tempat mereka turun tadi. Disanalah banyak barak-barak yang ternyata dihuni oleh penduduk Vietnam. Mereka, kurus sekali, perut mereka buncit, kulit mereka pucat kumal, hanya memakai pakaian seadanya, benar-benar kondisi yang menyedihkan. Kant bersama timnya bergegas mengeluarkan bantuan seadanya, apapun yang berguna di saat kondisi darurat seperti ini. Mereka memang dibutuhkan pada dasarnya ia tahu kenapa Kementrian mengirim mereka kesini. Semuanya hanya permainan politik, yes. Dia sudah hapal, nasib durjana macam politikus mentah ala-ala koboi Amerika. Mereka itu pejantan tangguh, siap mencabik tapi juga siap mengulurkan tangan untuk mengobati, makanya tak heran.

Vietnam semakin kacau, ketika dua kekuatan besar menyatu, memberikan definisi peperangan dalam keadaan deterrence. First track second track, Amerika mulai menekan Soviet untuk mundur, sayang komunis tak ingin mengalah. Beberapa orang Amerika di Vietnam segera ditarik paksa, tetapi ia dan timnya terkungkung di wilayah musuh. Kant dan timnya berada di wilayah selatan, terjepit oleh komunisme. Sedangkan warga Amerika di Selatan sebagian sudah dipulangkan. Sadar akan nasibnya yang hanya tinggal menghitung waktu ia diam sejenak. Tidak ada yang bisa dilakukannya bahkan saat Amerika mulai menggempur wilayah Utara dengan bom mereka. Habis sudah granat ditebarkan, Kant dan timnya melarikan diri dengan susah payah, bersembunyi bersama pengungsi lain, mereka tiarap. Suara berdebam keras, ledakan tak berhenti, ia nyaris kehilangan anggota badannya kalau saja tidak punya kemampuan lari yang cepat.

***

Keadaan semakin parah, Vietnam kacau balau. Belle ingat, ini sudah detik-detik terakhir Kant menunaikan tugasnya. Ia dan kedua anaknya duduk di depan televise sembari berharap-harap cemas. Tidak pernah ada kabar sejak dua minggu sebelum kelahiran putra dan putri  keduanya. Kant seakan lenyap, Belle sempat meminta Lee mencari tahu melalui Kementrian namun informasi yang didapat hanya sekadarnya. Lee mencuri berita dari Sullivan, Kementrian hanya mengatakan Kant masih hidup dan sudah dipindahtugaskan ke Vietnam. Daerah perang yang tengah berkecamuk. Setiap hari televisi semakin membuatnya depresi, setiap hari yang ada hanya berita penyerangan, bom, granat atau apa saja yang meledak. Belle hanya bisa berharap Kant bukan salah satu korban peperangan. Ia ingin suaminya kembali dengan selamat.

“Ibu, boleh aku matikan tivinya?”

Belle menoleh, sulung dari kembarnya memergoki Belle tengah menggigiti bibir bawahnya. Menatap nelangsa tayangan di televisi.

“Tidak perlu, Judith…” Ia meraih tangan anak sulungnya. Melukiskan sebentuk sabit dengan cekungan bola mata penuh air mengembang di sudutnya.

“Kapan ayah pulang? Aku tidak pernah bertemu ayah, ibu. Ayah seperti apa? Kapan kita bisa bertemu ayah?” Kali ini si bungsu Kazumi yang mengatakannya.

Belle, sekali lagi hanya melemparkan senyuman, menahan sedih. Lantaran suara anak-anaknya lah yang membuatnya ingin menangis. Kant mengingkari janjinya, bukan 3 tahun melainkan selama 7 tahun ia berada jauh dari keluarga. Tidak pernah kembali, kepada anak-anaknya Belle hanya dapat menceritakan bagaimana ayah mereka, wujudnya, sifatnya, apa pekerjaannya, kebiasaannya dan semua hal tentang Kant hanya diketahui anak-anaknya melalui cerita Belle tanpa melihat langsung wajah ayahnya. Belle mulai lelah, surat-surat yang dikirimnya tak pernah mendapatkan balasan dari Kant, lumpuh total. Komunikasi terputus, ia sempat depresi dan putus asa, ia sempat tidak ingin bicara dengan siapapun termasuk Lee. Sayangnya sahabat karib Kant tidak menyerah, Lee membujuknya meyakinkan bahwa Kant masih hidup dan tidak akan melupakan Belle. Tetap saja, tujuh tahun bukan waktu yang sebentar ‘kan?


Lee yang mengurus Belle dan anak-anaknya, dibantu oleh Hyun Na. setiap kabar apapun, setiap detail sekecil apapun tentang Kant tak pernah ia lewatkan. Hidup atau mati, ia akan terus menunggu.

***

1973—Kant dan timnya ditangkap, ditahan sebagai tahanan perang. Ia dikurung dibalik jeruji besi dan menjadi topic hangat. Seharusnya ia bisa menggunakan sihirnya, tapi ketahuilah ini dunia muggle. Ia tidak bisa seenaknya menggunakan sihir atau mantra apapun karena akan fatal akibatnya. Berhari-hari berada di tengah medan perang tanpa perangkat militer sangatlah menyiksa, niatnya meneliti hanya sebatas 3 tahun hempas sudah. Ini sudah tahun ke 7 dan Kant beserta timnya sama sekali belum menyentuh rumah. Mereka terkurung dalam kondisi perang ini. Penderitaannya semakin bertambah ketika hidupnya berada di dalam sel, makan hanya seadanya, ia tidak terurus, yang paling penting, dia rindu keluarga kecilnya.

Apa kabar Belle?

Apakah dia sudah melahirkan?

Kalau sudah bagaimana anak mereka?

Seperti apa wujudnya?


***

 29 Maret 1973—dengung mesin terdengar begitu keras. Dengan tangan berada di belakang dalam keadaan terborgol, ia dilepas bersama lima rekannya. Pembebasan ini sudah ditunggu lama sekali oleh Kant. Perang sudah usai, ia diputuskan untuk dikirim kembali ke Amerika. Penderitaannya selesai sudah, ia memasuki transportasi yang disediakan, bersikap selayaknya manusia, melindungi diri tanpa menggunakan tameng sihir apapun, semua murni dirasakannya, siksa penderitaan saat perang.

“Ibu, rapi sekali? Kita mau kemana?”

“Kita akan bertemu ayah.” Belle menjepitkan surai Judit Isabell anak sulungnya dengan wajah sumringah.

