Selasa, 30 Juli 2013

Hold on to this lullaby even when music's gone.


Kau seharusnya tahu bahwa memiliki suami yang mencintaimu dan mengandung seorang anak darinya adalah sebuah kebahagiaan yang patut membuat siapapun iri. Kau punya segalanya, suami yang mencintaimu, keluarga yang menyayangimu, teman-teman yang membantumu serta jabatan yang meninggikanmu. Semua itu apa yang kurang? Apalagi kini keluargamu tengah berbahagia, mereka menantikan manusia baru yang ada di dalam tubuhmu. Menantikan ia lahir ke dunia, menanti tangisannya dan menanti manusia itu tumbuh besar. Manis bukan? Kau memilikinya, kau memiliki segalanya. Apa yang kurang?

Ivy menyisir surainya, terduduk dengan perut besar di depan cermin riasnya. Setiap hari tubuhnya bertambah berat seiring dengan jabang bayi yang semakin membesar di dalam perutnya. Tangan mungilnya masih tetap menyusuri beberapa helai yang kusut, wajahnya cenderung pucat tanpa polesan bedak apapun. Setiap kali biner cokelatnya memantul pada permukaan cermin, ia menemukan seseorang penuh dengan kebahagiaan yang mencuap-cuap, penuh dengan kasih sayang, namun setiap kali ia mengerjap ia merasa menatap sesuatu yang lain dari balik matanya. Menemukan serpihan lain dari bentuk kebahagiaan, pecahan harapan dan perasaan belum benar-benar tersusun rapi hingga kelopaknya tertutup kembali. Di balik matanya ia menemukan hal lain, dua sisi yang bertentangan. Rona merah kembali menghilang seiring dengan helaan nafas dan pergerakan menaruh sisir diatas meja. Dia sudah terlalu banyak menghabiskan waktunya di depan cermin sedangkan menit akan terus melaju tanpa berharap untuk berhenti. Memoles sedikit saja wajahnya dengan taburan bedak dan lipstick peach, ia mengambil tas kerjanya dan bergegas berangkat. Ritual pagi yang biasa dilakukannya, sarapan yang baik bagi ibu hamil untuk memenuhi nutrisi sang bayi. Satu dua teguk setelah itu sisanya dijadikan bekal saat tiba di kantor.

Tidak butuh waktu lama, dia sudah mencapai tempat kerjanya. Perutnya yang membuncit selalu menarik perhatian banyak orang, terkadang beberapa membantunya berjalan. Ini sulit bagaimana menyeimbangkan tubuhmu dengan kaki-kaki yang kecil. Sesekali ia harus menumpu tangan pada bagian pinggul dan melangkah dengan tertatih. Usia kehamilannya tidak lagi muda, menginjakkan 7 bulan kontras dengan ukuran tubuhnya yang tidak terlalu besar. Ivy masih tetap terlihat mungil, masih tetap berwajah seperti anak-anak. Membentuk lekuk sabit di bibirnya, menyapa beberapa yang lewat, butuh waktu yang cukup lama untuk sampai ke ruangannya. Untungnya ia tidak bekerja sendirian, ia memiliki seseorang yang dapat dipercaya, selama ini menangguhkan bebannya bila tak sanggup melakukan pekerjaannya seorang diri. Mila, namanya. Wanita bersurai platina dengan tubuh tinggi dan kurus namun cenderung bungkuk selalu setia menghabiskan waktunya bersama Ivy ketika berada di kantor. Dia asisten yang setia untuk segala keperluan Ivy bahkan ketika Ivy kesulitan untuk melakukan hal-hal sepele, membuat susu misalnya. Mila juga pernah mengantarkan Ivy ke rumah sakit di dunia muggle sesekali untuk memeriksa kandungan Ivy apabila ia tidak sempat memeriksanya ke St. Octavianus. 

Waktu terasa begitu cepat meski tanpa Dante disisinya. Setiap hari ada satu sampai dua surat yang mampir kerumahnya, terkadang ada benda-benda dari Rusia yang Dante kirimkan. Ivy selalu senang dengan Dante, meskipun jauh, meskipun ia tak pernah melihat raganya tetapi perasaannya tetap sampai. Seolah sang jabang bayi mengetahui seberapa besar ayahnya mencintai dia dan bayangan setiap malam akan mimpi buruknya tentang masa lalu mungkin akan segera berakhir. Karena setelah ini ia tidak memiliki urusan apa-apa dengan masa lalunya terutama dengan kau-tahu-siapa yang dia maksud. Seseorang yang selalu tertuju ketika ia membuka lembaran lalunya. Ketika ia memutar balik ceritanya dengan Dante, jauh sekali jauh sebelum sang jabang bayi lahir. Bayangan itu seakan menjadi tinta hitam di awal-awal masa keemasannya bersama Dante, nyaris tak pernah tidur semalaman dan ia membangun dinding sendiri untuk menjauhkan Dante agar tidak menyentuhnya. Berusaha sekian lama memendam apapun yang tidak ingin ia beritahu, sayangnya kebersamaan dengan Dante memaksanya untuk berani melepaskan. Untuk berani mengikhlaskan kepergian seseorang selamanya, selama ia berusaha menimbun perasaan sampai takdir berkata untuk berhenti menahannya. 

Ivy beringsut, ini musim semi. Sudah lama sekali tidak melihat kelopak-kelopak bunga mereka, mewarnai karpet hijau dan serbuk bertebaran. Ia berdiri membelakangi pintu masuk dan seolah hanya ada dirinya di ruangan. Tidak ada Mila, tidak ada tumpukan berkas, tidak ada dering telepon—hanya dia, hanya dirinya yang menatap melalui kaca-kaca jendela sambil sesekali mengelus perutnya yang membuncit. Ivy selalu menyukai musim semi, biner cokelat terangnya bisa mengamati banyak warna, merekam semangat keluarga-keluarga kecil yang bertaburan di taman-taman Amerika, sedangkan di Calix Lumina ia tidak mendapatkan apapun. Sepanjang musim ia hanya akan melihat salju, salju dan salju. Bahkan walaupun musim panas salju tidak benar-benar mongering disana. Terkadang sedikit ragu apakah nanti anaknya bisa bertahan dengan udara di Calix? Atau dia akan memutuskan untuk pindah ke Rusia?

Sayangnya opsi kedua selalu menjadi yang paling mustahil untuk diterima—mengingat ibu mertuanya selalu kontra dengan dirinya dan sama sekali tidak bisa menerima kehadirannya. Padahal hanya menunggu sedikit saja, sedikit waktu untuk dapat menerima kehadirannya, mungkin bukan dia, tapi biarkanlah sang malaikat kecil diberikan pengakuan, setidaknya ia akan bangga mengetahui ayahnya ternyata seorang yang paling berpengaruh di daratan Eropa. Hng, rasanya ia sedikit kelelahan selama berdiri, belakangan ini memang Ivy cepat lelah. Untunglah bulan persalinan hanya tinggal menunggu waktu saja, ia akan cuti panjang setelah bulan ini berakhir. 
Suara ketukan menyadarkannya dari lamunan, Ivy membalikkan tubuh dan menyuruh tamunya masuk. Tanpa melihat siapa yang masuk, ia mencoba untuk berjalan menggapai kursi kebesarannya, perlahan-lahan namun telinganya tak melepas dari sebuah suara ketukan sepatu membentur lantai. Suaranya nyaring, itu sudah biasa. Ia akan menghadapi satu lagi dari sekian banyaknya agen yang mengenakan pakaian hitam dan mata mereka yang selalu disembunyikan oleh kacamata hitam. Ah, ya dia merasa kesulitan untuk duduk. Satu tangannya menyanggah pinggul dan satu lagi menahan dibagian bawah perut. 

“Hati-hati…” 

“Ah ya terima kasih sudah…..” Ia melepas pandangannya, mengarah pada tamu yang datang, “mengingatkan.” 

Untuk kesekian kalinya Ivy ingin membunuh takdirnya sendiri. Untuk kesekian kalinya ia merasa dikhianati oleh takdirnya sendiri. Ini bukan lelucon, ‘kan? Ini bukan sesuatu yang harus ia tertawakan, ini lelucon yag sangat-sangat tidak pantas untuknya. Tuhan, kenapa kau beri aku cobaan yang sedemikian sulit? Kau jauhkan ia dari Dante tapi kau pertemukan aku dengan orang ini, salahku apa? 

“Apa kabar, Ivy?” Suara itu, suara yang sangat ingin dia dengar sejak 7 tahun silam, sejak ia dikabarkan menghilang, sejak harapannya putus di tengah jalan. Suara yang tidak pernah terdengar lagi bersamaan dengan raga yang tenggelam. Dadanya terasa sesak, seperti ditonjok ratusan tangan, nafasnya tercekat dan matanya membulat. Mungkin saat ini wajahnya lebih mirip melihat hantu di siang bolong daripada melihat manusia dengan kemeja sutra hitam, dasi hitam dilapisi jas Armani dan surai cokelat terang yang disisir sangat rapi meskipun ditata berantakan. Laki-laki ini cerita masa lalunya, cerita yang tidak pernah usai sampai detik ia ingin melupakannya. 

“Baik… Tentu saja, baik.” Memaksakan diri mengulas senyumnya, mencari posisi duduk yang nyaman. Dilihatnya Mila menghampiri membawa beberapa berkas dan kemudian memandangnya dengan ekspresi aneh. Asistennya bisa menanngkap raut wajah janggal Ivy meskipun ia berusaha tersenyum, topeng apapun dapat ditebak dengan mudah oleh Mila. Dengan hati-hati Mila meletakkan tumpukan berkas-berkas diatas mejanya. Ia menjelaskan kedatangan Sean ke tempatnya dengan hati-hati dan Ivy berusaha mencerna dengan baik ketika jantungnya mengkhianati dan mengakibatkan kepalanya tak bisa berpikir jernih. Oh Tuhan, jangan sekarang, tolong. 

Ivy mengangguk, ketika akhirnya ia berusaha menatap Sean dengan tenang. Jantungnya masih belum stabil, rona kebahagiaan seperti petasan yang dapat meletus ratusan kali. Rasa senang yang membuncah sekaligus rasa sakit karena tikaman masa lalu yang begitu pedih dan tajam, nyeri terasa diseluruh tubuhnya bahkan menekannya hingga Ivy sulit bernafas. 

“Jadi?” Ia membuka pembicaraan. 

“Yang dikatakan asistenmu itu hanya kamuflase saja, mengerti ‘kan?” 

Ivy mulai ber uh oh seenaknya, ia membuka beberapa lembar kertas pada bagian persetujuan. Dia paham—kasusnya ternyata beberapa penyihir di Amerika menggunakan hewan gaib dirumah mereka. Beberapa dalam pengawasan dan selebihnya ternyata mulai mengabaikan peraturan. Sebagai duta sudah sewajarnya ia mencintai negaranya sendiri, keamanan tentu menjadi prioritas utama. Ketika ancaman keamanan menjadi serius, Ivy harus siap sedia di tempatnya. Biner cokelatnya tak melepas pandangannya barang sedetik pun dari wajah yang begitu ia rindukan sejak tujuh tahun silam, hidung yang mancung, mata yang besar dan kecokelatan, struktur rahang yang kuat bahkan aroma Sean menghipnotis Ivy saat itu juga. Tolong, ia sudah memiliki seorang suami sekarang. Penjelasan mengenai beberapa penyihir yang menyimpan hewan gaib di dalam rumahnya, tentu saja bukan sekelas hippogriff melainkan hewan gaib dalam ukuran kecil tanpa perizinan dari kementrian sihir Amerika, ia diminta untuk bekerjasama dengan kementrian muggle di Amerika. Sayangnya Sean tak punya koneksi untuk meminta tolong pengawasan di dunia muggle. Ia tidak mengenal siapapun di dalam kantor kementrian Amerika dunia muggle. Kementrian sihir memintanya untuk tetap berlaku stabil, takut kalau penyihir ini lambat laun akan membuka identitas mereka pada dunia. Ia pikir hanya ada satu atau dua orang saja yang memiliki hewan gaib, ternyata data menunjukkan lima puluh lebih dari mereka yang memiliki hewan gaib dan hanya beberapa yang memiliki lisensi pemeliharaannya. 

Kebanyakan muggle di dunia Amerika kelewat sangat rasional, mereka jarang percaya sihir bahkan dongeng-dongeng konyol seperti ini. Maka ketika diutus untuk melaksanakan kerjasama dengan kedutaan Amerika ia merasa pusing dan tidak tahu strategi apa yang digunakan. Tetapi ketika Kementrian memberikan nama seseorang yang dijanjikan sebagai relasi paling dekat dengan kementrian muggle di Amerika, ia merasa tidak asing dengan nama itu. Ya, Viervhy Leandra Athena. Nama yang tidak pernah asing di telinganya, maka Sean menyanggupi tugasnya melakukan diplomasi meningkatkan hubungan kerjasama. Ia pikir ini akan lebih mudah, sangat amat mudah meskipun ia harus merasakan gejolak batin di dalam dadanya saat pertama kali bertemu—kembali dengan Ivy. 

Ivy mengangguk, menghabiskan separuh dari lamunannya hanya untuk mengamati paras Sean. Ia menghela nafas, pikirannya sekarang sedang tidak karuan, hanya bisa mencerna, bukan lantaran ia bodoh atau tidak mengerti pokok masalahnya, lebih karena ia ingin sekali pulang dan terbangun dari mimpi yang sudah lama ingin dilupakannya. Menghapus memori tentang McKinley saat ini juga dan mengenyahkan pikiran apapun yang menjadi dasar terganggunya pikiran seorang Ivy. 

“Hmm, ya aku mengerti. Disini memang nyaris tidak ada yang percaya tentang sihir, mereka selalu menganggapnya dongeng pengantar tidur,” Mengulas senyumnya, “ada lagi yang bisa kubantu?”

“Itu saja…” Ivy meraih berkas-berkas diatas meja dan menumpuknya menjadi satu. Satu tatapan mengganggunya, ia melepas barang sedetik arahan matanya dari tumpukan berkas, “terlalu kaku…” 

“Pardon?” 

“Kau,” 

Ivy mengernyitkan keningnya, “Kenapa denganku?” 

“Sudah lama tidak bertemu, kau terlalu kaku, maksudku terlalu formal untuk teman lama.” Sean terkekeh, tawa ringan yang selalu ingin dia dengar sejak berada di tingkat dua, saat ia menantikan senyum sederhana dari pemuda sederhana menjadi tawa yang khas di telinganya. Ivy mendadak gugup, pipinya merona merah seraya membuang wajah. 

“Karena berada di kantor, ‘kan? Profesional itu perlu, McKinley.” Lagi, ia memaksakan diri mengulas senyumnya. 

“Oh, kalau begitu… Kau ada waktu sebentar setelah ini?”

“Untuk?” 

“Makan siang di luar mungkin…” Sean mengedikkan bahunya. 

Hangat menjalar, Sean mengajaknya untuk waktu informal di luar jam bekerja. Biasanya ia akan menganggapnya sebagai permintaan khusus kliennya, tapi kali ini kenapa rasanya sangat berbeda. Biasanya ia akan dengan malas memenuhi permintaan kliennya soal makan siang di luar, cuaca terkadang tidak bersahabat, tetapi dengan Sean segalanya menjadi tidak terkendali. Tanpa menunggu waktu, ia segera memenuhi ajakan kliennya itu. Ini menimbulkan pertanyaan besar, bagaimana Mila menatapnya dengan sangat aneh dan ia menuntut jawaban ketika Ivy menyambar tas kerjanya dan meninggalkan ruangan bersama McKinley dengan wajah berseri. Ivy berhutang cerita pada Mila saat ini. Tidak jauh dari kantornya, di dekat taman St. Morris. Ada sebuah restoran bergaya Eropa dengan desain sederhana zaman romawi kuno. Makanannya lezat, mereka memasang berbagai menu khusus bahkan untuk ibu hamil. Ivy lupa kalau dirinya sedang berbadan dua saking senangnya dia bertemu dengan Sean. Pemuda itu tidak mengalami banyak perubahan, penampilannya masih sama hanya pundaknya lebih bidang, tubuhnya lebih tegap dengan garis wajah yang tegas serta aroma laki-laki yang sangat kuat. 

“Sudah lama sejak di Yellowstone…” Kata-kata ini membuatnya mendongak, menatap raut wajah yang mendadak pias tapi berusaha tersenyum, sayang pandangan mata itu kosong. 

“Sangat lama dan kau menghilang lagi?” Menaikkan alisnya. 

“Aku tidak menghilang,” 

“Oh…” 

Keadaan menjadi sangat hening, masing-masing bergelut dengan pikirannya sendiri. Baik Ivy ataupun Sean, keduanya sama-sama tak tahu bahan pembicaraan apa yang pantas untuk siang ini. Ivy berusaha menyibukkan diri dengan cara memotong-motong beef yang menjadi menunya siang ini. Memaksa mulutnya untuk mengunyah meskipun ia tidak sedang lapar. Sean, dia tahu pemuda ini mungkin melakukan hal yang sama. Ivy hanya berharap, detik ini juga biarpun ini hanya mimpi, jangan bangunkan dia meskipun dunia hancur saat ia tertidur lelap. 

