Selasa, 27 November 2012

Studi Kasus Anak Berkebutuhan Khusus


1. Sekolah Segregasi
       Sejak ABK memperoleh layanan pendidikan, model sekolah bagi ABK yang telah ada sejak lama adalah sekolah khusus yang di Indonesia dikenal dengan Sekolah Luar Biasa (SLB). Sekolah khusus ini biasanya dibuka secara khusus untuk setiap jenis kecacatan tertentu seperti sekolah khusus untuk tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras dan lain-lain. Sekolah khusus ini dikembangkan atas dasar pemikiran bahwa ABK memiliki karakteristik yang khusus dan berbeda dengan anak pada umumnya. Oleh karena itu, dalam proses pendidikannya, mereka dianggap memerlukan pendekatan, metoda, program serta alat-alat yang khusus. Dan lagi, pendidikan (sekolah) bagi mereka harus dipisahkan dari pendidikan (sekolah) anak pada umumnya. Konsep pendidikan seperti inilah yang disebut dengan sistem pendidikan segregasi atau terpisah. Di Indonesia upaya untuk memberikan pendidikan kepada ABK pada dasarnya telah dirintis sebelum Indonesia merdeka. Pada awalnya bersifat sporadik, karena belum diorganisir dan dikoordinir oleh suatu badan atau instansi, dan masih merupakan usaha perorangan yang mempunyai perhatian kepada ABK. Adapun penyelenggaraan sekolah khusus secara formal mulai dilaksanakan berdasarkan Undang-Undang Pokok Pendidikan (UUPP) No.4 tahun 1950 dan No.12 tahun1954 tentang dasar-dasar pendidikan dan pengajaran di sekolah (Sunardi,1997).


 2. Sekolah Integrasi (Terpadu)
       Pada tahun 1970an, di Amerika Serikat timbul kesadaran perlunya ABK untuk belajar bersama-sama dengan anak pada umumnya di sekolah yang sama. Bersamaan dengan itu muncul konsep mainstreaming dan normalization, yaitu gerakan yang menghendaki agar ABK dididik dalam situasi yang sama dengan anak pada umumnya dan mendekati kondisi yang normal. Sebagai konsekuensi promosi konsep mainstreaming dan normalization ini, semua sekolah reguler tidak boleh menolak ABK yang ingin masuk ke sekolah reguler (Zero reject) dan mereka harus ditempatkan sama dengan anak pada umumnya semampu mungkin dengan dukungan dan layanan tambahan (least restrictive environment). Terkait dengan tuntutan tersebut, dikembangkan sitem integrasi untuk ABK di sekolah reguler atas dasar tingkat keterpaduannya yang meliputi tujuh level, yaitu (1) ABK di kelas reguler dengan atau tanpa bantuan dan layanan khusus, (2) ABK di kelas reguler dengan dukungan pelajaran tambahan, (3) ABK di kelas reguler dengan waktu tertentu di kelas khusus, (4) ABK di sekolah reguler tetapi belajar di kelas khusus, (5) ABK di sekolah khusus, (6) ABK belajar di rumah dengan tugas-tugas yang dirancang oleh sekolah, (7) ABK belajar di tempat perawatan khusus seperti rumah sakit dengan tugas-tugas disediakan oleh pihak-pihak terkait seperti pekerja sosial, dokter, dan lain-lain. Pada tahun tujuh puluhan terjadi gerakan yang kuat terhadap penyatuan pendidikan anak penyandang cacat bersama-sama dengan anak pada umumnya di sekolah biasa yang disebut dengan integrasi. Integrasi adalah penyediaan pendidikan yang berkualitas bagi siswa-siswa dengan kebutuhan kebutuhan khusus di sekolah biasa. Dalam sistem pendidikan integrasi ABK mempunyai kesempatan untuk mengikuti pendidikan di sekolah reguler bersama anak-anak pada umumnya. Akan tetapi kesempatan untuk mengikuti pendidikan di sekolah reguler ini mereka harus memenuhi persyaratan tertentu, misalnya IQnya normal, tidak memiliki gangguan perilaku, tidak ada hambatan komunikasi dan sebagainya. Dengan kata lain mereka dapat sekolah di sekolah reguler jika mampu menyesuaikan diri dengan sistem yang ada di sekolah tersebut. 

3. Pendidikan Inklusif
 
       Pendidikan inklusif merupakan suatu strategi untuk mempromosikan pendidikan universal yang efektif karena dapat menciptakan sekolah yang responsif terhadap keberagaman karakteristik dan kebutuhan anak. Di samping itu, pendidikan inklusif didasarkan pada hak asasi, model sosial, dan sistem yang disesuaikan pada anak dan bukan anak yang menyesuaikan pada sistem. Selanjutnya, pendidikan inklusif dapat dipandang sebagai pergerakan yang menjunjung tinggi nilai-nilai, keyakinan, dan prinsip-prinsip utama yang berkaitan dengan anak, pendidikan, keberagaman, dan diskriminasi, proses partisipasi dan sumber-sumber yang tersedia (Stubbs, 2002:9). Beberapa dokumen internasional yang penting dan mendasari pendidikan inklusif yang telah disepakati oleh banyak negara termasuk Indonesia antara lain, Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia tahun 1948, Konvensi PBB tentang Hak Anak tahun 1989, Deklarasi Dunia tentang Pendidikan untuk Semua tahun 1990, Peraturan Standar tentang Persamaan Kesempatan bagi para Penyandang Cacat tahun 1993, Pernyataan Salamanca dan Kerangka Aksi tentang Pendidikan Kebutuhan Khusus tahun 1994, Kerangka Aksi Forum Pendidikan Dunia tahun 2000 dan yang lainnya . Secara konseptual, dengan diterapkannya pendidikan inklusif memungkinkan ABK bersekolah di sekolah manapun sesuai dengan keinginannya. Akan tetapi kenyataannya belum banyak sekolah di Indonesia yang siap menerima ABK dengan berbagai alasan baik alasan teknis maupun nonteknis. Tidak ada peralatan khusus, guru tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan mengajar ABK, hadirnya ABK dapat mengganggu proses belajar-mengajar dan sebagainya sering menjadi alasan untuk tidak menerima ABK.