Dia sudah mendengar kabar kalau hari ini Kant akan pulang bersama timnya. Beberapa bulan yang lalu, ia semakin terpuruk dengan berita Kant ditangkap dan ditahan sebagai tahanan perang. Ia tidak bisa membayangkan Kant hidup di dalam jeruji besi, pasti menderita sekali. Ia sendiri menangis ketika kabar itu mampir di telinganya hanya saja di depan anak-anaknya ia harus terlihat baik-baik saja.

“Ayah? Ayah pulang?” Judith nampak begitu senang.

Gadis bersurai hitam dengan mata pekat jelas merupakan pantulan Belle. Keduanya mirip sekali sedangkan bungsu dari kembar pengantin ini, Kazumi. Benar-benar mirip Kant, mata, hidung, dagu bahkan pipi. Kazumi lah kekuatannya selama Kant tidak ada, wajah yang serupa dengan Kant yang membuatnya rindu setiap hari. Ketika Judith selesai dengan penampilannya, Belle menghampiri Kazumi dan memeluknya erat-erat, menaruh dagunya di atas bahu sang bungsu dan menangis untuk melegakan perasaannya beberapa menit.

***

Kementrian begitu ramai, bersama dengan Lee dan Hyun Na, ia menunggu di sebuah lapangan luas di area kementrian. Dengan gaun biru laut tanpa lengan sebatas lutus dilapisi cardigan putih susu, ditemani kedua putra dan putrinya ia menunggu dengan tidak sabar kendaraan yang membawa suaminya selama tujuh tahun.

Di kedua sisinya Judith Isabel menunggu sang ayah dan adiknya Kazumi Lroy. Menatap lapangan terbang dimana ayahnya akan menunjukkan wujudnya. Ayahnya akan datang, memperlihatkan sosoknya di depan. Setiap hari selama tujuh tahun hanya mendengar cerita ibu tentang ayah, tentang ayah yang sibuk tetapi menyayangi keluarga kecilnya. Akhirnya ia akan dipertemukan dengan ayahnya.

“Ibu, kapan ayah sampai?”

Belle menoleh, mengembangkan senyumnya, “Sebentar lagi. Kita tunggu saja.” Ia semakin erat menggenggam tangan Kazumi. Semua yang berada di sini di lapangan belakangan kementrian, mereka adalah keluarga yang menunggu sanak saudara, suami, kakak, adiknya pulang dari medan pertempuran. Meskipun Kant bukanlah seorang tentara tapi kehadirannya sangat berharga.


***

Ia pulang, ke rumah. Hari yang ditunjuknya sejak bertahun-tahun lalu, dimana ia dipisahkan dari keluarganya oleh Kementrian. Setelah melewati banyak masa yang membuat perutnya mual, dari mulai ditempatkan di Afganistan kemudian Vietnam. Dari masa paling tenang sampai masa paling hancur, ia mengalaminya bersama para rekannya. Wajah yang mulai ditumbuhi rambut di sekitar rahang dan dagung, serta tubuh yang semakin kurus dengan pakaian lusuh. Barang yang dibawanya hanya sedikit saja selebihnya sudah ditahan oleh oknum tak bertanggung jawab. Sepanjang perjalanan menuju Amerika ia hanya terdiam, Kant memikirkan bagaimana nasib keluarganya, bagaimana Belle dan anak-anaknya. Sampai ketika deru semakin riuh dan turun perlahan, matanya menangkap di balik cahaya surya yang menyilaukan. Di antara setumpuk manusia di lapangan kementrian. Belle disana dengan Lee dan Hyun Na dan dua anak kecil yang digenggamnya. Kant tidak mengenali keduanya, ia menyipitkan mata berkali-kali, mengedipkannya berkali-kali juga.

Begitu kakinya menjejak, ia sedikit dipapah oleh beberapa orang yang memakai seragam. Jalannya tertatih hingg tiba di depan orang-orang yang dikenalinya. Rasa haru, bahagia bercampur menjadi satu.

“Tadaima…” Katanya dengan suara lemah. Belle nyaris melompat kearahnya, memeluknya seakan tak ingin melepaskannya barang sedetik pun. Kant merasa pundaknya basah, ia masih sedikit pusing akibat kejadian-kejadian yang menerpanya. Di sisi lain Lee menghampiri dan menepuk pundaknya. Kant mengangkat tangannya balas memeluk Belle erat-erat. Tujuh tahun yang hampa, sepi dan tidak berwarna. Setengah kehidupan hancur dan kandas, tidak ada kesempatan untuk pulang. Keadaan yang membuatnya menderita, untungnya Belle tidak menanyakan apapun yang terjadi padanya—hanya sebuah pelukan hangat sebagai sambutan selamat datang kembali yang sangat lama serta kecupan singkat penuh airmata membawanya kembali pada kehidupan yang sebenarnya.

“Jangan menangis…” Menghapus airmata Belle dengan kedua ibu jarinya. Disana tertera senyuman yang ingin dilihatnya—selalu selama tujuh tahun dan menghilang. Belle berbalik, meraih kedua anak kecil di belakangnya dengan senyum ceria.



“Judith, Kazumi, ini ayah.” Sebuah senyuman lebar diiring tetesan airmata yang tiada henti. Ia bisa melihat di mata keduanya ada rasa kelegaan dan rindu yang bercampur jadi satu. Belle mendongak, melihat bagaimana reaksi Kant setelah ini. Begitu kedua anaknya melompat dan Kant dilihatnya berlutut memeluk anak-anaknya menjadi harga yang tidak pernah terbayar apapun. Kebersamaan yang utuh milik keluarga kecilnya yang akan selalu ada meskipun jarak membentang ribuan bahkan jutaan kilometer. Di dekat Hyun Na, Belle bersedekap, menutup mulutnya, pundaknya naik turun tidak karuan. Ia menangis sejadi-jadinya; ia bersyukur Kant kembali meski dalam kondisi yang kurang baik. Hatinya terketuk hebat ketika Kazumi dan Judith memeluk Kant erat-erat, bertiga yang tidak akan dipisahkan kembali. Tujuh tahun tidak saling bertemu dengan rindu yang menggempur. Kant menghampiri Belle sembari menggendong Kazumi, di sebelahnya Judith berlari kecil kemudian meraih tangan Belle. Kant merengkuhnya membawanya dalam bingkai keluarga kecil yang bahagia sebab pada akhirnya menunggu tak akan sia-sia jika dilakukan dengan bersabar. 

Selasa, 30 Juli 2013

To keep you by my side; to keep you from walkin' out the door.