“Maaf waktu itu aku tidak datang ke pernikahan kalian…” 

Permintaan maaf yang menurut Ivy tidak pantas diucapkan, itu hanya akan menggoreskan luka. Ingatkah bahwa ia menunggu sosok McKinley tiba di depannya, mengulurkan tangan alih-alih memberinya selamat tetapi malah mengajaknya pergi bersamanya kemudian keduanya hidup bahagia. Ivy hanya menarik sudut bibirnya, asimetris, ia tak sanggup menahan gejolak menyedihkan di dalam dadanya, sama sekali tidak bisa ia tahan. Bahkan tangannya ingin sekali melempar Sean dengan gelas, betapa menyebalkan sosok McKinley. 

“Tidak apa-apa, aku tahu kau sibuk…” Senyumnya merekah, menahan kepedihan. Susah payah untuk tidak mengambil lembaran lama dan membuka seluruh coretannya, menggantinya dengan kalimat-kalimat baru yang lebih pantas untuk menggambarkan situasi hening seperti ini. 

"Bukan itu,” Sejenak Ivy terdiam, menunggu lanjutan kalimat yang akan diucapkan pemuda McKinley, “terkadang ada beberapa hal yang harus aku lewatkan, demi menjaga sesuatu yang berharga.” 

Anggap saja Ivy tidak pernah mengerti apa yang dibicarakan McKinley saat ini. Alih-alih lebih tertarik dengan beefnya daripada pembicaraan yang berujung pada kelukaan. Pedih menggantung disisinya, menggoyahkan harapan bahkan mungkin keinginan untuk tetap berada di jalan yang benar. Ingatkan ia, saat ini ceritanya sudah selesai, ini hanyalah bagian terkecil dari ingatan masa lalu yang belum tuntas sekadar dongeng pengantar tidur selama ia menaungi masa kecilnya. 

“Kau bahagia, Ivy?” 

Percaya atau tidak, pertanyaan ini benar-benar membunuhnya, menikamnya hingga tidak bisa bernafas barang sedetik pun. Tangannya mendadak gemetar, jantungnya memompa darah terlalu kuat, nafasnya tercekik di kerongkongan. Bahagia, satu kata sederhana namun terlalu rumit untuk dijabarkan. Bahagia, ia Tanya hal itu. Bahagia adalah perasaan yang seharusnya ia rasakan, bahagia memiliki suami yang mencintainya, menyayanginya, bahagia memiliki sang jabang bayi, bahagia karena akan menjadi wanita seutuhnya setelah melahirkan darah daging dan buah cinta suaminya. Harusnya hal itu bahagia ‘kan? Sulit, terlalu sulit untuk merepresentasikan definisi bahagia. Bahagia, tetapi juga menyakitkan. Ia harus mengatakan apa? Mungkin ia bahagia dengan Dante—pria yang baik, bermartabat, memiliki kedudukan, dihormati segala kalangan, penyayang, mengerti bagaimana perjuangan Ivy melupakan seorang Sean. Bukan, Ivy tidak akan pernah melupakan Sean sekalipun ia dikabarkan telah meregang nyawa—melupakan perasaan itu lebih dari segalanya, sulitnya bukan main. Ia berjuang selama beberapa tahun terakhir untuk benar-benar membuka lembaran baru dengan sisa-sisa kenangan lama yang masih dan akan terus menempel di kepalanya. 

“Menurutmu?” Memasukkan sepotong daging ke dalam mulutnya tanpa melihat lawan bicaranya.

“Kau pasti bahagia ya? Buktinya sudah terlihat.” Sean tertawa renyah. 

Tertawa saja, tidak tahu ‘kan kalau perempuan di depanmu ini mau menangis? 

Ivy mati-matian menjaga agar airmatanya tidak mengalir sembarangan, agar ia bisa menyembunyikan perasaannya yang hancur saat ini. Mengingat darah daging Dante ada di dalam perutnya dan kini ia harus berhadapan dengan seseorang yang ia inginkan untuk menanam benih di dalam tubuhnya. 

“Yang kudengar gosipnya sih, katanya kalian membuat beberapa teman-teman seangkatan sangat iri. Dante pasti sangat menyayangimu, dia pasti sering menemanimu dan si kecil itu ‘kan? By the way sudah berapa bulan usianya?” Racauan itu seperti bom atom yang ingin meledak tepat di telinganya. Tangannya mulai gemetar, memotong daging-daging saja ia harus susah payah. Ada perasaan seperti tertohok di bagian jantung, kali lain ia harus belajar untuk benar-benar memisahkan antara pribadi dengan pekerjaan. Ivy ingin sekali memperlakukan Sean sebagai teman lama, bukan sebagai kisah masa lalu yang belum selesai. Ivy ingin sekali menganggap segalanya sudah selesai, tidak perlu merasakan sesak setiap kali mengingat bahkan melihat Sean di depan matanya. Dia sudah lelah, terlalu lelah untuk mengingat serpihan kenangannya. Memeluk lukanya, membalutnya namun setiap kali ingin sembuh selalu saja terbuka kembali, bagai menabur garam diatas luka—perih. Mati-matian ia menahan laju emosi, ini bukan sembarang emosi yang berujung pada amarah melainkan emosi yang beruju pada kelukaan. Menangis mungkin satu-satunya jalan keluar ketika ia tak bisa lagi menahan perasaannya terlalu lama, ingin sekali menghambur ke dalam pelukan McKinley. Selama tujuh tahun, ia pikir ia berhasil menyingkirkan bayangan Sean, dia pikir tujuh tahun adalah waktu yang cukup bagi Ivy untuk menghindari kenyataan bahwa ia dan Sean tak bisa bersama. Sayangnya tujuh tahun ini juga memberikannya kenangan yang tersisa, perasaan yang tertinggal. 

“Itu hanya gossip saja, Sean. Dante sedang tidak berada disini, dia di Rusia, kerajaannya butuh sosoknya saat ini. Ah kebetulan sudah 7 bulan,” Pun untuk tersenyum rasanya sangat pahit, ada getir yang menjalar di dalam nadinya, menusuk-nusuk hingga membuat lubang yang semakin besar, “jadi bagaimana denganmu? Sudah menemukan perempuan yang cocok? Apa kau sudah menikah?” 

Memaksakan diri menatap mata seseorang yang dengan pertimbangan ketika kau ingin melihatnya karena rindu yang membuncah atau kau tidak ingin melihatnya dengan alasan sakit setiap kali kau melihat kedua matanya. Kali ini gentian Sean yang memalingkan wajah, posisi duduknya tak lagi formal, ia bersandar pada kursi dan membiarkan kakinya lurus di bawah meja. Ivy menghela nafas, mungkin pertanyaannya sama-sama membuka luka lama. Padahal ia ingin sekali bertanya tentang kenapa selama ini menghilang, kemana saja, apa yang Sean lakukan selama menghilang, kenapa tidak memberikan kabar dan yang lebih penting adalah apa Sean memiliki perasaan yang sama dengan Ivy? Apakah dia bahagia melihat Ivy bersama Dante sekarang? Pikirannya terus berputar, seolah tergugu mendengar jawaban Sean. Lidahnya mendadak kelu, ia tidak bermaksud membuat Sean tidak ingin bicara dengannya lagi. Dia hanya ingin tahu apakah Sean telah menemukan penggantinya, lebih tepatnya seseorang yang dapat membuat pria itu merasa nyaman, tersenyum dan tertawa sama seperti ketika keduanya baru bertemu pertama kali. Kau tahu, selama tujuh tahun ini senyum Sean tak pernah berubah, ia selalu menyukainya, ia selalu menyukai sikap hangat Sean—sampai kapanpun, meskipun Dante akan marah bila ia terus menerus seperti ini. 

“Sulit mencari seseorang yang dapat membuatku tersenyum—seperti dulu…” Kecut, ia mendapati ekspresi wajah tak seimbang dengan kalimat barusan. Seperti ada sesuatu yang menyakitkan dibalik mata seorang Sean. Ivy meraih gelas berisi cairan limunnya, menyesapnya perlahan, membiarkan kerongkongannya terisi oleh cairan. Kering menggantung sama dengan suasana saat ini. 

“Oh, bukankah di kota ini banyak sekali gadis-gadis cantik?” Ivy semakin memaksakan diri untuk mendesak Sean, padahal ini bukan keinginannya, sama sekali bukan hal yang ingin dilakukannya—menyudutkan Sean bukanlah hobinya. Dua sisi—senang dan sedih. Entah dia harus merasakan sedih atau senang ketika Sean mengatakan kalau ia belum menemukan perempuan yang dapat membuatnya tersenyum, it means Sean masih seorang diri mengarungi dunia. Ia belum menemukan belahan jiwanya bahkan mengikatnya di depan altar, tidak seperti Ivy yang sudah lebih dulu memutuskan untuk mengikat diri dengan Dante. Sedih—menyesali keputusannya yang sangat gegabah, seharusnya ia bisa lebih sabar menunggu Sean, seharusnya dia menolak tawaran Dante yang ingin menjadikannya ratu. Kalau saja ia sudah tahu lebih dulu seperti apa kehidupan sebagai seorang ratu, kalau saja ia tahu masa depannya sejak lama, seandainya dia tahu kalau Sean akan kembali kehadapannya, mungkin ia bisa memutuskan kalau ia tidak perlu menikah dengan Dante, ya dia tidak perlu repot-repot bersandiwara kalau selama ini dia bahagia. Sayangnya, takdir sudah mengaturnya, sudah menuliskan ceritanya lebih dulu. Ivy hanya bisa meretaskan senyumnya, meneguk pil kekecewaan sampai habis. Kelereng cokelatnya dengan jelas melihat kelukaan disana, Sean mungkin bisa melepaskannya, Sean mungkin akan menganggapnya sebagai orang yang berdosa. Tidak, sayang… Ivy tidak tahu apapun yang Sean pikirkan, pemuda ini hanya berusaha untuk tidak menimbulkan riak selama pembicaraan ini berjalan. Ia hanya bisa berasumsi kalau Sean mungkin ingin memperbaiki hubungan yang telah lama rusak, jembatan yang terputus, sayangnya jembatan itu sudah diikat kembali oleh orang lain, kali ini lebih kokoh, lebih kuat dan lebih indah dengan kayu yang nyaris dimakan rayap. Ivy tak sebahagia kelihatannya, selama apa yang ia yakini untuk dilepaskan pada kenyataannya masih ia genggam dengan erat. Tuhan, jangan lagi membuatnya bimbang dalam kondisi seperti ini. 

Dua jam—pertemuan yang cukup singkat namun menguras emosinya. Persediaan airmatanya nyaris terbendung dan siap keluar begitu ia tiba dirumah. Ivy mendongak, melihat jam dan ternyata sudah menunjukkan pukul tiga. Belakangan sejak kehamilannya berada pada usia diatas empat bulan, Ivy semakin memperpendek jam kerjanya, ia tidak betah berlama-lama berada di dalam kantor, terkadang ia memutuskan untuk bekerja setengah hari, untungnya atasannya mengerti kondisi Ivy yang sekarang jadi tidak terlalu menimbulkan masalah. Hanya saja ia harus menimpakan pekerjaannya kepada Mila, gadis itu tidak pernah mempermasalahkan pekerjaan yang sangat banyak. Dia cukup teliti dan cekatan dalam memahami konsep pekerjaan dan nyaris tak pernah melakukan kesalahan. Ah, dia beruntung sekali. Ivy memutuskan untuk kembali pulang saja, kalaupun kembali di kantor rasanya tidak enak. Pasti ia akan menangis setelah pertemuan ini, lebih baik pulang dan tidur saja. Biarkan saja emosi ini meluap dengan sendirinya, biarkan saja ia menahan tangis di balik matanya, biarkan saja. 

Ivy beringsut dari tempatnya, dengan cepat dan cekatan Sean sudah lebih dulu mengawasi gerakannya. Ia memundurkan kursi dan memegangi punggung Ivy. Seketika itu ia meyakinkan diri untuk menahan nafasnya dan tidak berharap lebih, sungguh. 

“Rumahmu dimana?” 

“Calix Lumina…” 

Ivy meraih tasnya, menyampirkan di bagian pundaknya. Kentara sekali Sean sangat terkejut dengan letak rumahnya yang bisa dibilang jauh dari tempatnya bekerja. Ivy biasa menggunakan perapian ketimbang pintu masuk resmi gedung kedutaan untuk para penyihir. 

“Kuantar saja, itu lumayan jauh. Kau tidak mungkin pulang sendiri, ‘kan?”

Ivy menimang-nimang. Dia memang tidak biasanya pulang sendirian, biasanya ia meminta tolong peri rumah atau Narumi yang menjemputnya. Ivy seringkali merepotkan banyak orang dengan kehamilannya. Kali ini ia merepotkan Sean, padahal ia tidak suka merepotkan banyak orang. Ia tidak suka menjadi beban banyak orang, Ivy membuka mulutnya namun tertahan karena Sean sudah lebih dulu merangkulnya. Ini merupakan pemandangan yang janggal kalau saja orang-orang disini tahu bahwa Ivy sudah memiliki suami dan tengah mengandung anak dari suaminya tetapi malah berjalan berangkulan dengan pemuda lain. Lain halnya kalau publik menyangka bahwa Sean lah suaminya dan Ivy tengah mengandung anaknya. Itu khayalannya, impiannya sejak dulu sejak dia bertemu dengan Sean di kelas telaah muggle. Impian yang sudah lama ia kubur karena kali ini bukan Sean lah masa depannya. Mati-matian Ivy menyembunyikan rona kemerahan di wajahnya, mati-matian pula ia menahan degup jantung yang semakin keras. 

“Oh great, beda benua, right? Lewat mana?”

“Aku biasa pakai perapian, seharusnya sih dijemput adikku, tapi sepertinya dia sedang sibuk.” 

“Oh well, perapian?” Sean mengangguk, mengantar Ivy menuju perapian. 

Perapian berada di dalam ruangannya, dibuat dan didesain dalam sebuah ruangan khusus agar orang lain tidak mencurigai kalau tiba-tiba Ivy menghilang tanpa jejak. Mila tahu kalau Ivy seorang penyihir, awalnya gadis itu terkejut dan menyangka Ivy gila. Tentu saja, Ivy sangat khawatir dengan keadaan mental Mila saat itu tapi yah mau bagaimana lagi? Mila lambat laun terbiasa dengan identitas Ivy saat ini. Mila juga selalu menutupi identitasnya bila ada muggle lain yang menanyakan Ivy. 

“Aku akan pulang sekarang, Mila. Katakan saja pada yang lain seperti biasa. Oh ya, jangan katakan apapun tentang aku diantar oleh Tuan McKinley, aku ada sedikit urusan dengannya. Dia teman lamaku.” Mengulas senyumnya dan Mila mengangguk. Ivy memutuskan untuk lebih dulu menggunakan perapian kemudian diikuti Sean. Tidak butuh waktu lama untuk sampai di Calix Lumina. Suasana yang dingin, ia sudah terbiasa dan Sean mendadak merasa dingin dilihat dari gesture yang memeluk tubuhnya sendiri. Ivy melirik Sean yang nampak susah payah beradaptasi dengan lingkungan Calix, sesekali terkikik. Beberapa kali pemuda itu merutuki daratan Calix yang dingin. Padahal ini musim semi, tapi salju tak sepenuhnya mengering. Percayalah sekalipun musim panas, Calix selalu diselimuti salju. Ia juga bingung kenapa dulu memutuskan untuk tinggal di Calix, kalau ada tempat-tempat lain apalagi Calix sangat jauh dari tempatnya bekerja. 

“Kau bisa tahan tinggal di daerah sedingin ini?” Tangan itu gemetar, asap putih keluar ketika Sean membuka mulut untuk bicara. 

“Menurutmu? Aku sudah lama pindah kesini, Sean.” Mengulas senyumnya, mulai melangkah meninggalkan daratan tempatnya mendarat tadi. 

“Oh well, bayimu tidak rewel, huh? Kau tahu ini dingin sekali, ya tuhan bahkan ini sudah musim semi.” 

“Salju disini tidak pernah benar-benar mencair sekalipun disengat matahari pada musim panas, percayalah.” 

Kemudian disusul tawa dan tidak terasa kalau keduanya sudah sampai di depan pintu rumah minimalis. Tangan kecilnya meraih gagang pintu, menekannya ke bawah sampai terdengar bunyi dan pintu terbuka. Disambut hangat, suasana di dalam rumah tak seperti diluar. Kebanyakan rumah di Calix memiliki suasana rumah yang hangat berbanding terbalik dengan suasana diluar. Maka Ivy tidak merasa heran kalau Sean sangat bingung dengan perubahan suhu di luar dan di dalam rumah. Ivy mempersilahkan Sean masuk, sedangkan ia sendiri pergi ke dapur mencari Mom. Kemungkinan Mom tengah memasak makan malam tercium dari aroma yang berasal dari dapur. Ia menoleh ke dapur, didapatinya Bibi Weisz disana, Ivy segera menghampiri. 

“Mom kemana?” 