Pendidikan inklusif, Solusi masalah ABK di indonesia

—  Pendidikan inklusif dimaksudkan sebagai sistem layanan pendidikan yang mengikut-sertakan anak berkebutuhan khusus (ABK) belajar bersama dengan anak sebayanya di sekolah reguler yang terdekat dengan tempat tinggalnya.
  —Penyelenggaraan pendidikan inklusif menuntut pihak sekolah melakukan penyesuaian baik dari segi kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan, maupun sistem pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan individu peserta didik.

Pengertian Pendidikan inklusif
—   —Pendidikan Inklusif adalah sistem layanan pendidikan yang mensyaratkan anak berkebutuhan khusus belajar di sekolah-sekolah terdekat di kelas biasa bersama teman-teman seusianya (Sapon-Shevin dalam O’Neil 1994).
—  Sekolah penyelenggara pendidikan inklusif adalah sekolah yang menampung semua murid di kelas yang sama. Sekolah ini menyediakan program pendidikan yang layak, menantang, tetapi disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan setiap murid maupun bantuan dan dukungan yang dapat diberikan oleh para guru, agar anak-anak berhasil (Stainback, 1980).

Sekolah Inklusif

  —Sekolah inklusif merupakan perkembangan baru dari pendidikan terpadu.
—  Pada sekolah inklusif setiap anak sesuai dengan kebutuhan khususnya, semua diusahakan dapat dilayani secara optimal dengan melakukan berbagai modifikasi dan atau penyesuaian, mulai dari kurikulum, sarana dan prasarana, tenaga pendidikan dan kependidikan, sistem pembelajaran sampai pada sistem penilaiannya.  







Kamis, 15 November 2012

I Threw A Wish In The Well


Cih, dengan Parthian, ya?
Lagi-lagi, kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, menggabungkan semua asrama menjadi satu, dalam sebuah kelas. Memang, itu tak masalah, tapi tak enak untuk Sean. Dia kurang senang bergaul dengan asrama berlambang Gagak, yang jika mendapat pertanyaan, selalu menjawab di luar akal sehat. Sean tidak mengerti, kenapa asrama itu terkenal dengan ketelitiannya, dan sebagainya. Padahal, rata-rata anak Parthian tak memiliki semua kriteria itu. Mungkin, kemenangan mereka tahun kemarin itu, hanya sekedar keberuntungan belaka. Ya, Sean yakin itu.
Bersama kepala asrama Nadirs, Sean cukup senang. Apalagi ketika Profesor Aleyha menanyakan perbedaan antara beberapa Mantra yang dia tunjukkan di depan semua murid-muridnya. Sean tentu ingin sekali menjawab, hanya saja dia terlambat. Beberapa anak sudah terlebih dahulu menjawab, dan menjelaskan panjang lebar. Dan lagi, beberapa anak Parthian menjawab panjang lebar, namun tak jelas arah dan tujuan jawaban mereka. Huh, dasar, membosankan sekali belajar satu ruangan dengan mereka. Kenapa tidak dicoba untuk dibagi saja?
“ Sean McKinley, Nadirs, Prof. ", Sean berdiri, bersiap untuk menjelaskan jawabannya. " Protego, Expelliarmu, dan Finite merupakan tiga Mantra yang tergolong Mantra pelindung, dilihat dari efek yang dihasilkan. Protego, menghasilkan sebuah tameng yang dapat melindungi, Expelliarmus, dapat melucuti senjata lawan saat terdesak. Dan Finite, Mantra untuk menghentikan efek dari mantra yang sebelumnya digunakan.... "
Eit, belum selesai....
“.... Dan, Stupefy merupakan Mantra yang digunakan untuk menyerang. Efeknya dapat membuat orang yang terkena Mantra ini pingsan. "
Done....

Sean kembali duduk di tempatnya, dan kembali fokus ke depan kelas. Dia menunggu respon dari Profesor, atau mungkin dari teman-temannya yang lain, yang mungkin kurang setuju dengan jawabannya. Itu bukan masalah untuk Sean, karena dalam belajar, jelas, ada salah ada juga benar. Jadi, dia masih menunggu dalam diam, sambil sesekali melirik ke arah seisi kelas yang cukup ramai. Ngomong-ngomong, ke mana anak Nadirs lainnya? Apa hanya Sean seorang saja yang berada dalam kelas ini? Hei, hormatilah kepala asrama kita, sobat!