Disclaimer : Terima kasih kepada Zeta Board as usual, terima kasih kepada IndoSalem RPG, Viervhy L. Athena (selaku chara original saya), Dante A. Diamond, Sean McKinley serta visualisasinya; mechtaniya, gabriel garko, sean farris, didukung backsound It Will Rain-Bruno Mars, serta para chara yang saya sebutkan di dalam sini Narumi Takahiro, Kanaya Miki serta credit quote dari Remember When. Let's enjoy this fanfiction, thank you. 



Seperti musim panas lainnya, musim berlalu dengan sangat cepat. Membuang sebagian bahagia lainnya, menyisihkan segenap dukanya. Menjalani sendiri bukan berarti tanpa kekasih, ia hanya berbagi kasih selama ditinggal pergi. Tidak menetap, memang. Tetapi ini sudah menjadi jalannya, baginya sudah suratan tak tersirat namun kebahagiaan seperti candu yang tak dapat dihentikan. Datang dan pergi itu mutlak, bergantian menjaga tempat dan pindah dari satu tahta ke tahta lainnya. Sebuah tangan terulur untuknya, mengganti sebuah kepergian dengan bertaruh akan kebahagiaan—semata. Ia tidak mundur begitu saja, maju adalah pilihannya. Ya bukan berarti ya dan tidak bukan berarti tidak. 

Ini cerita sebuah rumah tangga, suami dan istri, sepasang kekasih yang memutuskan untuk tinggal dalam suatu pernikahan. Memutuskan untuk meninggalkan apa yang harus ditinggalkan keduanya, memulai bagian baru yang masih membekas dalam kisah lama. Bahwa diantara keduanya sama sekali tidak melupakan perjalanan lalu. Salah satunya masih memegang meski tak sepenuhnya cerita terdahulu. Untuk itulah salah satunya pergi, karena musim panas melibatkan emosi yang tinggi. Ia kembali pada singgasana, predikat terhormat bersama para dayang, ditinggalkannya sang istri dalam balutan kedukaan. Ia tidak mati hanya berbagi titah, digantikan oleh seorang lelaki dari lembaran masa lalu. Kehadirannya dibutuhkan sebagai malaikat—penjaga bagi istri tercintanya. Sayang ia tak tahu. Lembar demi lembar berada di atas meja kerjanya tersentuh begitu saja tanpa makna, ia mulai disibukkan dengan hal-hal yang menjenuhkan. Mengurusi rakyat bukanlah perkara mudah, negara ini terlalu besar untuknya. Sayang tak ada yang bisa diandalkan sampai detik ini bahkan pelipur laranya tidak diperbolehkan datang menginjakkan kaki di kastil suci ini. Ini adalah tugas terberat seorang Dante, sulit—sangat sulit membagi waktu antara kerajaan dengan keluarganya sendiri. Maka demi memenuhi ego sang bunda, ia rela mengorbankan istrinya. Dalam hal ini istrinya tak keberatan, Ivy mendukung penuh pekerjaan baru suaminya. Ia tahu ini tidak mudah baginya dan juga Dante. Ia berharap, Dante bisa cepat kembali. 



***


Dan sebuah harapan akan tetap menjadi harapan, bila tak jua diwujudkan. 

Sejak kedatangan Sean kembali ke hidupnya, ia memilih untuk tetap berdiri dalam ketiadaan seorang Dante di sisinya. Demi membayar kesemuan di masa lalunya. Walaupun ia tahu ini adalah sebuah kesalahan untuk membuka kisah lama dalam balutan ketiadaan. Ivy sadar sepenuhnya langkah ini demikian salah ketika ia memutuskan untuk menikmati kesenangan sesaat bersama McKinley menjelang detik-detik kelahiran putra kecilnya. 

Malaikat kecil yang ditunggu oleh banyak pelukan dan tangisan, hanya menunggu beberapa bulan saja untuk turun ke dunia. Ia menghabiskan kurang lebih dua bulan bersama McKinley. Peran Dante digantikan dengan sangat baik oleh kenangan masa lalunya tanpa Dante tahu bahwa kini posisinya sebagai suami tergantikan meski tidak sepenuhnya. Sean menemani Ivy melakukan pemeriksaan setiap bulan, membantu menyiapkan apa-apa saja yang harus disediakan menjelang kelahiran malaikat kecilnya. Sebagai topangan, Sean berperan sangat baik. Ia menyediakan tumpuan yang tidak didapatkan dari seorang Dante. Anehnya keluarga Ivy tak pernah keberatan bagaimana Sean bersikap kepada Ivy saat ini. Mungkin mereka memaklumi kondisi Ivy yang berusaha berdiri tanpa Dante di sisinya meski setiap tiga hari sekali keduanya berkirim kabar. 

"Saya perkirakan dua minggu lagi." 

"Dua minggu?" 

"Ya, putra anda akan lahir ke dunia ini dua minggu lagi." 

Dua minggu lagi, itu yang dokter sabdakan kepadanya. Dua minggu sudah ditetapkan menjadi waktu ideal bagi putra kecil Diamond untuk turun ke dunia. Ivy semakin tidak sabar sekaligus dilanda ketakutan luar biasa. Pasalnya melahirkan bukanlah perkara mudah, tidak seperti yang ia tonton dalam tata cara melahirkan, bukan juga secara teoritis yang diajarkan ibunya dan ibu Narumi. Meski mereka lebih berpengalaman karena sudah lebih dulu menjadi ibu. Tetap saja ada rasa ketakutan yang dialami oleh Ivy saat ini.

Seringkali Ivy memikirkan hal-hal buruk yang terjadi pada ia dan jabang bayinya terlebih ketiadaan Dante di sisinya, namun terkadang ia bisa lebih tenang ketika Sean datang menopangnya. Menghilangkan segala ketakutannya, Sean bahkan berjanji ia akan menemani Ivy sampai Dante datang. Ia sendiri tak menampik betapa ia merindukan sosok Sean di sampingnya setelah tahun demi tahun merenggutnya tanpa sebab, tanpa alasan yang pasti mengapa Sean meninggalnya. Waktu berlalu tanpa jeda dan setiap momentnya selalu ia sanggah dengan kebahagiaan, betapapun ia merindukan sosok Dante, masih lebih merindukan kenangan-kenangan tempo dulu bersama Sean. Saat ia masih duduk bersebelahan dan keduanya masih sering bicara. Namun itu hanya bertahan 2 tahun saja, lepas dari itu Sean menghilang bagai ditelan bumi, tak pernah ada kabar darinya, bahkan dari pihak sekolah pun tak mengetahui McKinley. Entah pemuda itu masih berada di kastil atau tidak yang jelas Ivy jarang dan nyaris tidak pernah bertemu dengan Sean. Terakhir kali ia melihat Sean hanyalah namanya tertulis sebagai peserta ujian akhir sekolah, ketentuan lulus dan tidaknya Sean berada di sana, hanya nama tanpa wajah. Ia bahkan tidak tahu wujud Sean seperti apa sampai ia sudah sangat jauh bersama Dante dan kemunculan berdasarkan nama yang membuatnya berkeinginan kuat untuk mengirimkan surat memastikan bahwa itu adalah Sean-nya bukan McKinley lain. Ketika suratnya mendapat penjelasan dan ia berharap bila hari itu tidak akan pernah berakhir pada akhirnya pertemuan itu hanya menumbuhkan luka baru membuat lubang yang semakin menganga bahkan tak dapat ia ampuni lukanya hingga ikrar antara dirinya dan Dante terpenuhi di hadapan Tuhan. 