“Dia sedang pergi ke Sallowsville sama ayahmu.” 

“Mereka menginap?”

“Tidak, hanya pulang setelah makan malam.”

“Eh yah…” 

“Ada apa? Ada tamu?” Ivy mengangguk, “temani saja, nanti akan kubuatkan minum. Jangan banyak bergerak. Kau pasti lelah, Ivy.” 

Ivy kembali meninggalkan dapur, ia duduk di sofa tepat di depan Sean. Sembari menunggu minuman datang. Sean terlihat nyaman dengan suhu di dalam ruangan, Ivy sendiri menyandarkan dirinya sembari tangannya memegangi perut yang membuncit. 

“Kau tinggal sendirian?”

“Tidak, ada Mom, Dad, Bibi Weisz, terkadang adikku tinggal disini, tapi saat ini dia berada di Sallowsville.” 

“Oh, adikmu? Suasananya sepi sekali…” 

“Hanya ada Bibi Weisz saat ini, dia pengasuhku. Oh ya, Mom dan Dad sedang pergi ke Sallowsville, mereka mengunjungi adikku. Jangan Tanya kemana Dante setelah ini,” Memaksa bibirnya untu tersenyum sementara Bibi Weisz datang membawakan minum, “ah, ini dia. Sean kenalkan ini Bibi Weisz, dia yang mengasuhku dulu selama Mom tidak ada, dan Bibi Weisz ini Sean McKinley teman lamaku, dia alumni Salem juga.” 

Bibi Weisz nampak terpana—ia harus mengakui siapa yang tidak terpana bila melihat Sean. Kulitnya yang putih kemerahan dengan hidung mancung, mata besar bibir tipis serta tatanan rambut cokelat yang agar berantakan tetapi potongannya sangat rapi. Ah belum lagi penampilannya dengan kemeja sutra hitam dan dasi hitam, memperlihatkan otot-ototnya meski terbungkus rapi, belum lagi aroma musk yang menguar ketika berada di dekat Sean. Wanita berumur pun akan terpesona apalagi mendapati pria itu tersenyum dan memperlihatkan sederet gigi-gigi putihnya. Bibi Weisz menjabat tangan Sean dan kembali ke dapur setelah perkenalan singkat. 

“Kau tidak pernah merasa kesepian selama Dante di Rusia?” 

Ivy memutar bola matanya, kesepian atau tidak sebenarnya dia merasa sangat kesepian. Dante memang jarang bicara, tipikal pria pendiam dan lebih sering menutup diri. Dante lebih suka bertindak ketimbang bicara, sikapnya selalu membuat Ivy merasa aman dan hangat. Ia selalu bisa menjadi putrid yang bahagia ketika Dante berada disisinya, tapi ia juga bisa menjadi seorang putrid yang terluka ketika Dante meninggalkannya. 

“Hmm, terkadang…” 

“Siapa yang mengantarmu ke dokter selama Dante tidak ada?” Tatapan Sean seketika menghangatkannya, ia mendengar ada nada kekhawatiran dari balik lidahnya. Ah perasaan ini sudah lama tidak Ivy rasakan. 

“Narumi kadang Mom, tapi lebih sering asistenku di kantor, Mila. Bila aku libur bekerja, orang rumah yang akan mengantarku, tapi kalau jadwal pemeriksaan jatuh pada saat aku bekerja, maka aku meminta Mila mengantarkanku ke rumah sakit muggle.” Ia terkikik. Ada sarat kesedihan disana, sebenarnya bila ia jujur. Selama mengandung, Ivy ingin sekali Dante menemaninya walau hanya sekali. Ia ingin Dante mengetahui perkembangan anak mereka, mengetahui bagaimana bayi mereka mendapat tempat yang nyaman di dalam rahim Ivy. Setiap kali bertukar surat dengan Dante, Ivy ingin sekali menyuruh Dante pulang dan menguncinya agar tidak ada seorang pun yang memisahkan dia dengan Dante, sayangnya tidak bisa. Ia tidak bisa berlaku positif, Rusia lebih membutuhkan Dante ketimbang dirinya bahkan bayi mereka. Lagipula kalau ia boleh jujur, ia tidak bisa bersikap terlalu protektif kepada Dante, tidak seperti dulu saat dirinya terjebak dalam kenangan seorang McKinley. 

“Kau wanita yang tangguh, calon ibu yang kuat. Aku tidak mengerti, seharusnya Dante disisimu, ‘kan? Apalagi sebentar lagi kau akan melakukan persalinan, oh baiklah aku seperti sedang menggurui kalian.” Sean mulai terlihat frustasi. 

“Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa mandiri, Sean. Aku tidak ingin merepotkan siapapun terutama suamiku.” 

“Oh yah, tapi bahaya sekali ‘kan? Kalau aku menjadi Dante, aku pasti akan selalu berada di sisi istriku sampai anak itu lahir ke dunia, aku pasti akan mengantarnya ke dokter dan aku ingin selalu tahu bagaimana perkembangan bayiku.” Seolah-olah mengatakannya dengan wajah tak berdosa. 

Itu menyakitkan—bagaimana ia mulai berkhayal kalau ia tengah mengandung buah hati dari McKinley dan bukan Dante. Ini membunuh ketika ia mendengar sederet kalimat yang diucapkan McKinley barusan. Urat-urat di wajahnya mengeras, tangannya mendadak dingin, biner cokelatnya menatap lurus dan kosong seolah hanya ada penyesalan di depannya. Ia bertanya-tanya sendiri benarkan Dante menginginkan makhluk kecil ini lahir ke dunia? Bukan hanya sebagai penghias bagi status keduanya? Matanya kini mengarah pada McKinley yang masih duduk dengan posisi santai. Sesekali menggeleng, mendongak untuk menahan beberapa tetes yang akan mengalir dari matanya. Ia tak pernah bisa menahan emosi yang terlalu kuat—tidak pernah bahkan saat memutuskan untuk melupakan Sean lebih dari itu bahkan saat ia tahu Sean pernah kembali ke Salem pada saat-saat terakhir ujian kelulusan. Itu menyakitkan—tentu saja. Ia tak pernah berharap kalau pertemuannya dengan Sean akan menguras emosi yang sedemikian besar hingga sesak tak dapat lagi ditahan. Seolah Tuhan mengujinya, sejauh mana ia melupakan McKinley, sejauh mana jalannya untuk menatap kembali masa depan bersama Dante. Bibirnya mengukir getir, sekali lagi dilihatnya McKinley dengan mata berkaca-kaca, menahan beban perasaan yang begitu mencekiknya. Namun buru-buru ia hapus sebelum mengundang kekacauan bahkan sebelum Sean sempat menoleh kepadanya. Ivy sudah memasang wajah penuh senyuman seraya mempersilahkan Sean meneguk minumannya. 

“Sudah waktunya aku pulang…” Waktu berjalan semakin cepat, Ivy memeriksa jam dinding rumahnya, sudah menunjukkan pukul lima sore. Perbincangan yang menyenangkan, dua jam tertawa dan mengenang masa-masa sekolah mampu membuat Ivy melupakan kesedihannya, melupakan ketidakhadiran Dante disisinya. Kembali merasakan masa-masa duduk di bangku sekolah, banyak yang dibicarakan meski hanya berupa topic-topik ringan, itu sangat membantu Ivy menjernihkan pikirannya. Sean mengatakan padanya kalau dulu ia sempat mengira Ivy adalah anak kecil yang salah masuk Salem. Ukuran tubuhnya memang kecil untuk anak-annak seusianya maka Ivy tak marah ketika Sean menilainya salah masuk Salem. Perbincangan yang terus berlanjut selama hampir dua jam di dalam rumah, nyaris terisi dengan tawa dan ingatan-ingatan yang sedikit konyol menurut keduanya. Kalau saja ya kalau saja menit bisa sedikit lebih lambat, ia ingin sekali menahan Sean dirumahnya, sayang ia bukan lagi seorang gadis tanpa seorang pendamping. Masih lebih ringan bila ia dan Dante hanya sebatas kekasih tetapi lebih dari itu, kedatangan Sean akan menimbulkan pertanyaan besar bagi pihak manapun terutama keluarganya. Sean mohon pamit pada dirinya, ia lantas berdiri dan bergerak menuju pintu. Ivy sebagai pemilik rumah bermaksud mengiringi pemuda itu sampai pintu. 

“Aku senang berkunjung kesini, tidak salah memang kementrian memberikanku tugas untuk berhadapan denganmu, Ivy.” 

“Ah jangan terlalu meninggikan, sebaiknya hati-hati saat pulang.” Ivy meraih pintu, menelengkan kepalanya. Menatap biner cokelat yang sama dengannya, senyumnya terlampau merekah. Mendadak menjadi panas ketika tangan Sean terulur untuk mengacak-acak surainya. Terkadang Dante melakukan itu ketika Ivy merajuk. Hmm… Dan kemudian suasana mendadak hening, keduanya terdiam. Ivy menyimpan kalimat-kalimat lain yang ingin dia katakan sedangkan Sean nampak diam dengan tingkahnya yang tak mengeluarkan sepatah kata apapun dari bibirnya. Pecah ketika Sean mengulurkan tangan, menggapai jemarinya. Perasaan hangat yang tak pernah ia dapatkan bahkan ketika berhadapan dengan Dante, sekalipun Dante memperlakukannya demikian bak ratu yang terhormat. Pipinya memerah, menahan degup jantung yang berdetak bagai pacuan kuda. 

“Aku bersedia menempati posisi Dante selama dia pergi, jangan sungkan untuk menghubungiku, Ivy.” 

Ivy mendongak, menaikkan sebelah alisnya. Tidak benar-benar maksud dari pembicaraan Sean. 

“Maksudmu?” 

“Kau sedang berbadan dua, butuh pengawasan dari semua pihak terutama suamimu, paling tidak kau butuh diperhatikan terutama saat memeriksakan kandunganmu, ‘kan? Mulai sekarang, aku akan menemanimu—tentu saja selama Dante di Rusia, anggap saja pengganti dari masa-masa ketiadaanku.” 

Kata-kata itu seolah mendekapnya terlalu erat, menimbulkan rasa panas pada kedua matanya, kabut mulai menyelimuti pada bagian cokelatnya. Satu kedip saja, airmata itu akan meluap dan meluncur bebas. Saat ini memang seharusnya ia butuh seseorang yang menjaga, Ivy tak memungkiri rasa iri setiap melihat para wanita muda yang tengah mengandung berjalan-jalan di taman kota dengan suami mereka atau ketika ia pergi memeriksakan kandungannya, ia selalu menangkap pemandangan yang diinginkannya bahkan sejak usia kandungannya baru menginjak beberapa minggu. Mereka—para calon ibu selalu ditemani oleh calon ayah, tidak sepertinya. Selalu Narumi bahkan Mila, ia seperti tak diberi kesempatan menikmati detik-detik menjadi calon ibu. Dante hanya tahu melalui surat, tidak pernah melihat keadaan bayi-nya. Sean mengatakan hal yang benar tadi, kalau seharusnya seorang suami berada disisi istrinya yang tengah mengandung, menikmati masa-masa tumbuh kembang janin keduanya. Ivy menunduk, menyadari betapa kebenaran itu menohok dirinya dalam sekali ucap. Menyadari rasa kesepian yang sudah terlampau lama terpendam, ia tak memungkiri bila ia menginginkan tempat bersandar. 

“Tidak perlu repot-repot, Sean. Dante akan marah bila tahu kau terlalu baik padaku.” Ujarnya dengan suara parau akibat menahan tangis. 

“Apa pintu itu sudah tertutup? Pintu yang selama ini sudah kau buka untukku?” 

Ivy mendongak, sesak yang mengikatnya tak bisa lagi ditahan—perasaan ini mencekiknya. Menyuruhnya membuka lembaran lama dan menatap sebuah coretan dengan penuh kepedihan. Senyum asimetris tersungging di bibirnya, mengenyahkan sedikit saja keteguhan hatinya untuk melenyapkan sosok McKinley di kepalanya. 

“Aku tidak tahu. Pulanglah sebelum semuanya terlambat..” Dan ketika kalimat itu berakhir, ia merasakannya—sebuah pelukan, sebuah pelukan yang sudah lama didambakan olehnya, sebuah pelukan yang menyeluruh. Jarak menjadi penebus rindu yang menghilang selama tujuh tahun. Digantikan dengan tangis penuh sesak serta keteguhan yang semakin lama memudar. Ivy membenamkan kepalanya di tubuh Sean diiringi isak yang dalam. Memohon agar tangisannya dapat berhenti barang sedetik saja, Dante akan sangat marah—tidak, Ivy lebih takut Dante kecewa karena selama ini usahanya untuk membuat Ivy bahagia adalah sia-sia. Meskipun tak sepenuhnya benar. Ivy bahagia, sangat bahagia. Tetapi ia tidak bahagia ketika harus berpura-pura melupakan perasaannya kepada Sean. Dia lelah terlalu lelah untuk bersembunyi dan berlari, selama ini ia telah menghindari sosok yang kini memeluknya. Berlari berharap persembunyiannya tak dapat ditemukan. Malang Tuhan tak mengizinkannya barang sedikitpun untuk melupakan. Anggap saja ini ujian. Cukup lama bagi Ivy merasakan segalanya seperti mimpi tak berkesudahan, Sean mengusap puncak kepalanya dan ia dapat merasakan dengan jelas ketika pemuda itu mencium puncak kepalanya. Hanya berharap bila Bibi Weisz tidak meninggalkan dapur dan tidak melihat adegan memalukan seperti ini. Bila ia tidak mengingat statusnya sebagai istri orang, Ivy tidak akan melepaskan pelukan tadi secara sukarela. Sayangnya ia harus melepaskannya sekarang, sebelum menjadi bahan omongan orang lain disini. 
Menghirup nafas dalam-dalam, menghapus airmatanya mengganti dengan senyumannya kembali. 

“Sean, pulanglah.” Suara itu lebih terdengar seperti bisikan ketimbang perintah. 

“Kau harus berjanji padaku untuk terus menghubungiku, setidaknya aku akan menebus waktu yang hilang sebelum terlambat, sebelum waktu mengharuskanku… yah kau tahu maksudku, Ivy.” 

“Tentu saja aku tahu, jauh lebih tahu daripada dirimu, Sean. Terima kasih, akan kupertimbangkan tawaranmu tadi.” Seulas senyum terukir di wajahnya. Meski kebimbangan masih merayap di pikirannya. Sean menatapnya, sorot itu jelas menuntut agar janjinya dipenuhi, butuh waktu satu menit menunggu Sean membalikkan badan dan kemudian melangkah meninggalkan pintu utama. 

“Sean…” Tubuh itu berbalik dengan kernyitan di dahinya, “jangan sia-siakan kesempatan kedua.” Lagi, ia tersenyum dalam kubangan luka. Menggoreskan lebih dari satu pecahan sakit pada kulit hatinya. Menyeruak bagai koreng yang tidak pernah sembuh bahkan mendekati amputasi. Sean mengangguk, wajah itu cerah menyambut jawabannya. Pelan-pelan Ivy menutup pintunya hingga pintu menyembunyikan dirinya yang sebenarnya, ia terdiam. Menatap lusinan kenangan yang kali ini terpaksa dibuka oleh tangannya sendiri. Apa yang sudah ia lakukan barusan? Apa yang sudah ia taruh sebagai harapan? Taruhan, banyak hati yang akan terluka sesudah ini. Ivy tidak sanggup membuat dirinya termaafkan kalau Dante tahu dirinya melakukan hal yang salah. Sayangnya hati lagi-lagi mengkhianatinya, ia tak menganggap bahwa memberikan kesempatan kedua untuk Sean adalah salah. Ivy menghirup nafas dalam-dalam berusaha mencari celah untuk bernafas. Tak ditemukannya kelegaan selain airmata yang mengucur semakin lama semakin deras. Tolong, ia tak ingin merasakan sakit seperti ini. Ivy melangkah dengan gontai menuju kamarnya, memulai perang batin antara dirinya dengan kenangan waktu lalu serta efek sakit yang ditimbulkan setelahnya.

Numbers Count For Nothing; Wait until light, my dear.


Disclaimer : Terima kasih untuk Battle Royale, Lula, Amano Ryota, Shirahata Cho, Hikkari dan semua nama-nama yang disebutkan dalam cerita ini. In Roleplayer ini adalah faktanya Ryota. Maaf bila ceritanya kurang menyenangkan, terima kasih untuk silent reader. Enjoy it!





Apa kau percaya pada akhir yang bahagia? 

Aku tidak... 

Bahagia itu hanya merupakan dongeng belaka, bukan cerita pangeran dan putri. Keduanya tak memiliki akhir yang bahagia, konflik selalu mengiringi dalam setiap alurnya. Cerita lama. Percaya atau tidak ia skeptis dengan bahagia. Definisi bahagia merupakan semu dalam titiannya, segalanya begitu saru. Setiap kata dalam rangkulan paragraf mematikan rasanya untuk sekadar mengatakan bahwa ia bisa bertahan untuk seseorang yang mungkin tak ingin dipertahankan. 