§§§

Ah, dengan asrama Parthian ne? Ia masih duduk dengan tenang di koordinatnya sendiri, memutuskan untuk membolak-balik buku subjek Pertahanan terhadap Ilmu Hitam ini secara asal. Nyatanya nama asrama tersebut malah mengingatkannya dengan Minhye yang juga tengah berada di bawah naungan asrama berlambang burung gagak tersebut. Akan lebih menyenangkan mungkin kalau mereka bersama dalam satu tingkat dan kelas. Namun sayangnya tidak, kenyataan bahwa Minhye satu tahun lebih muda darinya membuat siapapun tak dapat memikirkan kemungkinan seorang anak yang lebih muda setahun usianya masuk dalam jejeran tingkat yang jauh lebih senior darinya. Walau hanya satu tahun bedanya juga sih. Ah, lupakan saja, mengingat sepertinya ia akan mulai sibuk dengan kelas-kelas pilihan yang diambil nanti.
Sedikit tidak menyesal memilih kelas terbang di antara sekian banyak kelas berisikan teori yang lainnya. Berharap saja sistem kelas terbang tidak akan membuat siswa-siswinya harus mengalami teori secara terus-menerus seperti itu. Sementara tugas Pertahanan terhadap Ilmu Hitam yang diberikan Profesor Devearux saja belum ia kerjakan sampai saat ini. Bukan karena malas, lebih tepatnya belum sempat mencari sumber essai tersebut di tempat yang memadai. Maksudnya ke perpustakaan, yah mungkin memang sedikit ada rasa malas juga terkadang. Ia kan masih manusia pada normalnya walau saat ini ia masuk ke asrama tempat para cedekiawan katanya.
Ketika materi kelas dibuka dengan empat pertanyaan untuk membedakan empat kata mantra yang diberikan di muka kelas. Eh-hem, ia tahu sih, tentu saja karena pernah mendengarnya dari buku-buku lain sebelumnya. Masalahnya disini adalah, yang menjawab sudah banyak sekali tuh, mau turut menjawab saja rasanya sudah tidak ada kata lain lagi yang hendak ia ucapkan. Sesungguhnya ingin menambahkan bagian Expelliarmus, tapi sudahlah. Lain kali saja, masih banyak kesempatan juga ini kan? Kalau diperkenankan sih, inginnya dia bertanya, tapi ini masih sesi jawab kan?
"Nice, McKinley", lontaran lain untuk anak teman seasrama dan sekamarnya sekaligus malahan. "Kau sudah baca materi itu terlebih dulu ya?", tidak heran untuk ukuran anak Nadirs sih.

§§§

Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam—open.
Sudah dibuka ya kelasnya? Oh well, gadis Athena 12 tahun itu segera bergegas menuju kelasnya. Kelas ini yang selalu dipenuhi siswa-siswi lain ketika palangnya memutar dan menunjukkan kata ‘open’. Tuh lihat saja, ketika kaki mungilnya telah menapaki kelas ini sudah banyak murid berhamburan. Semangat sekali ya? Beda deh sama Ivy yang setiap hari terasa lemah. Memang lemah kok.
Ivy memilih duduk di sudut ruangan—sudah kecil duduknya dipojokan persis tuyul ya?
Abaikan pernyataan barusan. Fokus saja kepada pelajaran. Sesungguhnya Ivy takut dengan pelajaran ini, karena hitam. Berhubungan dengan kata hitam sedangkan Ivy paling takut dengan segala yang berbau hitam. Karena hitam itu gelap, gelap itu suram, suram itu… Ah sudahlah lupakan—Ivy takut. Omong-omong Profesor tadi bilang 4 mantra ya? 4 mantra yang disebutkan. Kan tuh, baru begitu saja kelas sudah ramai sekali, kicauan sudah terdengar dimana-mana. Satu per satu jawaban serta sanggahan sudah terdengar. Ivy menoleh, belum ada satupun dari asramanya yang datang dan pada intinya dia disini sendirian, eh?
“Prof…” ia mengacungkan jari telunjuknya. Tubuh mungil berdiri, “Protego mantra pelindung yang sederhana, umumnya memang diperuntukkan melindungi penyihir dari lawan, Stupefy mantra penyerang dan mengakibatkan lawan kehilangan kesadaran, kalau Expelliarmus…” ia berhenti mencoba mengingat materi yang ia baca 2 hari yang lalu. “Mantra melucuti tongkat sihir lawan, dan Finite… aku belum terlalu paham, Prof. Terima kasih.” Ia duduk kembali.  Jadi dimana teman-teman seasramanya? Jadi ia mepet saja deh dengan Miss McLane. Boleh ya kakak? Bolehdomsah—Ivy tersenyum, “Kalau Finite itu apa ya, McLane? Bisa dijelaskan padaku sedikit?”