Ia menyesal, bukan karena menjadi istri seorang raja Rusia, ia menyesali takdir yang dilewatkan, menyesali pertemuan dengan Sean. Hatinya gugur perlahan, bagi Dante dusta Ivy mungkin kesalahan paling menyakitkan disamping ia tetap mencintai istrinya sepenuh hati. Lupakan, saat ini hanya ada dia dan Sean. Detik demi detik telah berlalu, seingatnya ia terlelap dalam tidur panjang dan perutnya bergolak. Kemudian teriakan serta tubuhnya melayang. Entah apa yang terjadi di luar sana selama ia tertidur. 



***


Ini adalah saat-saat paling menegangkan ketika takdir akan merenggutnya atau menaikkan derajatnya. Seorang perempuan mungil tergeletak lemah di atas bangsal putih. Dilapisi selimut putih dengan doa menyelubungi. Wajahnya begitu pucat, begitu banyak rasa khawatir menjulang. Sedang di luar sana ayah, ibu, Narumi, ibu Narumi, Kanaya bahkan Sean sedang menunggu dengan hati was-was. Mereka tak berhenti berdoa bagi Ivy. Berharap semua akan baik-baik saja sementara ayah kembali membawa kabar kekecewaan bahwa Dante tak bisa datang malam itu juga. Tetapi ia tak bisa menyalahkan bahkan ketika kelopak mata itu perlahan terbuka dan mencium aroma alkohol menyelimuti dirinya. Hening, ia mendadak khawatir, meringis dan bertanya-tanya berada dimana. Para perawat menenangkannya, memberi pengertian bahwa Ivy sudah mencapai pembukaan lima dan sebentar lagi bayinya akan lahir ke dunia. 



***


Seorang lelaki keluar ruangan, memandangi sosok-sosok disana dengan raut kekhawatiran. 

"Maaf bisakah Tuan Diamond masuk ke dalam, sepertinya istri anda membutuhkan bantuan." 

Semuanya berpandangan, tidak ada yang menjawab. Ayah sudah dirundung kekecewaan yang mendalam, ia jelas tak bisa masuk. Tidak tahan melihat anak perempuannya kesakitan dan ibu tidak akan kuat mendengar jeritan Ivy. Pada akhirnya sosok itu berdiri dan menyeruak diantara kerumunan. 

"Baik, dok." 

Tercengang, di saat seperti ini sungguh sulit dipercaya bahwa seorang Sean menawarkan diri tanpa diminta. Ia yang tak memiliki ikatan apapun mengajukan diri sebagai seorang ayah. Ivy sudah lupa pada siapa yang memandang, maka ketika satu tangan merangkulnya dan memegang tangannya ia berteriak, berjuang untuk sebuah nyawa. Antara hidup dan kematiannya. Menahan diri untuk meronta dan melahirkan kehidupan barunya. Genggaman itu semakin menguat seiring dengan teriakan terakhir seorang Ivy menjelang akhir kesakitannya dan tangisan mungil itu pun pecah tidak lama. Para perawat berkumpul dan menyaksikan sendiri bagaimana malaikat kecil itu meronta-ronta dalam tangan sang dokter dengan likuid kental menyelimutinya. Membawanya dalam pelukan sang ibu muda dan membiarkannya tergeletak disana. Ivy mendongak, bukan lagi Dante disana melainkan McKinley. Tuhan, mungkin ia berdosa tetapi inilah jalannya. Jagoan kecilnya lahir ditemani dengan ayah penggantinya. Tangis haru dan pelukan berhamburan ketika kabar ini dibawa keluar ruangan. Sesosok jagoan kecil sudah hadir ke dunia. 

"Kau hebat, Ivy." 

Kedua mata cokelatnya masih menyaksikan malaikat kecil bereaksi, menggeliat lembut. Jemari mungilnya bertaut, memegang senti demi senti kulit lembut putra pertamanya. Ada rasa haru yang memeluknya, menyeruak bulir-bulir airmata disana. Pantulan seorang Dante disana, tercetak jelas di wajah putra kecilnya, memberikan rona kepedihan saat suaminya tak bisa berada disisi. McKinley memutuskan untuk mengecup singkat Ivy dan segera keluar ruangan, memberikan selamat pada keluarga Athena. 

Perjalanannya tidak sia-sia, selama ini berdiri sendiri dengan topangan singkat. Dan dalam waktu dua puluh menit, ia sudah berada di sebuah kamar rawat dikelilingi ayah, ibu dan keluarganya. Ia sempat bertanya kemana McKinley karena pemuda itu menghilang tak lama setelah ia meninggalkan ruangan operasi. 

"Sean sudah pulang, katanya dia sedikit lelah, mungkin nanti akan kembali lagi." 

"Dante?" 

Wajah ayah berubah murung, ia mendekati Ivy dan membelai puncak kepala putri sulungnya. 

"Dante baru datang besok, sayang. Jangan sedih, dia pasti datang untukmu." 

Bentukan senyum getir nampak disana, ia sedikit kecewa tetapi itu lebih baik karena ia takut ketika Dante datang semalam dan menyaksikan perjuangannya ditemani Sean atau mengetahui kalau selama ini ia digantikan oleh Sean, Dante akan marah besar. Ia tidak ingin terjadi perkelahian. Kemudian sebuah senyum mengembang, berharap rasa kekecewaannya dapat disembunyikan. Setelahnya semua ricuh memberikan selamat dan meributkan masalah nama. Ia sendiri sudah memiliki beberapa nama yang dirancang sendiri. Tetapi Ivy memilih memberikan kesempatan bagi keluarganya untuk menyumbang nama karena nama adalah doa dan harapan bagi masing-masing anak. Maka ia biarkan mereka memberikan harapan yang ditanam. 