Setiap tangisan akan pecah menjadi tawa, sendu akan berhias pada senyuman, kelegaan dalam kecemasan sirna. Berganti arahan pada fokus sang jabang bayi yang baru lahir ke dunia. Setelah beberapa jam sebelumnya nyaris tak menemui titik yang mengharuskan ia merasa lega. Duduk dalam ruang tunggu berjam-jam, menunduk dengan rasa tak karuan. Hidup dan mati, telinganya pekak oleh teriakan. Seolah ia dipersalahkan, kadung ia sayang pada ibu dari bayinya. Tak ingin apapun menghalanginya turun ke dunia, mencicipi barangkali kehidupan yang tak seberapa menyenangkan. Ia diam, mengatupkan bibir dalam kurun waktu 8 jam di sisi sang ibu menanti kelahirannya, sumber kebahagiaan dari luka yang membusuk menjadi nestapa. Pintu besar berderit, memerlihatkan sesosok lelaki berbalut hijau, wajahnya tertutup setengah. Ada rona yang berbeda, dibaliknya seorang wanita bertubuh kecil dengan senyum mengembang, di tangannya sang malaikat menggeliat pulas dengan mata terpejam dan Ryota nyaris ingin melompat ketika sang wanita memberikannya kesempatan untuk menyentuh kulit selembut kapas dan jemarinya menyapu tiap jengkal sang bayi. Dia berhasil--awal barunya menjadi seorang ayah. 

Dibawanya sang kecil ke dalam ruangan, kembali menatap cemas pada seorang perempuan yang terbaring lemah. Dengan kekuatan seadanya, ia menyunggingkan senyum memamerkan sang bayi yang berada pada pelukannya. Tanpa mengatakan apapun, sorot matanya sarat akan kebahagiaan, ia mendekat memberikan kesempatan bagi si bayi untuk mengenal ibunya. Ditaruhnya sang malaikat kecil di atas tubuh Shirahata, jelas sekali dalam pias wajahnya ia bahagia. Dengan seluruh sisa tenaganya, tangannya memegang jemari-jemari kecil milik darahnya. Ini memori yang tak bisa ia lupakan, ketika Cho mendongak berusaha mengatakan kehidupannya kini sempurna dengan atau tanpa keluarga yang mendukung status barunya. Ryota menempatkan dirinya di sisi sang Shirahata, memeluknya, berbisik.

"Terima kasih sudah melahirkan Hikkari, terima kasih untuk segala yang Cho berikan. Aku mencintaimu, kemarin, hari ini, esok dan selamanya." Bibirnya mengecup kening Shirahata dengan penuh kasih. Bulir-bulir nampak tertahan, tak bicara tapi menjadi bukti kuat bahwa keduanya sama-sama bahagia. 

"Aku akan pulang..." 

Dia tahu menit tak akan membiarkan keduanya mereguk sulang bahagia. Tak ada pilihan lain selain mengangguk meski perih menghantam. 

"Jaga Hikkari untukku..." 

Ia mengangguk dalam diam. Menahan perih sekuat yang ia bisa. Sorot melepaskan tak kunjung membuai, ia habis dimakan asa. Terkulai lemah, baru saja kebahagiaan itu diraihnya. Tapi tahukah Tuhan bisa mengambil apapun dalam hitungan detik bahkan sekali dalam mengerjapkan mata? Karena kepergiannya menyisakan pedih yang mendalam, ia tidak pernah lupa memori yang diciptakan sekalipun berdarah sekalipun mengiris. Tahukah bahwa dalam diam ia menangis? Tak dikatakan tak ia tunjukkan, karena ia laki-laki yang sejati. Menangis bukan bagian dari dirinya tapi untuk seseorang yang ia cintai melebihi ibunya sendiri, hanya diam, hanya sesak, hanya nafasnya yang tak beraturan. Untuk bicara saja sulitnya bukan main, karena ketika bibirnya terbuka ia akan menangis, airmata itu akan jatuh dan ia tahu bila ia menangis Cho tak akan pergi, sayangnya ia sadar bila Shirahata masih memiliki keluarga. 

Terlalu egois untuk membiarkannya pergi, satu langkah saja ia tak ingin melepas barang satu tolehan saja untuk meyakinkan bahwa kepergiannya hanya sementara sebab bukan hanya Amano yang membutuhkannya, malaikat kecilnya juga butuh sang ibu. Ditinggalkan dalam usia belia terlalu muda untuk mengerti sebuah kehilangan--sementara. 

Kembali sendiri, kehidupannya berjalan dengan normal. Putus sebelah seolah menghilang, ia melewatkan sisa-sisa harinya dalam kubangan harapan, Shirahata tetap hidup, bernafas dan berjalan, ia lihat kondisi gadis itu baik-baik saja pasca melahirkan. Tubuhnya memang belum terlalu menyusut masih menyisakan bekas-bekas sang jabang bayi disana--kasat mata. Hanya Ryota yang mengetahui, sisanya ia abaikan. Namun Shirahata lebih mirip udara, dia ada, dirasakan tetapi tak bisa digenggam. Ryota tak pernah mendekatinya sekalipun ingin, sekalipun waktu mengunci mereka dalam diam. Pada akhirnya pemilik bening hitam ini memilih pergi daripada harus merasakan sakit yang mengiris. 

Atap sekolah, halaman dan semua tempat yang ia kunjungi hari itu mengingatkannya pada pertemuan pertama dengan Shirahata, kesan canggung, kesan bahwa gadis itu terlalu angkuh untuk mengakui rasa yang teronggok di dalam hatinya, bahwa Ryota terlalu angkuh untuk mengakui betapa ia mencintai seorang kupu-kupu maya. Visualnya akan Cho menjadi momok menakutkan sejak kepergiannya. Tak disangka bila ia berlari menyusuri kuil dan menapaki puluhan anak tangga. Disinilah ia berdiri menggendong seorang perempuan--ibu dari anaknya. Tubuhnya yang ringkih masih terasa, terbalut duka dan sepi. Ia menghampiri pembatas antara daratan dengan lautan. Berdiri menghempas angin, melupakan sisa kenangannya, memaksanya mengingat deretan memori yang bernyanyi bagai alunan musik sebelum tidur. Ia terbuai. 

Festival kembang api, kau tahu? Banyak anak perempuan yang datang, mereka mengenakan yukatta mereka dengan surai yang dikepang melingkar dan menempel di kepala mereka. Bunyi ketukan alas kaki yang terbuat dari bambu nyaring terdengar, riuh rendah suara pedagang menawarkan dagangan mereka. Di sela-sela hilir mudik pemuda dan pemudi yang datang, diantaranya merekalah yang mengukir moment paling indah dan tak dilupakan. Diantara manusia lain yang memiliki tingkat kesadaran tinggi, seorang Ryota menggandeng tangan lain, menyematkan jemarinya menuntun Shirahata pada kesenangan. Membawanya melihat-lihat hal yang menyenangkan disini karena katanya Shirahata Cho tidak pernah berkunjung pada festival budaya macam ini. 

"Mau kemana?" 

"Mancing saja yuk." 

"Aku mau ikan!" 

"Iya, iya..." 

Keduanya menghampiri tenda pemancingan. Cho mulai bersemangat ia histeris bagai anak kecil diberikan kembang gula. Ryota mulai mencoba, menyaring beberapa ikan namun lolos tak di dapat satupun sampai ia kesal dan memilih untuk menggulung lengannya saja kemudian mengambil dengan tangannya sendiri secara membabi buta, begitu tertangkap ia persembahkan pada Shirahata. Ia memekik senang, dalam pantulan beningnya Ryota tak akan pernah lupa wajah bahagia Cho, senyumnya, tawanya yang membuat Ryota yakin malam ini akan berbeda dari malam lainnya. 

Mereka berjalan, menyusuri taman-taman sampai kembang api ditembakkan di udara. Dengan kembang gulanya, keduanya saling bicara saling bercerita satu sama lain, saling tertawa dan mendongak ke langit ketika warna warni langit didominasi oleh cahaya api yang melesat, bunyi yang memekakakan, decak kagum dari banyak orang. Tak luput keduanya hingga selesai, Ryota tak melupakan tujuan utamanya selain mengenalkan budaya negerinya sendiri. Melawan arus ketika yang lain menuju tangga kuil. Hanya saja ia ingin menghabiskan waktu bagi keduanya, lebih larut. Karena ia tahu tidak ada lagi waktu yang tepat selain ini. Digenggamnya tangan mungil Shirahata, dibawanya pada pembatas pagar, kemudian keduanya menyaksikan sorot lampu warna warni dari pulau di seberang sana. Ia menyukainya bila jenuh akan datang kesini setiap tahun. Chikusaku menjadi tempat favoritnya, alasan utamanya sederhana. Tempat ini, tempat dimana ayah dan ibu bertemu pertama kali. Tempat mereka mengukuhkan hubungan mereka yang mungkin kandas di tengah jalan tapi ia tahu Hideaki masih mencintai ibunya bahkan saat pria itu tiada. Ia tahu, ia bisa merasakannya seperti yang ia rasakan. Sekalipun Cho ingin meninggalkannya, sekalipun Cho akan membencinya karena ia terlalu cinta, terlalu menyayangi gadis ini sepenuh hatinya. Ia tidak peduli alasan apapun, tidak ada yang menghentikannya untuk tetap mencintai Shirahata. 

"Senang?" 

Cho mengangguk. 

"Aku punya cerita untukmu..." 

"Hmm?" 

"Tempat yang kita pijaki saat ini, tempat ayah dan ibuku pertama kali bertemu," Ia mengatakannya tanpa menoleh seolah memandangi langit dengan hitam yang mencekam, memutar tubuhnya agar dapat melihat Cho lebih leluasa. Dalam balutan dress tanpa lengan berwarna krem dengan perut sedikit membuncit. Ryota merogoh saku celananya, mengambil sebuah kotak yang ia pendam sedaritadi tadi. Merah membara, membukanya dan mengambil isinya. Sebuah cincin, satu mata berlian, keperakan, bukan warnanya bukan pula harganya, ia menarik tangan Cho.

"Aku tahu ini mungkin terlalu cepat, kita baru berusia enam belas tahun. Aku memang tak pernah mengatakan apapun tentang kita, selalu aku atau kamu. Tahukan aku bukan pribadi yang bisa mengumbar apa yang kurasakan?" Ia menatap Cho sedalam dan semeyakinkan yang ia bisa, agar Cho bisa menyelami keseriusan dalam setiap patah kata yang ia ucapkan, "bila selama ini aku diam, bila selama ini aku terkesan sarkas kepadamu dan mungkin bila selama ini aku menjadi gila gara-gara kamu. Meskipun aku tak pernah mengatakannya, tapi bolehkah aku memesan tempat terlebih dahulu? Di hatimu, selamanya..." Bersamaan kata terakhir yang terucap, ia menyematkan cincin bertahtakan berlian pada jari manis Cho. Merengkuhnya dalam sekali dekap, merasakan dua kehidupan sekaligus dalam pelukannya. Apa yang ia genggam tak mudah untuk dilepaskan. Jawaban apapun yang diberikan Cho, pemuda kelahiran Sapporo ini tahu bahwa gadis itu miliknya, sejak dulu. Sejak pertemuan keduanya, sejak ia mengimplementasikan wajah Ryota dalam lukisan kasar. 

Aku mencintainya, kuakui. Perbedaan ini menjadi jurang tapi aku tahu kami punya jembatan yang menghubungkan, Hikari disana dengan cinta yang kami punya. Aku memang tak pernah mengatakannya betapa aku mencintai gadis dalam dekapanku. Sikapku yang cenderung sarkas tak bisa terbaca apakah aku memiliki rasa yang sama, tetapi dibaliknya aku pemilik rasa posesif yang paling besar. Seiring dengan Shirahata yang selalu menghadapiku dengan kesabarannya, aku mengerti bahwa wanita memiliki kesabaran tanpa batas, pemilik kekuatan paling dominan, ia berusaha menaklukanku dengan apa yang ia punya--kasih sayang tanpa batas untukku dan untuk bayi kami. Aku mungkin bukan lelaki yang baik, bukan lelaki yang punya segalanya, harta, pekerjaan atau apapun yang bisa menjadi tolak ukur seorang pria, tetapi aku mungkin lelaki yang tepat untuknya. Terlalu percaya diri tapi aku merasakannya, sekuat apapun aku mencoba menjauhi Shirahata aku tidak bisa, padahal aku tahu kami sangat amat berbeda. Aku tidak peduli kekurangannya, aku tidak peduli seberapa plin plan dia, Shirahataku tetap sama, tetap Shirahata yang kusayang. Aku tak pernah mengatakan mencintainya sehari-hari tetapi bukan berarti aku tidak mencintainya. Karena aku tahu cinta bukan dikatakan, tetapi ditunjukkan, sebanyak apapun kau mengatakannya, tidak akan berarti tanpa pembuktian. 

Kali ini, aku membuktikannya... 

18 Maret--aku memutuskan mengabdikan diriku pada seorang Shirahata, utuh sampai nafasku berhenti. 

"Terima kasih untuk mencintaiku selama ini..." Ia berbisik, kalimat yang hanya bisa didengar oleh keduanya. Menggeser kepalanya, menyusuri kulit putih Shirahata dan mengecup miliknya. Hangat dan lembut, gadis ini gadisnya--miliknya seutuhnya. 

Ingatannya membawa kembali pada titian asa, ia menunduk menyesal. Tak cukup berani untuk mengajak gadis itu bicara di sekolah, bukan karena harga dirinya tetapi ia terlalu senang hingga lupa darimana harus memulai. Shirahata masih terlihat biasa saja di kelas, sorot matanya melembut kala beradu pandang dengannya tetapi Ryota menjadi canggung seolah melihat Hikari disana menyambut ayahnya dengan mata sang ibu. Mencengkram kuat pagar pembatas, sekuat mungkin menekan otot perutnya ia berteriak sekuat yang ia bisa selantang yang ia bisa. Tertinggal perih yang membara, membalut lukanya seperti garam yang ditaburkan tak tersisa, airmata dan tangis permohonan seolah tak bisa diganggu gugat. Ia ketakutan, setengah mati. Tak ingin ditinggalkan, posesif--menyakiti dirinya sendiri. Tak bisa menahannya, Ryota nyaris tak bisa tidur setiap malam. Suara Hikari memekakan telinganya memanggil ibunya, sedangkan Shirahata mungkin tidak mengetahui. Ia bangun tengah malam, kadang tidak tidur hanya untuk Hikari, hanya untuk melampiaskan rindunya pada sang ibu dari si bayi. Ia merasa kemungkinan kecil untuk membawa Shirahata, meski ia tahu tak ada ibu yang tak merindukan anaknya. Tangis pecah, lagi ia memohon untuk tidak menyakiti dirinya sendiri. Terlambat--perih sudah membusuk disana, luka menganga tak terobati. Baginya Shirahata kini menghilang, tak ada lagi di matanya, menjauh. Sadar atau tidak, baginya seseorang yang dekat akan menjauh lalu ia jatuh mengasihani diri sendiri. Bagaimana bisa mencintai seseorang yang ingin pergi? Bagaimana ia bisa menyimpan rasa ini ketika Shirahata kian menjauh dari genggamannya? Bagaimana bisa ia mengatasi ini sendirian? Hari-hari menjadi penuh tanda tanya, ia memunguti sisa-sisa harapannya membawanya pulang menuruni kuil dan kembali ke rumah. Langkahnya gontai seolah tak tahu arah mana yang dituju oleh langkah-langkahnya. 

Memanggul tasnya, menyusuri stasiun, melewati gang-gang kecil termasuk rumah Hideaki. Sedikit saja sejarah terlupakan, Saeki bukan lagi tujuannya, ia melupakannya, sudah. Hideaki Tosho dinobatkan sebagai kakak yang tepat bagi Saeki. Ia tersenyum masam, ada yang lebih penting dari sekadar Saeki, kehidupannya mulai terbentuk meminta tanggung jawabnya secara utuh. 

"Tadaima..." 

Ia lelah, tak ada jawaban. Dibantingnya pintu dan lagi terdengar suara Hikari menangis. Ryota mengintip, ibunya selama ini membantunya menggendong sang bayi dan berhenti bekerja karena katanya Hikarilah hidupnya sekarang. Meski terlalu cepat tapi ibu tak punya pilihan, ia menyambut si kecil dengan sukacita. Begitu juga Ryota, tersenyum masam kemudian menutup kembali pintunya. Menaiki anak-anak tangga yang berderit. Hening, kakinya terhenti tepat di ambang pintu. Pelan-pelan nafasnya menderu, menyapa ruang, fatamorgana tetapi nyata. Dilihatnya bayang Shirahata disana, duduk dipinggir ranjang memakai terusan biru muda dengan surai menjuntai, wajahnya lembut, sorot penuh kasih, ia rindu... Ya dia rindu. Seketika membuang tasnya, berlari namun yang didapatinya hanya ruang hampa. Shirahata tak ada disana, gadis itu lenyap dihempas khayalan. Ia mati, tangannya melayang kearah bayang semu, sejurus kemudian tangannya menembus pantulan dirinya sendiri, kepingan demi kepingan berjatuhan. Suara ini dia hapal, menjadi memorinya lagi ketika Cho ingin meninggalkannya ketika ia tidak sigap menahan Shirahata untuk tetap disini--bersamanya. Memilih pergi dan dengan bodohnya ia membuat gadis itu menangis lagi. Darah segar mengucur, jatuh berbentuk titian panjang, Ryota mati rasa. Tatap matanya tertuju pada lantai, ia duduk di pinggir pembaringan. Ada nyeri disana, perih yang tak dirasa. Ingatkah dulu saat ia nyaris mati kehabisan darah saat bertengkar dengan Shirahata? Jatuh, gelap saat dirinya berusaha untuk menyuruh Cho membunuhnya. 