§§§

Tahu tidak, setelah Sean menjawab pertanyaan dari Profesor tadi, dia sudah merasa cukup lega, karena jawabannya itu, paling tidak dapat mengimbangi apa yang sudah dikatakan anak-anak lain sebelum dirinya menjawab. Sudahlah, toh bukan urusannya juga kalau nantinya anak-anak asrama lain itu yang akan menguasai kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam ini. Sementara Nadirs, Sean merasa, kemungkinan untuk meraih kejayaan dalam kelas sedikit memudar. Hanya Sean sendirian, atau mungkin tambahan satu atau dua anak Nadirs lainnya. Benar-benar, menyebalkan.
Tak lama setelah Sean duduk, sebuah suara terdengar lewat di telinga Sean. Suaranya terasa tak asing lagi untuknya, seperti suara teman satu asramanya di Nadirs. Sean menoleh, dan mendapati seorang pemuda berparas Asia dengan marga Salveau dibelakangnya. Sedikit memuji Sean, tidak membuat Sean menjadi sombong atau besar kepala. Dia hanya menjawabnya dengan sebuah senyuman pada teman satu asramanya itu. Paling tidak, dia masih menghemat kata-kata untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan selanjutnya yang pasti akan lebih sulit.
" Yah, tapi aku tak membaca satu buku. ", memang benar. Gila saja kalau misalnya Sean dapat membaca satu buku tebal, dan dapat menghafalnya persis, seperti apa yang tertulis di dalam buku. Oh, lupakan hal yang satu ini, kembali ke tempat semula, Kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam.
Padahal, baru beberapa saat Sean mencapai puncak ketenangan, dia kembali mendengar sebuah suara, dengan nada sedikit sombong. Sean tak menoleh langsung, dia masih serius menatap ke depan kelas, tepat dimana Profesor berdiri. Hingga akhirnya, Sean benar-benar mendengar, bahwa anak bernama America itu menyanggah jawaban Sean sebelumnya. Memang, itu bukan masalah. Tetap, masih dalam posisi diam, Sean memandang ke depan. Dia tak mau mencari masalah dengan asrama Gagak Hitam yang suka menebar kesombongan itu.
Cih...
"Kenapa kelas tidak dipisah saja. Nadirs, dengan Nadirs.... ", Sean berbisik pada Salveau. Tak ada yang mendengar percakapan itu, hanya mereka berdua saja. ".... begitu lebih baik. "
Sean kembali lurus ke depan, siap mendengar dengan tajam pertanyaan yang mungkin akan diluncurkan Profesor lagi. Dia sudah siap sepenuhnya, dengan berbagai jawaban yang panjang, ataupun yang sangat singkat. Jangan sampai dia terlambat untuk menjawab pertanyaan itu. Dia tak mau kehilangan poin lagi, yang sangat berguna untuk membuat asrama Nadirs berjaya diantara mpat asrama yang ada di sekolah sihir ini. Dan, mungkin tambahan beberapa anak Nadirs, akan membuat Sean bersemangat dan kemungkinan meraih kemenangan semakin terbuka.

§§§

Hng, Leopart.
Cengiran miring tergantung di wajah gadis red-headed itu. Yea, Ilona tadi tidak bilang kalau Stupefy Expelliarmus bukan mantra pertahanan kok. Dia hanya menspesifikasi, bahwa Stupefy digunakan untuk merobohkan musuh dan Expelliarmus untuk perlucutan senjata dan Protego sebagai tameng. Ha, kalau bisa Ilona ingin lihat bocah Parthian ini menggunakan Stupefy sebagai tameng. Melipat kedua tangan, gadis itu mulai mengonter kata-kata Leopart dan membalas tatapan sinisnya dengan cengiran miringnya dan raut wajah kalem.
                        "Apa aku bilang sesuatu tentang Stupefy dan Expelliarmus bukan mantra pertahanan, Leopart? No."
Terdiam, menyusun kata-katanya lagi. Ck, kali ini dia tak boleh jadi Ilona yang mudah naik darah. Dia tidak peduli dengan detensi, tapi pasti poin Carnegies akan mendapat atensinya. Dan jangan sampai hal itu terjadi hanya karena anak ini.
"Aku hanya bilang kalau yang berfungsi sebagai tameng adalah Protego, Leopart. Say, bisakah kau gunakan Stupefy sebagai tameng jika ada musuh yang akan menyerangmu? Lagipula tadi kau sendri yang bilang, hm?"
Hm, Ilona sudah selesai. Walau begitu dengan senang hati ia melanjutkan jika ada kalimat-kalimat penyulut perang dari anak itu. Berpaling sambil nyengir kepada Athena—Hau, siswi Bourdon yang ini imut-imut sekali sih. Lalu garuk-garuk kepala sejenak, mengingat-ingat definisi dari mantra 'Finite'. Ah, salahnya sendiri juga sih hanya membolak-balik buku PTIH-nya semalam alih-alih membaca dengan seksama. "Hng—kalau tidak salah.." Mengeluarkan buku teks-nya dari tas, lalu membuka-buka halamannya.
            "Ah! Yeah, Finite digunakan untuk menghentikan mantra yang sedang bekerja. Misalnya ada sesuatu yang dirapalkan Wingardium Leviosa.. Maka kita gunakan Finite untuk menghentikan efeknya.."
          Nyengir sok inosen kepada Athena.
          "Eh—tapi itu kalau tidak salah, ya. Soalnya aku semalam juga hanya membolak-balik bukunya, ehehe..."
          Ah, Ilona. Kan malu pada Athena, tahu. Ketahuan deh kalau Ilona tidak sedang dalam mood 'ayo-belajar-yang-rajin' begitu. Walaupun wajahnya juga sekarang masih setengah nyengir setengah mengantuk juga. Hng, rasanya kalau dia bisa membeli obat penghilang kantuk dengan senang hati gadis itu akan membelinya sepaket. Kalau-kalau dia bisa dalam mood seperti ini beberapa kali dalam setahun, kau tahu.