***


"Maaf aku baru bisa datang..." 

Perlahan kelopak matanya terbuka, melihat siapa yang mengecup keningnya. 

"Oh, hai..." Ivy berusaha bangkit dari tidurnya. Dante datang masih dengan baju kebesarannya sebagai seorang raja. Hitam dan jubah itu masih lengkap ia kenakan, Ivy perlahan bangkit dan memposisikan diri untuk duduk. 

"Bagaimana kabarmu?" 

"Baik, tidak pernah sebaik ini. Kau? Kapan sampai? Sudah makan?" 

"Baguslah, maaf kemarin aku tak bisa berada di sampingmu," Dante menunduk, salah satu tangannya yang berada di belakang tangannya terulur. Sebuah bucket bunga mawar merah disodorkan kepada Ivy, "ini untukmu, selamat menjadi seorang ibu. Dan jangan khawatirkan aku, sayang." 

Ivy menerima bucket dengan senyum sumringah, menaruhnya diatas selimut dan mengecup singkat Dante. 

"Kau sudah lihat jagoan kecil kita?"

Dante menggeleng, "Dia mirip sekali denganmu." Satu tangannya diletakkan pada pipi Dante dan sebuah cengiran terukir disana. Sumringah, menutupi kegundahannya kalau-kalau tiba-tiba Sean datang dan bertemu dengan Dante hari ini. Sebisa mungkin ia menutupi kegundahannya. Dante tak perlu tahu kisahnya selama dua bulan ini. 

"Dimana?" 

"Siapa?" 

"Jagoan kecil kita..."

"Ah ya, mungkin sebentar lagi, karena sudah waktunya memberikan si kecil ASI." 

Dan percakapan singkat mengenai pagi itu menjadi kesejukan tersendiri bagi Ivy. Tanpa ia sadari bahwa di luar sana seseorang tengah berdiri dengan bucket yang sama, menatapi pemandangan yang menekan ulu hatinya hingga sesak tak beraturan. Namun terselip senyum kegetiran dan pedih yang dipaksakan menjadi sebuah kebahagiaan. Sean McKinley memang tak pernah ditakdirkan untuk menggantikan Dante seutuhnya, ia telah kalah menjadi seseorang yang salah di waktu yang kurang tepat. Segalanya menjadi terbayarkan, untuk sebuah kebahagiaan singkat darinya dan untuknya dari seorang Ivy. Ia bersembunyi meratapi, mengambil pecahan kecil dari kepingan hatinya yang luluh lantak. Ketika kereta dorong kecil memasuki kamar perawatan dan ia hanya menatap hampa malaikat kecil di dalamnya seraya berdoa kalau sosok mungil itu tidak akan lupa padanya--suatu hari nanti. Meninggalkan benih-benih kepedihan tersendiri baginya dan kakinya seolah menarik diri untuk tidak berada disana dan mematung lebih lama demi kesakitannya seorang diri. 

"Nah itu dia!" Ivy menunjuk kereta dorong kecil yang didorong oleh seorang perawat. Kemudian perawat itu mengangkat jagoan mungilnya dan menaruhnya di tangan Ivy untuk mendapatkan asupan gizinya. 

"Kau sudah memberinya nama?" 

Ivy mendongak, menyelami sepasang cokelat milik Dante. 

"Belum, baru ada beberapa nama yang kupikirkan, tetapi aku sudah merangkainya." Dante mengulurkan tangan besarnya, mendarat di puncak kepala jagoan kecilnya. Tidak sedetik pun melepaskan pandangannya pada si kecil yang berada dalam pelukan Ivy. 

"Siapa?" 

"Kairi Ignatius Diamond." 



***


Ia tak sekalipun melepaskan pandangannya pada Kairi, putra pertamanya. Bahkan sepasang cokelat itu tak berhenti memandangi Ivy. Gadis kecil yang telah melahirkan buah hatinya. Ia tak menyangka bahwa fisiknya cukup kuat untuk melahirkan putra pertamanya bahkan tanpa Dante disisinya. Mungkin ia merasa bersalah, mungkin Ivy tidak tahu, ia melupakan satu hal bahwa selama ia meninggalkan kehidupan pribadinya ada banyak hal yang tak luput dari pandangannya, segalanya termasuk kehadiran seorang pemuda yang ia tahu dibenci oleh jiwanya—namun untuk kali ini ia berhutang budi. Dante tak berhenti menyalahkan dirinya yang kelewat egois membiarkan Ivy berjuang sendirian sedangkan dirinya tenggelam dalam tugas-tugas negara, mementingkan ego keluarganya sendiri dan membiarkan istrinya bersama dengan lelaki lain. Ini bukan perkara mudah, ketika hatinya terbagi dan ia melihat reaksi Ivy seperti tak ada suatu hal yang dibagi. Diam-diam Dante mendesah, merasa kecewa akan dirinya sendiri tetapi ia tak dapat berbuat apa-apa ketika melihat dengan matanya sendiri bahwa Ivy kini bahagia bersama putra kecilnya. 

"Aku pergi sebentar," Ia beranjak setelah mengecup puncak kepala Ivy. 

Menutup pintu kamar tempat dimana istri dan jagoan kecilnya bercakap-cakap. Ekor matanya menatap nanar, sebuah sosok yang memandang tepat pada matanya. Seolah menimbulkan percikap api permusuhan yang tak kunjung usai sekaligus permintaan maaf dan terima kasih secara bersamaan. Dante merasa dirinya tengah dikasihani tetapi ia tak bisa, sulit mengatakan bila dirinya kalah. Dihadapkan pada takdir sesungguhnya bahwa Sean memenangkan pertarungan nasib dan pemuda itu kini berdiri tegak di depannya membawa tropi kemenangan. 

"Selamat atas kelahiran putramu." 

Ia mengulurkan tangan dengan dusta yang menumpuk di balik dosanya. 

Dante berusaha bertindak sebagaimana seorang lelaki bersikap, ia menjabat tangan Sean dengan penuh wibawa sekaligus menyembunyikan kekalahannya. 

"Aku harus mengucapkan terima kasih." 

Sean mengernyitkan keningnya. Sedetik kemudian sebuah senyuman tersungging dan ia merasa kalau ini bukanlah akhir dari kemenangannya. 