Tak dilakukannya, gemetar memilih untuk menangis di sudut ruangan. 

Payah, ia tak bisa menjadi lelaki yang sempurna. Tidak bisa menjaga ibu dari anaknya, dunianya kini lenyap, berbaur dengan duka. Kosong, hampa, ia berdiri sendirian, sementara tangis Hikkari semakin kencang. Tak berlangsung lama, Ryota beringsut dengan darah yang masih mengucur setia mengikuti langkahnya. Ia tak merasa apapun kecuali pening luar biasa menyerang kepalanya. Tubuhnya mulai hilang keseimbangan, menabrak dinding, tidak ada rasa sakit kecuali melayang dan kepalanya seperti dibenturkan ke dinding berkali-kali. Kemudian ada banyak bintang dan ia melayang, terakhir jatuh bunyi berdebam dan semua sirna. 

Gelap tak menyisakan apapun untuk dilihat. Terbesit dalam ketakutannya, mungkin ini akhir dari hidupnya yang sudah menanggung dosa terlalu lama. Beningnya tertutup rapat, nafasnya semakin pelan seiring dengan detak jantungnya yang melemah. Dingin mendekapnya, putih menjadi warna dominan--semuanya terasa ringan dalam ketiadaan. 

Di usia senjanya seorang perempuan berwajah pucat baru saja menemukan jasad anaknya di bawah tangga. Tubuhnya kaku, dingin, wajahnya pucat pasi persis kertas yang tak pernah disentuh manusia. Kehilangan akal, mirip orang kesetanan, ia melarikan anaknya ke rumah sakit terdekat. Meski keputusan belum dikumandangkan, sepasang matanya kosong. Dalam dekapannya Hikkari kecil tertidur pulas, ibu anak ini tidak tahu apa yang terjadi pada anaknya, pada ayah sang bayi. Dipindahkan sang malaikat pada tangan suaminya, ia memutuskan untuk berlari sekuat tenaga, menuju rumah sebuah keluarga setelah seorang berseragam hijau mengatakan berita duka. Ia berlari sekencang yang ia bisa demi mengatakan kabar yang tak ingin didengarnya detik ini juga bahkan selamanya bahwa ia belum siap kehilangan. Matanya memerah, dadanya sesak, ia berlari tanpa berhenti ketika sampai di depan sebuah rumah dan mengetuknya dengan langkah tergesa-gesa, sore hari menjadi momok yang paling menakutkan. Seperti malam menelan surya, maka habislah kehidupan. Lelah, mungkin itu sisa kekuatannya untuk bertahan. Kepergiannya mengajarkan bahwa ada rasa sakit yang tak bisa terobati ketika cinta menjauh dan pergi. 

"Permisi! Selamat sore!" Tangannya tak berhenti mengetuk pintu rumah Shirahata, bibirnya gemetar sementara matanya sudah basah. Tak bisa lagi dibendungnya untuk putra sulungnya. Ketika pintu terbuka dan hadir seorang perempuan tatkala Tuhan tahu siapa yang dibutuhkan. Disana berdiri seorang perempuan dengan surai pekat, wanita setengah tua melompat, memeluk erat hidup putranya. 

"Cho..." Sesegukan, tak bisa lagi, ini sesak seperti dibunuh pelan-pelan, "Ryota..." 

Nafasnya tak beraturan, dilepaskannya rangkulan, ditatapnya sepasang mata kucing yang pias. Tanpa peduli siapapun yang melihat adegan ini menjadi terlalu dramatis. 

"Ada apa bu? Bicara pelan-pelan..." 

Disambarnya kembali tubuh Shirahata dalam pelukannya. 

"Ryochan..." Sungguh, ini perih. 

"Iya, Ryochan kenapa?" 

Berusaha untuk mengatakannya, mungkin ini kabar duka yang tak bisa diterima untuk siapapun bahkan untuk dirinya sendiri. Bahwa ini terlalu pahit untuk diterima seorang diri, bahkan untuk manusia yang baru saja bahagia beberapa bulan yang lalu. 

"Ryota koma... Dokter bilang keadaannya kritis."


Hand Drawn Bones; You had a dream, but this ain't it.


Lloyd, bukan hanya sebuah nama. Tetapi sebuah kisah yang dimaknai sebagai keterikatan seseorang. Persaudaraan menjadi dasarnya, keduanya memilih jalan yang berbeda dengan tujuan yang sama. Dari arah yang berbeda seperti apa yang pernah mereka janjikan--bahwa takdir tak akan pernah salah. 

Apa yang membuat sebuah nama begitu berharga di telinga orang awam? 

Karena cikal bakal merupakan asal bagaimana seseorang berkembang, bagaimana sebuah keluarga mendidik anak-anak mereka dengan tegas, penuh intrik dan tragedi. Menekan, tanpa menerima perlawanan. Beberapa bibit mereka berkembang menjadi unggul, mampu bersaing dan dipercaya, bermuka dua dan sarkastik, tak sedikit yang menjadi pengkhianat, selebihnya mengabdi pada kekuasaan. Sampai batas tak ada akhir yang dijangkau dan pengaruhnya seakan mengikat hingga ke sendi-sendi tulang. Kehidupan ini tak dijalani orang normal selayaknya mereka dengan keluarga, dilindungi dan dikasihi namun bukan pula mereka yang disiksa atau diberikan kekerasan, ini hanya tentang bagaimana seseorang tumbuh dan besar dari sebuah nama, pengaruh dan lingkungan seorang yakuza. 

Karirnya dimulai saat ia dilepas untuk berangkat sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari tenggelam, namanya Lroy. Seorang pekerja keras, seorang yang ulet dan pemberani, tak ada yang ditakutinya sekalipun Tuhan karena ia skeptis akan religi. Dogmanya hancur, perspektifnya keluar jalur, ia hampa--tetapi hidup. Namun kemampuan duniawinya bekerja dengan baik terutama kecepatannya dalam berlari, ketepatannya dalam menyusun strategi dan ia tak pernah meleset dalam membidik. Saraf motoriknya terhitung sangat baik, ia menguasai pelbagai ilmu bela diri dan mahir menggunakan pisau. Serangan jarak jauhnya tak bisa dianggap sepele, ia menggunakan hampir semua tubuh dan otaknya untuk mengasah kemampuannya sendiri. Kemampuan yang diwarisi dari kakek moyangnya, dari seluruh pemilik darah Lloyd yang berkuasa. 

Hari-harinya dihabiskan dengan permainan senjata, pisau, dan beladiri, sekolah bukan prioritas utamanya meskipun ia terhitung sebagai pemuda yang sangat amat cerdas. Bahkan gurunya memberikan gelar 'The second Einstein' karena isi otaknya tak hanya sekadar permainan senjata belaka tetapi ia memiliki pengetahuan yang luas, tak terjangkau seperti melahap ensiklopedia setiap paginya. Usianya masih terbilang belia ketika 20 tahun ia sudah menyelesaikan pendidikan pasca sarjana dan orangtuanya terutama Victor Lloyd mengirimnya ke Rusia dan melemparkannya dalam kekejaman bisnis serta persaingan sengit antar penguasa, dimana power dipertahankan oleh masing-masing ketua organisasinya. Dalam praktiknya tak semudah saat ia menghafal teori setebal alkitab, jauh lebih sulit karena persaingan selalu identik dengan pertumpahan darah. Bisnis Lloyd diambang kehancuran, Victor tak lagi bisa menguasai wilayahnya. Rusia mengikuti jejak,terombang-ambing dalam nasib perekonomian yang krisis, sementara ia dipanggil kembali untuk memenuhi interest Victor. 

Tampu kepemimpinan jatuh, ia dianggap menguasai strategi wilayah, kritis dan licin. Perangainya yang piawai dengan berbagai kriminal pelan-pelan membangun kembali kepercayaan diri Lloyd, memberikan ruang untuk sekadar melebarkan sayap menjamah teritori dan bersiap perang. Strateginya tidak main-main, ia mampu menyusun taktik dari adu domba, kawan dengan lawan, semua ia jalani dan Jepang, German, Austria serta Hongaria tunduk dibawah kekuasaannya. Para kerdil berkedok mafia mulai mengabdi padanya secara perlahan dengan sumpah dan ikatan darah, dengan janji yang sampai mati harus dipenuhi. 

Ia mendapat banyak keuntungan dari tangan kotornya, meraup kejayaan dari strategi kejamnya, usia muda dihabiskan dengan tumpukan uang, kebiasaan yang krusial, sayang ia tak punya tujuan akan pedamping hidupnya. Luput seolah melupakan bila ia memiliki tugas yang tak kalah penting, melestarikan keturuna Lloyd. Karena tak selamanya seorang Lroy hidup dan berkuasa, karena tak selamanya ia diberikan nafas, disadarinya kemudian semacam barang. Para manusia tak beradab menawar putri-putri mereka, mengumumkan keunggulan dari sekadar kepuasaan fisik maupun batin, namun tak satupun menarik perhatiannya kecuali, ya kecuali seorang gadis dengan surai hitam bak Cleopatra, pipi yang menggembung dan membuatnya ingin selalu tersenyum, sorot tajam, namun gaya bicara membuktikan bahwa gadis ini memiliki intelektual diatas rata-rata. Ia memahami, tak hanya kekuatan fisik tetapi pikiran, you are what you think. 

Maka di malam pertemuan besar, ajang perjamuan dimana seluruh penguasa membawa putri mereka untuk dijadikan sandingan hidup sang penguasa, ia memilah, memilih siapa yang berhak melestarikan keturunannya. Menarik, dari sekian banyaknya sayembara hanya orang yang tidak berada dalam koridornya lah yang ia pilih, seorang putri memiliki darah Asia, seorang putri dari seorang ayah yang tua renta, anggota yakuza paling bungsu dengan kalkulasi atau total kekayaan diatas rata-rata namun pesonanya bak monalisa; mengganggunya, membuatnya tak bisa mengalihkan barang sesenti pun ia lengah. Terlalu memabukkan, karena seorang putri tak sekadar cantik parasnya namun cakap akan pikirannya. Kyoko--gadis itu, ia berkenalan setelah mangkir dari acara perjamuan, sejak kedatangannya, sejak acara makan malam, selalu yang berbeda mengganggunya. Ia sudah menarik dalam sambutan pertama, seolah tumpukan bidadari yang ditawarkan tak pernah berguna. Penguasa penentunya, ia tak perlu takut untuk bertindak layaknya diktator sejati, mengalahkan Hitler dari kawasan Prussia bahkan wilayah kecil sekelas Jepang. 

Penolakannya membuat para abdi ingin menghujat Kojiro tua namun ia menjamin totalitas keamanan, seraya mengatakan maksudnya, ia meminang si gadis di depan mata, malam itu juga seusai pelelangan perawan-perawan yang dikirimkan untuknya. 

"Kenapa anda memilih Kyoko, sementara tadi banyak gadis-gadis latin bermata biru, bersuari cokelat dan berkulit mulus menyambangi anda?" 

Pertanyaan klasik dan sederhana, ia memaksakan seulas bibirnya untuk tersenyum tanpa menghilangkan kewibawaannya. 

"Tidak ada alasan untuk menyukai seseorang sejak pertama kali saya melihatnya. Saya rasa anda lebih tahu sisi mana yang membuat anak anda terlihat menarik di mata saya." Ia tak sedang memainkan sandiwara, bila itu adalah pengakuannya murni dari nuraninya. 

Pada akhirnya, Lroy memilih wanitanya, memilih takdirnya dan seluruh hidupnya. Keduanya resmi mengikat hubungan, meresmikannya di depan altar dan kembali ke Rusia dengan sang gadis mendampingi setiap langkahnya. Baginya Kyoko adalah rumah paling nyaman, tempatnya kembali pulang ketika lelah, parasnya yang lembut, sorot mata yang mengasihi, tutur kata lembut, tak sekalipun ia mengeluh atau bahkan bersikap tidak kooperatif sebagai rekanan hidup, tipikal dewasa dan ia tahu Kyoko memahaminya dengan cepat bahkan hafal seluruh jadwal kegiatannya, mengobatinya ketika terluka, mengerti bagaimana sulitnya posisi Lroy ketika strateginya terancam gagal. Kehidupan sederhana namun rumit, karena kubah dosa setia menaungi keduanya, karena dosa berlanjut ketika Kyoko memberikannya keturunan. 

Seorang anak lelaki, diberikan nama Thunder Aquilla Lloyd. Pewaris tahtanya menapaki dunia. Jelas tergambar betapa ia menjadi sosok yang bahagia, kehidupannya sempurna, implikasi tragedi dan bahagia. Merasa puas karena Tuhan dirasa adil--bukan, tetapi dunia. Hadirnya seorang putra di tengah kehidupannya, membuatnya lebih memicu semangat untuk mencapai kejayaan mengumpulkan pundi-pundi uang dari hal yang jelas tidak halal. Semakin melebarkan sayapnya, menjamah Amerika sebagai kawan kerjasama sekaligus lawan yang harus ditundukkannya. Mereka punya power tentu saja, tetapi posisi deterence yang mengunci keduanya tak bisa untuk saling menyerang. 

Butuh usaha penuh, dalam kurun dua tahun untuk menumbangi kekuatan sarang besar mafia disana. Kota kelahirannya, membuatnya menapaki dunianya kembali, mengambil alih kekuasaan dan ia bisa. Alih-alih terkena tembakan pada bagian tubuhnya, nyaris vital tetapi fisiknya yang kuat mengalahkan kesakitan. 

Tahun demi tahun, kepemimpinannya semakin kuat. Mitra kerjasamanya semakin bertambah, satu per satu mereka yang memiliki latar hitam yang sama mengajukan diri sebagai abdi tertinggi, tak jarang diantara ratusan partner kerjasamanya baik sebagai kawan ataupun lawan semakin menunjukkan betapa mereka memiliki wajah yang tak diketahui jumlahnya. Usianya yang menapaki empat puluh tahun sudah waktunya mengurus sang pengganti, karena tampu kepemimpinan akan diserahkan kepada yang lain. Darah dagingnya, usianya cukup matang, enam tahun. Dilatih secara fisik, berlari, melompat, memanjat, merayap, diajarkan bagaimana cara memata-matai lawan, membaca gerakan lawan, situasi, kondisi, dipaksa untuk melihat adegan tembak menembak, pelemparan pisau, penggunaan pedang dan bela diri. Pada saat yang sama, kemurnian otaknya mencerna beberapa aspek yang harus dikuasai olehnya. Thunder mulai beradaptasi dengan dunia ayahnya. Tidak ada keluhan yang keluar sekalipun ia nyari mati kehabisan tenaga. Tetapi fisiknya yang kuat mengalahkan segalanya. Ia tumbuh dan kembang menjadi lelaki yang kuat secara fisik dan mental, hidup di kalangan para pecundang dan penjilat. Ayah selalu mengikutsertakan Thunder pada acara-acara perjamuan, untuk mengumumkan keberadaannya sebagai seorang anak dari yang berkuasa bahwa tampu kepemimpinan hanya miliknya seorang. 

Acara perjamuan--hadirnya penguasa-penguasa dari berbagai pelosok dunia, dedikasi mereka, topeng-topeng mereka mulai dikenakan, mengajaknya menimbun bisnis dengan keuntungan yang bisa memberi makan ratusan rakyat miskin di satu negara. Memilih, lima menit berdiri usai perjamuan ia sudah dikerubungi oleh orang-orang yang memiliki kepentingan terselubung. 

Sementara istri dan anaknya aman tak terjangkau karena ia punya puluhan abdi yang siap memberikan nyawa mereka. Kyoko berada di sisi sang kakek, bersama jagoan kecilnya dengan iris pekat dalam balutan jas, datang seorang lelaki lain. Bukan dari kalangan hitam sepertinya namun cukup erat kekerabatannya dengan sang kakek. Mereka akrab berbincang, Lloyd mengalahkan dari kejauhan. Lelaki itu dibiarkannya menyentuh Thunder dalam pengawasan sang kakek dan para abdinya. Mereka tertawa sedangkan Lroy merasa tak nyaman dengan berbagai macam bisnis yang ditawarkan. Ia menyerah, melangkah mundur dan menerima beberapa perusahaan yang berkembang. 

"Kenalkan Kyoko, ini Amano. Dia salah satu dari kerabat jauh kita. Kakeknya teman seperjuangan ayah sewaktu muda dulu." 

Mereka saling menjabat, "kedatangannya kesini tidak lain memiliki tujuan khusus. Ia tidak datang membawa tangan kosong. Hanya saja, ia ingin meminta tolong pada kalian." 