I Looked To You As It Fell


Sejenak, Sean merasa catatannya mengenai identifikasi tentang sebuah topi muggle, masih sangat sedikit. Ya, hanya beberapa baris saja, dan tidak sampai satu paragraf. Baiklah, dia bisa menambahkannya beberapa baris lagi, karena di dalam otaknya masih tersimpan berbagai jawaban yang lagi, akan dituangkan di atas perkamen yang kini sudah terisi tulisan-tulisan tangan Sean mengenai topi yang dia dapatkan setelah mengambil sesuatu dari sebuah kotak yang disediakan Profesor. Dia bisa dibilang sedikit lebih beruntung, dibandingkan beberapa orang temannya yang mendapat benda muggle yang sangat aneh, dan bahkan Sean nyaris tidak pernah melihatnya di rumah keluarga McKinley.
Di sampingnya, gadis dengan marga Athena masih sibuk menulis identifikasi mengenai sebuah kabel. Sean sedikit lega dia tidak mendapat benda yang mengalirkan listrik itu. Soalnya, dia mungkin akan mendapat sedikit kesulitan untuk mengidentifikasi apa-apa saja yang menjadi ciri khas benda itu. Sepertinya, Ivy tidak mendapat kesulitan yang berarti pada tugasnya. Sean kagum pada gadis itu, meskipun sifatnya yang mungkin akan membuat Sean sedikit tertawa. Memang, gadis itu terlihat tidak terlalu serius dalam mengerjakan tugasnya. Tapi, itu bukan masalah.
" Mana? Boleh aku lihat? ", Sean meminta pada gadis itu, agar diberi kesempatan untuk melihat identifikasi yang dilakukan gadis itu. Paling tidak, kalau pun ada yang salah, Sean bisa ikut memberikan bantuan pada gadis itu. Yah, tak ada salahnya kan.
Sean memandangi jawaban dari gadis itu. Membacanya dengan seksama, dan terkadang tersenyum melihat jawaban gadis itu. Jawabannya tidak terlalu buruk, malah menarik buat Sean. Tak berapal lama, Sean sudah selesai membacanya, dan kembali menatap gadis itu. Sedikit tersenyum, paling tidak dia menghargai jawaban gadis itu. Apa yang akan dia lakukan selanjutnya? Terus tersenyum seperti ini hingga bel berbunyi, dan ketika itu giginya sudah kering semua? Tentu tidak, dia harus mengembalikan perkamen milik gadis itu, sekarang.
" Ini... ", ujarnya mengembalikan. "... jawabanmu menarik. ", dia tidak mengejek jawaban gadis itu lho. Dan, ngomong-ngomong Sean belum terlalu kenal gadis itu, sekalipun pernah bertemu di suatu tempat. Maaf, soalnya Sean sedikit sering lupa dengan nama-nama orang yang pernah dia temui, dalam selang waktu yang lama. " Aku harus memanggil namamu apa? "

§§§

Ivy bukan anak pintar, kakak…
Iya memang bukan, terus kenapa?
Jadi dia harus memutar otak walaupun soalnya sederhana. Ivy menekan penanya, kemudian menyelipkan beberapa helai surainya ke belakang telinga. Susah ya? Dan Ivy melontarkan pandangan pada benda panjang mirip ular warnanya hitam—lagi warnanya hitam. Ivy takut tahu! Masih untung benda itu tidak dia lempar ke meja Profesornya. Kalau nanti dia lempar pasti dia dimarahi, dan akan ia tanggapi dengan wajah yang melas, dan polos.
Ivy memang polos, kakak.
Ada yang mau intip-intip kertas perkamennya. Ivy menoleh, menarik setarik sabitnya. Menggeser perkamennya, supaya si McKinley dengan senyum menawan itu bisa melotot perkamen miliknya sampai puas. Hoo, agak mengerikan ya bahasanya. “Aku mengarang bebas lho…” Tidak penting ya kakak.
Dia membiarkan tuan McKinley meneliti pekerjaannya. Matanya memutar-mutar seperti naik komedi putar—salah kakak. Menoleh sekilas dan mendapati lelaki berumur 12 tahun itu tersenyum sendiri melihat jawaban Ivy. Memang ada yang lucu ya? Ivy merapatkan duduknya dengan McKinley, dia penasaran, sangat penasaran kenapa pemuda itu malah tersenyum melihat jawaban Ivy. Apa perkamennya terlihat meledek? Oh tidak mungkin.
Dan kau tahu, pemuda ini tersenyum lamaaaaaa sekali. Sampai giginya kering—salah lagi, kakak. Begitu perkamennya dikembalikan, Ivy merapikan alat-alat tulisnya. Dia memuji, katanya jawaban Ivy menarik. Ya jelas menarik, orang jawabannya mengarang bebas. Sujud syukur kalau diterima perkamen dan diberi nilai tapi ya tapi kalau tidak juga tidak apa, maka Ivy akan menangis meraung di pojok kelas.
“Eh?” Ivy berhenti merapikan alat tulisnya, “Hng… Panggil aku Ivy bukan Ipi, atau Ipin..” ia mengulurkan tangannya, tangan yang mungil dan halus—narsis sedikit. “Kita berteman?” sungguh, pertanyaan bodoh.