"Tetap saja 'kan aku tak bisa menggantikanmu, tetap saja dia anakmu dan Ivy tetap saja milikmu." 

Dan aku tetap saja sebagai pion dalam titahmu, 'kan? 

"Itu pasti," Dia tahu pada saat itu dia sudah kalah—seutuhnya, "tapi aku tidak menyangka kalau pada akhirnya kau menyetujui semua permintaanku." 

Itu karena aku mencintainya, sangat mencintainya lebih dari yang dunia tahu. Itu karena aku tak pernah bisa memilikinya secara utuh, percuma harapan itu hanya akan menjadi butiran impian tanpa pernah kurasakan wujudnya. 

Sebentuk sabit muncul di wajah Sean, ia tak mengatakan apapun untuk membalas pertanyaan seorang raja bagi Ivy, pun tak mengatakan yang sebenarnya untuk Dante. Ia tahu segalanya percuma, ketika ia mengatakan cinta semuanya sudah terlambat, ia hanya bagian dari kolase semu yang diciptakan Tuhan. Hanya sekadar pelengkap kekosongan ketika serpihan puzzle itu menghilang, tak bisa disatukan. 

"Karena aku mencintainya, lebih dari yang kau tahu, Dante." 

Tapi ia tahu, ia tak bisa memiliki Ivy—karena takdir keduanya tak pernah ada. 

"Aku rela menyakiti diriku sendiri asal bisa melihatnya bahagia, termasuk ketika kalian bersama. Percayalah, aku bahagia diberikan kesempatan menemani Ivy selama ini. Dan berada di sisinya selama proses persalinan, itu moment yang sangat langka. Terima kasih karena sempat menyatukan kami, tapi aku tahu takdir kami tak pernah ada," Ia menghela nafas di sela rasa sakit yang menggedor semakin kencang, "karena dia memang diciptakan untukmu, bukan untukku. Kebahagiaannya untukmu bukan untukku. Terima kasih." 



***


Musim panas yang lain, permasalahan klasik sebenarnya. Pemerintahan Rusia sedang goyang, ia bukan penganut oligarki seperti apa yang dikatakan dunia pada saat itu. Klan Diamond memang berkuasa, tetapi bukan berarti mereka gelap mata akan kepentingan perut-perut yang lapar, bukan berarti penguasa mereka memilih Tirani. Dante Diamond berusaha untuk tidak terjerumus dalam keserakahannya. Bahkan sebenarnya dia tidak ingin dicampuri oleh urusan macam begini. Ia mulai lelah memegang tampu kekuasaan kalau saja bukan karena amanat. Ia harus mengorbankan kepentingan pribadinya atas nama rakyat sekaligus mengorbankan istri dan putranya. Demi membahagiakan seorang wanita tua angkuh yang sampai detik ini tidak pernah menerima pernikahan anaknya dengan seorang perempuan terkasih dan terbaik dalam hidupnya. Wanita itu tidak tahu apapun mengenai putranya, ia hanya tahu bagaimana hidup dan bergaul diantara para wanita terhormat lain dalam kepalsuan. Ia sendiri lelah disodori wanita-wanita bagai pajangan etalase toko, mereka cantik tetapi tak ada yang semurni Ivy. Mereka hanya haus kekuasaan, hobi mereka hanyalah bersolek dan tidur di ranjang lelaki tanpa melakukan sesuatu yang berarti. 

Hari demi hari kesibukan ini semakin mencekiknya, sejak kepergiannya ke Rusia. Ia menjadi tak punya waktu untuk menjamah surat-surat yang datang dari istrinya. Ia mencoba dan terus mencoba membalas satu per satu surat sampai ia lelah. Dante tahu Ivy sangat kesepian, istrinya. Dia tahu benar Ivy tidak bisa ditinggal sendirian apalagi ia sedang mengandung anak pertama mereka. Bagaimana bisa Dante tidak memikirkannya, bahwa di setiap suratnya selalu ada kegelisahan dan kesedihan meski per kata mengandung kalimat bahagia. Dia tahu Ivy paling tidak bisa membuat orang lain sedih dengan sikapnya tetapi sebagai seorang suami yang jauh dari keluarganya Dante merasa bertanggung jawab atas kepergiannya. Maka ia memutuskan untuk mengorbankan satu lagi kehidupannya, hatinya. Ia mengambil keputusan paling menyakitkan, bisa dikatakan. Ia menyuruh peri rumahnya mencari dimana Sean McKinley berada, surat-surat Ivy sama sekali tak terjamah, ia tak ingin istrinya khawatir maka ia akan menukar segalanya dengan kebahagiaan utuh yang Ivy inginkan. Berminggu-minggu Yeth mencari dimana Sean dan akhirnya ditemukan, Dante langsung menulis surat khusus yang ditujukan pada seorang Sean. 

Isinya adalah meminta Sean untuk menggantikan Dante selama ia melaksanakan tugasnya sebagai seorang raja. Ia juga menceritakan maksud dan tujuannya serta bagaimana kondisi Ivy, ia memberikan alamat serta dimana ia bisa menemui Ivy. Dalam suratnya ada kalimat memohon berikut imbalan yang akan diterima McKinley. Cukup lama Dante menanti jawaban atas penawarannya kepada McKinley hingga yang bersangkutan menjawab suratnya dan setuju. Mengejutkan adalah Sean menolak imbalan tetapi ia melakukannya dengan tulus tanpa memberitahu alasan pasti kenapa ia menolak imbalan yang sangat besar. Tetapi Dante memahami kalau Sean sejatinya adalah orang yang sangat baik, pemuda itu jauh lebih baik darinya dan Ivy pantas mendapatkan kepingan terkecil dari kebahagiaan sejatinya tanpa melupakan siapa yang menjadi tumpuan hidupnya. 

Selama perjanjian dilaksanakan, bukan berarti ia tak punya ketakutan tersendiri. Dante tahu dirinya merasa kalut terlebih ketika menjelang detik-detik kelahiran sang putra ia tak bisa pulang. Tahu kenapa? Karena ia sendiri memilih untuk tidak pulang dan membiarkan Sean berada di tempatnya, ini semua demi Ivy. Demi kebahagiaan wanita terkasihnya, wanita kedua setelah ibunya. Ia memilih untuk menukar tempatnya, rasa sakit yang memuncak ketika tahu kalau Ivy tetap bergeming dan bereaksi bahwa ia tetap baik-baik saja dengan atau tanpa Dante. Dalam suratnya Ivy memang mengatakan bahwa ia merindukan kebersamaan mereka tetapi jarak bukanlah toleransi untuk Dante agar ia tidak tahu apa-apa. Yeth memberikan laporan secara berkala tentang apa-apa saja yang dilakukan Sean dengan Ivy. Dante adalah seorang pemimpin yang bijak, setiap langkahnya memiliki perhitungan rasional dan pemikiran yang konsisten maka ia tak peduli apabila hatinya hancur lebur asalkan wanita yang paling disayanginya bahagia dan tidak menangis di hadapannya. Maka ia biarkan ketika benih-benih cinta itu mulai tumbuh dan berkembang karena selanjutnya ia berusaha memadamkan keduanya--dengan tangannya sendiri. 