Kyoko menatapnya dengan sorot bingung, berusaha membaca dari sebuah lekuk wajah yang tersenyum lemah. 

"Meminta tolong?" 

"Ya, mereka datang untuk meminta bantuan kalian secara cuma-cuma." 

"Kalau boleh tahu, bisa katakan lebih jelas, tapi tentu saja setelah Lroy kembali bersama kita, no?" 

"Ah itu lebih baik...." 

Mereka menunggu, masih dalam perbincangan hangat sampai satu per satu tamu akhirnya melangkah keluar memutuskan bila eksistensi mereka sudah habis waktunya. Kini Lroy dihadapkan pada beberapa orang salah satunya yang tidak dikenali tetapi menyambut dengan rasa hangat. Kemudian sang kakek menceritakan tujuan lelaki itu datang, memohon padanya bahwa ia memiliki seorang cucu perempuan, memiliki anak lelaki yang malang nasibnya. Dictator menginginkan keduanya dalam pertarungan berdarah, ketika usia cucunya tidak lebih dari 2 tahun dan dilarikan ke Sapporo karena pemerintah akan mencekik bayi itu bila terdengar suaranya. Ini merupakan amanat dari kedua orangtuanya, Hikari nama cucunya. Saat ini berada di Sapporo dengan neneknya, kedua orangtuanya terancam tewas di arena buatan pemerintah. Keduanya diasumsikan tak lagi memiliki batas hidup yang lama. Amano, lelaki itu mengatakan bahwa di usianya yang senja ia tak mungkin bisa bertahan lama untuk melindungi cucunya. Menghidupinya dengan kasih sayang yang melimpah. Meski tidak berasal dari darah dagingnya sendiri, tetapi ia menyanyanginya. Hikari seperti penerang di dalam keluarganya. 

Lroy mencerna, rencana ini akan menghabiskan waktunya. Namun ini hal yang berbeda dari situasi yang biasa dihadapinya. Biasanya seseorang meminta perlindungan akan bisnisnya, tetapi lelaki ini tidak. Ia meminta perlindungan untuk seorang anak perempuan yang diakuinya sebagai cucu.

"Aku tidak mungkin hidup selamanya, tuan. Usia senjaku mungkin tidak lama, aku tidak bisa selamanya menjaga Hikari. Aku juga tidak bisa membiarkan gadis itu sendiri. Terlalu amat menyayanginya, tuan. Maka bila tidak keberatan, bersediakah bila aku menyerahkannya pada kalian? Ketika aku sudah tidak lagi bernyawa?" 

"Orangtua anak ini memintaku, karena pemerintah menyeret mereka dalam arena permainan--kematian. Keduanya tidak mungkin selamat. Itu alasannya aku ada disini, aku bersedia mengorbankan apapun untuk melindungi Hikari sekalipun aku harus menjadi budak kalian. Ayah dan ibunya sekarat di arena, anak ini tidak tahu apapun tentang orangtuanya. Aku tidak bisa memberitahunya. Bolehkah aku menyerahkan Hikari pada kalian? Seandainya baik aku dan istriku sudah tidak bernyawa? Sekarang Hikari tinggal di Sapporo, dekat dengan kediaman kakek kalian." 

Substansi memandangnya dengan tatap mengiba, ia seperti kerdil di tengah raksasa yang berhamburan. Tekadanya melindungi seorang gadis kecil semakin kuat, dirasakan sebuah tepukan di bahunya. Ketika seorang Amano nyaris tak bisa membendung aliran sungai di matanya. Mereka mengangguk, penguasa itu menghampirinya berkata menyetujui permintaannya. Dengan simpul yang ikhlas, setulus nuraninya berbicara. 

Misi itu telah disampaikan dan satu lagi bagian terpentingnya adalah keluarga Lloyd menerima satu misi yang berat, nyawa seseorang dalam pikulan mereka. Hari berjalan seperti biasanya, 2 minggu setelah dikabarkan melalui sang kakek, Kojiro bahwa kedua orangtua gadis itu telah menemui ajalnya dengan cara yang tragis di arena. Kyoko memekik, ia menangis. Membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang Hikari, di usianya yang setara dengan Thunder ia ditinggalkan, tidak diberitahu apa yang terjadi pada kedua orangtuanya sebagai korban dari pemerintah. Kyoko bahkan menangis dan memikirkan bagaimana bila Thunder yang mengalami nasib seperti Hikari, betapa perempuan itu menginginkan Hikari menjadi bagian dari keluarga Lloyd. Tetapi ia tak bisa gegabah, gadis itu masih punya kakek dan neneknya. Maka sesekali mereka berkunjung ke Sapporo, melihat gadis itu, melihat keadaannya. Kyoko menyempatkan diri membeli baju-baju, mainan serta makanan, memperlakukannya seperti anak sendiri ketika ia mengunjunginya. Jelas tersirat bahwa gadis itu tak mengetahui apapun tentang orangtuanya--yang telah tiada. Sorot matanya, ekspresinya yang datar setiap melihat orang baru. Kyoko menggeleng, ia ingin membawa Hikari namun ditahannya sampai waktu mengatakannya untuk memberikan tempat bagi si kecil Hikkari. 

Rutin, ia mengadakan kunjungan entah satu bulan dua kali ataukah sekali dalam setiap bulannya. 

3 bulan, setelahnya Kojiro senior dikabarkan meregang nyawa. Komplikasi jantung dan paru-paru tak bisa lagi ditahannya. 3 hari sebelum kematiannya, Kyoko diperintahkan untuk kembali ke Sapporo bersama keluarganya dalam keadaan ia tengah hamil muda. Mengandung satu lagi seorang keturunan Lloyd. Tanpa membuang waktunya ia segera berangkat mengamini sang ayah, sekadar permintaan terakhir sebelum menutup mata dan berhenti bernafas. Memboyong keluarganya serta Thunder yang masih berusia 8 tahun. Sesampainya di Sapporo Lroy mengantarkan sang istri ke pelukan sang ayah sembari berbisik bila ia harus melaksanakan amanat sahabatnya. Mafia sejati tak diajarkan berkhianat meskipun terpaksa kecuali nurani yang menuntut untuk berkedok kebaikan. Kojiro memberikan warisnya kepada menantunya, demi Kyoko, demi jagoan kecil dan satu lagi pendatang yang akan turun ke bumi. Memberikan amanat bahwa Kyoko harus berada di Sapporo dan meneruskan usaha ayahnya, pada akhirnya Lloyd memutuskan mengganti namanya menjadi Kojiro, seperti apa yang diperintahkan oleh tetuanya. Dilihatnya perlahan bila senja menutup malam, lelah dengan kelumit kehidupan yang menjeratnya. Ia sudah tenang di alam sana. 

Reinkarnasi terus berlanjut, Kojiro kedatangan satu lagi anggota baru. Jagoan kecilnya kembali, memenuhi ruangan dengan tangisnya yang membahana. Membuat Kyoko menghapus airmatanya berkali-kali dan Thunder terlihat gembira seolah mainan barunya tiba. Namun tugas baru terus berdatangan di usianya yang mencapai 10 tahun Thunder diberikan kepercayaan oleh sang ayah. Ia diceritakan berbagai macam kisah, berbagai macam pertarungan berdarah bahwa hidup tak pernah semudah tidur di atas ranjang, bahwa setiap apa yang dilakukan memiliki perhitungan, untung dan rugi. 

Senja menjadi berwarna, tahukah bahwa ia tak pernah berdiri dalam belahan bumi yang berbeda? Ia berpijak pada arah yang sama ketika usianya mencapai sebelas tahun dan mengerti betapa ayah mengajarinya banyak hal. Parasnya yang lebih mendekati Asia dengan surai sepekat milik sang ayah dan mata yang mirip ibu namun bentuk penciuman setara dengan ayah, Thunder mulai diberikan instruksi pengabdian. Sore itu ia tengah duduk bersama ayahnya, ia ingat itu akhir dari sebuah minggu dimana ayah meluangkan waktunya untuk keluarga kecil dan ibu menghabiskan waktunya bersama adik kecilnya. 

"Sini, ayah ingin cerita." 

"Hmm?" 

Dari mulutnya ia bercerita sesuai dengan alur, bila ia dianugerahkan kepercayaan penuh secara turun temurun. Ayah mengatakan bila ia harus melindungi seorang gadis, Hikari Amano. Seorang gadis yang orangtuanya meninggal dalam arena kematian yang dibuat oleh pemerintah Jepang, sekarat dalam keadaan keji dan tidak berkeperimanusiaan, sayangnya Mafia atau Yakuza juga tak pernah punya rasa belas kasih dengan lawan mereka. Ayah mengatakan bahwa Hikari adalah putri dari anak sahabatnya yang bernama Ryota, gadis itu kini tinggal bersama neneknya di Sapporo tak jauh dari rumahnya saat ini. Hanya berdua saja sebab Amano sudah meninggal 4 tahun silam, di tangan seorang wanita ringkih rasionya bekerja untuk menyerahkan Hikari dalam perlindungan yang memiliki power lebih kecuali diktator pemerintah yang mengharuskan Hikari merelakan nyawanya, menyusul kedua orangtuanya. Paling tidak, kehidupan anak itu akan lebih aman dan nyaman, wanita yang menjadi neneknya tak akan hidup selamanya, ketahuilah eksistensi nyawa hanya sementara. Lroy memberikannya selembar foto, jelas disana terpampang wajah seorang gadis dengan paras yang manis, pipinya penuh, matanya bulat, ia menyukai kesan pertama. Gadis itu nampak menggembungkan pipinya dan semakin tertarik ketika memandangi matanya. Thunder dilatih menjadi seorang lelaki sejati demi memenuhi kepentingan ayahnya sekaligus amanat yang diberikan kakeknya kepada keluarga Lloyd. Tanpa menolak tanpa perdebatan sengit pada akhirnya dia menerima--sukarela. 

Detik-detik tersortirnya ia ke dalam pendidikan akademik, Thunder sudah lebih dulu diajarkan cara-cara hidup, bagaimana ia membaca, menulis, merangkai strategi, membuat pertahanan kalau-kalau lingkungan sedang berbaik hati padanya. Thunder bisa membaca sejak usianya 2 tahun, bisa berbicara ketika usianya 11 bulan, fisiknya yang kuat sudah bisa memanjat pohon dengan ketinggian 12 meter dalam usia 6 tahun, mengenal senjata dalam usia 7 tahun, pandai menyusun strategi dan membaca situasi dalam usia 8 tahun. Darah Lloyd mengalir di dalamnya, ia tumbuh dan berkembang menjadi anak yang kuat, cerdas dan tangkas meski tidak banyak bicara. 

Usianya genap mencapai usia akademik, ia tidak diberikan kewenangan memilih sekolah tetapi ia tahu jalan hidupnya. Ketika diberitahukan bahwa gadis itu dalam jangkauannya, ia siap. 

"Siap dengan tugasmu?" 

Ia mengangguk mantap. 

"Jaga dia, Thunder. Buat ayah bangga dengan pengabdianmu." 

Ia mengangguk, menyetujui dengan lantang melalui sorot matanya, bila sampai titik darah penghabisan ia akan menjaga seorang Hikari Amano, meski harus mengorbankan nyawanya.

Senin, 29 Juli 2013

Dwitasari :): Sama Saja

Dwitasari :): Sama Saja: Kamu datang membawa banyak harapan, membawa banyak janji lewat bisikan. Kauhangatkan hatiku yang dingin dengan sesuatu yang kausebut cinta....

Don't you remember? I never plan that one day, I’d be losing you.


Disclaimer : Indocapitol, Bloodbaths, Dedicated for Stephanie White (my beloved sister) and all of charas I mention here. Let's enjoy read this with song of tATu-All About Us, Sarah McLahlan-Angel, then quote and descriptive from Still-Esti Kinasih, Jingga dan Elegi-Esti Kinasih, Rembulan Gading. 

Mendengar detak jam sudah menjadi hal yang biasa, ia sering mengabaikan detik yang melaju. Bagi seorang yang congkak nada petikan jarum jam lebih terdengar seperti rintik hujan labil, seringkali hal sesederhana ini diabaikan, sayangnya untuk kali ini saja ia tidak bisa diam menanti detik demi detik melaju dengan cepat, seakan setiap detiknya sangat berharga. Bunyi detak kematian, mengantarkan ajal sang bungsu pada pelukan malaikat maut. Malaikat kegelapan sudah menjemput Eve pada hari pengumuman, mereka berkumpul, menyaksikan bagaimana nama itu diangkat dan disebutkan, seluruhnya melihat, menyaksikan bagaimana ia meregang, menegang diantara kerumunan yang sama sekali tidak menerima Eve dijemput paksa oleh kematiannya sendiri. Jauh di dalam lubuk hatinya ia memaki Tuhan, ia mengakui betapa kehidupan tak pernah adil terhadap dirinya. Sudah dilahirkan di tempat yang penuh siksaan, dilahirkan di keluarga menengah kebawah, sekarang apa lagi? Setengah dari kehidupannya diambil paksa. Clause tentu tak bisa belajar mengikhlaskan secepat ia belajar memanah hewan-hewan buruannya. Pasalnya Eve bukan hewan buruan yang bisa ia lepaskan begitu saja, Eve setengah dari kehidupannya, setengah dari nyawanya. Ia rela melubangi dadanya sendiri hanya agar Eve tidak turun ke arena, ia rela meninggalkan apapun di dalam hidupnya hanya untuk Eve—hanya agar Eve tetap berada disampingnya. 

Tetapi gadis itu jauh lebih keras daripada seonggok batu karang. Gadis itu bersikeras mengabaikan kekacauan Clause ketika nama itu disebutkan. Percaya atau tidak, baru kemarin keduanya melakukan perburuan bersama, baru sore kemarin mereka duduk berdampingan di depan rumah, diatas kursi kayu yang sudah goyah, membicarakan kehidupan setahun dua tahun ke depan. Bicara seolah panem tak pernah memiliki pemimpin bersurai kusut seperti Snow, bicara seolah panem memiliki masa depan yang cerah seperti matahari yang bersinar setiap paginya. Saat itu Clause bisa melihat dengan jelas rona kebahagiaan Eve, bagaimana gadis itu dengan sangat antusias merespon setiap kalimatnya, merespon setiap gagasannya tentang kehidupan di masa mendatang, Clause masih bisa melihat tawa Eve, wajah cerianya, bahkan ia sedikit menitikkan airmata ketika Clause melemparkan guyonan tentang Snow atau petugas keamanan panem atau bahkan ketika Clause melecehkan penduduk capitol yang bodoh dan idiot itu. 

Bahwa suatu hari nanti mereka akan berada disana, di Capitol. Memiliki tempat tinggal yang nyaman dengan tidak merasakan siksaan yang terus menerus diberikan oleh Snow. Tidak ada hunger games, tidak ada tayangan, anak-anak kecil terpelihara dengan cara yang lebih manusiawi, kompetisi perlombaan diadakan secara wajar hanya karena mengingat hari kemerdekaan saja. Rasanya tidak ada yang salah dengan senja dimana keduanya duduk bersama, tidak ada yang salah ketika keluarga White duduk bersama menyantap sup jamur dengan sedikit daging kelinci dan tupai. Semuanya tidak pernah salah, yang salah hanyalah ketika takdir mengusung nama Eve sebagai persembahan di arena. 

Clause ingin menertawakan takdir keras-keras, ia ingin membanting apa saja asalkan membuatnya puas. Dunia seringkali tidak adil, kali lain hidup mengangkatmu setinggi langit namun detik berikutnya langit menjatuhkanmu dengan keras ke bumi, bunyi berdebam tanda bunuh diri. Rasanya lebih sakit dari melubangi lehermu sendiri. Sebelumnya Clause tak memiliki firasat apapun mengenai Eve, tidak pernah sekalipun terbersit pikiran bila nama Eve akan memenangkan undian kematian saat pemungutan suara. Bukankah namanya lebih banyak di dalam kotak kaca? Bahkan nama anak-anak perempuan lain yang lebih tua juga banyak, tapi kenapa? Kenapa diantara ribuan orang harus nama Eve yang ada disana? Kenapa harus namanya yang disebutkan? Kenapa Eve menolak ketika Clause ingin menggantikannya? Kenapa? Ribuan bahkan jutaan tanda Tanya menggantung di benaknya, bila ini keinginan Eve untuk meninggalkannya atau bila Tuhan mencegahnya untuk kematian yang terasa begitu menyakitkan, Clause tak pernah bersedia melihat adiknya terluka bahkan untuk tergores satu senti saja ia tidak sanggup. Kau tahu arena bukanlah sekadar menggores satu atau dua senti, tetapi menusuk, menggorok bahkan mencincang-cincang bisa menjadi hal yang paling biasa disana. Beberapa kali Clause menonton tayangan berdarah dan ia seringkali merasa mual. Untuk menghindari keadaan itu ia seringkali membicarakan bagaimana kalau salah satu diantara keduanya berada disana, strategi apa yang digunakan dan yang lainnya. Baik Clause dan Eve sama-sama memiliki bakat dalam perburuan, Clause termasuk lelaki dengan kecepatan lari yang mungkin mengalahkan pemenang olimpiade tiap tahunnya, ia juga pandai memanjat seperti monyet di hutan, ia pandai menghilang di hutan, gerakannya terhitung cepat untuk mengelabui musuhnya. Clause pandai menggunakan panah, tapi tak cukup teknik untuk membunuh menggunakan pisau, lemparannya seringkali meleset. Eve, tubuhnya yang kecil mampu bertransformasi menjadi tupai, gerakannya terhitung cepat seperti Clause. Eve memiliki bakat dalam lempar pisau, berbeda dengan Clause, dibalik tubuh besarnya ia menyimpan fobia terhadap hutan, ia juga tidak suka mengonsumsi ikan. Sedangkan Eve bisa makan apa saja, ia bisa beradaptasi dengan lingkungan secara cepat. Eve cepat mencerna keadaan sekitar, tidak ada yang perlu diragukan ketika Eve berada di arena, ia bisa bertahan hidup setidaknya sebelum seseorang membiarkan Eve menjemput ajalnya dengan cara yang paling manis. 