§§§

Jadi, namanya Ivy, eh?
Ya, kalau Sean tak salah dengan sih, begitu. Gadis yang begitu menarik minatnya itu, sudah diketahui namanya. Hah, mungkin mereka bisa bertemu lagi di kelas yang lain, jikalau Sean sedang merasa sepi karena tak ada hiburan. Setelah memberikan perkamen itu kepada pemiliknya, Sean memilih untuk kembali mengoreksi jawaban miliknya sendiri. Siapa tahu kan, dia justru banyak salahnya. Apapun, kalau tidak diteliti lagi, pasti akan ada sesuatu yang menimpa. Satu hal kecil, dapat mempengaruhi begitu banyak perubahan. Salah satunya, esai yang dikerjakan Sean ini.
Duh, otak Sean buntu lagi untuk ke sekian kalinya. Padahal, dia sudah menulis paragraf selanjutnya, dan itu artinya kemungkinan mendapat nilai cukup sudah di tangannya. Bagaimana tidak, Profesor hanya menyuruh esai yang dibuat singkat, tapi Sean malah membuatnya panjang lebar, dan bahkan dapat membuat mata Profesor yang membacanya bengkak saking panjangnya. Itulah kebiasaan Sean, selalu menyelesaikan suatu pekerjaan tanpa setengah-setengah. Mengerjakan tugas, harus selesai semua tanpa sisa. Kalau ada sisa, itu sangat memalukan sekali.
Itu prinsip keluarga McKinley....
Akhirnya Sean memutuskan untuk menyudahi pekerjaannya, untuk sementara waktu. Dan kini, dia mulai beralih lagi kepada Ivy, yang nampaknya sudah membereskan peralatannya, bersiap kembali ke ruang rekreasi sepertinya. Ingin rasanya Sean mengajaknya mengobrol lagi, hanya saja Sean bingung menntukan apa yang akan dibicarakan selanjutnya. Setelah berpikir cukup keras, muncul sati buah pertanyaan singkat yang mungkin, kalau dijawab hanya membutuhkan waktu tak sampai satu menit untuk berpikir. Kira-kira, begitulah.
" Tidak mau menambah jawaban lagi? ". nah, itu dia.

§§§

Dia mau menjawab apa lagi? Tidak ada. Semampunya saja mengerjakan, kalau terlalu banyak memutar otak nanti Ivy lapar, kalau lapar Ivy mau makan, tapi nanti makannya jadi lahap persis seperti buruh bangunan. Dan apa itu buruh bangunan? Tidak tahu. Jadi jangan tanya Ivy ya kakak.
Yak oke, bagaimana kelas hari ini?
Menyenangkan, karena apa? Karena Ivy banyak teman. Sehabis mati surinya dia dapat teman dan sudah diberi pencerahan oleh Tuhan Yang Masa Esa. Ivy begitu namanya dipanggil memang sudah merapikan alat tulisnya, kemudian menatap lembaran perkamennya. Hanya segelintir penjelasan saja tentang si kabel. Habis Ivy tidak mungkin mengarang bebas lagi, aduh jangan deh jangan. Pemuda disampingnya yang katanya namanya McKinley itu menanyakan sesuatu, Ivy mengernyitkan keningnya. Meraih perkamennya yang berisi tulisan bak cakar ayam di atasnya.
“Aku pikir ini sudah cukup. Kenapa? Mau memberiku contekan ya?” Lagi Ivy menaik-naikkan alisnya. Tetap dengan senyum manisnya. Sebenarnya dia masih belum mau pindah kelas, sungguh. Ivy masih betah sekali disini. Entah karena habis dari mimpi panjangnya tahun kemarin, mungkin bersamaan bangkitnya Ivy, Merlin juga bangkit lagi. Siapa itu Merlin? Siapa saja boleh. Ivy terkekeh sendiri, lalu disana terdengar ramai sekali acara diskusinya. Ramai sampai seperti orang arisan—arisan itu apa? Nanti sepulangnya Ivy dari sekolah, dia akan bertanya pada Mom. Karena biasanya ibu-ibu akan menghabiskan weekend mereka dengan arisan. Berkumpul lalu tertawa dengan jumawa. Yak oke yang itu tidak perlu dibahas.
“Jadi McKinley, tulisanmu bagus ya? Sama kayak orangnya.” Maksudnya gombal? That’s I mean. “Eh McLane, kamu punya risoles? Tadi ku dengar kau menyebut risoles.”
Omong-omong tentang risoles, Ivy jadi lapar. Kata Mom itu salah satu makanan Asia yang enak, entah isinya apa tapi patut dicoba. Yeah yeah kalau ada yang bawa, Ivy mau dong ya. Ivy lapar nih. Tapi memangnya boleh makan di kelas? Mungkin tidak boleh tapi nanti Ivy akan tawarkan juga pada Profesornya.