***


Kabar baik datang disambut kemeriahan. Rumah Athena akan kedatangan seorang malaikat kecil. Dokter mengatakan kalau Ivy sudah boleh pulang setelah menginap selama seminggu dengan membawa serta putra kecil mereka, Kairi. 

Dalam kain tebal yang hangat, Kairi tertidur pulas. Nafas dan aromanya membuat siapapun ingin memeluknya sepanjang waktu. Sementara Ivy sibuk menggendong jagoan kecil mereka, Dante merapikan barang-barang Ivy dan merangkulnya keluar rumah sakit. Ini akan menjadi hari yang paling spektakuler karena keduanya bersama-sama melangkah sebagai ayah dan ibu baru. Ivy sudah sepenuhnya menjadi wanita, dia sempurna karena sudah terlahir menjadi seorang ibu. 

Namun hatinya mendadak gelisah, sehari sejak Kairi lahir ke dunia, ia tak melihat ada tanda-tanda McKinley. Sean menghilang kembali seperti ditelan bumi, Ivy mendadak sangat cemas. Ia seringkali merasa gelisah. Alasan paling kuat adalah ia belum mengucapkan terima kasih kepada Sean atas apa yang sudah pemuda itu luangkan kepadanya. Sean yang menemaninya menjelang hari kelahiran, Sean yang bertindak seolah-olah ia adalah ayah dari Kairi bahkan Sean yang berada di sampingnya ketika ia berjuang melahirkan Kairi dari kandungannya. Ia ingin mengucapkan terima kasih pada Sean. 

"Ada apa?" Dante menaikkan alisnya, Ivy berkali-kali menoleh ke belakang. Takut kalau tiba-tiba Sean datang ke kamarnya dan ia tidak menemukan Ivy disana, "kau mencari seseorang?" 

Ivy mendongak, melepaskan pandangannya dari sisi lain. 

"Tidak, tidak apa-apa." 

Kembali ia memfokuskan diri pada Kairi. Berusaha menenangkan dirinya sendiri meski di dalam hatinya bergolak. Di satu sisi ia ingin sekali bertemu dengan Sean, namun ia takut kalau Dante mengetahui segalanya. Tanpa ia tahu kalau Dante lah yang menciptakan kebersamaan keduanya, Dante lah yang mengizinkan Sean menulis kembali kisah yang tertunda. Dante lah yang memberikan tulisan terakhir bagi Sean dalam kehidupan Ivy. 

"Kalau dia adalah orang yang kau cari, Ivy." Dante merangkul Ivy lebih erat, mengecup puncak kepalanya dalam-dalam dan menunjuk Sean dengan dagunya saat ia melihat pemuda itu berdiri di depan sebuah mobil dengan gaya maskulinnya. 

Dengan kemeja biru laut dan lengan digulung dan satu tangannya dimasukkan ke dalam saku. Khas seorang Sean, Ivy mendongak. Mendadak matanya terasa panas, bergantian menatap Dante dan Sean. Lantas ia tak percaya, apa yang dilihatnya. Keduanya tak melakukan perkelahian, tidak juga adu mulut. Ivy memandang Dante penuh arti antara ingin menghampiri Sean tetapi ia takut--takut Dante marah padanya. 

Seperti telepati, Dante menunjuk dengan dagunya. Memberikan izin pada perempuan terkasihnya untuk waktu yang relatif singkat. Ia melepaskan rangkulannya dan berjalan menuju McKinley dan hati serta mata yang panas. Begitu kedua tumpuannya tiba, ia merasakan getaran yang menyesakkan seperti diremukkan. Dalam sekali kedip, airmatanya tumpah ruah tanpa jeda. Ia menjadi sulit bernafas dan senyum penuh kebahagiaan itu tidak sekalipun menyusut. 

"Hai," Sebuah sapaan hangat dibarengi tatapan yang ia rindukan. 

"Selamat kau sudah menjadi ibu, Ivy. Kau wanita yang hebat." 

Ia rindu disentuh pemuda ini, Tuhan. 

"Terima kasih...." 

Getir, hanya sepenggal kata yang mampu keluar dari bibirnya. Sesak menyeruak tanpa bisa ia hentikan. Ia yakin ini adalah detik-detik terakhirnya bertemu Sean karena sesudahnya ia yakin Dante tak akan memberikan kesempatan untuknya. 

"Untuk apa?" 

Susah payah Ivy menarik nafas dalam-dalam, susah payah ia mengatakan apa keinginannya. 

"Untuk segalanya selama dua bulan ini, terima kasih telah menggantikan posisi Dante dan kembali." 

Ia merasakannya, sebuah tatapan hangat antara kelegaan melepaskan sakit dan melepas bebannya. Tangan besar itu terulur menyapu epidermis Kairi, putranya. Kemudian diselingi senyum paling damai yang pernah ia lihat. Setelah itu, Sean meraihnya dalam satu rangkulan, menghabiskan jarak keduanya dan membawanya mengecup kening Ivy di hadapan seorang Dante. Rasa panas menyelubungi pipinya. 

"Berterima kasihlah pada Dante, Ivy. Tanpa dia, aku tidak bisa bertemu denganmu lagi." 

Ivy mematung, hening dalam beberapa saat mencoba mencerna kalimat yang dikatakan Sean. 

"Maksudmu?" 

"Dia yang merencakan ini semua, dia mencariku, Dante. Melalui Yeth, ia mencariku, memintaku menggantikan tempatnya untuk menjagamu hingga si kecil ini lahir karena ia tak bisa membiarkanmu berjuang sendirian. Memang terlambat karena cukup sulit mencariku, Ivy. Tetapi kalau terima kasih, katakanlah itu pada Dante," 

Ivy menoleh diantara bahunya, menatap Dante dari sela kabut matanya, ia tidak yakin sepenuhnya akan sebuah kebenaran yang Sean katakan, mungkin ia terlalu takut mengakui kalau selama ini Dante lah yang mengarang scenario ini untuknya dan cukup takut mengartikan kebahagiaannya adalah rekayasa semata. 