Kehidupan tak selamanya manis, Clause merentangkan tangannya, merebahkan tubuhnya diatas tanah, menghampar diatas rerumputan. Wajahnya mendongak, menantang langit, matanya berkilat seolah menantang takdir, sejak pertemuan singkat dengan Eve sebelum adiknya dibawa menuju Capitol, ia seringkali merasa menjadi manusia yang paling berdosa, manusia kotor karena membiarkan adiknya memasuki arena yang bahkan seumur hidupnya ia tidak ingin menyentuh arena itu sampai ajal menjemputnya. Ia ingat pernah memaki seorang pemuda yang menurutnya sangat tidak penting, pemuda yang malas, bersurai merah dan paras itu seolah selalu mencari keributan. Ia tidak menyukainya, demi Tuhan. Pemuda congkak yang tolol menurutnya, terlalu kekanakan, tiduran di bawah langit dengan tangan terentang dan karma has no deadline, dia melakukan hal yang sama dengan pemuda itu. Menikmati perih yang semakin membuat luka menganga, menikmati kesendiriannya tanpa Eve, hari-hari tak ada Eve. Bila Eve tak datang menjemputnya atau bahkan ia tak bisa lagi menemui Eve di alam nyata, ia berjanji bila suatu saat nanti ia akan menyusul adiknya dengan cara yang tidak diduga. Bukannya ia tidak percaya bahwa Eve mampu menjadi petarung yang hebat, hanya saja ia meragukan kondisi Eve disana. Apa yang adiknya makan? Apakah disana ia baik-baik saja? Hunger games tidak hanya seputar pertempuran berdarah, tetapi strategi dan pemenang yang tak bisa dipisahkan. 

Masalahnya persetan dengan kemenangan, ia hanya ingin Eve kembali dalam keadaan hidup bukannya dikirim dalam bentuk kremasi dalam peti. 

Malam ketika wawancara, ia berusaha melupakan segalanya. Berusaha sekuat tenaga meyakinkan dirinya bahwa keluaganya masih lengkap. Ketika sore ia berada di luar rumah, mengendap-endap ke hutan, dia selalu memiliki celah untuk menghindar dari petugas keamanan. Tidak peduli seberapa berat konsekuensi yang harus ditanggungnya, asalkan ia bisa menjalani hari tanpa repot-repot memikirkan nasib Eve di Capitol sana. Begitu pintu tertutup di belakang punggungnya, ibu menoleh tepat saat Clause menenteng dua ekor tupai dan satu kelinci buntal. Mata tua dengan cekungan kehitaman itu nyaris menatapnya putus asa, airmata mulai berderai ketika Clause melempar tasnya ke atas meja makan, enggan melirik kea rah layar, buat apa? Untuk menertawakan hatinya yang kelam? Melihat adegan konyol Caesar yang setiap tahun tidak bosan menampilkan wajah dungunya di televise? Ia lebih membutuhkan tayangan berbobot; mengenai pemberontakan atau matinya Snow misalnya. Sama sekali Clause tidak senang dengan televise malam itu, ia tahu sekeras apapun ia menghindar pada akhirnya suara sambutan meriah dan suara Eve terdengar merdu di telinganya. Clause saat itu tengah memasukkan beberapa kacang ke dalam lemari dan berniat mengambil pisau ketika sederet kalimat diucapkan dan ia nyaris menusuk salah satu jarinya. Seksi wawancara yang menyiksanya, terlebih ketika ia mendengar Caesar menyinggung ‘kakak’ dalam wawancara untuk Eve. Hatinya teriris saat itu juga, matanya berkilat seolah ia siap membunuh siapapun yang melukai adiknya di arena, nanti. 

Clause berteriak, melempar pisaunya hingga menancap pada salah satu lemari kecil disudut dapur kecil rumahnya; mengakibatkan ibunya berlari dan memeluknya dari belakang seraya mengusap pundaknya yang lebar dan menangis sesegukan disana. Dia benci ketika terlihat tidak berdaya menghadapi takdir. Kau tahu Eve? Ini perih, rasanya menyakitkan. Sesak, seperti ditikam ribuan pisau, jauh lebih menyakitkan daripada tertusuk panah atau tergores pisau. Clause membawa kedua tangannya menutup wajah, sesekali tangannya mengepal dan meninju apa saja yang ada. Property rumah nyaris rusak karena ulahnya, ibu tak punya cukup kekuatan untuk menghentikan amukan Clause. Ayah hanya duduk tertegun memandangi televisi, meski ia tidak benar-benar menonton hingga sesi wawancara Eve selesai dan tepukan meriah dianggap sebagai sambutan kematian yang paing manis untuk Eve. 

Tubuhnya mendadak lemas setelah mengamuk lebih dari lima belas menit, dapurnya kacau balau, menaruh tangannya yang mengepal membentuk sudut sembilan puluh derajat, ia menempelkan dahinya pada tangan dan membungkuk. Terdengar tangis dalam diam, bahunya berguncang, berusaha untuk menguatkan dirinya sendiri. Manis menjadi asam ketika ia mengingat janji-janji Eve, Clause tak akan menagihnya, ia berjanji pada dirinya sendiri, Clause tidak akan pernah mengingat janji Eve karena ia tahu janji itu tidak akan pernah terwujud, melihat peluang Eve selamat sangatlah kecil. Hunger Games bukan permainan ular tangga atau labirin kecil atau sekadar main perang bola salju tapi ini menggunakan senjata dan nyawa adalah taruhannya. Clause merasa kesal, sangat kesal. Ia sendiri bisa menjamin kalau dirinya akan menyesali peristiwa ini seumur hidupnya, sebisa yang ia mampu tanpa menghilangkan detail Eve di dalam hidupnya. Ibu menggumam dalam suara yang nyaris terdengar seperti bisikan, Clause menghentakkan tubuhnya, berbalik tanpa menatap kedua orangtuanya dan melangkah besar-besar menuju pembaringannya. 

Terlelap dalam mimpi buruk berkepanjangan—ia memilih untuk tidak bangun keesokan harinya. 

I'm staring at the glass in front of me, is it half empty?
If you leave me tonight, I'll wake up alone.
Don't tell me, I will make it on my own.
Don't leave me tonight, this heart of stone will sink 'til it dies,
if you leave me tonight.
And don't you know my heart is pumping?
And I've got this feeling, that everything's alright.
Don't you see?

I'm not the only one for you but you're the only one for me.


Dari balik gordennya sinar matahari sudah mengintip, berusaha menerobos masuk ke dalam kamar sempitnya, hanya berukuran 2x3 meter saja dibatasi oleh tirai dan disebelahnya adalah kamar Eve. Pertanyaan mendasar, bagaimana selama ini ia melewatkan malam tanpa Eve disisinya dan tertidur nyenyak untuk pertama kalinya? Padahal jelas-jelas hari ini pertarungan berdarah sudah dimulai. Seperti ia menyambut bahagia pada saat adiknya meregang nyawa di arena, begitu mudah. Clause menggeliat di atas pembaringan lapuk miliknya, sudah terbiasa tidur bertelanjang dada tanpa memasukkan dirinya ke dalam selimut. Melirik jam kecil di samping tempat tidurnya, anggapannya selama ini setiap malam hanyalah Eve ada dirumah, dia sedang tidur di kamarnya, sangat pulas sampai tidak pernah keluar kamar. Clause mendudukkan dirinya, menganyunkan kakinya dan kembali menggeliat sebelum akhirnya meninggalkan pembaringannya untuk sekadar bersih-bersih dan pergi berburu. Tidak ada sekolah, buat apa? Percuma, ilmu yang dipakainya tidak akan berguna, kenyataannya hidupnya akan sia-sia seperti Eve. Susah payah bersekolah, mengeruk ilmu pada kenyataannya ia dilempar ke arena dengan peluang hidup satu banding seribu. Clause menggeleng, ia keluar dari bilik kecil dan memakai pakaiannya dengan lengkap kemudian keluar dari kamarnya. Memilih menuju dapur tanpa menoleh kearah ruang makan yang menjadi satu dengan ruang keluarga. Diatas lemari kecil ada televisi dan lagi-lagi White senior tengah melihat anak mereka bertarung diatas titian kehidupan. 

Clause mendesah, diam-diam menyumpah serapah. Ia menuju dapur dengan tatapan lurus berharap paling tidak ada sarapan disana, yang ada hanyalah roti gandum tawar dan itu pun sudah nyaris jamuran. Tangan besarnya meraih roti dengan tetesan sari berry di atasnya. Setidaknya meskipun sudah sedikit berjamur dan kalau di Capitol mungkin ini disebut makanan beracun, ia tetap bisa memakannya untuk menjaga agar energinya stabil untuk melakukan perburuan hari ini. 

“Kau mau kemana?” Itu suara ayah. 

“Hutan.” Wajahnya datar sembari mengalungkan tas selempangnya seperti biasa, tas berwarna cokelat yang terbuat dari bahan goni, serabutnya sudah terlihat dimana-mana tapi masih bisa digunakan. Tas ini dibuat oleh Eve, hadiah ulang tahunnya pada saat Clause berumur lima belas tahun. 

“Kenapa kau tidak pernah melihat adikmu?” 

Clause menoleh, menangguhkan ekspresi wajahnya. Dingin, gelegak kemarahan mulai timbul dan menguasai sekujur tubuhnya. Ingin rasanya mengulurkan tangan untuk mencekik White senior. 

“Dia tidak ada disana, dia di kamarnya sedang tidur.” Clause mulai melangkah, meraih gagang pintu sementara ketika pintu sudah memperlihatkan dunia luar….

“Sampai kapan lari dari kenyataan? Sadarlah Clause, Eve disana sedang berjuang hidup untukmu, dia ingin kembali untukmu, tapi kau tidak pernah melihat perjuangannya sejak awal. Bagaimana bisa? Kau menyayanginya ‘kan? Hadapilah Clause, Eve tak pernah ada dirumah sejak hari pengumuman.” 

Saat itu juga ia membeku, tubuhnya menegang tepat di depan pintu. Kedua tungkainya seolah terjepit di atas bumi, ia tak bisa kemana-mana. Bulir cokelatnya mengarah pada suasana di luar dengan layar yang terpampang sangat besar dan sekelilingnya dijaga oleh petugas keamanan. Ia ingin mencicit, namun ketegangan ini membuatnya beku. Clause memang tak pernah benar-benar menerima kepergian Eve bahkan sejak gadis itu ditarik paksa menghadapi ratusan mata penduduk distrik sembilan, saat itu rasanya kehidupan Clause sudah hancur, lenyap, tidak ada lagi harapan yang menaunginya. Hatinya kosong, hancur berkeping-keping dan Clause tidak ingin repot-repot memungutnya dan menyatukannya kembali. Percuma, sudah rusak, tidak bisa lagi diperbaiki. Hanya Eve yang mampu merangkainya kembali, menyadari bahwa sejak saat itulah ia tidak dapat menerima Capitol merenggut Eve dari sisinya. Adik kecil yang manis dengan segala tingkahnya, tawanya bahkan ketika gadis itu berderai airmata, tidak pernah ada yang cacat pada Eve—terlalu sempurna. Clause mengepalkan tangannya, dia tahu White senior dengan surai yang sudah memutih menunggunya mengatakan sesuatu sebagaimana sambutan meriah di hari kematian adiknya nanti. Menoleh dari balik pundaknya, mulutnya terbuka. 

"Jangan ikut campur." Tanpa perlu mendengarkan petuah lanjutan ia segera melangkah keluar, melewati jalur kecil yang ia temukan sendiri di samping gubuk kecil tempat para pekerja menaruh persediaan gandum, ia sendiri sudah biasa melewati jalur kecil itu bersama Eve. Sudah sekitar 4 tahun dan tidak ada petugas keamanan yang mengecek, ia selalu aman keluar masuk hutan lewat sana. Jalur itu ditutup oleh 3 papan triplek dan bila triplek itu berdiri sejajar, tidak akan kelihatan kalau dibaliknya ada jalur setapak menuju hutan. Lebih mudah daripada melewati pagar pembatas dengan setruman ribuan volt dan kau bisa mati kebakar setelah menyentuhnya. 

Sepanjang jalan tungkainya bergerak, menendang kerikil kecil yang bertaburan. Kali ini ia membiarkan kaki-kakinya yang membawa, bukan keinginannya untuk berburu. Sejak semalam, tidur nyenyaknya seolah menjadi obat lelah, hatinya tetap terjaga, dia tahu bila hari ini adiknya turun ke arena, berjibaku dengan peserta lain, saling membunuh. Clause melangkah lebih cepat, menyusuri tempat ia mengambil panah dan kemudian mencari bukit kecil yang menghadap pemandangan distrik sembilan. Meluruskan kakinya, menaruh sikunya di atas tanah untuk menopang tubuhnya. Kembali memasuki dunianya sendiri. Ia tidak bisa membayangkan Eve yang selama ini selalu mengekorinya baik di sekolah ataupun pada saat mereka berada di hutan, Eve yang tak pernah melepaskan genggaman tangannya, tak pernah melepaskan rangkulannya, ia tak bisa membayangkan ketika semuanya menghilang. Ketika aroma gadis itu tak lagi tercium oleh hidungnya, ketika surai cokelat terang itu tidak lagi bisa dibelainya, ketika tubuh padat berisi itu tak dapat dirangkul lagi olehnya. Rasanya kosong, hidupnya sudah berhenti. Clause mengambil beberapa bunga, melepaskan kelopak-kelopaknya seperti takdir menelanjanginya secara mental. Ia, lelaki yang tak punya belas kasih tetapi selalu kelihatan tenang, mati-matian ditahannya tangis yang akan keluar. Di saat semua orang menyaksikan kematian satu per satu anak mereka, Clause memilih untuk menyimpan dirinya sendiri. Ia tidak ingin menyaksikan setengah dari nyawanya dibawa pergi. Menarik nafas dalam-dalam, kelopak yang daritadi dilepasnya sudah habis, kini tangannya menyapu bibir.

Ada rasa asing disana, ia ingat terakhir kali Eve mendaratkan kecupan disana. Rasanya hangat dan berbeda, itu adalah saat dimana pertama dan terakhir kalinya ia merasakan sensai menggelitik. Terlambat--Clause menyadari hatinya yang sudah bengkak, perih semakin menguasai, semakin tajam menusuk, semakin menghujam, luka ini akan membusuk dan tidak akan pernah mengering. Ia mengerang, belum pernah sekalipun ia melihat adiknya dari layar kaca. Clause menghabiskan waktunya di hutan, berusaha melupakan hari pemungutan, menganggap Eve masih dirumah, Eve masih ada, tidak pernah kemana-mana, meski pada kenyataannya ia sering mendapati ibunya menangis sesegukan. Menerima takdir dengan hati lapang. Clause bukan tipikal yang ingin sabar begitu saja. Dari kejauhan, detik menuju kematian semakin mengusik telinganya. Ada angin asing menelusuri tengkuknya, Clause memandang hampa bahkan ketika ia mendengar suara ledakan yang menandakan perang dimulai. 

Matanya terpejam, merasakan pedih yang menusuk dan luka semakin merobek hatinya. Mengoyak lebih dalam, tangannya mengepal, tubuhnya menegang. 

Dan bila aku harus melihatmu pergi, aku tidak yakin sanggup menerima. Dan bila aku terus bertahan untuk satu nyawa, mungkin itu tidak akan ada artinya. Ketika sosokmu tidak bisa lagi digapai, apa aku harus tetap bergantung pada harapan? Bahkan ketika harapan itu menghilang, apa aku harus tetap memegangnya? Seperti janji yang tak akan pernah diwujudkan tapi akan selalu terucap dan membuatku hidup dalam dunia yang semu. 