Hey, I Just Met You



P
elajaran pertama, di kelas Telaah Muggle. Akhirnya, Sean bisa menghadiri kelas tambahan yang menurutnya sangat menarik untuk diikuti, di tahun keduanya ini. Dia tak ingin hanya belajar sebatas pelajaran umum, macam Herbologi, Astronomi, Mantra dan lain-lain. Baginya, yang dia butuhkan adalah sesuatu yang baru, yang mampu membuatnya kembali bersemangat untuk mendapatkan nilai yang memuaskan, sekaligus dapat membawa Nadirs menjadi juara antar asrama tahun ini. Yah, paling tidak itu jadi salah satu harapan Sean untuk kali ini. Semoga saja, bisa. Gurunya, kepala asrama Carnegies, eh? Bagus, tidak seburuk bila diajar oleh guru yang menjadi kepala asrama Parthian, tepatnya di kelas Ramalan. Salah satu alasan kenapa Sean tidak memilih untuk memasuki kelas Ramalan. Catat itu, dan coba pahami. Pasti nanti akan ada kasus pilih kasih yang biasa terjadi di dunia muggle. Sean, sudah cukup sering merasakannya. Oke, dia percaya pada Profesor berwajah Asia yang mengajarnya saat ini. Kelihatan tidak terlalu buruk.

Sean duduk di salah satu bangku yang terletak di deretan belakang. Ini menjadi salah satu faktor, agar dia bisa mengawasi seisi kelas, entah itu kelihatan atau tidak. Dan tak berapa lama, seluruh murid disuruh maju ke depan, untuk mengambil sesuatu dari sebuah kotak yang sudah dipersiapkan Profesor. Eh? Kotak apa itu? Sean memandangi satu per satu temannya maju, dan mengambil sesuatu dari dalam kotak. Sepertinya, beberapa benda dari dunia muggle. Menarik, mereka akan mengidentifikasi benda-benda itu, eh? Sean siap untuk yang satu ini. Giliran Sean maju, dan mengambil salah satu benda yang ada di dalam kotak. Nah, sudah ada dalam genggamannya. Sean menarik benda itu, dan melihat benda yang sudah tak asing untuknya. Ini topi. Sean tersenyum sesaat, memandangi topi yang ada di tangannya. Dia langsung memakai topi itu di kepalanya, dan berjalan ke tempat duduknya semula. Yah, begitulah sifat anak seumuran Sean, tak akan malu, sekalipun sedang dilihat beberapa orang temannya yang mungkin terheran-heran dengan tingkah laku Sean, seperti anak abnormal?

Sean mengambil sebuah perkamen, dan sudah siap menulis. Dia kembali mengambil topinya dan mulai memandanginya. Apa yang akan dia tulis sekarang?

" Hei, dapat apa? ", itu dia bertanya pada orang di sebelahnya.

§§§
Telaah muggle—sigh.

Iya mengambil kelas ini karena yea dia hidup di di dunia muggle, dear. Benar-benar hidup dan menjalani kehidupan selayaknya muggle yang tak punya kekuatan sihir. Jadi ini adalah pertama kalinya ia kembali ke sekolah. Selama ini dia kemana saja? Dia tidur, mati suri. Gadis bertitel Athena itu hanya bisa menguap mendapati kelas Telaah muggle yang hanya berisi segelintir anak. Mana anak-anak rajin lainnya?

Memasuki kelas Telaah Muggle—duduk rapi.

Memperhatikan penjelasan, then—membuang wajahnya ke jendela. Musim gugur sudah tiba, jadi ia mengingat liburannya dengan Mom dan itu mengasyikkan. Di dunia muggle banyak tempat yang bisa dikunjungi. Ivy senang berada disana, kau tahu itu. Tetapi kata Mom, sebagai penyihir kita harus belajar sihir dan itu berguna di kehidupan muggle pada nantinya. Ia menurut saja, sebagai seorang anak perempuan berusia 12 tahun ia memang masih butuh pengawasan dari orangtuanya. Lalu disini katanya ada kotak, kotak yang isinya entah apa deh Ivy tidak tahu. Tubuh mungilnya berjalan ke depan kelas, mengambil kotak yang tadi dikatakan. Katanya di dalamnya ada satu benda. Mungkin berhubungan dengan Muggle, ya jelas berhubungan namanya juga Telaah Muggle, masa yang ada di dalam kotak malah kepala Troll kan tidak lucu.

Well, Ivy membuka kotak itu dengan pelan, mengernyitkan keningnya.

Mengambil dengan hati-hati benda tersebut dan ia menaruhnya di atas meja. “Kabel?” ia tersentak. Buat apa ada kabel? Kalau tidak salah Mom pernah memakai ini, “Aku dapat kabel, McKinley. Kau? Topi?” ia menoleh pada teman sebangkunya. “Lalu ini diapakan?” Iya memang Ivy tidak tahu kabel ini mau diapakan, sebab dia bukan tukang listrik atau tukang apapun.
§§§

Sean masih asik memandangi topi yang baru saja dia ambil dari dalam kotak di depan kelas tadi. Bukankah mereka semua harus mengidentifikasi benda-benda muggle itu? Seperti ciri-cirinya, bentuknya, kegunaannya, dan lain-lain. Untunglah kalau begitu, Sean tidak terlalu repot untuk berpikir, dan dia tak harus memeras keringat lebih banyak dari pada biasanya. Satu benda, yang dapat dengan mudah dia jelaskan di atas sebuah perkamen. Tapi, sampai saat ini dia belum memutuskan apa yang akan dia tulis, dan apa yang akan dia jelaskan di atas perkamennya.

Eh, Kabel? Sean menoleh ke samping, memandangi seseorang yang tadi dia tanya, mendapat apa. Seorang gadis, yang pernah Sean kenali, mendapat sebuah kabel yang sangat bermanfaat bagi muggle. Muggle tak bisa hidup tanpa kabel. Karena kabel itu dapat menyambungkan satu benda, dan dapat mengaktifkan sesuatu. Seperti sebuah kipas angin misalnya, yang pernah Sean baca di salah satu buku di dunia muggle. Kabel itu mengandung sesuatu, yang sampai saat ini belum bisa Sean temukan dalam prgram penelitian dunia muggle-nya. Uhm.