“Jangan berprasangka apapun, kumohon. Dante melakukan semua ini untukmu, hanya untukmu. Dia mengorbankan perasaannya untukmu, Ivy. Percayalah ia mencintaimu lebih dari yang kau tahu.” 

Kini dia meringkuk dalam diam. Dalam pelukan seseorang yang telah memberinya sayatan dalam. Coba meredam tangisnya dengan satu tangan, ini adalah senyap paling pekat yang pernah dirasakan keduanya. Berdua yang seperti sendirian. Ivy memberanikan diri menatap Sean, meski dadanya bergemuruh, meski tangisnya semakin sesegukan, namun dalam pelukan keheningan. Sepasang bola matanya menatap langsung dua pasang mata di depannya. Meminta penjelasan lebih dari sekadar apa yang dikatakan McKinley padanya. Namun justru keterdiaman itu—cara kedua matanya memandang—adalah teriak kebenaran yang paling lantang dan tidak bisa lagi disangkal. Karena dia bicara dengan seluruh sesal. Seluruh luka. Seluruh sakit. Namun juga dengan seluruh kesabaran dan harapan. Pada akhirnya, dia melakukan semua itu juga dengan seluruh cinta. Untuk seseorang yang hilang pada masa lalu dan untuk seseorang yang hadir dalam hidupnya. 

Ivy masih tidak mengerti apa yang disembunyikan keduanya. Ada sesuatu yang terasa janggal di antara mereka. Dan, hanya mereka yang tahu. Kejujuran yang entah terkuak sejak kapan, tapi tidak mau pergi lagi. Mata itu menatapnya, dalam dan tepat mengenai sasaran sementara kakinya berdiri lantang dan dalam keheningan meminta penjelasan. Sekali lagi ia menatap sepasang mata yang bukan miliknya, meyakinkan dirinya sendiri—mungkin dia hanyalah orang yang tepat yang datang pada waktu yang salah. Sudah cukup kami menganggap tidak ada yang terjadi hari itu. Tapi dalam hati ada sesuatu yang memberontak, sesuatu yang terus menerus membatin, seakan ada sesuatu yang dirahasiakannya tapi sangat ingin dia ceritakan sampai tuntas. Ia tidak bisa menjelaskan kata yang tepat untuk mendeskripsikan rasa yang berkecamuk di hati saat ini. Yang ada hanyalah sugesti sampai kapan pun, luka dari kehilangan seseorang mungkin nggak akan sembuh. Ivy terdiam, ia berhenti menyalahkan kondisi dan orang lain untuk hal-hal yang udah terjadi. Segalanya menjadi percuma ketika kedua mata itu saling bertemu pandang dan tidak ada yang bisa dielakkan. Ivy melihatnya mata itu sarat dengan kesepian, kesedihan yang ia sendiri kenali dengan begitu dalam. Mereka berdua hidup dalam kepura-puraan karena takut melukai orang lain, terlebih dari diri sendiri. Ivy hanya bisa balik menatap matanya, membiarkannya merasakan segala yang harus ia rasakan. Butuh waktu yang lama untuk berhenti menyalahkan, Tuhan. Untuk meyakinkan diri sendiri bahwa ini bukan salah siapa-siapa. Butuh waktu buat kembali percaya lagi, kalau ia pantas bahagia dengan Dante. 

Sampai tangis mereda, dan kehilangan kemampuan untuk menangis. Ivy mengerti.

Bahwa terkadang di dunia ini ada hal-hal yang tak ingin dikatakan, bahwa sebaiknya di dunia ini ada hal-hal yang tetap menjadi rahasia. Maka ketika ia ingin menuntut jawaban, penjelasan lebih dalam tentang keduanya, tentang perjanjian yang mungkin mereka lakukan tanpa Ivy tahu, ia memilih diam, ia memilih untuk membiarkan segalanya berjalan apa adanya. Hingga ia membentuk lengkungan sabit di bibirnya. Bahwa sebuah kejujuran sebaiknya tersimpan tanpa pernah ia pertanyakan. Cukup lama ia merasakan perang batin yang begitu sengit di dalam nuraninya, berusaha sekuat mungkin untuk menerima kenyataan yang ada. Pada akhirnya ia memutuskan berbalik dan meninggalkan Sean dalam kesendirian tanpa jawaban.

Hingga langkah kakinya terhenti karena suara itu kembali memanggilnya. 

“Aku mencintaimu…” 

Ia menoleh dari bahunya, merasakan degup hangat selama kalimat itu mengalir ke dalam sukmanya. Diantara jarak inilah posisi tersulit dari keduanya dimana ia mendapatkan serangan bertubi-tubi atas hatinya dan bimbang bagaimana harus bersikap. Kristal cokelatnya tertuju pada si kecil Kairi dalam pelukannya mencoba mencari makna kembali pada dirinya sendiri. Disanalah ia pulang, kepada Dante lah kehidupannya yang sebenarnya. Hanya sebuah lekukan senyum yang ia sematkan, pertanda darinya akhir dari sebuah kisah yang menggantung di sudut awal. Memberikan warna lebih dari sekadar pelangi di malam senja. Kemudian ia kembali pada pelukan Dante yang membawanya masuk ke dalam sebuah mobil yang perlahan meninggalkan halaman parkir rumah sakit, meninggalkan sesosok pemuda dengan cerita yang begitu perih. Tetapi ia yakin, akan ditemuinya bahagia selepas kepergian Ivy. 



***



Sepanjang perjalanan, hening menghiasai, dominasi bungkam lebih bermakna. Di tengah hembusan nafas sang malaikat kecil ia terus berpikir. 

Saat Sean mengatakan “aku mencintaimu” ia merasa senja tak lagi membawa cerita bahagia. Mungkinkah kata-katanya ambigu? Atau ia saja yang menganggapnya saru? Bagi keduanya, senja selalu sempurna; bukankah sia-sia bila menggenapkan warnanya? Seperti kisahmu, kau dan aku, juga dia. Tak ada bagian yang harus kita ubah. Tak ada sela yang harus kita isi. Bukankah takdir kita sudah jelas? 

Lalu saat kau berkata “aku mencintaimu” mengertikah kau apa artinya? Mengertikah kalau kau, kalau kita sejak awal tak pernah bisa berada dalam cerita yang sama—dengan senja yang berwarna? 

Sejak awal segalanya sudah jelas, tidak pernah ada takdir antara kau dan aku, dan kau tahu itu.