Satu teriakan, Clause bangkit. Didengarnya sudah ada satu yang menjerit. Pasti diantara para peserta distrik 9 sudah ada yang meregang nyawa. Clause memasang telinganya agar mendengar lebih jelas, siapa tahu itu bukan teriakan ibunya. Jauh di dalam hatinya, ia ingin menyaksikan Eve di layar besar. Ia ingin sekali memantau Eve, tanpa visual yang jelas ia hanya seseorang yang kosong. Memberikan waktu sebentar pada dirinya untuk berpikir apakah dia perlu menyaksikan kematian Eve dengan kedua matanya atau memaksakan diri pergi berburu. Sepuluh detik, diperlukan waktu untuk Clause memutuskan keinginannya. Ia beranjak, mengambil panah alih-alih berjalan beberapa langkah, ia malah memungut panahnya dan membidik salah satu burung yang asyik mematuk tanah. Merenggangkan busurnya, menahan gemuruh di dalam hatinya, menyipitkan matanya, membidik target dan dalam hitungan tiga detik bersamaan dengan pecahnya teriakan kedua, ia mendengar teriakan lain. Kali ini pada teriakan kedua, ia tak bisa lagi menahan dirinya untuk mematung di pinggir hutan, Clause berlari menerobos ilalang, rerumputan dan angin. Melompati pagar, menyusuri setapak dan berhasil menempatkan diri pada sayap kanan alun-alun distrik sembilan. Disana layar besar dengan besar menampilkan pertarungan berdarah. Bulir cokelat cerahnya mendadak membesar ketika mengamati para peserta, mencari satu-satunya setengah dari kehidupannya. 

Dia disana, Stephanie White dengan kondisi yang nyaris sekarat. Dijambak, ditampar, ditonjok. Adiknya tak berdaya, Clause menggertakkan rahangnya, tangannya mengepal keras dengan kanan memegangi busur yang biasa dipakai berburu. Mematung, hatinya kembali bergemuruh. Dengan fisiknya yang kecil dan serangan yang sia-sia apa Eve mampu bertahan? Clause melihat dengan jelas, semua serangan Eve tidak membuahkan hasil kecuali tusukan pisau di ulu hati lawannya dan berhasil menghasilkan likuid kental. Darah mengucur, Eve mendapatkan aliran darah segar pada bibirnya. Clause ingin berada disana, mengamankan Eve dari tangan-tangan bedebah peserta sialan. Tidak adil, Eve diserang dua orang, pasangan yang mungkin dari distrik yang sama, wajah mereka menunjukkan dari distrik karier entah distrik karier mana yang jelas mereka piawai dalam menyerang. Si perempuan memegang tombak dan berkali-kali ingin menancapkannya pada Eve, tapi adiknya sudah lebih dulu menghindar dengan cekatan, meski tak cukup pandai menghindar dari bogem mentah dan serangan datang dari yang lain, ketika lelaki dengan surai cokelat dan kilatan mata dingin menarik surai adiknya. Clause menjerit dalam hatinya, menyumpah serapah laki-laki yang menyakiti adiknya, tubuhnya mendadak gemetar. Bila ia berada disana, ia tak segan-segan memanah jantung pemuda itu karena ia menyakiti Eve. Bedebah, sialan, brengsek! Ia tak henti-hentinya memaki di dalam hati, merasa kalah, merasa tidak berguna, ingin sekali mengakhiri hidupnya saat itu juga, ketika melihat Eve mulai kewalahan menghadapi dua orang lawannya. Tidak ada yang pernah menjamin kehidupan seseorang, meskipun waktu. Walaupun Clause bertekuk lutut bahkan bersujud di hadapan sang waktu, tidak ada yang bisa menjamin Eve selamat dari dua peserta tadi. Mereka malaikat maut, mereka semua yang mengantarkan Eve menuju kematiannya. 


Takdir selalu punya cara tersendiri untuk menyampaikan berita kehilangan, takdir selalu punya cara untuk menghadirkan macam-macam kepedihan dengan atau tanpa diminta. Sama seperti ketika hari pemungutan tiba, tidak pernah sekalipun Clause menduga bila pada akhirnya Eve yang akan dianugerahi gelar peserta, ia tidak pernah membayangkan sekalipun semasa hidupnya bahwa setengah dari kehidupannya berada disana, tidak pernah dan tidak akan pernah. Tapi takdir mengkhianatinya, takdir tak pernah sepakat dengan keinginannya, kini apa yang dijaganya mati-matian untuk tidak tersentuh oleh tangan-tangan kotor malah sekarang mengalami masa-masa paling menyakitkan, Clause pada akhirnya mengkhianati hati kecilnya yang berteriak meminta tolong untuk menyudahi segalanya. Getir, perih, dirasanya detak jantungnya nyaris berhenti ketika mata pisau yang dihunuskan menebus ulu hati adiknya. Clause tidak pernah membayangkan bila Eve harus tertusuk, ia menatap tanpa getar tanpa perasaan ingin pulang. Sepanjang tayangan ia memang mengatupkan bibirnya, tidak ada yang tahu isi hati siapapun—hanya dia dan dirinya. Clause menangis sejadi-jadinya, matanya memanas, di balik matanya sudah ribuan liter airmata yang mengalir deras, tak ia tunjukkan. Eve tak akan senang bukan melihatnya bersedih seperti permintaan terakhirnya di sebuah ruangan. 


Saat itu Eve memintanya untuk tidak menangis, menghambur ke pelukannya. Ia masih mengingat segalanya, disana—di sebuah ruangan kecil yang disediakan untuk pertemuan terakhir. Tidak tahu ‘kan Eve bila saat itu Clause ingin sekali membawa kabur dirimu? Berencana menyusun strategi, bagaimanapun caranya meskipun lidahnya terpotong, jangan sampai kau menjejakkan kaki di arena. Tidak tahu ‘kan pada saat itu hatinya terasa sakit, berdenyut hebat karena akan melepas kepergian orang yang paling disayanginya. Tidak tahu ‘kan? Kau tidak akan benar-benar tahu Eve, bagaimana rasanya separuh nyawamu menghilang, nyawa yang mati-matian kau jaga untuk dirimu sendiri. Kau tidak tahu apa rasanya berdiri disini, melihatmu disakiti orang lain tapi tak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan mereka, kau tidak tahu Eve—sama sekali tidak tahu. 

Seseorang menghambur padanya, sesosok ringkih yang berlari menerobos kerumunan, dentam meriam yang terdengar, satu per satu raga yang terkapar tak bernyawa, ia melihatnya Eve mulai kepayahan, mulai tidak stabil. Clause tahu saat itu Eve mungkin sudah sekarat, gadis itu mulai merebahkan tubuhnya, terjatuh, tetapi pemuda yang sedaritadi menyiksanya masih enggan membiarkan Eve bernafas, saat itu Clause merasakan satu pelukan melingkar dan menekannya. Dia sendiri menahan nafas, tubuhnya kaku. Semakin tak bisa bicara ketika ia melihat pemuda yang baru sore kemarin terlibat interaksi dengannya dan ia menjuluki pria itu pemalas, meregang nyawa dengan satu mata. Jauh lebih pedih, tetapi kematian seperti sulit menggapai Eve dengan segala siksaannya. Nyonya White memperketat pelukannya, bahu wanita itu berguncang hebat, ia semakin membenamkan wajahnya ke pada dada Clause dalam-dalam, sedang ia tetap menyaksikan bagaimana Eve menggapai kematiannya. Adiknya benar-benar sekarat, menekuk tubuhnya disana dengan satu tangan memegangi perutnya. Dia bisa membayangkan sesakit apa disana. Reflek Clause mengangkat satu tangannya yang tidak memegang apapun, memeluk tubuh ringkih dalam pelukannya, mengelus pundaknya. 

Wanita hebat yang telah melahirkan dan membesarkannya, bersama Eve adik kecilnya. Kali ini Clause diajarkan untuk mengikhlaskan. Meski kenyataannya mengikhlaskan sangatlah sulit, terlalu sulit. Yang entah kenapa wanita itu bisa lakukan walaupun dengan ribuan tetes airmata yang tidak berhenti. 

Baik Clause dan anggota White lainnya hanya tinggal menunggu waktu, dimana bunyi meriam berdentam dan menghantarkan adiknya pada singgsana surga. Setelah sakit beberapa menit dan Clause tahu rasanya menyiksa, setelah ini ia akan dijemput oleh maut—ketenangan abadi dengan surganya. Tidak sedikit pun ia menunduk, bahkan detik ketika meriam itu benar-benar berbunyi menandakan kematian Eve. 

Stephanie White, may you rest in peace in God arms.

Tembakan meriam sekaligus mengakhiri segalanya, barulah ia menunduk, menaruh dagunya diatas kepala sang ibu. Jantungnya terasa berhenti, ia merasa payah, seolah tegar. Ada banyak mata yang melihatnya, ia menangis. Kabut sudah memenuhi matanya, disini menangis adalah hal yang paling biasa setiap tahunnya, disini airmata tidak berharga, disini kehilangan sudah menjadi harga yang paling murah dan nyawa bisa dibeli dimana saja. Tidak ada yang sulit dari sebuah kematian kecuali berusaha mengikhlaskan kepergiannya. Pelukannya semakin erat dan tubuh dalam dekapannya semakin berguncang. 

Ia merasakannya, jauh lebih merasakannya. Ibu, dia tahu. Mrs White adalah orang yang melahirkan Eve, mengandungnya selama sembilan bulan, berjuang antara hidup dan mati ketika Eve terlahir ke dunia. Dia tahu Mrs White menahan pedih luar biasa ketika melihat anak gadis satu-satunya kini telah kembali pada penguasa alam, nyawanya dikorbankan oleh hal-hal yang tidak berguna. Tetapi Clause tidak ingin kematian Eve sia-sia, berkali-kali ia mengecup puncak kepala ibunya. Berjanji pada perempuan yang telah melahirkannya, berjanji pada gadis kecilnya bahwa ia tidak akan menangis, ia akan tetap melanjutkan hidupnya. 

Clause menarik tubuh ibunya menuju rumah, ia ingin pulang. Segalanya telah usai, Eve benar-benar pergi dari hidupnya. Ketika ia mengira Eve akan tinggal lebih lama, tetapi kenyataan berteriak bila ia yang harus meninggalkan. 

Ia kembali dalam keadaan kacau, mematung di ruang makan merangkap ruang keluarga. Ibu sudah lebih dulu menuju kamarnya, ia tak sadarkan diri sejak pintu rumah terbuka dan Clause membopong wanita terkasihnya ke atas pembaringan. Membiarkan wanita itu terlelap dalam mimpinya bersama Stephanie White. 

Menaruh tangannya, menopang dagu. 

Ia menundukkan kepala, sesekali mendongak, menghadirkan Eve secara visual di matanya. Gadis itu nampak cantik dengan balutan gaun berwarna pastel, menopang dagunya dan tersenyum. Senyum yang tak akan pernah dilihatnya, senyum yang hanya akan ada di dalam kepalanya, raga yang tiada dengan jiwa yang tersisa itulah kehilangan. Memori terputar bagai film pendek di dalam otaknya, ia menatap tangguh visual semu gadis di hadapannya. 

Ketika hanya keheningan mengisi bejana, Clause merasakan sebuah sentuhan dingin dan mata kelabu yang semakin mendekat. Eve mengulurkan tangannya, mengusap bagian pipinya, membuat distraksi dengan pantulan matanya yang tidak lagi cokelat. Ada senyum disana, senyum yang tidak lagi dimilikinya. Eve membuka mulutnya, seperti berucap sesuatu melalui isyarat. 

"Listen, my dear
Only God knows why we come up this way
We've already tried, but we can't fight no more
There's something we can't work on
So when the day has come, let it be
Our heart will still be together
Even when we are separated
By a long, long distance
Trust me, dear
Our love is the only thing precious
That I'll take to my final rest"


Seketika matanya terasa panas, ada denyut untuk merasakan kehidupan. Clause berusaha menggapai visual semunya, membiarkan tangannya berada pada titik khayalnya. 

"All you have to know is, I love you. And I will always do,”


Setiap detail adalah nyanyian. Namun setiap detailnya juga tangisan. Setiap detailnya juga seribu tanya dalam kepanikan dan keputusasaan. Setiap detail adalah tawa. Namun setiap detailnya juga tangisan. Setiap detailnya juga seribu tanya dalam kepanikan dan keputusasaan. Setiap detail adalah usaha pencarian yang tak kenal lelah. Setiap detail sebenarnya adalah harapan yang tak kenal habis. Namun setiap detail adalah pertahanan yang jatuh bangun dan makin menipis. Tidak ada yang bisa dilakukannya dengan hatinya yang tengah berjalan ke kematian. Sesuatu yang telah terjadi dan mungkin itu memang tidak bisa dibagi. Hanya milik Clause sendiri. Sesaat kedua matanya sempat terpejam. Jika saja bisa, jika saja memungkinkan, dia tidak ingin Eve pergi. Permohonan sungguh-sungguh dan harus, namun sayangnya tak ingin dia jelaskan. Karena realisasi dari permohonan itu nantinya akan teramat sarat dengan luka. 

Ini adalah senyap paling pekat yg pernah dirasakan keduanya. Berdua yang seperti sendirian. Clause menundukkan kepalanya, dia tahu, dengan menunduk dia telah menghilangkan visual dan itu justru akan semakin memerangkapnya dalam rasa sakit. Butir-butir kata yg masih tak kasatmata itu mengembara di udara. Entah kapan sampai di tujuan dan terbaca.

“Please. Someday you'll live without me.
And I'll be watching you from heaven.
Only if God trusted me up get there."


Pada akhirnya gugur dan tumbang, dirinya mendapati justru sakitlah yg ada di baris terdepan. Darinya... dan untuk seseorang. Kesadaran itu menampar. Kembali dirinya terguncang. Kali ini lebih hebat, karena setengah dari kesadarannya menghilang. Namun masih dikenalinya rasa sakit ini. Karena rasa inilah yg telah memicunya untuk "mematikan" dirinya sendiri. 

Pada akhirnya seseorang yang kuat, pasti akan butuh pundak untuk bersandar. Sekuat apapun orang itu, ia akan menangis. Menangis bukanlah cengeng. Menangis, meredakan sakit, meskipun tidak mengubah keadaan. Meskipun sama sekali tidak menebus kesalahan. Ada saatnya kita tidak bisa menahan airmata. Karenanya, biarkan saja dia mengalir. Tidak usah diredam. Tidak usah disangkal. Sama sekali bukan karena janjinya terhadap Cinta. Tapi karena hanya dari kejauhanlah apa yang dibiarkannya tetap hidup dalam hati dan pikiran bisa dilihatnya dalam realita. dengan kedua mata. Clause belajar memahami betapa berartinya seseorang dan bahwa kepergiannya bisa memberikan kepedihan yang tajam, mematahkan semangat dan mendinginkan hati. 

Perlahan ia mendongak, keduanya saling tatap. Dua pasang mata itu bertemu. Yang meninggalkan dan yang ditinggalkan. Sebelum bayangan Eve menghilang, ia membuka mulutnya. Mengalamatkan sebagai pesan terakhir untuk adik tercintanya. Sebelum bayangan itu semakin memudar, sebelum putih semakin mendominasi raga Eve. Pemuda White menggenggam tangan adiknya, membawanya pada permukaan pipinya. Merasakan hangat dan uraian airmata yang terakhir bagi Eve. 

"Listen, I love you even though we're no longer alive. I'll love you more than you know."


Wajah yang membuatnya tak berkompromi pada jarak. Ketika waktu telah kembali berdetak sempurna, kenapa justru bumi yang enggan berputar? Dan ketika semuanya berubah, menyisakan dua hati yang luluh lantak tak berbekas. Siluet waktu terpekur, duduk bersila memandang angin. Dan ketika hembusan cahaya tergapai, mulai terhampar sebuah kenyataan kalau sosok itu sudah tak lagi terjangkau. Dalam hitungan detik, cahaya putih menyelimuti Eve. Jemari lentiknya tak lagi menyentuh epidermis Clause, Eve menyunggingkan senyumnya, mengukir bulan sabitnya. Perlahan, siluet itu mengabur, tipis, transparan, lama kelamaan menghilang. 

Semua orang di dunia ini pernah mengalami kehilangan. Dari yang paling tak berarti, sampai yang tak bisa dilupakan dari hati. Bahkan saat ia masih begitu kecil untuk mengerti sebuah arti kehilangan. Ia ingin perasaan yang lega. Ia hanya ingin merasa lega. Ia ingin bisa menanggung apa yang ia rasakan tanpa mengeluarkan setitik pun airmata kesedihan. Kenyataan yang dihadapinya sudah jelas, Eve—satu-satunya perempuan yang paling ia sayangi telah kembali pada Tuhan, membawa serta kematiannya dengan seluruh kebahagiaan yang ia miliki. Bukankah ini janjinya? Bukankah ini keinginannya? Bukankah ia yang mengatakannya sendiri?

Jika kau rasakan baik-baik, semuanya menunjukkan padamu tentang tumbuh, tentang berkembang. Dan untuk kesana, kau temui gugur, dan mati. Kematian sekalipun, tidak akan pernah menghilangkan seseorang. Bahwa ketika ia berjanji pada dirinya sendiri, ketika Eve tiada, gadis itu tidak benar-benar mati, Eve akan tetap hidup—di dalam hatinya. Eve akan menetap disana, selamanya, tempat terbaik untuk pulang hanyalah hatinya, hati seorang Clauseverine White.