" Ya, aku dapat topi.... ", Sean menarik topinya, dan menunjukkannya pada gadis di sebelahnya, kalau tak salah namanya Athena, eh? ".... kita harus mengidentifikasi benda ini. Kegunaan, dan semacamnya. "

Yah, saling membantu satu sama lain bukan masalah, kan? Sean kembali memperhatikan topi miliknya, dan otaknya kini sudah terisi dengan berbagai jawaban yang akan langsung dia tuangkan ke atas perkamen yang masih putih bersih, masih belum tersentuh setitik pun tinta hitam milik Sean. Sean sudah mencelupkan pena bulunya ke dalam tinta hitam, dan mengarahkannya ke atas perkamen. Lama kelamaan, membentuk huruf demi huruf, kalimat demi kalimat, dan akhirnya sudah hampir menjadi sebuah identifikasi singkat, padat, dan tepat. Begitulah menurut Sean.

Sreet....

Nama : Sean McKinley
Asrama : Nadirs
Topi Muggle
Topi, sebuah benda dengan bentuk yang beragam, dan berbagai warna yang indah. Topi sering digunakan sebagai pelindung kepala di saat cuaca panas, atau sedang hujan. Namun, terkadang topi juga digunakan sebagai salah satu benda untuk memperlihatkan gaya masa kini. Sering terlihat, beberapa anak muda di dunia muggle, berjalan dengan sebuah topi di atas kepalanya, sambil mengunjungi satu per satu toko yang ada di dekatnya.

Tunggu, ini belum selesai sepenuhnya. Sean masih akan melanjutkan smua yang dia ketahui mengenai benda bernama topi itu. Namun, untuk saat ini dia berhenti sejenak, dan beralih ke gadis bermarga Athena yang ada di sampingnya. Apa gadis itu sudah bisa mengerjakan tugasnya dengan benar? Sean, dengan iseng melirik pekerjaan gadis itu, dan memperlihatkan sedikit senyuman di bibirnya. Yan gpasti, tak akan dilihat oleh gadis itu. Mungkin Sean bisa sedikit membantu, eh? Kalau iya, itu bagus. Tapi kalau tidak, itu memang nasib buruk Sean.

" Bagaimana? Bisa mengerjakannya? ", ujar Sean singkat saja.

§§§

Kabel… Buat apa?

Mom sering memainkannya kalau di rumah. Kabel itu seperti ular dan kata Mom, Ivy tidak boleh dekat-dekat dengan kabel. Berbahaya untuk anak kecil. Kabel itu panjang dan mayoritas berwarna hitam, terkadang ada warna merahnya dan dia punya kepala dengan 2 ujung yang tidak runcing, yang kata Mom juga itu berguna untuk mengalirkan sebuah aliran—mungkin aliran sesat ya?

Ivy juga tidak tahu, jadi bagaimana kalau diabaikan saja?

Ivy hanya melihat kabel itu sembari bergidik. Menoleh pada McKinley. Dia dapat topi, kalau topi sih Ivy punya banyak di rumah. Mom sering belikan itu setiap minggu—buat gaya katanya. “Jadi ditulis nih?” Ya iya dong ditulis masa mau dibacain di depan kelas? Ivy nih bagaimana ya? Ivy menyeret perkamennya, kemudian melirik McKinley, nampaknya ia lancar mengerjakan. Jadi? Apa yang harus dia tulis?

Nama : Viervhy Leandra Athena.
Kelas : Bourdon tingkat 2.

TELAAH MUGGLE
Kabel. Sejujurnya Ivy tidak tahu kenapa dia harus mendapat kabel. Kabel yang didapat Ivy warnanya hitam—dan dia takut warna hitam. Itu tidak penting. Kemudian ada kepalanya, ada seperti tanduk tapi bukan, dan kabel ini diam tidak menggigit karena dia baik-baik saja, tidak menggeram saat Ivy pegang. Kata Mom, kabel berguna untuk mengalirkan suatu aliran—aliran sesat sepertinya, Prof. Lalu yang lebih penting, kabel harus dijauhkan dari jangkauan anak-anak imut nan manis seperti Ivy.

Ia menghela nafasnya. Tidak yakin dengan isi perkamennya yang seperti ini. Mudah-mudahan saja nilainya bagus karena Ivy hanya mengerjakan apa adanya bukan ada apanya. “Ya, seperti ini sih. Habis aku tidak tahu sih McKinley…” Athena 12 tahun ini malah nyengir lebar 10 jari—mengerikan.

Senin, 15 Oktober 2012

Nilai FLEW

DAFTAR NILAI FLEW
TAHUN 1938-1939

Narumi Takahiro


Arithmancy : -
Rune Kuno : -
Mantra : O
Wand-Making : T
Herbologi : -O
Transfigurasi : O
Ramuan : O
Mantra Penyembuh : O
Sejarah Sihir : -O
Astronomi : E+
PTIH : O
Telaah Muggle : O
Pemeliharaan Satwa Gaib : O
Terbang : -
Ramalan : -

Catatan : - *(tidak mengambil mata pelajaran tersebut)